
"Hei, kau minggir! Ini tempat yang sudah kutandai bersama temanku. Sebaiknya kau pindah, anak culun!" Ucap seorang anak perempuan dengan nada yang mengejek kepada Levord.
Levord hampir terpancing dengan ejekan anak tersebut.
Melihat hal itu, Ravettha segera menggunakan telepatinya dengan Levord.
"Levo, kau jangan terpancing amarahnya. Tidak baik jika kau terkena masalah sebelum penerimaan kelas murid selesai. Aku punya rencana." Ucap Ravettha menggunakan telepatinya.
Levord terkejut karena temannya bisa menggunakan telepati.
Menurutnya, seseorang pengguna telepati lumayan langka.
"Apa rencanamu?" Tanya Levord menggunakan telepati.
"Biarkan mereka duduk. Saat kita pindah tempat duduk, rencana tersebut akan dimulai." Ucap Ravettha menggunakan telepati.
"Apa maksudmu? Aku tidak tahu mengapa, tetapi firasatku mengatakan bahwa ada baiknya aku mengikuti rencanamu." Ucap Levord dengan menggunakan telepatinya.
"Bagus." Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya.
Kemudian ia tersenyum kecil.
"Baiklah. Aku pindah dan juga terimakasih telah mengingatkanku." Ucap Levord dengan tersenyum kepada anak yang mengejeknya.
"Aku ikut!" Ucap Ravettha kepada Levord.
Mereka berdua tersenyum licik kepada anak tersebut dan dengan cepat meninggalkan anak tersebut.
Di antara salah satu dari teman yang mengejek Levord, ada seseorang yang melihat senyum licik dari Ravettha dan Levord.
Anak itu hanya diam saja dan tidak bisa melakukan apapun itu karena sudah berada di dalam rencana Ravettha.
"Rencana dimulai." Bisik Ravettha kepada Levord.
"GUBRAK!" Bunyi seorang anak terjatuh.
"Argh... Siapa sih yang menaruh tangga di sini? Benar-benar menyebalkan!" Ucap anak yang mengejek Levord.
Semua orang di aula melihat ke arah anak tersebut, lalu menertawakannya.
"Siapa nama anak itu?" Tanya seseorang perempuan kepada temannya.
"Kalau tidak salah namanya adalah Sorayna Eucaston Geoverra. Kudengar ia sangat suka membully orang lain." Ucap temannya.
"Benarkah? Tidak boleh membicarakan keburukan orang lain yang kita belum tahu kebenarannya." Ucap seseorang perempuan.
"Sorayna, kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya sahabatnya.
"Ya. Aku baik-baik saja, Maelvexa." Ucap Sorayna.
"Baguslah. Ayo kita duduk sebelum guru pengawas mendatangi kita!" Ucap Maelvexa.
Mereka berdua segera duduk di tempat yang sudah mereka tandai yang sebelumnya merupakan tempat duduk Levord.
__ADS_1
"Lihat saja kalian semua yang sudah menertawakanku. Akan kubalas suatu saat nanti." Pikir Sorayna dengan senyumnya yang jahat.
"Pft. Rave, lihat mereka! HAHAHA. Salah sendiri karena sudah mengejek orang lain." Ucap Levord.
"Mulai sekarang kau adalah teman baikku. Semoga kita bisa sekelas bersama." Ucap Levord dengan senang.
"Kau juga." Ucap Ravettha.
"Selamat, master. Anda berhasil mengumpulkan poin putih dan hitam sekaligus dalam jumlah yang lumayan besar." Ucap Falext.
"Poin?" Tanya Ravettha.
"Biar ku jelaskan. Poin adalah alat penukaran di dalam sistem. Poin ini terbagi menjadi dua yaitu poin putih dan poin hitam." Ucap Falext.
"Poin putih adalah poin yang didapatkan dari seseorang yang akan masuk ke dalam penerima yang disebabkan oleh kebahagiaan dan kekaguman. Sedangkan poin hitam adalah poin yang didapatkan dari seseorang yang akan masuk ke dalam penerima yang disebabkan oleh kemarahan dan kebencian." Ucap Falext.
"Jumlah poin putih anda adalah 100 dan poin hitam anda adalah 200." Ucap Falext.
"Sistemmu memiliki banyak sekali program, ya?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja itu benar, master." Ucap Falext.
"Bagi murid yang bernama Levord Vanschtexion Aieraelf. Silahkan datang ke tempat pengujian!" Ucap salah satu pengawas ujian.
"Aku pergi dulu, Rave." Ucap Levord.
"Silahkan. Semoga beruntung, Levo." Ucap Ravettha.
Levord pergi menuju tempat pengujian.
Ravettha menggunakan waktunya untuk berkultivasi selama menunggu namanya dipanggil.
Ia bisa berkultivasi dalam posisi apapun itu.
Tingkat kultivasi Ravettha sudah mencapai ranah Surga, tetapi ia menyembunyikannya dari semua orang baik itu kelebihan maupun kekurangannya.
Sejam kemudian, namanya dipanggil oleh salah satu pengawas ujian.
"Ravettha Toftrelnd Seinoray. Silahkan datang ke tempat pengujian!" Ucap salah satu pengawas ujian.
Saat ia menuju tempat pengujian, ia melihat terdapat 6 orang pengawas ujian yang sudah siap menilai peserta ujian.
"Tunjukkan seberapa besar kau bisa bertahan dari ini." Ucap salah satu pengawas.
"Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku seperti merasakan bahwa anak ini sangatlah kuat. Aku sangat penasaran. Aku yakin dia tidak akan bisa menahan seranganku seperti peserta sebelumnya." Pikir salah satu pengawas dengan sedikit senyum.
Pengawas itu menggunakan kekuatan element apinya, lalu menyerang Ravettha dengan menggunakan kekuatan yang hampir besar dan kuat.
Ravettha hanya berdiri di tengah-tengah tempat pengujian.
"Apinya terlalu kecil dan terlalu dingin. Ini sangat mudah, apalagi ia sedang meremehkan pesertanya. Ia sangat yakin sekali, ya? Ayo kita tunjukkan." Pikir Ravettha tanpa membaca pikiran pengawasnya.
Saat pengawas itu menyerang, ia justru terlempar oleh Ravettha menggunakan element anginnya ke ujung bangunan tempat pengujian dengan sangat keras hingga tembok bangunan tersebut hancur.
__ADS_1
Sang pengawas tersebut segera bangkit.
Serangan api dari pengawas tersebut mulai menghilang dan terbuang sia-sia.
Ravettha sama sekali tidak tersentuh dan tidak bergeming oleh serangan pengawas tersebut.
Hal itu membuat pengawas ujian penasaran.
"B-Bagaimana kau bisa bertahan dari seranganku? Ah, aku tahu, sepertinya seranganku kurang kuat dan besar, ya?" Tanya salah satu pengawas yang menyerang Ravettha.
"Kuat juga anak ini, bagaimana kalau kau yang menyerangku? Aku penasaran apakah kau bisa menangkap dan mengalahkanku dalam sekali serang." Ucap salah satu pengawas yang menyerang Ravettha.
"Tentu. Dengan senang hati." Ucap Ravettha.
Ravettha kemudian mengeluarkan kekuatannya dengan menggunakan element air.
Saat pengawas tersebut menghindar, Ravettha mengubah kekuatan element airnya menjadi tombak es dengan sangat transparan yang dilapisi dengan element anginnya sehingga menjadi transparan dan sangat cepat untuk menuju target sasarannya.
Menyadari hal itu, pengawas tersebut menghindar dari semua serangan Ravettha.
"Kau kira aku akan kena dari serangan konyol ini?" Tanya pengawas tersebut.
"Tetaplah remehkanku! Kau memberikanku celah dan semua kelemahanmu." Pikir Ravettha.
Serangan Ravettha menghilang dan menusuk tepat pada titik kelemahan pengawas, yaitu di jantungnya.
Darah kemudian keluar deras dari pengawas tersebut.
Ravettha dengan lebih cepat menghampiri pengawas dan menyembuhkannya seperti semula tanpa tersisa satupun luka di tubuh pengawas tersebut.
Nyawa pengawas tersebut akhirnya selamat.
Para pengawas lainnya yang melihat kejadian tersebut langsung ke tempat kejadian, tetapi mereka terlambat memberikan pertolongan.
"Kenapa kau menyerangnya dengan menusuk tepat di jantungnya? Apa kau tidak merasa bersalah?" Tanya salah satu pengawas yang lain.
"Kenapa aku harus berminta maaf? Di dalam pertarungan hanya ada istilah teman dan lawan. Lagipula ia masih hidup." Ucap Ravettha.
"Zorandh! Lihat ia masih hidup dan selamat." Ucap salah satu pengawas yang lain.
Ravettha menghampiri pengawas yang ia telah serang karena ia berpikir, "Ia benar, tidak ada salahnya untuk meminta maaf."
"Aku minta maaf karena telah menyerang anda." Ucap Ravettha.
"Tidak. Aku yang seharusnya berterimakasih sudah menyembuhkanku. Maafkan saya karena telah meremehkan peserta termasuk anda. Anda adalah penyelamatku. Tidak ada seorang pun yang bisa menyembuhkan orang yang tertusuk tepat di jantungnya. Aku sangat berhutang kepadamu." Ucap pengawas tersebut.
"Tidak. Itu bukan salah anda dan anda tidak perlu melakukan itu." Ucap Ravettha dengan serius.
"Baiklah. Siapa namamu, nak? Ravettha?" Tanya pengawas.
"Iya, itu benar. Perkenalkan nama saya Ravettha Toftrelnd Seinoray." Ucap Ravettha.
"Baiklah, Ravettha. Nama bapak adalah Caelveras Noemtafch de Veiregt. Temui bapak setelah seluruh ujian ini selesai nanti sore di ruang guru. Mengerti?" Tanya pak Caelveras.
__ADS_1
"Baik, pak." Ucap Ravettha.
BERSAMBUNG