
Alvina yang telah memasukkan setengah isi tas ransel milik Veronica ke dalam tasnya langsung memasuki laboratorium yang menjadi kelasnya bersama sahabatnya tersebut.
Setelah berbagi muatan tas, mereka berdua langsung berlari dengan cepat bahkan mereka membuat permainan, yaitu lomba lari.
"Cukup kuakui dia kreatif! Walaupun terlihat seperti anak-anak, itu lebih baik daripada berjalan biasa." Gumam Ravettha yang melihat ingatan masa lalunya.
"Lyth! Aku lebih cepat darimu! Terimakasih, ya?!" Ucap Veronica dengan berlari lebih cepat daripada Alvina.
Ia berlari seperti angin yang berhembus kencang.
Karena ia terlalu bersemangat, ia justru menabrak pintu gerbang universitasnya yang baru terbuka setengah.
"Veronica! Perhatikan depanmu!" Ucap Alvina yang terkejut dan langsung menghampiri sahabatnya.
"BRUK!!!"
Benar saja, ia dengan cerobohnya menabrak pintu gerbang universitasnya.
Bukannya langsung menolongnya, para mahasiswa dan mahasiswi di sekitarnya hanya menertawakan dan juga mempublikasikan sebuah video lucu tentang Veronica.
Alvina yang telah tiba di tempat kejadian langsung merebut handphone milik mahasiswi yang sedang sibuk merekam video terjatuhnya Veronica.
"Cepat hapus atau mau kulaporkan atas pelanggaranmu?" Bisik Alvina lalu pergi dengan meninggalkan mahasiswi tersebut.
Seringaian dan sorot matanya yang dingin terlihat jelas bagi mahasiswi yang telah merekam video tersebut.
Dengan seketika bulu kuduknya langsung berdiri selama 15 detik.
Ia yang tidak tahan langsung meninggalkan tempat kejadian tanpa meminta maaf kepada Veronica.
Sementara itu, Alvina datang menghampiri Veronica untuk segera memapahnya ke UKS.
"Mari kuantarkan ke UKS! Dan ini plester untuk luka memarmu." Ucap Alvina dengan terlihat sedih saat menatap luka Veronica.
"Kali ini aku jadi berhutang denganmu, padahal ini bukan apa-apa." Ucap Veronica dengan memasang plester di dahinya.
Alvina yang seolah tidak mendengarkannya langsung menarik tangan Veronica menuju UKS.
Petugas UKS yang memeriksanya hanya mengatakan bahwa luka memar Veronica akan segera pulih beberapa hari kedepan.
Entah apa yang sedang dipikirkan Alvina, Veronica langsung mengajak sahabatnya tersebut kembali masuk ke kelas.
Setibanya disana, banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menyiapkan peralatan dan bahan-bahan yang telah disiapkan sebelumnya untuk memulai praktikum di kelas pertamanya.
Seorang profesor memasuki ruangan kelasnya tersebut lebih cepat dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya karena biasanya ia datang 15 menit sebelum bel berbunyi.
__ADS_1
"Cepat sekali! Profesor Gennifer datang ke kelas jam segini?" Ucap salah satu mahasiswa dengan terburu-buru duduk di kursinya.
"Bapak hari ini harus pergi rapat bersama para dosen lainnya! Tugas hari ini adalah kerjakan sesuai yang ada di dalam instruksi kertas ini! Batas waktu sampai jam pelajaran bapak habis! Kalian akan diawasi dengan ketat oleh Bu Ceilyne." Ucap Profesor Gennifer dengan membentangkan sebuah gulungan kertas karton putih di papan tulis.
"Baik, profesor!" Ucap seluruh murid secara bersamaan.
14 menit kemudian, bel berbunyi yang menandakan bahwa sudah waktunya memulai aktivitas belajar mengajarnya.
"KRING!!!"
Suara bel berbunyi dengan sangat keras hingga ke seluruh penjuru universitas tersebut.
Para mahasiswa dan mahasiswi yang telah atau belum mendapatkan tugas dari para dosennya langsung mempercepat langkahnya untuk memasuki masing-masing kelasnya.
Begitupun dengan Alvina dan Veronica yang telah duduk di kursinya terlihat sangat siap dan bersemangat untuk memulai sebuah praktikum baru.
Profesor Ceilyne juga telah tiba di kelas mereka dan mulai memberikan penjelasan tentang instruksi yang telah diberikan oleh Profesor Gennifer.
Seperti biasanya para mahasiswa dan mahasiswi selalu terlihat ambisius dengan apa yang sedang mereka kerjakan.
Awalnya Ravettha dibuat bingung mengapa ia ditunjukkan sebuah ingatan yang sangat normal tersebut hingga ia akhirnya menyadari bahwa ingatan tersebutlah yang menjadi sejarah penting, yaitu peristiwa meledaknya laboratorium pada pukul 7.45 pagi yang menewaskan 37 mahasiswa, 31 mahasiswi, dan 2 dosen.
Semua peristiwa tersebut berasal dari seorang pemuda yang suka menantang nyali dengan alat dan bahan yang tersedia di sekelilingnya.
Di hari sebelumnya, ia mendapatkan sebuah kotak cokelat tua dari seorang pria berjubah hitam.
Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan malam hari yang gelap.
Ia tidak mengatakan apapun yang mengancam ataupun aneh, kecuali sebuah permintaan.
"Aku tahu kau sedang bingung dalam mencari bahan-bahan uji cobamu. Maukah kubantu menghilangkan rasa bingungmu itu?" Tanya seorang pria berjubah hitam dengan mengulurkan tangannya dari dalam jubah.
Pemuda itu tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui perkataan pria berjubah hitam tersebut.
"Boleh. Bagaimana kau akan melakukannya?" Tanya pemuda tersebut dengan sangat penasaran.
"Kau hanya perlu menggunakan benda ini. Kau bisa melakukannya kapan saja yang kau inginkan. Terimalah~!" Ucap pria berjubah hitam dengan memberikan hadiahnya.
"B-Baik. Tunggu sebentar! Aku belum tahu namamu! Bisakah aku mengenalmu?" Tanya pemuda tersebut.
"Oh! Tentu! Namaku adalah CR. Kau bisa memanggilku dengan nama itu." Ucap pria berjubah hitam.
"Hah? Tuan CR? Itu nama aslimu?" Tanya pemuda tersebut.
"Ya. Itu nama asliku." Ucap pria berjubah hitam dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
"PIPPP!!! DRRRTTT!!!"
Suara dering telepon genggam berbunyi dan ia harus menjawab panggilannya.
"Ah! Aku harus pergi dahulu! Ada janji yang harus kupenuhi! Sampai jumpa!" Ucap pria berjubah hitam dengan melambaikan tangannya.
Ia memutuskan untuk menggunakan benda pemberian pria berjubah hitam tersebut pada saat praktikum di kelasnya.
"Aku sungguh penasaran apa jadinya jika aku melakukan apa yang diperintahkan pria itu! Jika benda ini benar-benar meledak, setidaknya aku bisa pergi bersama teman-temanku! Tidak peduli seberapa kejinya perbuatanku, aku hanya melakukannya demi kepuasan batinku! Semoga dia tidak mengkhianatiku!" Pikir pemuda tersebut yang sedang melakukan praktikum bersama Alvina, Veronica, dan para mahasiswa mahasiswi lainnya.
Ia langsung memasukkan beberapa serbuk yang telah disimpannya di dalam kotak pemberian pria berjubah hitam saat Profesor Ceilyne tidak memperhatikan dirinya.
Berbeda dengan kotak biasanya karena di mata Ravettha, kotak itu adalah kotak yang berbahaya karena kotak tersebut memiliki simbol yang disamarkan agar tidak dapat terlihat oleh para manusia dan juga penerimanya.
Apapun kemampuan dan dan kekuatannya, para pengguna sihir pastinya memiliki radar yangdapat mendeteksi bahaya hanya saja cara penggunaannya yang berbeda-beda.
"Hm... Pria berjubah hitam, tinggi, pintar berakting, dipanggil 'CR', kemungkinan besar dia adalah pengguna sihir juga hanya saja rasnya belum diketahui, sepertinya dia berasal dari suatu organisasi besar, memiliki simbol. Baiklah! 'Eye Sighting'! Mari kita cari tahu pria berjubah hitam itu!" Ucap Ravettha dengan mengaktifkan 'Eye Sighting' miliknya.
"Sudah kuduga! Dia ternyata! Sekarang aku mengerti...! Kau berusaha memancingku, bukan?" Pikir Ravettha dengan tersenyum licik serta perhatiannya yang sedang fokus memindai seluruh berkas data, file, dokumen-dokumen, dan meningkatkan sistem keamanannya melebihi batas kapasitas.
Setelah selesai memindai seluruh berkas data, file, dokumen-dokumen dan meningkatkan sistem keamanannya, ia langsung menyalin semua ingatan yang ada di 'Times World' tersebut secara diam-diam.
"BZRRT!"
Sebuah suara terdengar dengan jelas di telinganya dan ia mulai bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.
Benar saja perkiraannya, seseorang sedang meretas sistem milik Ravettha.
Dengan sigapnya, ia langsung melihat apa yang terjadi di dalam sistem lamanya dan mulai menghapus seluruh isi di dalamnya.
Tepat pada saat ia telah mencapai 99% penghapusan seluruh isi di dalam sistem milik Ravettha, beberapa tulisan berwarna merah muncul di layar hologram file lamanya.
Tulisan itu menunjukkan kata 'ERROR' yang totalnya mencapai lima kali.
Dengan kata lain, seseorang hanya berhasil meretas 5 file.
Untungnya Ravettha yang juga pandai meretas langsung memasang jebakan di dalam 5 file yang telah diretas tersebut sehingga ia hanya perlu menunggu waktunya tiba untuk mendapatkan hasil yang besar.
Tepat setelah ia memasang jebakan tersebut, ia langsung mendengar suara yang berasal dari ingatan di kehidupan pertamanya.
"BOOOOM!!!"
Dirinya yang terkejut spontan langsung melihat ke arah ledakan tersebut berasal.
BERSAMBUNG
__ADS_1