
Hanya dengan melihat bom peledak, reaksi putri Dieco, Gervais I, dan Vicenzo saling bertentangan.
Putri Dieco menyarankan ayahnya agar tidak berlebihan menguras energi, sedangkan Gervais I langsung menyerahkan situasi berbahaya ini ke anaknya.
"Sempurna!" Ucap Vicenzo dengan menyeringai lebar.
"Lenyapkan musuh kita, putriku!" Teriak Dieco yang mengingatkan setegas mungkin mengenai misi mereka.
"Baik, ayah!" Ucap putri Dieco menyetujui perintah ayahnya.
Kecepatan memerintah Dieco ataupun putrinya masih terlalu lambat jika dibandingkan dengan Vicenzo.
Ia bahkan mengambil kendali atas perintah pemilik kuasa energi asal 'Black Hole'.
Sekali saja dirinya mengayunkan satu lengannya, ribuan 'Black Hole' dipadatkan hingga menjadi jarum berukuran panjang, tipis, dan meledak begitu dirinya menghentikan ayunan lengannya.
"Duniaku ini sudah hancur dan 'Ayah' juga kehabisan napas terakhirnya, maka dari itu... Mari kita hias peristiwa ini dan kita lihat bagaimana reaksi istriku mengetahui seberapa mengerikannya kehidupanku!" Pikir Vicenzo benar-benar menantikan kehadiran istrinya lebih cepat.
"Sungguh mengesankan, suamiku!" Ucap Ravettha tiba dengan teleportasinya dan memeluk leher Vicenzo dari belakang.
"'Suamiku?' Sayang! Kamu benar mengakuiku sebagai suamimu?" Tanya Vicenzo terkejut setengah mati setelah mengetahui harapan yang telah ia buat sebelumnya berhasil terwujudkan.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Jika senang, maka bersenang-senang lah! Lagipula aku sudah tidak bisa menghindar darimu dan menyedihkannya lagi justru jatuh ke pelukanmu." Ucap Ravettha tersenyum senang karena ia belajar banyak hal dari suaminya ini.
Ia lebih sensitif terhadap sinyal bahaya ternyata lebih cepat dan mampu membuat situasi berpihak padanya.
Terlebih lagi dirinya menjadi semangat setelah melihat kenalannya juga ikut campur di dalam pertunjukan yang ia nantikan.
"Aha! Kita bertemu lagi, Gervais!" Ucap Ravettha tersenyum bangga mendapati seluruh perintahnya dijalankan sesuai peran yang ada.
"Siapa kau sebenarnya?!" Tanya Gervais I memberontak dan sangat ingin memberikan pelajaran pada orang asing.
"Kau telah mengetahuinya tanpa kuberitahu. Benar begitu, Gervais?" Tanya Ravettha menyadari kekhawatiran suaminya yang datang untuk membawanya pergi.
"Yang Mulia?!" Tanya Gervais I benar-benar ketakutan.
Tubuhnya berkeringat dingin, jantung yang berdetak cepat, dan pikirannya dipenuhi kecemasan.
__ADS_1
Ia tidak dapat lagi berpikir jernih karena memikirkan apakah tugasnya selama ini telah diselesaikan sesuai perintah majikannya.
"Sayang, aku belum memberimu hadiahku. Mau lihat bersama?" Tanya Vicenzo mengulurkan tangannya dengan begitu yakin bahwa istrinya akan langsung mendengarkan permintaannya.
"Hm? Hadiah? Baiklah, suamiku. Sebelum itu, berikan waktu 1 menit membicarakan pekerjaan dengan ayahmu." Ucap Ravettha duduk sejajar dengan Gervais.
Mendengar permintaan istrinya, Vicenzo tidak bisa membatasi hal yang telah menjadi impian istrinya ini.
Ia hanya berharap bahwa hubungan istrinya dengan orang lain tidak lebih dan tidak kurang dari sekadar kepentingan pekerjaan.
"Bangunlah, Gervais! Kau sudah berusaha sejauh ini. Aku mengetahui perjuanganmu hingga sampai di titik ini. Kau tidak akan terbaring disana seperti ingin bunuh diri, bukan?" Tanya Ravettha menghargai dan bangga akan kinerja Gervais I selama dirinya belum terbangkitkan hingga saat ini.
Tidak ada teguran, kritik, ataupun kemarahan yang dikeluarkan olehnya.
Ia hanya tersenyum senang, mengulurkan tangan, dan hal itu sangat bermakna bagi bawahannya.
Waktu yang telah Ravettha janjikan dengan suaminya telah habis dan ia harus memenuhi permintaan sebelumnya.
"Mari kita pergi, suamiku!" Ucap Ravettha menggandeng lengan atas dan menggenggam erat tangan suaminya.
"Tentu saja tidak! Aku sangat penasaran dengan hadiahnya. Oh! Ciuman adalah permintaanmu sebagai hadiah dariku?" Tanya Ravettha yang baru saja tersadar setelah melihat tingkah suaminya yang ingin bermanja di dekatnya.
Sekali saja mendengar pertanyaan istrinya, Vicenzo justru malu mengakui.
Di saat yang sama, ia merasa bersama dengan istrinya ternyata membuatnya berhasil menjadi diri sendiri.
"Pft! Hahahaha! Wajahmu memerah. Sayang, apa kau malu atau...!" Ucap Ravettha menertawakan respon suaminya.
"Ya, aku malu mengakuinya. Bagaimana denganmu, istriku? Kamu malu menikahi pria seperti diriku?" Tanya Vicenzo menatap serius meskipun ia harus memotong perkataan istrinya.
"Aku tak punya kriteria khusus mengenai pria karena pada dasarnya aku tidak pernah peduli akan hal itu. Semakin lama dan semakin lama hidup, kuanggap 'Cinta' itu hal tabu karena itulah dalam membuat keputusan lebih sering menggunakan logika." Ucap Ravettha sama sekali tidak peduli apakah perkataannya ini menyinggung perasaan Vicenzo.
"Jadi itu mengapa kamu terlihat tidak percaya saat aku berusaha mencintaimu?" Tanya Vicenzo mendengarkan setiap kata hingga menyimpulkan secara ringkas.
"Penilaianmu tepat, suamiku! Malu menikahi dirimu? Aku bahkan tidak mengenal rasa malu atau bersalah. Kamu telah membuka kedua mataku, mengajariku cara beradaptasi dengan apa yang kubenci, dan satu hal terpenting, yaitu kamu membuat perjalanan hidupku penuh makna dan tantangan baru. Terimakasih, Cedric suamiku!" Ucap Ravettha tersenyum puas setelah mengalahkan rasa takut saat membicarakan tentang perasaan.
Baru saja dirinya selesai mengekspresikan perasaan, Vicenzo justru menangis dan ini membuat Ravettha kebingungan.
__ADS_1
"Suamiku! Mengapa kamu menangis?" Tanya Ravettha benar-benar kebingungan hingga membuat dirinya menjadi panik.
"Ini karena terlalu senang. Apa kamu mengingat janji kita di masa depan, sayang?" Tanya Vicenzo sebelum memberitahu yang sebenarnya ingin ia tunjukkan.
"'Tidak peduli seberapa berbahayanya diri kita, perbedaan yang kita miliki tetap dapat membuat kita hidup bersama.' Janji itu?" Tanya Ravettha penasaran mengenai kebenaran rekaman ingatan yang telah ia kumpulkan di ruang kerjanya.
"Benar! Mungkin janji itu terdengar seperti ucapan manis dan penghibur. Kamu perlu tau yang kumaksud dengan 'Hidup' adalah hidup berabad-abad lamanya bersama keluarga yang kita bangun bersama." Ucap Vicenzo sangat yakin istrinya mengingat bahwa mereka berdua tidak bisa mati dan berumur panjang di kehidupan ini.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku makna tersembunyinya?" Tanya Ravettha terkejut mengetahui keseriusan suaminya.
"Karena kamu tidak bertanya." Ucap Vicenzo tertawa riang dan hal ini membuat istrinya kehabisan kata-kata.
Ia menebaknya dengan tepat, sedangkan Ravettha merasa kalah dan sangat ingin memberontak.
Hanya karena Vicenzo telah menjadi suaminya, ia menurunkan tingkat emosinya agar menjadi stabil dan dirinya tidak perlu terjebak masalah.
"Yang Mulia, apakah hamba sudah bisa mendapatkan hukuman?" Tanya Gervais I masih saja ketakutan hingga dipenuhi rasa bersalah yang begitu besar.
"Tidak ada hukuman dariku, tetapi aku tidak tau jika suamiku mempunyai kehendak lain. Kamu yang memutuskannya, suamiku!" Ucap Ravettha sama sekali tidak berpikir bahwa memberi hukuman partner kerjanya adalah cara yang tepat.
"Aku terkesan istriku menghargaiku sebagai suaminya. Ayah, aku ingin menganggapmu kembali sebagai ayah kandungku. Maaf telah menjadi anak pemberontak." Ucap Vicenzo mengingat kembali dirinya juga punya kesalahan.
"Anakku, kamu sudah meminta maaf. Sekarang giliranku, ayah minta maaf telah memaksamu melakukan yang ayah mau, padahal kamu tau sendiri jika itu tidak sesuai dengan dirimu." Ucap Gervais I merasa dirinya tidak pantas dimaafkan.
"Tentunya aku memaafkan ayahku. Bisakah ayah merestui pernikahan kami dan menyingkirkan tunangan yang ayah pilih?" Tanya Vicenzo benar-benar berharap sekali saja ia didengarkan ayahnya.
"Ya, ayah akan melakukannya untuk anak ayah! Ayah percaya Yang Mulia adalah hadiah terbaik di dalam hidupmu, anakku! Pertahankan hubungan kalian! Kau mengerti anakku?" Tanya Gervais I membicarakan hal yang hanya dapat dimengerti oleh ayah dan anak saja.
"Aku senang ayah mendengarkanku walaupun hanya sekali. Ayah memang yang terbaik!" Ucap Vicenzo merangkul ayahnya seperti kakak beradik.
Ravettha yang melihat perubahan tersebut ikut senang.
Ia bahkan tidak perlu turun tangan memikirkan cara efektif, selain membiarkan bawahannya ini mendapatkan mukanya kembali.
Dengan begitu, keinginan untuk berkompetisi tidak sehat akhirnya dapat dihindari.
BERSAMBUNG
__ADS_1