
Tepat 30 menit sebelum ledakan sebuah granat yang menewaskan tidak sedikit warga di sekitar rumah Tuan Ellievont, kehidupan sekolah Sorayna, Levord, Kalvetno, Cedric tetap menjadi membosankan walaupun mereka telah mencoba berbagai cara agar mereka nyaman saat memahami materi pelajaran yang diberikan gurunya.
"Hwaaa! Kapan selesai pelajaran ini? Aku butuh anak cerdas untuk mengajariku! Setidaknya orang itu bisa mengubah suasana kelas yang membosankan ini!" Pikir Sorayna dengan menguap karena mengantuk dan memutuskan diri untuk tidur sampai pelajaran selanjutnya.
Ia mengambil tiga buku tebal dari tasnya lalu menaruhnya hingga saling tertumpuk tinggi, tidak lupa dengan satu buku cetak yang berukuran besar sebagai penutup di depan wajahnya.
"Semua persiapan sudah siap, dan sekarang... Saatnya aku beristirahat! Jangan salahkan aku jika tidak memperhatikan pelajaran yang ada di kelas ini! Sekolah mandiri lebih baik daripada ini~!" Pikir Sorayna dengan melemaskan tubuhnya dan mulai menutup matanya.
Melihat hal tersebut, Kalvetno langsung terpikirkan sebuah rencana liciknya di dalam pikirannya.
Ia merobek lima kertas dari belakang bukunya dan satu diantaranya dituliskan sebuah kalimat perintah, yaitu, "Sorayna! Bangun! Kau tidak melupakan janji hari ini, bukan? Kita akan mencari bahan-bahan kerja kelompok kita sepulang sekolah bersama-sama!"
"TUING!"
Lemparan pertama hanyalah sebagai umpan belaka.
Kalvetno sangat tahu bahwa umpan lemparan pertamanya tidak akan berefek apapun kepada targetnya walaupun Sorayna belum tertidur pulas, kecuali ia menambahkan sebuah benda di dalamnya.
Yang tentunya benda tersebut berukuran kecil, padat, dan dapat dibungkus kertas miliknya.
"Kertas itu...? Berasal dari Kalvetno? Apa yang...?" Gumam Levord yang belum selesai mengucapkan gumamannya karena ia langsung mengetahui maksud dibalik tindakannya.
Ia yang telah mengetahui maksud dibalik tindakan temannya langsung menenangkan diri dan berusaha membuat situasi kelas menjadi kondusif sehingga baik dirinya, Kalvetno, dan Sorayna tidak mendapatkan teguran ataupun hukuman dari gurunya.
Berbeda dengan mereka bertiga, Cedric yang terus-menerus memperhatikan keluar jendela selama pelajaran pertama dimulai tiba-tiba mendapatkan berbagai panggilan masuk dari partner kerjanya.
Partnernya bernama Yurlicus Monnievoya, seorang partner yang memiliki berbagai kemampuan termasuk meretas file-file data milik musuh.
__ADS_1
"Tuan muda, saya telah mendapatkan laporan data yang menurutku ini aneh dan terdapat hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Lihatlah ini, tuan! Semuanya hilang dan hanya ada 5 file yang berhasil kami dapatkan." Ucap Yurlicus dengan menyerahkan semua file yang berhasil ia dapatkan kepada tuannya untuk dilihat.
Saat ia melihat semua isi file tersebut, tidak ada hal penting dan berguna yang didapatkan dari data-data tersebut.
"Ternyata kamu sudah bergerak selangkah dengan cepat! Tunggulah aku, aku akan kesana dan menemuimu!" Pikir Cedric dengan tersenyum kecil di wajahnya dengan hati yang semakin berdebar.
Walaupun hanya tersenyum kecil, Yurlicus sangat mengerti bahwa tuannya sedang merasa gembira dan ia memutuskan untuk tidak merusak suasana hatinya.
"Ya, terimakasih, Licus! Berapa total file yang seharusnya kita dapatkan?" Tanya Cedric dengan penuh penasaran dan kembali bersemangat.
"43 file, tuan." Ucap Yurlicus dengan memeriksa kembali seluruh file yang harus ia dapatkan.
"Ya, kabar baik kalau begitu! Apa kau punya kabar buruknya?" Tanya Cedric dengan penasaran.
"Sejak peretasan file-file itu, nona muda menjadi tidak diketahui posisinya, seperti ada alat perusak sinyal dan yang lebih mencurigakannya lagi adalah alat yang saya maksud tadi tidak ada sama sekali setelah saya periksa berkali-kali, tuan. Apakah anda menghendaki saya untuk mencarinya di lingkup pencarian 'Dark Spyware'?" Tanya Yurlicus dengan bersiap-siap untuk pergi ke 'Dark Spyware'.
"Tidak perlu. Kita biarkan saja untuk sementara ini." Ucap Cedric dengan kembali menatap keluar jendela.
"Hm... Seandainya hari itu benar-benar terjadi... Akankah kau mempercayaiku sedikit saja? Kau tahu? Aku sungguh menantikan hari itu, hari dimana kau akan mengkhianatiku dan juga mempercayaiku di saat yang bersamaan!" Pikir Cedric dengan mengetuk-ngetukan jarinya di atas mejanya dan juga mengernyitkan alisnya.
"BOOOMM!!!"
Suara ledakan terdengar dari arah selatan sekolah dan ledakan tersebut cukup membuat para siswa yang sedang melakukan masing-masing aktivitasnya terkejut dan heran.
Awalnya mereka mengira hal tersebut hanyalah suara yang berasal dari beberapa oknum pihak terkait yang sedang melakukan percobaan, tetapi semuanya berubah dan suasana semakin memanas.
Para detektif, tenaga medis, dan ksatria utusan kerajaan Tscaxius datang dengan mengerahkan masing-masing tenaganya demi memerangi kejahatan yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Kyaaaa! Ada ledakan dari arah jam 6! Bukankah itu adalah daerah zona terlarang saat ini?" Tanya seorang siswi yang sedang mengikuti pelajaran olahraga pada jam ketiga.
"Kau benar! Pak! Apakah sekolah ini menjadi tempat yang aman?" Tanya seorang siswi lainnya dengan penuh kekhawatiran.
"Untuk saat ini kita masih berada di zona aman karena sekolah ini dilengkapi pelindung-pelindung terkuat yang telah ditingkatkan kualitasnya setiap tahun. Bapak harap kalian tenang dan beraktivitas seperti biasanya saja agar tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu." Ucap pak guru olahraga dengan menenangkan para murid-muridnya.
"Tunggu! Apa kalian baru saja mengatakan ada ledakan dari arah jam 6?" Tanya paman Karl yang baru saja keluar dari jadwal kelas mengajarnya dengan tergesa-gesa.
Paman Karl lebih dikenal oleh para anggota sekolah sebagai Pak Victor dikarenakan hal tersebut lebih mudah diingat oleh yang lainnya.
"Ya! Itu benar, Pak Victor!" Ucap pak guru olahraga dan kedua siswi tersebut secara bersamaan.
"Oh, tidak!" Gumam Pak Victor dengan mengepalkan tangannya secara spontan.
"Baiklah. Terimakasih banyak atas informasinya!" Ucap Pak Victor dengan menyimpan peralatan mengajarnya di tas penyimpanan dan dengan cepatnya langsung pergi ke tempat peristiwa ledakan tersebut terjadi.
Sementara itu, Cedric yang mendengar suara ledakan tersebut langsung pergi keluar tanpa memedulikan hal lainnya.
Dipikirkannya sedang dipenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi pada kekasihnya daripada memikirkan dirinya sendiri.
"Aku tidak akan percaya sampai kapanpun jika kamu masih terjebak di dalam rumah tua itu. Seandainya aku bisa bertelepati padanya saat ini, aku sudah melakukannya sedari tadi!" Pikir Cedric dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Hei, nak! Kau mau pergi kemana?! Pelajaran kita masih belum selesai! Aku akan menambahkan hukumanmu jika kau melangkah keluar lagi!" Teriak seorang pak guru sihir elemen dengan sangat kesal apabila ada anak murid yang tidak memperhatikan ataupun melanggar kontrak belajar yang telah dibuat bersama.
Tidak ada satupun respon yang diberikan oleh Cedric dan hal tersebut membuat pak guru tersebut menjadi naik pitam.
Ia yang tahu bahwa pelampiasan kemarahan akan berdampak negatif bagi dirinya dan orang lain membuatnya mengelus-elus dada dan mencoba untuk menenangkan diri.
__ADS_1
"Aku sungguh penasaran, apa jadinya jika aku bersabar lebih lama lagi!" Pikir pak guru tersebut dengan merapihkan lembar kertas tugas di tangan kirinya.
BERSAMBUNG