Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Penyelamatan Diri Sendiri Dari Cengkeraman Pembunuhan


__ADS_3

Mereka berempat berlari keluar dari rumah tersebut dengan cepat.


Sementara itu, Ravettha sedang berjalan menuju suatu ruangan yang terdapat pembunuh asli tersebut.


Ia berencana untuk menyelidiki pembunuh asli tersebut.


"Aku tau ini akan berbahaya! Sayang sekali ini tidak merugikanku sama sekali karena apabila aku gagal di misi ini maka aku akan dihidupkan kembali dan mulai dari misi awal. Daripada terus mengulang semua misi yang ada, aku harus fokus dan bergerak dengan kepala dingin. Aku yakin musuh akan lebih pintar dariku jika aku bertindak terburu-buru!" Pikir Ravettha dengan sangat serius.


Ia tidak membiarkan siapapun dapat membaca pikirannya sehingga ia dapat dengan mudahnya membaca pergerakan dan pikiran orang lain.


"Hal yang pertama harus kuketahui adalah kelemahan dan kelebihan dari musuh!" Pikir Ravettha.


Tibalah di depan suatu ruangan yang memiliki aura lebih kuat daripada ruangan lainnya.


"Aura ini... Lebih mirip dengan Raja Kegelapan di lantai pertama! Kenapa dia tidak menyembunyikan auranya untuk memancing target datang kepadanya? Padahal itu adalah cara termudah jika dia benar-benar profesional!" Pikir Ravettha yang menaruh curiga dan tetap bergerak dengan kepala dingin.


Karena ia telah menaruh curiga kepada ruangan tersebut, ia menggunakan 'Eye Sighting' miliknya untuk melihat isi dari ruangan tersebut.


Tidak lupa juga dengan menghilangkan jejak dirinya sehingga tidak ada yang mengetahui keberadaannya termasuk musuhnya.


Saat ia melihat apa yang terdapat di dalam ruangan tersebut, ia hanya melihat seorang pembunuh asli yang bernama Roosevelt Norftord Starthearn sedang duduk di atas sebuah meja bundar dengan santainya tanpa mengkhawatirkan sesuatu.


"Ternyata benar! Di dalam sana masih ada pembunuh itu! Tunggu... Ada yang aneh darinya! Setelah aku melihat dirinya, aura yang kurasakan dari luar ruangan tersebut langsung menghilang dengan sangat cepat seolah ia sedang menggunakan penyamaran! Itu artinya ia bukanlah pemilik asli dari aura tersebut!" Pikir Ravettha dengan sangat serius dan teliti.


Karena tidak melihat teman-temannya, ia langsung membuat komunikasi melalui telepati kepada Lartson, Tuan Ananta, Eleanor, dan Tuan Calhoun.


"Semuanya! Dimana kalian?" Tanya Ravettha dengan menggunakan telepatinya.


"Kami semua ada di luar area 'Rumah Hantu', master! Saya telah berhasil mengumpulkan Tuan Ananta, Tuan Calhoun, dan Eleanor." Ucap Lartson dengan menggunakan telepatinya.


"Ya, itu benar." Ucap Tuan Ananta, Tuan Calhoun, dan Eleanor secara bersamaan.


"Syukurlah, kerja bagus Lartson!" Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya.

__ADS_1


"Terimakasih, master." Ucap Lartson dengan sedikit malu.


"Hei, bocah! Kau sekarang ada dimana? Jangan bilang kau masih ada di dalam!" Ucap Tuan Ananta dengan menggunakan telepatinya.


Ravettha terdiam sejenak setelah mendengar hal tersebut.


"Aku akan menyusul kalian, kalian harus mencari perlindungan sekarang juga!" Ucap Ravettha dengan tegas melalui telepatinya.


"Apa? Kenapa? Bukankah kita sudah selamat dari pembunuh itu?" Tanya Tuan Calhoun dengan penasaran melalui telepatinya.


"Jangan lengah dahulu! Urusan kita dengan pembunuh itu belum selesai! Jaga diri kalian baik-baik! Dan usahakan jangan percaya dengan siapapun!" Ucap Ravettha dengan tegas melalui telepatinya.


"Kenapa dengan dia sekarang? Kau yang sangat bersemangat untuk pergi kesini, tetapi kau yang mengatakan 'Jangan percaya dengan siapapun'?" Tanya Tuan Ananta dengan curiga melalui telepatinya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya!" Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya.


Ia pun langsung memutus komunikasi telepatinya dengan yang lainnya.


"Apa maksudnya?" Tanya Tuan Calhoun dengan penasaran.


Sementara itu, Ravettha yang sedang menghilang dan menyamarkan dirinya untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan musuhnya akhirnya berhasil mengetahui hal tersebut.


"Apa? Kelemahannya terletak pada 'Devil Surface'? Dan kelebihannya terletak pada 'Darkness Horn? Yang benar saja! Itu artinya kekuatannya dan kemampuannya masih dibawah para Raja dan Ratu yang pernah kutemui! Dengan kata lain, ia adalah salah satu bawahan dan ia juga termasuk dalam rencana milik dalang asli!" Pikir Ravettha yang telah melihat seluruh celah dari pembunuh tersebut.


Ia melangkahkan kakinya dan memasuki ruangan tersebut untuk memeriksa kejadian sesungguhnya dengan sangat hati-hati.


Ia sama sekali tidak terkejut setelah memasukinya justru ia dibuat kecewa dengan musuhnya tersebut.


Di dalam ruangan tersebut juga tidak dipasang perangkap satupun disana.


"Hoo... Kau sudah datang, pengunjung baru! Tadinya aku ingin memberikan pertunjukan yang sangat menakjubkan bagi para pengunjung. Sayang sekali hal itu sudah diketahui oleh pengunjung ku yang sangat cerdik. Aku kagum dengan bagaimana kau mengetahuinya!" Ucap pembunuh tersebut yang sedang menyembunyikan beberapa racun untuk membunuh Ravettha.


Ravettha yang telah mengetahui hal tersebut menjadi tersenyum senang.

__ADS_1


"Kudengar para pengunjung tidak lagi ingin memasuki area rumah ini karena sangat menakutkan dan terdapat hal-hal seperti pembunuhan? Apa itu tidak masalah bagi pemilik dan pengurus tempat ini, ya? Menyedihkan sekali! Tempat ini menjadi sangat sepi pengunjung." Ucap Ravettha yang berpura-pura menjadi orang yang menyebalkan untuk memancing amarah dari pembunuh tersebut.


"Itu benar. Aku bahkan dibuat bingung dan iri dengan area permainan tempat lainnya. Seandainya aku bisa mendapatkan banyak pengunjung, mungkin aku bisa membangun area permainan yang lebih menyenangkan dari tempat ini." Ucap pembunuh tersebut yang tiba-tiba menjadi sedih setelah mendengar hal tersebut.


"Um... Karena kau sudah berbaik hati kepadaku, maka akan kuberikan sebuah tiket khusus untukmu. Ambillah! Hadiah ini dapat kau gunakan untuk memasuki area tempat milikku kapan saja." Ucap pembunuh tersebut yang tersentuh dengan perkataan Ravettha, hal itu membuatnya dengan senang hati untuk memberikan sebuah kartu kecil bertuliskan namanya sendiri, yaitu Roosevelt Norftord Starthearn.


"Berbaik hati? Itu terlalu berlebihan!" Ucap Ravettha.


"Tidak apa-apa, kau mengingatkanku kepada adik kecilku yang manis dan baik. Aku sangat ingin mengangkatnya menjadi adik baruku. Bagaimana?" Tanya Roosevelt dengan tersenyum ramah.


"KRING!"


Suara panggilan milik Ravettha sedang berdering.


"Tunggu sebentar, aku ingin mengangkat panggilan ini dahulu." Ucap Ravettha kepada pembunuh tersebut.


Roosevelt hanya dapat mengangguk setuju.


Ravettha dengan spontannya langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Kenapa kau terlambat! Dimana kau sekarang? Cepat datang menghadap ke ruanganku, mengerti?" Tanya seseorang di panggilan tersebut dengan nada yang membentak dan sangat dipenuhi amarah.


"B-Baik." Ucap Ravettha dengan spontan.


Ia pun menutup panggilan tersebut setelah selesai.


"Aku harus pergi dahulu. Sampai bertemu di lain waktu!" Ucap Ravettha yang langsung pergi menghadap seseorang di panggilannya tersebut.


Ia berlari dengan cepat meninggalkan Roosevelt sendirian di ruangannya.


"Yah... Aku kan ingin memberikan hadiah spesial kepadanya. Sayang sekali ia melewatkannya!" Ucap Roosevelt dengan sedikit kecewa.


"Tapi tidak masalah! Dia akan segera menjadi adik baruku dan menjadi lebih dekat saat kita bertemu di pertemuan selanjutnya!" Ucap Roosevelt dengan kembali bersemangat dan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan dia saat ini, ya? Aku sudah tidak sabar untuk membunuhnya!" Ucap Roosevelt dengan tersenyum dengan sangat senang.


BERSAMBUNG


__ADS_2