
Akhirnya Layla berhasil mendapatkan kepastian dari Ravettha.
Ia langsung mengundurkan diri dan mulai mempersiapkan permintaan majikannya.
"Hidangan sudah hampir siap. Aku harus meminta bantuan muridku untuk menyebarkan undangannya. Harus kupastikan juga perayaan ini tidak ada pengkhianat ataupun pembunuh bayaran!" Gumam Layla sesigap mungkin membagi tugas dengan seorang muridnya dan penjaga khusus.
Dekorasi telah ia buat sedemikian rupa hingga informasinya mencapai ke telinga masyarakat.
Mereka menyambutnya dengan penuh suka cita dan saling membantu mewujudkan perayaan tersebut.
"Falext! Menurutmu, apakah aku bisa mengundang seseorang tamu?" Tanya Ravettha yang kebosanan setelah seluruh pekerjaannya telah selesai dikerjakan.
"Hanya satu. Anda perlu waspada juga jika tamu anda memiliki rasa penasaran yang terlampau tinggi!" Ucap Falext memperhitungkan kemungkinan terburuk yang sangat mungkin membuat mereka berada di dalam masalah.
"Iya, iya, aku tau! Kalau begitu aku akan mengirim satu undangan untuk Cedric saja." Ucap Ravettha tersenyum senang.
"Cedric? Jangan katakan jika anda akan mengundang anak itu, master!" Ucap Falext benar-benar terkejut dengan keputusan majikannya.
"Kenapa? Aku akan tetap mengundangnya terlepas dia hadir atau tidak." Ucap Ravettha berusaha menebak apa yang ada dipikiran partnernya ini.
"Hamba tidak masalah anda sungguhan mengundangnya. Satu hal yang membuat khawatir adalah dia merupakan partner yang tidak anda akui! Begitu dia menginginkan perhatian anda, semuanya bisa dilakukan olehnya dan anda akan masuk ke dalam permainannya." Ucap Falext mengungkapkan seluruh yang ada dipikirannya secara terang-terangan.
"Aku menghargai pemikiranmu, Falext. Kau hanya perlu menenangkan dirimu! Perkataanmu tidak ada yang salah dan satu hal yang perlu kita ketahui. Dia tetap akan jadi kartu as cadangan kita." Ucap Ravettha menyeringai lebar tanpa menunjukkan langkah selanjutnya dengan jelas.
"Baiklah, ini kertas undangannya." Ucap Falext merasa dihargai karena seluruh sarannya telah didengar oleh majikannya.
Ia langsung menyerahkan kebutuhan untuk menulis surat undangan.
Mendapati perubahan emosi Falext telah menjadi stabil, Ravettha mengambil kertas dan tintanya.
Kata demi kata dirangkai sesuai kepribadian aslinya.
"Anda mendapatkan sebuah surat. Apa anda mau membacanya?" Bunyi notifikasi sistem yang terdapat di topeng penyamaran Vicenzo.
"Surat? Mungkinkan itu dari Ravettha ku?" Tanya Vicenzo berharap penuh bahwa alamat surat itu berasal dari kekasihnya.
"Bagaimana kondisimu, Cedric? Maaf akhir-akhir ini aku belum membalas puluhan suratmu. Di tempatku akan mengadakan perayaan. Apa kau mau datang bersamaku, Cedric? Kuharap kita bisa menikmati liburan singkat. Sampai bertemu dua hari lagi di jam yang sama!" Bunyi surat tersebut dengan menyerahkan sebuah kunci tanpa penjelasan.
"Tentu saja aku mau, sayang! Akhirnya puluhan surat yang belum terbalas justru digantikan kesempatan emas ini. Tunggulah aku disana dan aku akan menjemputmu, Ravettha ku sayang!" Ucap Vicenzo tanpa sadar terus melompat kegirangan di koridor akademi.
Berjam-jam lamanya telah dilalui, tiba waktunya pulang sekolah dan ini adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan segalanya.
Ia meyakinkan dirinya bahwa hanya dirinya yang pantas berada di samping Ravettha.
"Pakaian satu set sudah! Parfum sudah! Dasi, sepatu, dan tali pinggang sudah! Ah! Apa aku juga harus membawa buah tangan? Tunggu-tunggu! Mengapa ini terasa seperti kencan saja?! Akui saja dirimu ini menawan, Cedric! Siapapun akan terpikat dengan pesonamu, termasuk Ravettha ku. Aku yakin bisa menghadapinya dengan bijak!" Ucap Vicenzo menatap ke dalam cermin di kamarnya.
__ADS_1
Segala macam reaksi telah ditunjukkan hanya di depan cerminnya.
Tidak ada yang membuatnya takut untuk memulai pendekatan.
Dirinya juga diharuskan menguatkan diri apabila mengalami hal yang tidak diinginkannya.
Berlatih hari demi hari dan inilah saatnya ia harus membuktikan hanya pada dirinya.
"Baiklah! Suami masa depanmu sudah siap, sayang!" Ucap Vicenzo bergembira sekaligus sebisa mungkin bertindak tenang.
"Apanya yang sudah siap? Huh?! Kamu mempersiapkan semuanya dengan baik, Cedric." Ucap Ravettha muncul melalui portalnya dengan rasa kagum.
Ia tidak tahu apakah hanya bermimpi atau tidak, penglihatannya sama sekali tidak mengatakan ada hal yang keliru.
Jika bukan karena sifat menyebalkan partnernya ini, dirinya sangat mungkin tidak mengenali perubahan drastis Vicenzo.
"Terimakasih, sayang. Aku telah mempersiapkannya hanya untukmu, Ravettha ku." Ucap Vicenzo berjalan mendekati kekasihnya.
Dirinya sungguh ingin mengetahui bagaimana reaksi kekasihnya.
"Aku sangat ingin tahu apakah kamu berjalan mundur dan menghindariku atau justru menerimaku di sisimu, sayang!" Pikir Vicenzo masih tidak berhenti tersenyum senang.
"Pft! Kamu membuatku terkesan. Sekarang kamu ingin pergi denganku atau tidak? Perayaannya akan segera dimulai loh!" Ucap Ravettha mengulurkan tangannya, sedangkan sebagian tubuhnya telah memasuki portal.
Tidak ada jawaban dari partnernya ini, kecuali meraih uluran tangannya dan memeluk erat tubuhnya.
"Kita akan memasuki jalur pengawasan. Berhati-hatilah, sayang!" Ucap Ravettha dengan cepat mencium tepat di bibir partnernya.
Ini adalah pertama kalinya ia memanggil partnernya dengan sebutan itu dan sepertinya kesalahpahaman yang mulai terjadi justru terlihat lebih menarik di matanya.
Wajah Vicenzo benar-benar berubah memerah dan hal itu terlihat jelas di mata Ravettha.
"Hahahaha! Katakan saja kamu menginginkannya dan di saat yang sama kamu takut memintanya. Apa aku benar, Cedric?" Tanya Ravettha menertawakan hasil kenakalannya.
"Sangat tepat, sayang!" Ucap Vicenzo membalas ciuman pertamanya dengan lebih lembut daripada kekasihnya yang terkesan agresif.
"Huh?! Kali ini aku membiarkanmu, Cedric! Selanjutnya kamu mungkin tak akan bisa lolos dariku." Ucap Ravettha sebisa mungkin menyembunyikan segala emosinya.
"Aku menantikannya istri masa depanku, Ravettha ku sayang!" Ucap Vicenzo menyeringai lebar tepat saat dirinya mengetahui maksud perkataan kekasihnya.
Ravettha tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya.
Ia sungguh beruntung karena penjaga pintu masuk telah dekat dengan jangkauannya sehingga hal ini dapat mengurangi tindakan Vicenzo yang semakin bergairah.
"Master! Akhirnya anda tiba! Seluruh dunia telah menunggu anda!" Ucap Falext menatap tajam ke arah Vicenzo.
__ADS_1
"Lebih tepatnya menunggu pesta." Ucap Ravettha tersenyum bangga setelah melihat seluruh kinerja mereka benar-benar terwujudkan.
Ia berjalan mengikuti Falext agar terhindar dari kepadatan penduduk.
Seluruh perhatian dan perbincangan massa memusat ke dirinya.
"Ah! Ini sungguh mengagumkan! Lihatlah mereka! Mereka sungguh menantikanku tampil." Pikir Ravettha semakin menjadikan dirinya bahwa ia adalah sosok yang berhasil berbicara di depan publik.
"Terimakasih, bangsa tercintaku! Kehadiran dan semangat kalian memeriahkan suasana di sekitar kita. Marilah kita merayakan kemenangan kita bersama!" Ucap Ravettha bertepuk tangan dan diikuti seluruh bangsa di dunianya.
Sorakan gembira memenuhi seisi dunia.
Tawa, canda, dan suka cita mereka saling tersalurkan satu sama lain.
Vicenzo yang menyaksikan kekasihnya berdiri dengan tegas sekaligus ramah justru melihat wibawa yang terpancar dengan jelas.
"Sayang! Kamu berhasil melakukannya! Kemarilah dan biarkan suami masa depanmu ini menciummu lagi!" Ucap Vicenzo sama sekali tidak berniat melepaskan kekasihnya.
"Ini baru bencana namanya!!!" Pikir Ravettha langsung memindahkan partnernya ke ruang kerjanya.
"CLICK!"
"Master! M-Master?" Tanya Lartson dan Nicholas secara bersamaan memasuki ruang kerja majikannya.
"Ada apa? Kenapa kalian tiba-tiba berhenti di tengah jalan?" Tanya Leonardo, Layla, Falext, dan Tuan Glendy terkejut di saat yang sama.
"Tidak mungkin mereka menabrak dinding. Mereka tidak sebuta itu! Atau...?!" Ucap Tuan Glendy sangat ingin tahu apa yang terjadi di hadapannya.
Dari ketujuh partnernya, mereka tidak bisa mempercayai penglihatannya.
Secepat mungkin mereka bertujuh keluar dari ruang kerja, sedangkan Ravettha membuat seluruh dunia tidak ada yang mengetahui kejadian ini.
Terlebih lagi dirinya juga merahasiakannya dari Vicenzo.
"Sudah selesai?" Tanya Ravettha menurunkan tubuh partnernya ini ke kursinya.
"Selesai? Tentu saja belum!" Ucap Vicenzo berusaha menahan dirinya karena ia mengetahui ini bukanlah situasi yang baik untuk membalikkan perasaan.
"Masih ada urusan yang harus kuselesaikan. Bagaimana denganmu, Cedric?" Tanya Ravettha menatap tidak peduli dengan jawaban yang akan dikeluarkan partnernya ini.
"Kurasa sudah cukup kita berliburnya. Aku akan tinggal disini selama sehari, lebih juga boleh!" Ucap Vicenzo mengangguk setuju.
"Tidak ada kasur untukmu. Malam ini kamu tidur di lantai saja." Ucap Ravettha memfokuskan perhatiannya pada pekerjaan yang baru saja menumpuk.
"Tidak masalah! Lagipula aku akan tetap tidur di kamarmu, sayang!" Ucap Vicenzo tersenyum senang dan memikirkan bagaimana caranya agar ia terus dominan dibandingkan kekasihnya.
__ADS_1
"Kamu ini cari mati ya? Ah, sudahlah! Karena kamu menginginkannya, aku hanya perlu mengantarmu ke kematian." Ucap Ravettha menenangkan diri sendiri.
BERSAMBUNG