
"Bagaimana perkembanganmu saat ini, Leonardo?" Tanya Ravettha benar-benar menikmati teh blueberry miliknya.
"Aku justru tidak percaya sudah berada di tingkat ini. Kupikir itu terjadi hanya karena kebetulan, ternyata aku salah. Kemampuan internal dibantu eksternal, dipertahankan, dan diolah. Aku hampir tidak bisa menahan rasa senangku karena sifat kebanggaan alamiku, master." Ucap Leonardo menjelaskan kesan pertamanya saat menyadari setiap detail perubahan di dalam dirinya.
"Aku ikut senang kau menyukainya." Ucap Ravettha melirik ke sampingnya karena menyadari kedatangan Tuan Glendy.
Satu hal yang tidak ia pahami adalah ia bahkan tidak menyadari keberadaan partnernya ini yang berada jauh di dalam pusat gua.
Bagaimanapun juga tempat tinggal Leonardo dan Tuan Glendy cukup dekat karena hanya dipisahkan ketinggian air terjun dan kedalaman gua air.
"Anda datang kemari. Sebuah kehormatan bisa bertemu master disini." Ucap Tuan Glendy menunjukkan rasa hormatnya kepada majikannya.
"Huh, kenapa lagi-lagi kalian terlalu formal?" Tanya Ravettha yang bingung meskipun dirinya tidak pernah menciptakan sistem hierarki khusus di 'Ruang Pelatihan Rahasia' miliknya.
"Leonardo! Kau tahu kenapa ada penyusup memasuki kawasanku?" Tanya Tuan Glendy dengan mengangkat tubuh Vicenzo seperti menjinjing tas.
Meskipun Vicenzo dapat menyingkirkan pengganggu rencananya, ia kembali ingat tujuan dirinya kemari.
Oleh karena itu, suka atau tidak ia membiarkan Tuan Glendy membawanya ke hadapan Ravettha.
"Dia kenalanku." Ucap Ravettha dengan sorot kemarahan yang dituju untuk Vicenzo.
"Anda serius mengatakannya, master? Aku tidak habis pikir si Payah ini terus memanggil nama anda." Ucap Tuan Glendy melempar Vicenzo dengan tidak berperasaan.
Ia benar-benar tidak menyukai kesan pertama kenalan majikannya ini.
Dengan begitu, tidak ada alasan lagi untuk membiarkan Vicenzo berada di sisi majikannya.
"Bagus, Glendy! Pemikiranmu sama tajamnya dengan lidahmu." Pikir Ravettha tersenyum kecil saat menjaga kontak mata terhadap Tuan Glendy.
"Aku memanggilmu karena ingin cepat bermain bersama, sayang. Jika saja naga galak itu tidak menggangu rencana kita, tugasmu akan lebih mudah diselesaikan." Ucap Vicenzo langsung duduk tepat di kanan dan menukar cangkir teh miliknya dengan Ravettha.
__ADS_1
Meskipun gerakan tangannya cepat, Leonardo dan Tuan Glendy tidak begitu memperhatikan.
Dilihat dari situasi dihadapannya, ia menjadi begitu yakin bahwa kekasihnya akan meminum teh di cangkir miliknya.
"Huh, Cedric! Kamu pikir aku akan membebaskanmu?" Pikir Ravettha dengan memutar cangkirnya demi memeriksa dimana letak yang harus dihindarinya.
"Hehe! Dia mencari celah agar terus membenciku, tetapi kamu tidak mengetahui semua itu akan sia-sia." Pikir Vicenzo tersenyum senang dan meminum tepat yang sangat ia inginkan.
"SRET!"
Ravettha berdiri dengan memalingkan wajah dan hal itu menunjukkan ada kesalahan yang tidak ingin dibahas di depan dua partnernya ini.
"Aku masih ada jam sekolah." Ucap Ravettha segera meninggalkan kebun praktik Leonardo setelah memastikan trik yang digunakan Vicenzo.
Melalui tindakan Vicenzo barusan, ia akhirnya menyadari semakin berbahaya jika terlibat terlalu dalam di permainan cinta milik partnernya ini.
Secepat mungkin ia membuka pintu portal dan kembali memeriksa rute tujuan.
Tepat setelah dirinya masuk ke portal, dirinya justru terkejut mendapati kedua gurunya menatap dengan penuh amarah.
"Jadi anda turun tangan sendiri memberi kunci pengekang kekuatan dan menyamar sebagai pria misterius. Apa tebakanku salah, Pak Chayton?" Tanya Ravettha melalui telepatinya sesaat setelah gurunya ini melewati tubuhnya.
"Lumayan juga ketelitianmu! Selanjutnya itu tergantung dirimu. Temui aku setelah makan malam di tempat yang kuminta, muridku!" Ucap Pak Chayton meninggalkan adik dan satu muridnya.
Berhubung urusan kakak beradik sudah cukup saat ini, Pak Cheidon masih duduk di kursi kerjanya dan Rencouff terpaksa memohon ampun di hadapannya.
Melihat apa yang telah Ravettha lewatkan, ia justru diberikan tugas menumpuk miliknya sendiri.
"Setiap kelas harus memiliki 1 perwakilan kompetisi. Aku paling tau potensimu dan kau tidak perlu berterimakasih padaku karena telah didaftarkan." Ucap Pak Cheidon berbangga diri melihat dirinya berjasa bagi para muridnya, termasuk Ravettha dan Rencouff.
"Aku ragu guru begitu sibuk hingga sempat mendaftarkanku. Bagaimanapun juga pesaingannya akan ketat. Apa ini juga pelatihan yang sedang anda uji, guru?" Tanya Ravettha memeriksa tugas menumpuk yang telah diberikan kepadanya.
__ADS_1
"Tentu saja! Guru melihat peluang, murid bisa diuji. Jika tidak, kalian sendiri yang mencari ujiannya." Ucap Pak Cheidon mempersingkat penjelasan prinsip bertumbuh dan berkembang.
Ia justru heran mengapa pertanyaan muridnya ini tidak berfokus pada ujian di depan matanya, tetapi pelatihan yang ingin ia uji secara diam-diam.
Mengingat tidak ada waktu yang tersisa jika hanya mengandalkan Ravettha, Pak Cheidon langsung memberi perintah agar satu murid lainnya tidak menganggur.
"Couffel! Carilah bahan-bahan ini untukku dan gunakan uang ini. Kemarilah dalam waktu kurang dari 5 jam. Waku dan uang yang tersisa bisa kau gunakan untuk membeli keperluanmu." Ucap Pak Cheidon menyerahkan satu gulungan kertas catatan dan uang miliknya.
"Memberikan semudah ini...? Guru tidak membohongiku, bukan?" Tanya Rencouff merasa aneh mendengar bonus yang mungkin menjadi miliknya.
"Jika kau tidak suka, aku bisa memberikannya ke orang lain." Ucap Pak Cheidon sama sekali tidak peduli bagaimana bonus darinya akan digunakan.
Mendengar keseriusan perintah gurunya, Rencouff dan Ravettha langsung mengambil masing-masing tugasnya dan menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri.
Di mata Pak Cheidon, kedua muridnya terlihat bersemangat setelah mereka mengetahui mengapa harus melakukannya.
"Huft! Itu lebih baik daripada mereka memberontak hebat di masa depan. Wajar saja Yang Mulia tertarik memilikinya." Pikir Pak Cheidon menatap kedua punggung muridnya saat keduanya meninggalkan ruang kerjanya.
Sementara Ravettha pergi ke asramanya demi ketenangan mengerjakan tugas, Rencouff mencari 'Demon Queen Horn'.
"'Demon Queen Horn'? Hanya namanya saja atau tanduk milik ratu iblis sungguhan?" Pikir Rencouff membaca ulang daftar nama yang ingin ia beli.
"Selamat datang di toko kami, pembeli tercintaku! Kami mempunyai 8 benda keluaran terbaru. Apa anda sekalian tertarik membelinya?" Tanya seorang penjual begitu ceria menawarkan barangnya.
"Loh! Bukankah itu benda yang kita cari? 'Demon Queen Horn' itu punya kita!" Ucap seorang pemuda berniat membeli benda yang juga diincar Rencouff.
Menyadari Rencouff memiliki saingan yang tidak sedikit, ia diharuskan memutar otak untuk mendapatkannya.
"Banyak mengincar tanduk itu, bukankah ini sama saja barang langka? Tunggu sebentar! Penjual itu memiliki 6 tanduk dan hanya menjual 2 setiap 10 tahun. Jika perhitunganku benar, dia menimbun selama 20 tahun untuk 4 tanduk sebelumnya." Pikir Rencouff memeriksa informasi bayaran.
Ia menjadi senang karena tidak perlu khawatir atas kekurangan barang incarannya.
__ADS_1
Tanpa mengundur waktu sesigap mungkin ia membuat koneksi sekaligus kerjasama.
BERSAMBUNG