
"Adikku, kau mau mendengarkan sebuah kisah yang bagus?" Tanya Roosevelt.
"Wah! Tentu saja mau!" Ucap Ravettha dengan senang.
"Baiklah! Dengarkan cerita ini sampai habis, ya?" Tanya Roosevelt.
Ravettha langsung mengangguk setuju kepada kakaknya.
"Suatu hari, di sebuah kerajaan yang tentram dan damai, hiduplah sebuah keluarga. Keluarga tersebut memiliki tiga anak. Yang pertama adalah anak laki-laki, kedua adalah anak perempuan, dan ketiga adalah anak laki-laki. Ketiga saudara tersebut selalu bermain bersama setelah makan siang hingga besar. Mereka saling menyayangi satu sama lain. Hingga pada suatu saat, mereka terpecah belah hanya karena kekuasaan, pasangan hidup, dan kekuatan. Mereka bertiga membentuk masing-masing satu kelompok yang diketuai oleh mereka sendiri. Karena terlalu banyak perperangan yang tidak penting, timbullah sebuah organisasi yang bertujuan untuk mendamaikan seluruh pihak dan kembali bersatu. Saat itu, hanya kelompok dari anak kedua saja yang berhasil terpikat oleh kebijaksanaan organisasi tersebut. Tidak perlu waktu yang lama, anak perempuan kedua yang merupakan ketua kelompok tersebut jatuh cinta kepada ketua organisasi perdamaian. Sayangnya, cinta mereka langsung hancur karena sebuah kesalahpahaman. Karena sang Pria tidak tahan dengan kesalahpahaman yang terus terjadi diantara mereka, ia memutuskan untuk membunuh sang Wanitanya. Seakan tidak berdosa, ia justru meracuninya dan membuang mayatnya di danau yang dalam. Takdir berkata lain, sang Wanita itu dibangunkan oleh malaikat maut dan ia memutuskan untuk membalaskan dendamnya hingga berhasil tercapai." Ucap Roosevelt.
"Cerita ini sangat mirip dengan kehidupan dirinya! Jika perkiraanku benar, ia sedang membicarakan masa lalunya!" Pikir Ravettha dengan tersenyum kecil yang tersembunyi di wajahnya.
"Karena sudah selesai aku menceritakannya, sekarang giliran kakak yang bertanya kepadamu. Bagaimana?" Tanya Roosevelt.
"Apa yang ingin kakak tanyakan?" Tanya Ravettha dengan berpura-pura penasaran.
"Menurutmu, siapa tokoh yang terjahat dalam cerita itu? Jika benar, kakak akan mendengarkan ceritamu." Ucap Roosevelt.
"Sang Pria, kekasih sang Wanita?" Tanya Ravettha.
"Tepat sekali! Adikku sangat pintar! Aku bangga kepadamu!" Ucap Roosevelt dengan mengacak-acak rambut Ravettha yang berwarna biru panjang.
"Heeh? Apa aku tidak salah dengar? Jawaban yang tadi kujawab itu benar?" Tanya Ravettha yang seakan tidak percaya.
"Tidak, kau tidak salah dengar. Jawabanmu sangat tepat!" Ucap Roosevelt dengan sangat senang.
"Sekarang giliranmu!" Ucap Roosevelt.
"Uhm... Masalahnya, aku tidak tau mau cerita apa!" Ucap Ravettha dengan sangat sedih.
"Tidak masalah! Kau bisa menceritakanny kepada kakak jika kau sudah punya cerita, ya?" Tanya Roosevelt dengan menenangkan adiknya.
"B-Baik." Ucap Ravettha yang mulai kembali ceria.
Sebelum mereka melanjutkan pembicaraannya, seseorang tamu datang dengan mengetuk pintu.
"Tok, tok, tok!"
Roosevelt dan Ravettha menyadari kedatangan tamu tersebut.
__ADS_1
Dengan cepatnya, Roosevelt langsung membukakan pintu dan mengecek siapa tamu yang mengunjungi kamar mereka.
Tamu tersebut adalah Tuan Ananta yang tampak tergesa-gesa.
"Hosh, hosh, hosh! Dimana Ravettha?" Tanya Tuan Ananta yang masih terengah-engah.
"Dia ada di dalam. Silahkan masuk, Tuan Ananta!" Ucap Roosevelt.
Tuan Ananta langsung menemui Ravettha dan mengutarakan tujuan kedatangannya.
"Hei, kau tidak berniat untuk membuat kita semua masuk ke penjara istana dan dihukum mati, bukan?" Tanya Tuan Ananta.
"Tentu saja tidak! Tenang saja! TIdak ada diantara kita yang akan tertangkap. Benarkan, kakak?" Ucap Ravettha yang sudah mempertimbangkan seluruh kemungkinan yang akan terjadi.
"Itu benar!" Ucap Roosevelt dengan tegas.
"Huh! Baiklah! Kali ini saja aku akan mempercayakannya kepadamu! Jangan mengecewakanku, bocah!" Ucap Tuan Ananta kepada Ravettha.
"Tidak perlu khawatir berlebihan! Lagipula semuanya akan selesai dengan sendirinya." Ucap Ravettha yang masih memakan kue pie bluberrynya.
"Oh ya! Silahkan makan kue ini juga! Aku telah membelinya di toko." Ucap Ravettha dengan menyuguhkan setengah loyang dan sepotong kue di piring kepada Tuan Ananta.
"Ketua! Saya menemukan hal yang menarik dari penjaga karcis di permainan 'Rumah Hantu'! Lihat data ini, ketua!" Ucap anggota ksatria dengan memberikan selembar data.
Ketua ksatria tersebut langsung mengambil selembar data yang telah didapatkan oleh anggotanya.
Ia pun juga langsung membacanya.
"A-Apa? Hanya ada catatan kunjungan melalui penukaran karcis masuk ke 'Rumah Hantu' saja?" Tanya ketua ksatria.
"Benar! Disana hanya tercatat bahwa putra mahkota hanya berkunjung kesini sendirian. Anehnya, tidak ada satupun orang yang mengingat kunjungan putra mahkota!" Ucap anggota ksatria.
"Hm... Ayo kita cari tahu kebenaran yang ada di 'Rumah Hantu' itu!" Ucap ketua ksatria.
"Baik!" Ucap para anggota ksatria dan juga seorang penyihir.
Mereka berjalan dengan cepat dan langsung menuju tempat kejadian.
Sesampainya disana, hanya terdapat bangunan kosong yang sudah tidak terawat lagi.
__ADS_1
Dari luar 'Rumah Hantu' tersebut tidak terasa sedikitpun aura baik itu aura kebaikan ataupun kejahatan.
Jejak pembunuhan tidak tersisa satu pun bagaikan hilang di telan dunia.
"Tuan penyihir, apakah anda bisa melihat kebenaran yang sebenarnya telah terjadi disini?" Tanya ketua penyihir kepada penyihir tingkat tinggi.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Ucap penyihir tingkat tinggi tersebut.
Penyihir tersebut mencoba untuk melihat kebenaran tentang kasus melalui bola sihirnya.
Bola sihir tersebut akan mengeluarkan asap biru jika tidak terdapat satupun peristiwa yang tersembunyi.
Apabila bola sihir mengeluarkan asap ungu, itu artinya terdapat sesuatu yang telah disembunyikan.
Tidak perlu waktu yang lama, bola sihir milik penyihir tersebut tiba-tiba mengeluarkan asap yang berwarna biru.
"Deg!"
Saat bola sihir tersebut telah mengeluarkan asap berwarna biru, muncullah sebuah cahaya ungu terang yang kecil.
Cahaya ungu tersebut datang dengan tujuan untuk merenggut nyawa seluruh pasukan penyelidik dan juga memanipulasinya.
Cahaya ungu tersebut mengambil seluruh nyawa pasukan penyelidik tersebut tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Justru ia sangat menikmatinya seperti membunuh serangga.
"Hah! Hah! Akhirnya! Aku mendapatkan tubuhku kembali! Hahahaha!" Ucap cahaya ungu yang telah mengubah wujudnya menjadi wujud manusia.
"Lumayan juga! Setelah kebebasanku saat itu, aku akhirnya mendapatkan makanan yang sangat lezat! Yah... Sayangnya jumlah mereka sangat sedikit untuk menjadi makananku. Aku harus berburu lagi!" Ucap cahaya ungu yang telah berwujud manusia.
Ia langsung pergi mencari mangsa barunya dengan secepat kilat supaya tidak ada yang menyadari keberadaannya.
"Akh! Ini benar-benar lezat! Apa karena sudah lama tidak berburu, jadinya seluruh hasil perburuanku menjadi lezat-lezat semua? Haruskah aku berterimakasih kepada manusia itu karena telah membebaskanku? Hm... Baiklah! Lagipula aku juga masih punya etika walaupun akan disebut monster olehnya." Ucap cahaya ungu yang telah berubah wujudnya menjadi sebuah cahaya kembali.
Hal itu memudahkannya untuk terbang mencari keberadaan manusia yang telah membebaskannya, yaitu Ravettha.
"Aku jadi penasaran dengan reaksinya saat bertemu denganku! Semoga saja masih ada waktu!" Pikir cahaya ungu tersebut dengan sangat bersemangat.
BERSAMBUNG
__ADS_1