
“Huh? Tidak mengherankan Tuan Muda Aieraelf ini sudah berkembang...! Kau tidak mau membawaku masuk ke kelompokmu, sebagai ‘Kakak tercinta’? Mengharukan sekali!” Ucap Waldon dengan memeriksa tulang ekornya dan kembali bangkit tanpa mengeluh rasa sakit yang dialaminya kali ini.
“Kau dan aku sama-sama tahu jika itu tidak perlu. Katakan padaku apa yang ingin kau tawarkan? Apapun jawabanku, itu adalah bentuk ketidaksetujuanku padamu, kecuali kau...!” Ucap Levord dengan mendekati Waldon sama seperti pertama kalinya mereka bertemu.
Sorot mata mereka berdua menunjukkan hal yang berkebalikan.
Waldon yang dipenuhi amarah, sedangkan Levord yang dipenuhi kegembiraan.
Ia melihat adiknya sendiri berjalan ke samping kanan tubuhnya, melirik, dan membicarakan sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam pertemuan yang mungkin menjadi terakhirnya ini.
“Turunkan pandanganmu dan merangkaklah lagi!” Bisik Levord dengan memperhatikan ekor mata Waldon.
Dibandingkan keringat dingin yang bercucuran, ia benar-benar menyukai pengumpulan amarah di satu titik seperti halnya yang dilakukan Waldon.
“DOOMMMM!!!”
Sebuah pintu mendarat dan masuk dengan paksa dari atap dinding.
Inti lapisan dinding milik Waldon telah diambil alih oleh Pak Victor.
“Aku heran...! Tampaknya kalian menikmati prosesi hukumannya ya?” Tanya Pak Victor yang memanggil satu muridnya agar cepat berpindah ke ‘Fragment 2’.
Berpaling dari panggilan gurunya, Levord ingin membisikkan satu kalimat terakhirnya.
Tangan yang sedikit lebih panjang darinya menarik kerah bajunya.
Ia yang menutupi rasa terkejutnya langsung mengalihkan perhatian menjadi tanda tanya.
“DING!”
Pesan masuk yang cukup lama tidak mengirimkan pesannya kembali muncul.
Sebagai adik Waldon, ini bukanlah kabar bahagia ataupun kabar buruk, melainkan keterampilan baru yang membawa teka-teki bagi dirinya.
“Penambahan anggota diterima! Waldon de Birtsen resmi sebagai anggota tim 1001!” Bunyi pesan tersebut.
“GREP!”
“Kira-kira apa yang akan dilakukan ‘Kakak tercinta’ mu ini ya?” Bisik Waldon dengan membalas senyuman yang sebelumnya dimiliki oleh Levord.
“Levord! Waldon! Mau sampai kapan kalian disana? Waktu kita tidaklah banyak dalam satu waktu!” Ucap Kalvetno yang mulai mendengus kesal mendapati dirinya tidak diajak berbicara.
“Temanmu benar-benar menarik ya?” Tanya Waldon dengan menarik tangan Levord sekuat mungkin.
__ADS_1
Wajah ceria dan hangat yang terpancarkan oleh teman-teman barunya, mengajarkan agar semakin berterima kasih akan pilihan yang telah dibuatnya.
“Kenalan jauhmu?” Tanya Sorayna yang bersikeras tidak peduli pada teman barunya.
“Anggap saja begitu.” Ucap Levord dengan berjalan lebih cepat dari Waldon.
“Baiklah, Waldon! Kita satu kelompok dan siapapun berhak berkomunikasi. Jadi, kita akan saling berhubungan kedepannya.” Ucap Pak Victor dengan menerima hangat anggota kelompoknya.
“Uhm... Ya, baiklah!” Ucap Waldon yang masih gembira karena bisa langsung bertemu dengan teman adiknya.
“DING!”
“Selamat! Tim 1001 telah menyelesaikan misi ‘Fragment 1’, yang artinya setiap anggota lulus di misi pertama ini! Mohon perhatiannya! Setelah pesan ini terbaca, pemanggilan peserta ke ‘Itascaria Frament 2’ akan dilakukan otomatis. Diharapkan peserta segera bersiap-siap!” Bunyi pesan sistem yang muncul di detik terakhir sebelum menghilangnya nama ‘Fragment 1’ dari ingatan para peserta.
Kata otomatis kembali lagi muncul sebagai gaya khas sistem ‘Itascaria Fragment’.
Sama halnya dengan Ravettha, Vicenzo, Kalvetno, Sorayna, Levord, Waldon, dan Pak Victor, para peserta lain mendapatkan pesan yang begitu mendebarkan.
Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk memikirkan alasan penghilangan ingatan ‘Fragment 1’ karena apapun yang ingin ia pikirkan tentang ‘Itascaria Fragment’ hanya akan mengurangi tingkat darah.
Sistem itu telah terprogam dengan memperhatikan kefleksibelannya sehingga dapat dipastikan berkurangnya efek samping.
“KYAAAA!!!”
Pikiran mereka terbesit kata “Bertahan” terus menerus.
Seluruh usaha diberikan semaksimal mungkin.
“Jadi periode kali ini akan memuaskan? Suara mereka tidak lebih dari sampah yang harus dimusnahkan!” Ucap rekan Zerqia, Beneit Odgergea.
Jari telunjuknya mengetuk-ketuk pagar hiasan di hadapannya, sedangkan Zerqia sungguh yakin akan perkataannya.
“Sampah? Konotasi senior lagi-lagi buruk! Apa senior tidak bersemangat akan pekerjaan ini?” Tanya Zerqia yang bingung sekaligus kesal akan perkataan rekannya yang hanya berbeda satu hari kelahiran.
Beneit menatap Zerqia dengan kemalasannya.
Ia yang bersikap seperti itu, ingin atau tidak, diharuskan mengatakan kebenaran yang tidak mengenakkan.
“Semakin lama disini, kau tidak menghitung berapa sisa kelulusan tempat ini? Bisa dikatakan, keberuntungan mereka yang menuntun jalannya.” Ucap Beneit dengan meninggalkan Zerqia untuk mengambil posisi di Pusat Pengaturan.
“Huuh! Perkataannya tidak salah, tapi tidak dengan prinsipnya!” Pikir Zerqia yang mendengus kesal dan kembali menyelesaikan tugas yang telah menumpuk banyak di meja kantornya.
Di dalam ruangan Pusat Pengaturan, Beneit melihat satu kelompok yang datang terlambat daripada waktu yang seharusnya digunakan, yaitu Tim 1001.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu berharganya, ia langsung memulai pemanduannya.
“Kalian telah bersenang-senang sebelumnya dan pada kesempatan ini, apa kalian siap pada misi ‘Fragment 2’ ini?” Tanya Beneit dengan memberikan kesan terbaiknya pada para peserta yang dapat menatap langsung dari jarak dekat.
Kehadirannya membangkitkan gelora atas keyakinan dan semangat yang terpadamkan di misi sebelumnya.
Tersulutnya api yang begitu besar berhasil mematahkan segala bentuk kecemasan akan kegagalan.
“Tentu saja kami siap!!!” Ucap sebagian besar para peserta.
Emosi mereka yang mengikuti arus tersebut ternyata sungguh bermanfaat dan menambah poin kelulusan.
“Ravettha!” Ucap Vicenzo dengan memanggil Ravettha yang sedang fokus pada layar hologram miliknya.
“Hm?”
Balasan yang begitu singkat tidak membuat Vicenzo merasa sangat senang.
Ia menutup kedua mata Ravettha dan mengambil alih perhatian agar berfokus pada dirinya.
“Oh, sepertinya aku melewatkan sesuatu? Mau kubantu, Cedric?” Tanya Ravettha yang mematikan layar hologramnya.
“Kamu tahu apa yang akan terjadi di misi kedua ini?” Tanya Vicenzo.
Suara yang riangnya berubah menjadi suram, kerutan dahinya menurun, dan tampak begitu jelas bahwa dirinya sedang khawatir.
Ravettha tertawa kecil mendengar pertanyaan dengan bahasa tubuh yang baru ditunjukkan oleh partnernya untuk pertama kali.
“Tentu aku tahu. Itulah mengapa aku bertanya padamu mau kubantu sebelumnya, Cedric.” Ucap Ravettha dengan menghentikan tawa kecilnya.
Pandangannya telah berfokus pada partnernya, begitupun perhatiannya.
Ia tidak keberatan selama itu tidak menganggu batasannya.
“Bukan itu maksudku. Biarkan aku tetap dekat di sisi bersamamu, sa...!” Ucap Vicenzo yang memperhatikan apakah Ravettha memahami maksud perkataannya.
Ia terkejut saat mengetahui Ravettha tidak meremehkan keberadaannya.
Keseriusannya yang begitu dalam justru lebih mudah dipahami seperti caranya memahami Ravettha dengan yang terbaik.
“Ya, kau akan tetap di sisiku dan yang ini tidak bisa menghancurkan kita kan?” Tanya Ravettha dengan meloncat turun hingga tidak terasa telah menginjak harga diri target musuh tepat di belakang tubuh partnernya.
Mendengar akan hal yang begitu berharga baginya, Vicenzo akhirnya bisa sedikit bernapas karena dirinya telah masuk kedalam daftar yang harus dijaga dengan baik keberlangsungannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG