Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Sistem Serba Perhitungan


__ADS_3

Ravettha langsung pergi keluar ruangan kerjanya dan pergi ke pasar induk.


Ia memeriksa kembali isi daftar keperluan yang harus dibelinya.


"Apa hanya ini saja yang harus dibeli?" Pikir Ravettha merasa ada yang aneh dengan isi daftarnya.


"Mengapa anda berdiri terus disini? Anda tidak menunda waktu, bukan?" Bunyi notifikasi sistem hologram memperhatikan tingkah aneh penggunanya.


"Tentu saja tidak! Aku sudah harus pulang sekarang. Satu hal yang membuatku ragu adalah, mengapa daftarnya terlalu sedikit dari yang kubayangkan?" Tanya Ravettha menjadi kebingungan sekian kalinya.


"Bukankah itu bagus? Anda tidak perlu membuang waktu dan uang di tempat seperti ini." Bunyi notifikasi sistem hologram langsung berbicara ke intinya.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Ravettha langsung memasuki pasar induk dan membeli seluruh keperluan yang tercatat di dalam daftar belanja.


Dari banyaknya jenis kebutuhan, ia lebih memilih buah-buahan daripada sayur ataupun daging.


"Yap, ini saja yang kubutuhkan!" Ucap Ravettha menyelesaikan transaksi dan langsung keluar dari tempat tersebut.


Pasar induk seperti ini bukanlah tempat yang nyaman untuk mendapatkan kedamaian.


Secepat mungkin ia berjalan menuju rumahnya dengan menggenggam tas belanja.


Ia sungguh tidak ingin waktu makan malamnya telat hanya karena dirinya lambat berjalan dan tidak cekatan.


"CLICK!"


"Huft! Akhirnya tepat waktu juga!" Gumam Ravettha membuka pintu rumahnya dan berniat menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


"Sayang! Selagi menunggumu, aku telah membersihkan rumah kita dan membuatkan makan malam untukmu. Ayo makan malam bersamaku!" Ucap Vicenzo menyambut kekasihnya dengan ciuman dan pelukan hangat.


Mendengar laporan partnernya ini, Ravettha terkejut mengetahui usaha Vicenzo yang telah berinisiatif melakukannya tanpa syarat ataupun perintah.


Hal itu berhasil membuatnya kagum dan mengakui keseriusan partnernya.


"Aku menghargaimu, Cedric!" Ucap Ravettha mencium tepat di dahi Vicenzo dan menerima pelukan partnernya.


Ia sungguh tahu bahwa jauh di dalam lubuk hati Vicenzo, ia menginginkan penghargaan tersirat.


Vicenzo yang mendapati tindakan kekasihnya ini menjadi sangat bahagia.


"HUP!"

__ADS_1


"Aku menggendongmu! Duduklah di hadapanku agar aku bisa terus memandangmu, sayang!" Ucap Vicenzo sungguh yakin tidak ada yang bisa menolak keputusannya.


"Coba kamu cicipi yang ini. Katakan aahhh, sayang!" Ucap Vicenzo tanpa menunggu lama, dirinya langsung menyuapi kekasihnya.


"Aku bisa makan sendiri." Ucap Ravettha sedikitpun tidak menolak partnernya yang menyuapi, kecuali cara bicaranya terkesan tidak peduli.


Ia terkejut ketika mengetahui hasil masakan partnernya ternyata lezat.


Tidak tahu harus mengatakan apa, dirinya hanya menatap wajah Vicenzo yang masih berseri-seri.


"Kamu menatapku dengan penuh arti seperti itu, apa itu artinya aku tampan, sayang?" Tanya Vicenzo menyeringai lebar dan berbangga diri mengakui keunggulan dirinya.


"Maafkan aku telah memandangmu sebelah mata, Cedric." Ucap Ravettha tidak peduli apakah dirinya akan dimaafkan atau tidak.


"Aku tau itu dan sekarang bagaimana? Kamu telah mengetahui kelebihan dan kekuranganku, tetapi kamu tidak berusaha menikamku, melainkan melengkapiku." Ucap Vicenzo mengangguk setuju setelah mengingat kembali seluruh peristiwa yang dilalui bersama kekasihnya.


"Melengkapimu? Aku tidak terlalu memperhatikan hal itu, kecuali aku melakukannya karena kita masih terikat kontrak di awal pertemuan itu." Ucap Ravettha masih ingin menghabiskan makan malam.


"Terlepas dari itu, kamu tau apa yang kamu lewatkan, sayang?" Tanya Vicenzo kembali menyuapi kekasihnya lebih sering lagi.


Ravettha hanya menatap kebingungan dan merasa hal ini bukanlah situasi yang berbahaya.


Menyaksikan ketidaktahuan kekasihnya, dengan senang hati Vicenzo memberitahu lebih jelas.


"Huh?! Lalu? Aku mengerti bagaimana dirimu bisa tertarik akan hal ini, Cedric. Jika aku benar, kamu telah mengorbankan banyak hal sejauh ini, bukan?" Tanya Ravettha sama sekali tidak mengerti dari mana asal keberanian partnernya hingga mengucapkan hal tabu yang sangat ia benci.


"Mengorbankan banyak hal? Kita seimbang, sayang! Selain melakukannya demi diriku, aku juga harus memberimu manfaat. Itulah yang kusebut kita seimbang." Ucap Vicenzo yakin kekasihnya ini mengerti apa yang telah dikatakannya.


"Seimbang ya? Pft! Menarik! Kamu memberiku kesan menarik dari pemikiranmu. Terlebih lagi kamu mampu mempertahankan akal sehatmu, Cedric!" Ucap Ravettha tersenyum kecil.


"Aku mungkin terlihat tergila-gila padamu terlepas kamu mau menerimaku atau tidak. Satu hal yang kuyakini, kamu adalah istri masa depanku yang sangat pasti akan kumiliki jiwa ragamu, sayang!" Ucap Vicenzo tersenyum bangga dengan caranya berpikir.


Di saat yang seperti ini, dirinya tidak lagi hanya memperhatikan kekasihnya, melainkan juga telah diperhatikan oleh Ravettha.


Timbal baliknya berhasil membuatnya memenangkan pertaruhan kepercayaan yang pernah ia buat dengan Rencouff.


"Kau telah merendahkanku sebelumnya. Sekarang mari kita lihat seberapa lama semua ini bertahan! Kau kalah telak, Rencouff!" Pikir Vicenzo tertawa riang tanpa mengatakan apapun.


"DING!"


"Master! Kami menemui anda tidak ada di ruang kerja. Apa anda berada di rumah? Kami telah meletakkan laporan yang harus anda kerjakan di meja." Bunyi pesan masuk dari Falext.

__ADS_1


"Ya, aku ada di rumah. Bisakah kau membawanya kemari, Falext?" Tanya Ravettha yang langsung mengetik dan mengirimkan pesan ke partner utamanya.


"Tentunya, master!" Bunyi pesan masuk dari Falext secara singkat.


Kurang dari satu menit, ia telah tiba di rumah majikannya dengan membawa tiga buah kardus berukuran sedang.


Vicenzo yang menyadari ada tamu tidak diinginkannya justru menjadi kesal karena hari spesialnya harus diganggu orang asing.


"Katakan siapa dan apa keperluan anda?" Bunyi alat pendeteksi keamanan terkuat yang dipasang oleh Ravettha.


"Biarkan aku yang membukanya, sayang!" Ucap Vicenzo mendekati pintu masuk tersebut.


"Anda Tuan Vicenzo? Bisakah hamba menyerahkan ini ke Nona Besar Ravettha?" Tanya Falext sangat bersemangat dibandingkan pertemuan pertama mereka.


"Tidak. Letakkan saja di sini!" Ucap Vicenzo berubah menjadi begitu dingin.


"Sudah dibawa semuanya kemari, Falext? Ma...!" Ucap Ravettha belum menyelesaikan kalimatnya karena kakinya terinjak Vicenzo.


Ia yang tidak tahu apa maksudnya hanya bisa mencari tahunya melalui ekspresi wajah partnernya ini.


Perubahan sikap, ekspresi, dan nada bicara akhirnya membuat dirinya menyadari Vicenzo tidak menyukai kehadiran Falext.


"Yeah, lagipula mereka berdua juga tidak punya kepentingan di sini." Pikir Ravettha keluar memindahkan satu per satu kardus.


"Kalau begitu hamba pamit undur diri. Sampai jumpa, Tuan Vicenzo!" Ucap Falext memberikan kesan ramah pada tamu majikannya.


"Tidak butuh 'Sampai jumpa' nya! Siapa juga yang mau bertemu denganmu?" Tanya Vicenzo mengatakannya tepat di hadapan Falext.


Mendengar hal tersebut, Falext hanya tersenyum saja dan tetap memberi hormat kepada majikannya dengan sopan.


Kemarahan tentu saja dimilikinya, sayangnya ia masih mengingat pelajaran dan perkataan yang diberikan majikannya.


"Sayang! Di dalam kardusnya tidak ada bom, bukan? Biarkan aku memeriksanya untuk kita, sayang!" Ucap Vicenzo mendadak panik ketika melihat kardus yang dipindahkan kekasihnya ini.


"Ya, ya! Pastikan saja semuanya aman. Kemudian bawa itu ke ruanganku, ya?" Tanya Ravettha yang memastikan partnernya memahami permintaannya.


"Siap, ratuku! Akan kupastikan suamimu ini telah mengamankan keselamatan kita!" Ucap Vicenzo mengantarkan kekasihnya untuk fokus menyelesaikan pekerjaan.


Dengan cepat, tepat, dan akurat, dirinya terus memastikan secara detail hingga ke setiap sudut.


Ravettha yang mengetahui usaha partnernya ini hanya bisa menertawakannya diam-diam.

__ADS_1


"Teruslah mencarinya, Cedric! Kardus tak berguna itu hanya pengalihan untukmu dan laporan aslinya ada di tanganku." Pikir Ravettha menyembunyikan seringaiannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2