Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Gerbang Kedua


__ADS_3

Leonardo berubah wujud menjadi ular yang kecil dan imut.


"Ulurkan tanganmu, Ravettha!" Ucap Leonardo.


"Baiklah." Ucap Ravettha dan mengulurkan tangannya kebawah, tempat Leonardo yang berwujud ular berdiri.


Leonardo menggeliatkan tubuhnya dan berjalan menuju pundak Ravettha.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Ravettha?" Tanya Leonardo yang sudah berada di pundak Ravettha.


"Keluar dari tempat ini. Bukankah sudah jelas jawabannya?" Tanya Ravettha.


"Haha. Kau benar." Ucap Leonardo.


Ravettha berjalan dan diikuti Nicholas yang terbang di belakangnya menuju keluar gerbang tersebut.


Saat mereka telah berhasil keluar, mereka mendengar suara pukulan yang sangat besar dan menghantam sesuatu dengan sangat kuat.


Suara tersebut terdengar dari sebelah gerbang yang telah ia masuki, yaitu gerbang kedua.


"Kalian mendengar suara tersebut?" Tanya Ravettha.


"Ya." Ucap Nicholas.


"Suara itu berasal dari gerbang kedua. Sepertinya sudah dimulai..." Ucap Leonardo.


"Apa yang sudah dimulai?" Tanya Ravettha.


"Bukan apa-apa. Lebih baik, jangan masuk kesana." Ucap Leonardo.


Ravettha tidak menuruti perkataan Leonardo dan pergi mendekati gerbang kedua.


Nicholas tetap mengikuti Ravettha tepat berada di belakangnya.


"Hei, kau bodoh ya? Sudah kubilang jangan masuk kesana! Apa kau tidak mendengarkanku?" Tanya Leonardo kepada Ravettha.


"Ada kenalanku di dalam sana." Ucap Ravettha dengan tangan yang menunjuk ke arah gerbang kedua.


"Lupakan saja kenalanku itu! Kau bisa mati jika masuk kedalamnya!" Ucap Leonardo.


"Tenang saja. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Ravettha.


Leonardo merasa sangat kesal karena diabaikan.


Ravettha kembali berjalan mendekati gerbang tersebut.


Leonardo kemudian melirik ke arah Nicholas, ia benar-benar terkejut kenapa temannya Ravettha tidak melarangnya pergi.


"Hei, kau! Burung poenix!" Ucap Leonardo kepada Nicholas.


"Ya?" Tanya Nicholas.


"Kenapa kau tidak melarang anak bodoh ini pergi? Seharusnya kau membantuku melarangnya!" Ucap Leonardo.


"Aku yakin Nona Ravettha tidak akan terluka." Ucap Nicholas.


"Huh. Kalau begitu, aku akan ikut masuk kedalamnya." Ucap Leonardo.


Ravettha telah tiba di depan pintu gerbang tersebut.


Pintu tersebut langsung terbuka dan menarik mereka kedalamnya secara paksa.


"Bruk!"

__ADS_1


Mereka terlempar masuk kedalam setelah ada yang menariknya.


Dilihatnya sekeliling ruangan dalam gerbang tersebut, ia melihat pemandangan yang menakjubkan.


Gerbang yang seluruhnya berisi gunung berapi aktif yang siap mengeluarkan isinya dan membakar apapun yang dilewatinya.


Semburan uap panas yang selalu keluar.


"Semuanya gunung berapi yang aktif. Sungguh menakjubkan." Pikir Ravettha.


"Kau tahu tempat ini dikenal dengan apa?" Tanya Leonardo.


"Tidak. Aku belum pernah mendengarnya." Ucap Ravettha.


"Tempat ini dikenal dengan Vulcano Island." Ucap Leonardo.


"Argh!"


Terdengar suara teriakan yang kuat dari kejauhan.


"Itu suara Tuan Naga!" Ucap Ravettha.


"Siapa dia?" Tanya Leonardo.


Ravettha langsung berlari menuju suara tersebut berasal.


Nicholas dan Leonardo mengikuti Ravettha dan mencari asal suara tersebut bersama-sama.


Mereka juga menghindari uap yang bersemburan.


Tibalah di tempat tujuan, ia melihat Tuan Naga yang ia temui saat di danau sedang terluka dan membutuhkan pertolongan.


"Tuan Naga! Izinkan saya menyembuhkan anda." Ucap Ravettha.


"Ho... Kau melarikan diri lagi? Kau tahu bukan bahwa itu akan sangat menyakitkan jika lari dariku?" Tanya seseorang.


Seseorang tersebut datang dengan tiba-tiba.


Ia adalah seorang anak perempuan yang terlihat masih kecil dan imut.


"Siapa kalian? Beraninya menatapku! Ah, mereka temanmu ya naga?" Tanya anak perempuan tersebut.


"Pft."


Ravettha menahan tawa miliknya.


Anak perempuan tersebut menoleh ke arah Ravettha karena mendengar ada yang menertawainya.


"Kau yang menertawaiku, bukan?" Tanya anak perempuan tersebut dengan senyuman liciknya.


"Kalau iya kenapa?" Tanya Ravettha membalasnya dengan senyuman.


"Mau bermain denganku?" Tanya anak perempuan tersebut.


"Tentu." Ucap Ravettha dengan sangat senang.


"Bagus. Ayo kita bermain." Ucap anak perempuan tersebut.


"Nona! Kenapa anda mengiyakan ajakannya? Dia itu benar-benar berbahaya." Ucap Nicholas.


"Benar! Kan sudah kukatakan padamu. Dia berbahaya dan licik." Ucap Leonardo.


"Kau benar. Aku mengerti perasaanmu. Karena sudah masuk kesini, hanya ada satu cara ikuti permainannya dan selamatkan Tuan Naga." Ucap Ravettha.

__ADS_1


"Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Leonardo.


"Benar! Aku juga ingin mengetahuinya, nona!" Ucap Nicholas.


"Akan kujelaskan nanti." Ucap Ravettha.


"Akan lebih seru jika permainannya dimulai sekarang juga dan naga, poenix, dan Leonardo akan menjadi sandera. Haha. Aku sudah tidak sabar bermain dengan kakak!" Ucap anak perempuan tersebut.


"Seenaknya kau memutuskan, ya?" Tanya Ravettha.


Anak tersebut hanya tersenyum senang tanpa membalas satu kata pun.


"Jika kakak memenangkan permainannya, aku akan membebaskan mereka semua dan mengabulkan satu permohonan. Jika kakak kalah, maka seluruh teman-teman kakak termasuk kakak akan menjadi koleksi mainanku!" Ucap anak perempuan tersebut dengan senang dan tersenyum licik.


"Kalau begitu, kita langsung mulai saja!" Ucap anak perempuan tersebut.


Ravettha masuk kedalam ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun.


Ruangan tersebut terasa sangat luas dan lebar yang tidak terbatas.


"Ya. Selamat datang di dalam permainan Lartson's Clueless. Selamat menikmati permainan." Ucap anak perempuan tersebut dengan sangat senang.


"Kakak harus mencariku sampai dapat! Waktu akan terus berjalan, kakak bisa melihatnya di jam pasir yang ada di atas sana. Jika waktunya sudah habis, aku yang akan menangkap kakak!" Ucap anak perempuan tersebut dengan tangan yang menunjuk ke arah jam pasir miliknya.


"Dia mengatakan 'Lartson's Clueless'? Jika ini dimensi miliknya, itu artinya ia yang dapat mengendalikan dimensi ini sesuai kehendaknya." Pikir Ravettha.


"Jangan bilang namanya adalah Lartson Emely Greenace? Yang merupakan pembunuh terlangka karena kecerdasannya dalam memanipulasi mangsanya." Pikir Ravettha.


"Aku tidak boleh kalah! Aku harus menyelamatkan mereka dan menyelesaikan misi! Kalau begitu aku harus mencari petunjuk!" Pikir Ravettha.


Untuk mencari petunjuk, ia menggunakan kemampuan 'Eye Sighting' nya kembali sebelum waktunya habis.


"Eye Sighting! " Ucap Ravettha


Ia melihat sebuah benda bercahaya dari arah jam 2.


Ia berlari menuju benda tersebut dan melalui banyak sekali rak buku yang membentuk seperti labirin rumit.


Saat ia berlari menuju benda tersebut, ia melihat sebuah buku yang terbang tanpa ada seorang pun di dekatnya yang mengendalikan buku tersebut.


Buku itu mengeluarkan sekumpulan kelelawar yang menghisap darah dan memberikan racun kepada targetnya.


Ravettha yang mengetahui hal tersebut langsung menghindari dari kumpulan kelelawar tersebut.


Akan tetapi, kumpulan kelelawar tersebut selalu mengikuti Ravettha dan berebut untuk menghisap darah dari Ravettha.


"Huh. Kalau begini, aku terpaksa menggunakan itu." Pikir Ravettha.


"Demon Sword! Pinjamkan aku pedangmu!" Ucap Ravettha.


"Baik, master." Ucap Demon Sword.


Demon Sword tersebut merubah wujudnya menjadi pedang yang sangat kuat dan mematikan untuk membunuh sekumpulan kelelawar.


Ravettha juga menggabungkan kemampuannya bersamaan dengan menggunakan pedang tersebut.


"Demon Fire Strike!" Ucap Ravettha.


Ia mengayunkan pedang yang panjang dan ringan tersebut ke arah seluruh kelelawar tersebut dan memotong seluruh leher kelelawar dengan sangat cepat.


Tubuh seluruh kelelawar tersebut mengeluarkan asap hitam yang pekat dan menghilang seketika.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2