
"Ah! Aku melewatkan makan malamku dan surat yang harus kubaca." Ucap Ravettha mengeluarkan makan malamnya dan membaca surat Vicenzo sendirian di dekat jendela kamar.
"Akhirnya anda memutuskan untuk membacanya! Dari awal menerima surat ini, ia terus bergetar dan menakutiku jika isinya benar-benar...!" Bunyi notifikasi sistem hologram.
"Dia melukaiku, dia juga akan terluka. Kenapa kau terlalu ketakutan?" Tanya Ravettha masih menyantap makanannya.
"'Tolong segera anda baca!' Sepertinya itu maksud getaran suratnya." Bunyi notifikasi sistem hologram.
"Yeah... Memang tidak ada satupun makhluk yang ingin diabaikan dan kurasa itu juga termasuk surat ini. Pft! Kau membuatku terkesan, Cedric!" Ucap Ravettha menghabiskan makanan di mulutnya dan tertawa senang karena ingin mengetahui siasat dangkal partnernya yang satu ini.
Ia langsung bangun dari kursi makannya dan mengambil tinta seperti yang dipakai Vicenzo.
Sebuah surat telah diletakkan oleh sistem hologram sehingga penggunanya hanya perlu menulis dan mengirimkannya.
"Merah... Amplop merah! Bagaimana bisa dia mengetahui warna kesukaanku?!" Tanya Ravettha benar-benar terkejut, sedangkan kedua telinganya memerah.
"Bodoh! Kau masih tidak mengerti ya?" Tanya sebuah suara yang muncul di kepala Ravettha.
"Neance. Apa aku salah?" Tanya Ravettha menyadari sebuah suara yang sangat serupa dengan apa yang ia dengar di 'Lautan Waktu'.
"Ya itu aku! Kepribadian kita sama, diriku di kehidupan ketiga. Gelar 'Yang Mulia', Alvina, Neance, dan Ravettha adalah jiwa yang sama. Hanya saja waktu kelahiran dan wadah tubuh kita berbeda jauh. Hahahaha! Aku lebih tua darimu!" Ucap Neance merendahkan status usia Ravettha sebagai juniornya.
"Katakan saja apa yang kau inginkan! Perlu diingat belum tentu aku akan menurutimu." Ucap Ravettha bersikap dingin setelah merasakan ada hal yang harus ia hindari.
Responnya semakin tenang terlebih lagi dirinya telah meminum cokelat panas yang kedua kalinya.
Nafsu makannya telah stabil sehingga hidangannya juga habis total.
"Kau dan Cedric itu saling memiliki. Kenapa juga kau masih keras kepala dan menyangkalnya habis-habisan?" Tanya Neance menusuk tajam melalui perkataannya.
"Kau ini datang untuk menceramahiku ya?" Tanya Ravettha tersenyum pahit mendengar kebenarannya.
"Hoam! Kau pikirkan saja sendiri sana! Aku mau kembali tidur." Ucap Neance menghilang demi menikmati waktu tidur yang berharga.
"Ya, tidur selamanya juga boleh loh!" Ucap Ravettha menyobek selembar kertas baru untuk membalas surat.
Terlihat jelas ia masih kesal, tetapi semua itu justru membaik setelah dirinya menyelesaikan suratnya.
Ia bahkan menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk memikirkan kalimat yang tepat.
"Urgh! Akhirnya selesai juga! Tunggu! Bukankah 13 jam yang lalu, disana masih malam? Jika aku mengirimnya sekarang, disana sudah pagi. Ah! Kirim saja apa susahnya?!" Gumam Ravettha semakin kesal mendapati tulisannya yang terlalu kaku.
"Anda sudah selesai?" Bunyi notifikasi sistem hologram kembali muncul setelah menunggu lama penggunanya ini menulis.
__ADS_1
"Kau atur sendiri saja! Aku mau tidur." Ucap Ravettha sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan hologramnya.
Ia langsung pergi ke kasur dan benar-benar tertidur.
Sementara hologramnya melihat Ravettha telah tidur, sebagai sistem yang suka membantu, dirinya memeriksa hasil tulisan Ravettha.
Tulisan formal dan terlalu kaku langsung diperbaiki hingga menjadi bentuk non-formal.
"Nona, anda menganggap teman anda ini sebagai apa? Semuanya kaku, sangat mirip dengan wajah dinginmu!" Bunyi notifikasi sistem hologram dengan membuang seluruh hasil karangan Ravettha ke dalam kotak sampah.
Mengingat pengirim surat sebelumnya menggunakan amplop merah, kali ini ia melakukan hal yang sama.
Dirinya yang telah menerima perintah penggunanya langsung mengirim surat ke sumber alamat.
"Belum ada balasan ya?" Pikir Vicenzo menjadi murung karena telah menunggu surat dari kekasihnya seharian.
Ia sama sekali tidak ingin menyerah dan melihat kembali surat tersebut setelah pulang sekolah.
Ruangan kelas yang membosankan dan ditambah dengan murid pengganggu ternyata membuat dirinya harus bersabar hari demi hari.
"Hm... Amplop? Dari siapa ini...?!" Pikir Vicenzo melihat ke sekitarnya sebelum memeriksa isi surat.
Tidak ada yang menyadari keberadaan surat tersebut dan hal ini sangat berguna bagi dirinya.
"I-Ini! Surat ini sungguh dari istri masa depanku! Huhuhu! Kupikir kamu sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku masih tidak menyangka kamu mau meluangkan waktumu untukku, sayang!" Pikir Vicenzo kembali gembira.
"Kamu bercanda ya, Cedric? Ketiga benda yang kuberikan ditugaskan untuk membantumu. Walaupun aku tidak butuh terimakasihmu, mungkin kali ini saja aku menerimanya. Menyeramkan! Sepertinya aku harus berhati-hati ketika kita bertemu." Bunyi isi surat Ravettha yang telah dirapihkan.
"Dimana yang menyeramkan, sayang? Tentu saja kamu harus berhati-hati, aku akan menangkapmu loh!" Pikir Vicenzo tertawa riang menantikan respon kekasihnya begitu mereka bertemu kembali.
Secepat mungkin ia menulis surat dan mengirimkannya sebelum bel berbunyi.
Ia telah bahagia mengetahui kekasihnya masih bersedia membuka hatinya hanya untuk dirinya.
Di lain dunia, Ravettha baru saja bangun dari tidurnya.
Rambutnya sama berantakan dengan kasurnya.
"HUP!"
"Hari keduaku tiba! Aku tidak sabar ingin segera memulainya! Fufufu! Ratu hanya butuh kerajaan untuk berkuasa dan ratu itu adalah aku!" Pikir Ravettha beranjak dari kasurnya dengan melompat penuh semangat, meregangkan otot dan tubuhnya, lalu pergi sarapan sebelum mandi.
"Selamat pagi, master!" Ucap Layla, Nicholas, Rufino, dan Falext secara bersamaan.
__ADS_1
Leonardo dan Tuan Glendy hanya mengangguk setuju mengenai perkataan keempat rekannya.
"Hari yang cerah ini tidak boleh menghilangkan kebersamaan kita. Ayo sarapan bersama!" Ucap Lartson memandu keenam rekannya dan seorang majikannya.
"Tentunya!" Ucap Ravettha bertambah semangat setelah menyaksikan ambisi ketujuh partnernya.
Koki yang telah siap sedia sejak beberapa jam yang lalu langsung menyiapkan hidangan sesuai keinginan majikan dan ketujuh pemandunya.
Penyaji datang dan menyajikan hidangan lezat yang menggugah selera.
"Hari ini kita akan menargetkan berapa dunia, master?" Tanya Tuan Glendy penasaran akan peluang penelitiannya bersama Lartson akan dipakai secara massal.
"11 dunia. Ini lokasi mereka, Tuan Glendy." Ucap Ravettha menghidupkan layar hologramnya dan memperlihatkan dunia mana saja yang menjadi target mereka kali ini.
"45% pasukan kita telah dikirim ke tiga dunia sebelumnya hanya untuk tahap pertama dan kedua. Jika kita mengirim tahapan ketiga kesana, kita hanya akan punya 10% untuk misi hari kedua ini." Ucap Rufino memperhatikan total pengeluaran mereka.
"Tepat sekali, Rufino! Nicholas, menurutmu butuh berapa banyak warga untuk ditransfer ke dunia baru?" Tanya Ravettha menatap Nicholas karena menantikan jawaban dari partnernya.
"5% warga ke dunia pertama, 2% warga ke dunia kedua, dan 9% warga ke dunia ketiga." Ucap Nicholas membuka file pengamatannya dari layar hologramnya sendiri.
Mendengar hasil perhitungan partnernya ini, Ravettha langsung menimbangkan seluruh hal yang perlu dipersiapkannya.
Baginya, hal sekecil apapun itu harus diperhitungkan daripada harus menanggung kesalahan yang mengancam banyak pihak.
"Falext! Tarik 10% pasukan di dunia pertama, 13% dari dunia kedua, dan 6% dari dunia ketiga. Rufino! Terus tingkatkan kualitas dan kuantitas pasukan baru hingga 10 kali lipat! Kuberi waktu 7 hari." Ucap Ravettha memberikan perintah di hari keduanya.
"Perintah anda hamba terima, master. Kami akan menghasilkan generasi baru 10 kali lipat dalam kualitas dan kuantitas." Ucap Rufino menganggap perintah majikannya kali ini sebagai tantangan.
"Penarikan pasukan segera dilaksanakan!" Ucap Falext mengundurkan diri untuk memberi perintah kepada para pasukannya.
Baik Rufino ataupun Falext, keduanya mengatur kendali atas tugas yang mereka miliki.
Rufino mengumpulkan 49.647.984 muridnya dan memberikan tugas baru agar mereka mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas para generasi muda.
Sementara dirinya sibuk dengan pekerjaannya, Falext memilih kandidat terbaik untuk tetap berjaga, memberikan perintah penarikan pasukan yang berjumlah 29% dari ketiga dunia, dan mengaktifkan chip induk para warga agar tidak terjadi konflik internal.
"Bagaimana pengamatan kalian, Lartson, Tuan Glendy, dan Leonardo?" Tanya Ravettha mendapati ketiga partnernya menghadap dirinya dengan membawa lembaran berkas di tangannya.
"Kami menemukan potensi, master!" Ucap Lartson, Tuan Glendy, dan Leonardo secara bersamaan.
"Katakanlah! Aku mendengarkan." Ucap Ravettha telah menyiapkan diri untuk membuat keputusan besar lagi dan lagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1