
Tanpa membuktikan apapun, sebagai majikannya, Ravettha mengetahui persis para bawahannya, termasuk Falext sehingga dirinya dapat memperkecil tingkat penyalahgunaan.
"DRAP! DRAP! DRAP!"
"Master!!!" Teriak Lartson terlalu berlebihan dalam menyambut majikannya.
"Kami mendengar ada rapat. Apa kami datang di saat yang tepat, master?" Tanya Tuan Glendy, Leonardo, dan Layla secara bersamaan.
"BRUK!"
Rufino dan Nicholas saling berebutan tempat untuk memeluk Ravettha.
"Aku duluan dan datang lebih cepat darimu!" Ucap Nicholas benar-benar rindu hingga ingin bertengger di bahu majikannya.
"Tidak! Master milikku!" Ucap Rufino ikut bertengger di sisi lain yang berlawanan dengan Nicholas.
"Sangat tepat kalian tiba kemari, partnerku. Silahkan duduk dan nikmati camilannya!" Ucap Ravettha masih sibuk menyediakan ruang rapat saat ketujuh partnernya berdatangan.
Ia yang benci hal monoton langsung menyajikan hidangan camilan sesuai kesukaan masing-masing partnernya tepat sebelum makan siang di akhir rapat.
Tidak lupa juga dirinya menciptakan ruangan agar menjadi ruang diskusi untuk mereka berdelapan.
"Bisa tunjukkan filenya, Falext?" Tanya Ravettha meminta sebuah file yang terus dijaga dengan ketat oleh partner utamanya ini.
"Tentu saja! Ini file yang anda minta, master." Ucap Falext menyerahkan permintaan majikannya.
"File ini adalah kegiatan jangka panjang kita kedepannya. Disini terdapat persebaran dunia yang bisa kalian lihat dan perhatikan di dalam peta." Ucap Ravettha menunjukkan file, membukanya melalui layar hologram di sisi kanannya, dan menyerahkan tujuh buah peta kecil yang dapat diperbesar ataupun diperjelas keterangannya.
Ketujuh partnernya telah menerima masing-masing peta tersebut.
Respon mereka yang beragam membuat Ravettha bersemangat dan begitupun dengan Falext.
"Woah! Jadi ini petanya? Bola-bola dunia terbesar di segala penjuru!" Ucap Rufino kagum dengan kumpulan dunia itu.
__ADS_1
"Apa kita akan menelusurinya, master?" Tanya Layla kebingungan setelah melihat dunia yang begitu banyak untuk ditelusuri.
"Tidak perlu, Layla. Lebih tepatnya kita akan mengambil alih mereka semua." Ucap Ravettha menantikan pemikiran berlawanan dari dirinya.
Ia sungguh ingin tahu apakah pendiskusian ini memiliki pemberontak, terlebih lagi dirinya harus turun tangan menghadapi hal tersebut.
Mendengar jawaban Ravettha, ketujuh partnernya langsung diam dan memikirkan kontribusi yang bisa mereka berikan untuk majikannya.
"Ambil alih? Yang dimaksud master mengambil alih semua adalah...! Seluruh bola dunia di dalam peta ini telah dijadikan target? Ide gila ini, bukankah master memiliki hal besar yang ia inginkan?" Pikir Tuan Glendy terkejut setelah mengetahui keinginan terbesar majikannya.
"Master! Apa mengambil alih mereka semua itu adalah menguasai seluruh dunia di jagat raya?" Tanya Leonardo dengan kedua mata yang terus memancarkan cahaya.
"Tepat sekali, Leonardo! Bagaimana menurutmu tentang penguasaan ini?" Tanya Ravettha terus bertanya-tanya mengapa partnernya yang satu ini bersemangat.
Dengan penuh kepercayaan diri, Leonardo mengungkapkan apa yang ada di isi kepalanya.
Baginya, tidak ada yang perlu disembunyikan di hadapan majikan ataupun rekannya.
"Penguasaan, mengambil alih, atau apapun itu namanya, kita harus memulainya dari yang terkecil. Selain sebagai latihan, di tahap itu kita dapat mengurangi risiko terburuk." Ucap Leonardo bersikap tenang dan memperhatikan hal secara detail.
"Ya! Itu adalah ide bagus. Aku juga ingin tahu!" Ucap Rufino tertarik memperdalami pemahamannya.
"Akan kuberi sedikit contoh. Saat rencana kita telah disadap musuh dan diberitakan media massa, kita tak akan punya langkah untuk menyelamatkan diri. Pilihannya ada dua, mengaku bersalah dan dihukum mati atau simpan dendam dan menunggu waktu yang tepat untuk serangan selanjutnya." Ucap Leonardo benar-benar yakin bahwa hal terburuk bisa menimpa siapa dan kapan saja.
"Kau ada benarnya, Leonardo! Itu juga perlu diingat di setiap langkah kita beraksi." Ucap Falext mengangguk setuju terhadap perkataan rekannya ini.
Ravettha akhirnya mengetahui seberapa jauh pemikiran keenam partnernya sehingga ia hanya perlu mendorong satu partner yang tersisa untuk berbicara.
Sementara dirinya ingin mendorong Lartson berbicara secara tidak langsung, ia melihat terlebih dahulu keadaan di sekitarnya.
"Aku dan Tuan Glendy telah membuat telur-telur itu tumbuh menjadi monster. Apa mereka masih berguna untuk rencana kita saat ini?" Tanya Lartson menyerahkan seluruh data yang mereka miliki ke majikannya.
"Monster? Mari kulihat sejenak!" Ucap Ravettha mengambil data tersebut dan menimbangkan segala kondisi termasuk manfaat, fungsi, risiko, pro, dan kontra.
__ADS_1
Terdapat 110 jenis makhluk hidup yang tergolong ke dalam sebuah spesies.
Penelitian mereka telah dilakukan sejak keduanya tiba di 'Ruang Pelatihan Rahasia' milik majikannya.
Baik antara Lartson dan Tuan Glendy, keduanya melakukan sesuai perintah Ravettha.
Hal itulah mengapa 'Ruang Pelatihan Rahasia' telah berkembang pesat dalam waktu yang cukup singkat.
"Kita bisa menggunakan hasil kerja Lartson dan Tuan Glendy. Mereka telah meneroboskan penemuan yang berguna untuk kelangsungan para saudara kita." Ucap Ravettha tersenyum bangga karena semangat para partnernya berproses demi hasil yang maksimal.
"Apa kita akan menggunakan senjata penelitian Lartson dan Tuan Glendy secara besar-besaran, master?" Tanya Layla terkejut karena membayangkan betapa banyaknya jumlah pasukan untuk dilatih secara berkala.
"Tidak secara besar-besaran, kita gunakan saja sesuai kebutuhan. Nicholas! Bisa aku melihat persebaran kualitas pasukan khusus yang telah kita latih?" Tanya Ravettha sangat ingin mengetahui kesiapan fisik dan mental para pasukannya.
Nicholas yang mendapat perintah tersebut langsung terburu-buru menyiapkan peta dan data yang terus ia peroleh setiap pertemuan.
Sesigap mungkin dirinya menyerahkan dua buah informasi yang perlu diketahui majikan dan para rekannya.
"71.953.600? Jika dilihat jumlahnya ini masih tidak cukup, berbeda dengan kualitasnya. Aku ingin melihat perkembangan mereka secara langsung! Dengan begitu kita bisa menyusun rencana." Ucap Ravettha akhirnya mengakui keunggulan sistem yang telah dibuatnya bersama ketujuh partnernya di awal pembuatan dunia.
"Anda bisa melihatnya juga dari sini, master." Ucap Nicholas menunjukkan pelatihan yang masih dilaksanakan melalui layar hologram di hadapan majikannya.
Meskipun Ravettha telah melihatnya bersama Vicenzo, ia sungguh ingin tahu perbedaannya dalam beberapa waktu.
Tidak ada hal yang lebih mengejutkan, selain ilmu, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, dan etika para pasukannya tiga tingkat lebih terampil dari pelatih utamanya, yaitu Rufino.
"Dalam jumlah ini kita bisa menang telak, sayangnya bukan hanya masalah menang atau kalah, tetapi cara kita mempertahankan apa yang telah kita miliki. Jika dilihat dari strategi, pasti harus ada yang berkelompok dalam beberapa orang, berbeda tugas, dan beragamnya taktik. Melakukannya terlalu terang-terangan lebih berbahaya, terlebih lagi tanpa memiliki peluang keberhasilan." Ucap Ravettha menimbangkan dari berbagai pandangan.
Ketujuh partner juga menyetujui perkataan majikannya.
Mereka merasa lebih dihargai saat berdiskusi bersama karena perasaan penting yang mereka miliki tersalurkan dua arah, yaitu antara pihak pembicara dan pendengar.
"Mereka sudah siap. Bagaimana menurutmu, Falext?" Tanya Ravettha menunggu partner utamanya selesai menimbangkan hal yang perlu diperhitungkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG