
Mendengar Kalvetno sedang menggerutu kesal, ia langsung masuk ke inti pembicaraannya.
"Jadi, bagaimana? Kau juga tidak ingin membuang waktu di tempat ini, bukan?" Ucap Levord dengan meminta jawaban yang sangat ingin ia dengar dari Kalvetno.
"Aku bisa kalah telak jika begini? Kuucapkan, selamat! Kau datang tepat waktu, sahabatku! Aku yakin kau sudah mengetahui setengah dari ceritanya. Apa yang dapat kau simpulkan dari sana, Levord?" Tanya Kalvetno dengan mengeluarkan tiga lembar kertas di tangannya.
"Ada pihak yang mengatur mereka. Kurasa itu sudah sangat lama terjadi! Sengaja atau tidak, pihak itu sudah mengetahui asal usul sejarah Jiquousy. Para pedagang hanya bergerak sebagai bawahan, jika tidak, untuk apa mereka bekerja keras hingga membangun tambang di bawah tanah, membinasakan seluruh musuhnya, dan hanya tetap bersemanyam di tempat yang sama seolah tidak ada yang dapat mengganggu rencananya? Memperluas jangkauan pasar dan keloyalitasan tidak terlalu berpengaruh dalam tujuan mereka ataupun penguasanya!" Ucap Levord dengan mengutarakan pendapatnya sejelas mungkin.
Ia sangat tahu bahwa kelima sahabatnya termasuk Kalvetno sendiri, sungguh berbeda dari orang-orang yang pernah ia temui di dalam hidupnya.
Awalnya ia ragu untuk mempererat hubungannya dengan orang lain, tetapi tidak dengan sekarang.
Dirinya benar-benar merasakan bahwa ia pantas mendapatkan apa yang benar-benar ia inginkan.
"Tidak diragukan lagi! Perhitungan Sorayna sudah tepat dan baik! Kita hanya perlu melanjutkan langkah selanjutnya. Ya! Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama, sahabatku!" Ucap Kalvetno dengan merangkul Levord sekaligus menyerahkan tiga lembar kertas simpanan miliknya bersamaan dengan sifat keantusiasan yang terpancar dengan jelas dari wajahnya.
"Berapa detik lagi yang tersisa, sahabatku?" Tanya Levord dengan membaca kertas pemberian sahabatnya secara cepat.
Meskipun ia telah membacanya dengan begitu cepat, waktu tetaplah waktu, terkuras banyak di saat tidak berhati-hati.
Inti jiwa Kalvetno sedikit demi sedikit menghilang sama seperti bacaannya yang telah hampir selesai dibaca oleh Levord.
Seakan-akan pemilik permainan mengetahui tindakan dan pikirannya, Kalvetno langsung berteriak kencang agar Levord semakin berhati-hati dalam mempertaruhkan nyawanya.
"Hanya 150 detik dari sekarang, Levord!" Teriak Kalvetno dengan mengangkat kedua tangannya dan melambai-lambaikan tangannya.
"Aku mendengarkan, kalau begitu terima kasih, semuanya!" Ucap Levord dengan menyentuh Kalvetno tepat di jantungnya.
Ia langsung memberi pertahanan tersembunyi kepada Kalvetno, sementara sahabatnya itu hanya dapat dibuat heran dengan kelakuannya.
Tanpa berkata sepatah katapun, ia langsung meninggalkan sahabatnya sendirian di dalam alam bawah sadarnya.
"Sejujurnya aku terkejut saat dirinya telah memperjelas semua poin-poin penting yang mendasarnya! Yeah... Bagaimanapun juga itu sudah harus dilakukan dan juga sudah seharusnya terjadi!" Pikir Levord dengan terjun bebas dan kembali menolak ke sebuah pijakan untuk mencapai tujuannya.
Mengetahui akan dirinya sedang diikuti para musuhnya, ia justru menggunakan kesempatan berharganya.
__ADS_1
Para musuh yang jumlahnya lebih banyak darinya dengan tambahan temperamen yang tidak stabil membuat Levord sangat menyukainya.
Pasukan dengan senjata yang saling melengkapi, pakaian Jirah besinya menutupi seluruh tubuhnya, dan penguncian target secara menyeluruh sehingga mereka dapat bergerak secara fleksibel melalui sentuhan unsur sihir sudah seperti latihan pertempuran yang sesungguhnya.
Semakin Levord naik ke puncak dan menggapai rangkaian gelembung, ia langsung menyadari adanya pembatas sekaligus jebakan dalam radius 54 m.
"Tidak mengecewakan...! Apa dia akan muncul disini sekarang?" Pikir Levord dengan menendang seorang musuhnya secara acak yang hanya berada di jangkauan lengannya.
Ia hanya perlu menekan gaya dorongnya agar dapat meminimalisir usaha yang dibutuhkannya, dan menghasilkan lemparan sejauh mungkin.
Sebagai target percobaan sekaligus musuh Levord, dibandingkan teriak ketakutan layaknya anak ayam, ia justru memberikan reaksi bangganya karena ia berpikir dapat membunuh Levord melalui jarak dekat.
"Berikan kehormatanmu dan bersenang-senanglah di atas sana!" Ucap Levord untuk pertama dan terakhir kalinya bersamaan dengan mengambil sebilah pedang secara paksa dari musuhnya tersebut.
Selagi menunggu target percobaannya berhasil sesuai keinginannya, ia menggenggam pedang, lalu menepuk telapak tangannya sekali dengan tersenyum senang.
"PROK!"
Tepuk tangan yang tidak berarti apa-apa membuat para musuhnya berhenti sejenak, menatap penuh heran, dan bersikap ceroboh layaknya menjadi korban.
Mereka tertawa dan merendahkan disertai dengan meningkatnya jumlah kelincahan, percepatan, dan kekuatan pusatnya.
Mereka terkejut dan menampilkan reaksi keputus asaan, ingin atau tidak, mereka diharuskan mengeluarkan cadangan kekuatannya yang lain.
Hal tersebut tentunya akan menguras stamina penggunanya dan itu juga berarti latihan bagi Levord akan segera berakhir.
"Aku harus mendapatkan yang lebih sulit dari ini...!" Gumam Levord dengan melirik hasil target percobaannya yang telah tercacah menjadi daging mentah.
Tidak mengejutkan karena dirinya sendiri yang memutuskan untuk melakukannya, sementara daging tercacah hanyalah konsekuensi dari tindakan musuhnya.
Terdapat dua pelawak berbadan 3 kali lebih tinggi dari manusia normal.
Wajah putih pucat dengan aksesoris rambut yang acak-acakan, hidungnya merah seperti tomat, pakaiannya saling berpadu padan dengan partnernya.
Pelawak tersebut menyeringai lebar dengan mata tertutup, sedangkan pelawak kedua memberikan ekspresi sebaliknya, kedua alisnya yang hampir menyatu dengan ujung kedua matanya dan bibirnya yang menunjukkan betapa membencinya ia terhadap sesuatu.
__ADS_1
Levord yang melihatnya justru merasa hal tersebut adalah hal yang biasa terjadi dalam menghadapi musuhnya.
Ia tidak langsung menurunkan tingkat kewaspadaannya karena baginya, merendahkan siapapun pihak, maka akan menjadi kesalahan fatal terbesarnya.
"Tuan! Tuanku! Bolehkah saya meminumnya? Besi cair itu terlihat sangat lezat!" Ucap Lenzivio dengan penuh semangat.
Ia sudah tidak dapat menenangkan dirinya, jika dihadapkan oleh minuman sekaligus sumber penghasil energinya.
"Tentunya! Kau harus tumbuh dengan nutrisi yang baik, Lenzivio!" Ucap Levord dengan menyetujui permintaan Lenzivio sebagai anak buahnya.
"Terima kasih, tuan! Saya akan tumbuh seperti yang tuan harapkan!" Ucap Lenzivio dengan memulainya dari barisan depan.
Selama Lenzivio menikmati hidangan dan tugas dari majikannya, Levord langsung pergi menghampiri kedua pelawak tersebut.
Tanpa mengatakan apapun, ia ternyata telah disambut dengan baik oleh kedua pelawak.
Sebagai salam perkenalan, pelawak kedua memberikan pembukaan yang penuh kemurahan hati.
Ruangan yang seharusnya hampa energi berubah fungsi dengan mudahnya seperti membalikkan telapak tangan.
Tepat dihadapan Levord sudah dipersiapkan lantai persegi panjang dengan masing-masing perseginya berwarna putih dan biru transparan.
Sementara Levord berada di garis mulai, kedua pelawak justru berdiri dengan posisi siaga di sisi kanan dan kirinya lantai tersebut.
"Pelawak ya?" Pikir Levord dengan menutupi ekspresi wajahnya yang senang dengan wajah bekunya.
Di saat yang sama, ia melihat tujuan utamanya di garis akhir.
Tidak jelas apa yang terdapat di dalam rangkaian gelembung tersebut, jika ia tidak mencari tahu lebih dalam tentangnya.
Ia yang berfokus pada cara meraih target misinya, justru diharuskan membaca satu kalimat petunjuk tata cara pelaksanaannya.
"DING!"
Notifikasi berbunyi bersamaan dengan munculnya pesan masuk.
__ADS_1
"Keindahan di sisimu, menjelajahi gelapnya dunia, tidak terlihat menjadi semu, dibuai menjadi belia." Bunyi isi pesan tersebut.
BERSAMBUNG