
Ravettha memutuskan untuk pergi mencari ketiga buku tersebut.
Sebelum pergi terlalu jauh dari kediaman Tuan Zhulfarias, ia sedang memikirkan sesuatu.
"Tunggu sebentar! Guru menyuruhku untuk mencari ketiga buku miliknya yang telah dicuri. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, guru telah menyuruh seseorang untuk mencuri buku tersebut dan menyuruhku untuk mencarinya. Ia melakukannya hanya untuk menguji seluruh kemampuanku. Kedua, guru benar-benar tidak mengetahui bahwa ada yang mencurinya. Dari awal, aku sudah menaruh curiga kepadanya karena ia pandai berbicara. Itu artinya, ia sudah menyiapkan seluruh pelatihan ini sebelum aku tiba." Pikir Ravettha.
"Kalau begitu... Ini akan menjadi mudah!" Pikir Ravettha yang tiba-tiba tersenyum senang.
Ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari buku tersebut yang kemungkinan berada di tangan bawahan Tuan Zhulfarias.
Tibalah ia disebuah bangunan tua, sangat usang, dan rapuh.
Bangunan tersebut sudah terlihat tidak layak untuk ditempati.
Akan tetapi, Ravettha merasakan ada seseorang yang memperhatikannya dari dalam bangunan tersebut.
Ia pun mendekati bangunan tersebut dengan berjalan ke arah Utara dan memasukinya.
"Permisi... Apa disini ada orang?" Tanya Ravettha.
Sayangnya, tidak ada satupun yang membalas jawaban dari pertanyaan yang Ravettha berikan.
Semuanya terdengar hening dan sunyi.
"Hei! Keluarlah! Aku yakin disini ada orang yang menunggu!" Ucap Ravettha.
"Hihi. Kau benar!" Ucap seseorang yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.
Seorang pria dewasa dengan menggunakan pakaian berjubah dan topeng yang melambangkan sesuatu.
Pria itu datang dengan tangan kosong, tanpa persenjataan apapun.
Ia datang dengan penuh percaya diri dan menyembunyikan aura membunuhnya dengan sangat natural.
"Apa yang kau cari? Kekuatan? Kekuasaan?" Tanya pria tersebut dengan tersenyum senang dan menunggu jawaban dari Ravettha.
Tidak ada jawaban satu katapun dari Ravettha.
"Kau tidak mengatakan keinginanmu? Ah, aku tau! Kau menginginkan kematian terindah bukan? Kalau begitu, aku akan mengabulkan satu keinginanmu dengan senang hati!" Ucap pria tersebut.
"Kau bawahan Tuan Zhulfarias?" Tanya Ravettha dengan tatapan tajam.
"Siapa? Zhulfarias? Siapa itu? Kau sedang mencari bawahannya, ya? Mau kubantu mewujudkannya?" Tanya pria dengan tersenyum licik.
"Tidak. Aku tidak punya urusan denganmu. Panggil temanmu lainnya yang sedang bersembunyi itu! Panggil dia sekarang!!" Ucap Ravettha dengan tegas.
Dengan seketika, pria yang menawarkan bantuan tersebut merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya setelah mendengar sebuah perintah dari Ravettha.
__ADS_1
Tubuh pria tersebut langsung merespon untuk memenuhi keinginan Ravettha.
"Baik, nona." Ucap pria tersebut yang telah dikendalikan sepenuhnya.
Karena latihan yang Ravettha lakukan, membuatnya bisa mengendalikan seluruh milik target baik itu nyawa, jiwa, kekuatan, tubuh, dll.
Ia bahkan tidak memerlukan energi yang banyak, karena kemampuan tersebut tidak akan menguras energinya.
Pria bertopeng itu berjalan dan menghampiri temannya yang sedang tidur.
"Hei! Kau diminta untuk bertemu dengan tamu penting!" Ucap pria tersebut yang telah dikendalikan oleh Ravettha.
Karena temannya yang belum bangun, ia menendangnya dengan kuat hingga membuatnya bangun dari tidurnya.
"Apa lagi? Aku masih ngantuk nih! Awas saja jika dia bukan tamu penting, akan kubunuh kau!" Ucap temannya tersebut dengan sangat kesal.
Pria bertopeng yang telah dikendalikan oleh Ravettha tidak menjawab satu katapun dari ucapan temannya tersebut.
Ia berjalan memandu temannya untuk menemui Ravettha.
"Sudah kuduga dia orangnya!" Pikir Ravettha dengan tersenyum kecil.
"Mana? Dimana dia?" Tanya teman pria bertopeng tersebut.
"Aku disini." Ucap Ravettha dengan tatapan tajam.
"Pft. Hahahaha!"
Teman pria bertopeng tersebut tertawa terbahak-bahak karena menurutnya sangat konyol.
"Kau menyuruhku untuk menemuinya? Pft. Konyol sekali." Ucap teman pria bertopeng.
"Kau benar-benar ingin kubunuh rupanya!" Ucap teman pria bertopeng tersebut.
"Permisi... Apakah kalian pernah melihat buku yang berjudul 'Prediction Future Of Aishwarya', 'Historic Of Nether World', 'Historic In Aishwarya Island'?" Tanya Ravettha yang sedang menguji kejujuran dari keduanya.
"Buku?" Tanya mereka berdua secara bersamaan.
"Benar!" Ucap Ravettha.
"Tidak." Ucap pria bertopeng yang telah dikendalikan.
"Ah, aku mengerti sekarang! Kau mengendalikan temanku yang bodoh ini agar kau mendapatkan yang kau inginkan, bukan? Percuma saja!" Ucap teman pria bertopeng yang telah menyadari ada yang aneh dari temannya.
"Jadi, kau melihatnya atau tidak?" Tanya Ravettha dengan tegas.
"Telah melihat atau tidaknya bukanlah urusanmu. Lagipula, apa untungnya aku memberi tahumu?" Tanya teman pria bertopeng tersebut.
__ADS_1
"Bagus! Permainan akan dimulai!" Pikir Ravettha dengan tersenyum licik.
Ia yang telah sepenuhnya dapat mengendalikan milik pria bertopeng tersebut memberikan perintah kepadanya untuk membunuh temannya dengan cara yang mengenaskan.
Pria bertopeng tersebut memulai penyerangannya kepada temannya.
Satu persatu kemampuan yang dimiliki oleh pria bertopeng tersebut dikeluarkan untuk membunuh temannya.
Pertarungan tersebut sedikit demi sedikit menjadi pertarungan sengit yang mempertaruhkan nyawanya.
Sementara itu, Ravettha hanya memperhatikan dan duduk di atas pedangnya yang melayang dengan seksama dan penuh hati-hati.
"Hei, bodoh! Kau mau sampai kapan menyerangku terus?! Sadarlah! Musuh kita yang sebenarnya adalah anak itu!" Ucap teman pria bertopeng tersebut.
"Kau salah. Kaulah yang sebenarnya musuhku!" Ucap pria bertopeng.
"A-Apa? Kupikir kita adalah partner yang dapat melengkapi walaupun kadang kau bodoh. Sekarang kau mau mengkhianatiku? Yang benar saja!" Ucap teman pria bertopeng.
Selagi temannya masih saja berbicara, ia langsung menusuk tepat di jantungnya dan berusaha mencabut jantungnya.
"Ugh! Dasar pengkhianat!" Ucap teman pria bertopeng tersebut yang hampir sepenuhnya akan kehilangan kesadaran hingga nyawanya.
"Masih punya kata terakhir?" Tanya pria bertopeng dengan tersenyum licik.
Tidak ada jawaban dari temannya tersebut karena ia sudah sepenuhnya tidak bernapas lagi.
Karena temannya sudah mati, ia justru menjadi sangat senang.
Rasa keinginannya telah terpenuhi sejak saat itu.
"Hahaha! Kan sudah kubilang! Walaupun aku berhasil dikendalikan olehmu, aku akan mengabulkan satu keinginanmu, bukan? Kalau begitu, giliranku yang meminta permintaan dan kau harus mengabulkannya!" Ucap pria bertopeng tersebut.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Ravettha dengan tatapan tajam.
"Sepertinya dia tidak akan meminta hal yang aneh. Dia tidak sepenuhnya jahat, Yang Mulia." Ucap Rufino yang telah mengamati pria bertopeng tersebut.
"Aku hanya ingin mengikuti anda dan membantu anda mendapatkan ketiga buku yang sedang anda cari." Ucap pria bertopeng tersebut dengan penuh kepercayaan diri.
"Dia memintanya karena dengan begini akan menjadi mudah untuk merebut dari yang terdekat, bukan?" Pikir Ravettha.
"Terserah kau. Ada yang harus kau ingat! Ketiga buku tersebut hanya aku yang boleh mendapatkannya." Ucap Ravettha dengan tatapan tajam yang siap membunuh pria bertopeng jika melanggar perkataannya.
"Tidak ada untungnya aku mengambil ketiga buku tersebut dari tangan anda. Anda bisa mengambil nyawa saya seperti temanku itu jika saya melanggarnya." Ucap pria bertopeng tersebut.
"Pintar sekali kau bernegosiasi, ya?" Pikir Ravettha.
BERSAMBUNG
__ADS_1