Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Tingginya Jiwa Kompetitor


__ADS_3

Seluruh peserta telah berkumpul di lapangan luas, beramai-ramai penuh tanda tanya, kesana kemari mencari jawaban.


Beberapa menit kemudian, setelah terkumpul para peserta dan timnya, sebuah layar hologram muncul dari langit-langit yang cerah.


Hologram itu juga dapat diakses dari batu permata para peserta.


Terlihat dengan jelas suara, bahasa tubuh, dan kontak mata antara pembicara dan pendengar.


“Kuucapkan selamat datang di ‘Itascaria Fragment’ kami! Perkenalkan saya adalah pemandu acara ‘Fragment 1’ kalian, Zerqia Douglaf. Kami yakin anda sekalian bertanya-tanya, Mengapa kami disini? Kenapa kami yang dipilih? dan Bagaimana kami keluar dari tempat ini? Beribu maaf kami ucapkan pada anda sekalian, tetapi satu yang dapat kami beritahukan pada anda. Kalian dapat memilih jalan dan cara kalian sendiri dengan satu aturan. Selesaikan misi atau menjadi seperti ini?” Tanya Zerqia dengan menunjukkan sebuah proses kegagalan.


Sekumpulan jalur antrian yang berwajah muram, sedih, takut, dan cemas tidak bisa bertindak sesuai keinginannya saat dihadapkan dengan kematian yang berulang.


Leher mereka diikat, tangannya terantai, kedua kakinya mendapatkan hukuman bola besi yang berasal langsung dari inti api.


Tidak ada penolong baik itu yang berwajah manis ataupun sebaliknya, mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari para eksekutor, dan hanya dapat meratapi nasibnya yang begitu malang.


Jeruji besi, pedang berukuran besar, sabit kematian pun terlihat dengan jelas melakukan fungsinya berulang kali.


Pemandangan yang lebih dari sekadar mencekam menjadi mimpi terburuk yang pernah dirasakan oleh para peserta.


Ada banyak respon dan kritikan yang bermacam-macam jenisnya.


Sementara pihak penyelenggara dan pembawa acara disalahkan, justru Zerqia dengan keprofesionalannya bersikap tegas dan telah menyiapkan banyak hal untuk masalah yang besar seperti ini.


“Terima kasih atas respon dan kritik atas pemikiran kalian! Kami sangat bangga atas keantusiasan kalian yang lebih meriah dari periode-periode sebelumnya. Langsung saja, ‘Fragment 1’ dimulai!” Ucap Zerqia dengan penuh semangat, wajahnya berseri-seri, dan sungguh ingin menjalankan pekerjaannya semaksimal mungkin.


Layar hologram menghilang perlahan-lahan, menandai seberapa menyebalkannya sistem yang mereka terapkan pada setiap peserta.


Di masing-masing batu permata milik peserta sendiri muncul sebuah pesan pemberitahuan mengenai misi ‘Fragment 1’.


“Sekarang anda adalah peserta resmi ‘Itascaria Fragment’. Setiap fragmen memiliki misi dengan tingkatannya yang berbeda satu sama lainnya. Bagi siapapun yang dapat menyelesaikan seluruh misi di dalam ‘Itascaria Fragment’ akan mendapatkan hak istimewanya tersendiri. Untuk mengetahui informasi mengenai misi ‘Fragment 1’, mohon tekan Lanjutkan.” Bunyi pesan tersebut.


Mengetahui akan adanya hak istimewa bagi para peserta yang menyelesaikan seluruh misi membuat pikiran dan luapan akan ketidakpuasan sedikit demi sedikit memudar.


Para peserta memiliki mimpi dan angan-angannya sendiri.


Rasa ingin saling menjatuhkan, kompetisi, dan gelora semangat memuncak di satu tempat.

__ADS_1


Banyak cara yang tentunya beragam jenis terbesit dalam pikiran mereka.


Mereka benar-benar tidak sabar ingin segera memulainya hingga tidak jarang ada yang tidak bersungguh-sungguh membaca ketentuan akan kebijakan yang telah dibuat bersama.


Sedangkan mereka yang bersungguh-sungguh membacanya dengan perlahan, mempunyai harapan tidak ingin terjebak pada lubang kesalahan yang sama.


“KLIK!”


Para peserta menekan “Lanjutkan” dan mendapati profil statusnya masing-masing, mulai dari nama lengkap, usia, jenis kelamin, nomor induk peserta, kode peserta, jumlah alat transaksi, dan status dalam ujian ‘Itascaria Fragment’.


Tombol lanjutkan kembali muncul di bawah profil status peserta dan mereka mengikuti langkah selanjutnya.


Misi kali ini terdengar sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya hanya perlu melenyapkan ‘Bubbling Escalade’ bersama rekan sekelompok.


Tidak ada informasi mengenai level kesulitan ataupun tingkat keberhasilan yang tertera.


Meskipun pada awalnya tidak sedikit yang mempertanyakan akan hal tersebut, sayangnya pertanyaan itu telah terkikis dengan semangat yang begitu besar dari setiap peserta.


“Tunggu-tunggu! Apa maksudnya... misi ini kita selesaikan bersama-sama, kan?” Tanya Ravettha dengan membaca ulang lagi dan lagi, lalu melihat ke sekitarnya yang mulai berubah suasana.


“Ya, itu benar!” Ucap Pak Victor yang mengangguk-anggukan kepalanya.


Tentu saja ia kegirangan, terlalu lama mengandalkan diri sendiri terkadang justru terlihat memuakkan di matanya sendiri.


“Bubbling Escalade... Jangan-jangan...!” Gumam Vicenzo yang menengadah ke langit.


Ia sungguh yakin jika saat detik pertama kali menginjakkan kakinya di tempat ini, cuaca masih cerah dan sangat bagus.


Saat ini cuaca turun salju yang masih tergolong ringan dan permukaan tanah mulai bersalju.


Kedua matanya mulai terkejut setelah mengingat hal berbeda, tetapi cara kerjanya cukup dapat dikatakan serupa.


“Woah! Indahnya kristal ini! Akan lebih menakjubkan jika kujadikan oleh-oleh setelah pulang dari sini!” Ucap Sorayna dengan berdecak kagum.


“BWOOSSSHHHH!”


Sebuah panah menembak dengan tepat sasaran mengenai tengah kristal.

__ADS_1


“Kalian masih ingin mengagumi keindahannya?” Tanya Vicenzo dengan mencari kristal yang berpotensi segera mencair.


“DING! +10!” Bunyi pesan masuk milik Vicenzo.


“Kamu membidiknya dengan cepat dan tepat sasaran, lalu mengatakan demikian. Katakan padaku berapa waktu yang dibutuhkan es itu mencair?” Tanya Ravettha dengan memperhatikan apa yang sebenarnya dimaksud oleh partnernya sendiri.


“Kurang lebih 5 detik setelah mendekati titik normal.” Ucap Vicenzo yang mulai membuat hujan panah.


“Kalian berlima pakailah pelindung ini! Alat ini ringan dan mudah terhubung dengan penggunanya.” Ucap Pak Victor dengan menyerahkan ‘Metaxiorpion’ pada kelima muridnya, lalu memakainya sendiri.


“Arrgghhhh! Aku benci tempat ini!” Teriak suara wanita dewasa yang penuh dengan keluhan negatif.


Wajah dan beberapa kulitnya tergerogoti oleh benda asing yang ia sendiri tidak tahu darimana asalnya.


“Hei! Siapa wanita jelek itu? Teriakannya memecahkan gendang telingaku!” Tanya beberapa peserta dengan sekumpulan peserta lainnya.


Rasa iba dan belas kasihan yang cukup besar pada wanita itu tergeserkan oleh perubahan ekstrim yang belum pernah dialami oleh seluruh peserta.


Butiran salju yang turun deras berubah menjadi malapetaka.


Semua peserta berlomba-lomba menyingkirkan butiran salju dan bertahan hidup dengan menambah poin.


“Demon Sword!” Ucap Ravettha dengan memanggil sebuah pedang sekaligus rekannya.


“Akhirnya master memanggilku! Aku tidak bisa diam memikirkan kapan bisa bekerja di waktu yang sama dengan anda... dan sekarang adalah waktunya!” Ucap Demon Sword dengan sangat yakin.


“Yap! Pinjamkan aku belah pedangmu dan antarkan aku ke atas sana! Sekarang juga!” Ucap Ravettha dengan jari telunjuknya yang mengarah ke langit yang paling tinggi.


Ia menyiapkan badannya dan bersedia melakukan apapun tanpa bertanya sedikitpun karena apapun yang telah ditentukan oleh majikannya telah diperhitungkan sematang mungkin sama seperti dirinya meminta diangkat sebagai bawahan.


“Kalau begitu, mohon bantuannya, Demon Sword!” Ucap Ravettha yang menaiki Demon Sword dengan penuh kemantapan.


“Vett! Kau mau kemana?!” Tanya Sorayna sesekali melirik keadaan anggota timnya.


Dirinya yang fokus meledakkan kristal, Kalvetno dan Levord membuat ketapel jaring listrik, Vicenzo memanah targetnya, dan Pak Victor mempertahankan sekaligus membuat serangan besar jangka panjang.


“Ke langit.” Ucap Ravettha dengan melesat jauh bersama pedang kesayangannya.

__ADS_1


“Oh... Eh, Apa?!” Tanya Pak Victor yang ikut terkejut mendengar perkataan keponakan sekaligus muridnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2