Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Tahap Pengolahan Pikiran


__ADS_3

"Kau mendengar suara dari arah sana, saudaraku?" Tanya seorang pengawal kepada sesama rasnya.


"Tidak. Para lebah tidak akan datang ke bunga bangkai!" Ucap pengawal lain di dekatnya.


Ia mengalihkan pandangan dan tetap meningkatkan kewaspadaannya.


"Tidak akan bukan berarti tidak sama sekali! Sudah jelas anak itu berulah lagi!" Ucap seseorang datang menghampiri kedua pengawal tersebut.


"Nona Yucha, Tuan? Kalau begitu kami harus menghentikannya!" Ucap kedua pengawal tersebut dengan penuh semangat.


"Tidak perlu. Tetua memerintahkan untuk tidak mengusiknya sementara waktu. Lagipula, kalian ingin kabur dan bertukar posisi dengan anggota lain, jadi selesaikan tugas kalian!" Ucap atasan kedua pengawal tersebut.


Tepat dan tajam seperti busur panah meraih targetnya.


Ia lebih dikenal sebagai sosok atasan yang berkompeten dalam merancang gagasan dan strategi sehingga tidak jarang para rival dan bawahannya memilih cara damai sebelum mengangkat bendera putih.


Hal tersebut sungguh berbalik 180° jika dibandingkan dengan tetua kepercayaannya.


"Baik, Tuan!" Ucap kedua pengawal tersebut secara bersamaan.


Sementara itu, ayah Ezcha sedang berada di dekat sebuah rumah kuno yang tidak terlalu besar.


Ia mengendap-endap dan berjalan mendekati jendela hanya untuk memenuhi rasa penasarannya.


"Bagus! Disini sudah cukup baik. Terpencil dan dingin... Sungguh kamuflase yang indah, bukan?" Pikir ayah Ezcha dengan mengambil dedaunan kering yang ia temui di jendela rumah kuno.


Ia menggunakannya dengan hati-hati sehingga tidak membuat perbedaan mencolok di antara yang lainnya.


"Hm... Jendela ini dipasang tinggi kurang lebih sebadan mereka. Perkakasnya bisa dibilang begitu lengkap untuk setahun lebih. Kekayaan bersih mereka kurasa itu melebihi dari batas maksimalnya. Yeah... Tidak mengherankan jika mereka memilih tempat ini sebagai peningkatan standar kualifikasi!" Pikir ayah Ezcha dengan mengepakkan sayapnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan pergi ke ruang bawah tanah.


Sebelum ia memasuki ruang bawah tanah sesuai keinginannya, ia lebih memilih untuk mengamati langkah dan tahapan saat para pekerja menyibukkan diri di bidang pertambangannya.


Ia benar-benar tidak peduli apakah pengamatan yang ia lakukan ini berguna dengan baik atau tidak karena baginya sensasi pertempuran telah sangat erat di dalam hidupnya.


"Hei, penguntit! Aku akan membantumu masuk ke dalam dengan syarat, kau harus membawaku keluar dari tempat ini!" Ucap anak perempuan yang pernah ditemui ayah Ezcha sebelumnya.

__ADS_1


Ia sangat yakin dan terlihat dengan jelas bahwa pikiran dan harapannya akan sejalan dengan tujuannya.


"Ayolah cepat ikuti caraku! Setujui saja dan tidak ada yang dirugikan di antara kita!", kalimat-kalimat itu sangat menggambarkan apa yang dilihat oleh mata kepala ayah Ezcha sendiri melalui gestur tubuh meskipun lawan bicaranya tidak mengatakan sedemikian rupa.


"Tidak, terima kasih. Kuhargai niat membantumu. Sungguh sayang sekali kau terlalu melebih-lebihkan perkataan dan tindakanmu!" Ucap ayah Ezcha dengan langsung melesat ke daratan dan berjalan memasuki ruang bawah tanah.


Ia meninggalkan anak perempuan yang pernah ditemuinya tersebut sendirian di atas cabang pohon dengan angin malam yang dingin.


Terdengar kejam dan tidak berperasaan sebenarnya, tetapi hal tersebut bukanlah suatu urusan penting bagi dirinya.


"PROK! PROK! PROK!"


"Ia akan jadi partner penjelajah terbaik! Aku ingin melihat lagi dan lagi! Apakah itu akan tetap sama dengan yang sebelumnya?" Ucap anak perempuan dengan bertepuk tangan secara antusias, lalu berhenti dan memutuskan untuk menikmati cerahnya langit malam beserta alam bebas yang selalu ada di sisinya.


Di lain pihak, ayah Ezcha menyelinap kesana-kemari, melewati lorong-lorong yang dilalui oleh para pekerja, dan memasuki satu jalan terakhir sebagai pilihan utamanya.


"Benar, disini tempatnya!" Pikir ayah Ezcha dengan mengaktifkan kemampuan 'Solenoid' miliknya.


Saat ia melompat dan menapakkan kakinya di atap ruangan, ia justru merasakan tubuhnya dipaksa duduk di atas tanah.


Ia benar-benar masih tidak mengerti mengapa ia diperlakukan seperti itu bersamaan dengan menyaksikan kebangkitan sosok arwah.


Kebangkitan sosok arwah tersebut terasa belum sempurna jika dirinya kehilangan sang Informan.


"Keturunanku... Apa saat ini sudah bulan baru?" Tanya sosok arwah kepada ayah Ezcha dengan tatapan yang penuh dengan celah kelemahan.


"K-Kakek p-pendahulu 1? Tidak. Anda bangkit lebih cepat dari yang saya kira!" Ucap ayah Ezcha dengan memberikan salam hormatnya dalam posisi duduk.


"Bangunlah dan antarkan aku keluar, keturunanku!" Ucap pendahulu ayah Ezcha dengan mengubah wujudnya.


"Tentu!" Ucap ayah Ezcha dengan membuat jalan alternatif karena ia tidak ingin membuat pendahulunya bersusah payah dalam menyingkirkan boneka musuhnya.


Hanya dengan berteleport, ia dan pendahulunya melihat alam bebas dan masih natural.


Burung gagak hitam yang pandai bersembunyi di kegelapan malam datang mehinggapi pergelangan tangan majikannya.

__ADS_1


Mereka berdua berbicara dengan sangat dalam, sementara ayah Ezcha sama sekali tidak berniat mendengar pembicaraannya.


Satu hal yang membuatnya harus terbangun dari mimpinya, yaitu pada saat seseorang yang pertama kali mengajaknya bicara setelah kematian rasnya berada di hadapannya dengan meyakinkan bahwa dirinya sendiri dapat mengatasi hukumannya.


Di saat yang bersamaan, sang Gagak Hitam mengubah wujudnya menjadi ras Jiquousy dan berdiri di belakang punggung majikannya.


"Ku yakin kau belum mengetahui siapa dan asal kami! Kita memiliki tujuan yang sama, keturunanku! Meskipun kau tidak menunjukkan kemarahan terdalammu, kami tahu kau juga mengalami hal yang sama dengan kami karena kita berasal dari darah yang sama." Ucap pendahulu ayah Ezcha dengan mengulurkan tangannya.


Ayah Ezcha menatap tajam ke arah dua bawahannya hingga akhirnya ia percaya pada pilihannya sendiri.


"Anda dan yang lainnya sudah pasti akan mengatakan apapun yang dapat membujukku karena anda sekalian membutuhkanku. Saya ragu jika anda sekalian dapat menjamin perkembangan seperti yang diharapkan bersama." Ucap ayah Ezcha dengan penuh ketegasan.


"BIPPPPPPP!!!"


Suatu suara muncul di telinga Levord bersamaan dengan menghilangnya satu persatu ingatan yang telah dipinjamkan Ezcha kepadanya.


Tidak stabil dan naik turun membuat telinganya berdarah.


"Ingatannya hanya sebatas itu saja? Bagaimanapun juga, masa sekarang lebih penting dan kita selesaikan ujian ini secepatnya!" Gumam Levord dengan memandangi bekas luka di tangannya.


"GROAAAR!!!"


Levord yang masih berada di tahap pengolahan pikiran menyadari kehadiran para musuhnya.


Mata merah yang menyala sangat berbeda dari yang lainnya.


Ia menjadi gembira saat mengetahui dirinya tidak perlu mendekati target utamanya secara langsung karena salah satu darinya, yaitu Kalvetno sudah di hadapannya dengan sorot matanya yang dingin dan sangat memungkinkan dapat menusuk ke dalam tulang.


Kapak besar termodifikasi dengan fitur canggih lainnya menebas sesuai keinginan pemiliknya.


Langkahnya sungguh penuh dengan ketegasan, gerakannya yang halus, dan hasil penggunaannya yang kuat membuat Levord menjadi mudah dalam membuka pintu pola, strategi, dan pikiran yang telah tertutupi kabut ilusi.


"Tidak ada disini? Baguslah! Dengan begitu, tempat persembunyianmu akan menyusut, Kalvetno!" Ucap Levord dengan memalingkan wajahnya, lalu telapak tangan menyentuh ke arah pandangannya secara bebas.


"Huh! Ini tidak menyenangkan! Kau seharusnya bertanya ke sahabatmu yang lainnya!" Ucap Kalvetno dengan mendengus kesal karena merasa dirinya harus mengalami penyelesaian yang paling ia benci.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2