Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Kedatangan Musuh Terbaiknya


__ADS_3

Sebuah rantai hitam keluar dari tangan Ravettha dan pergi ke arah 'Dark Spirit' tersebut.


Sebelum menggapai inti rohnya, Ravettha sengaja mengalihkan perhatiannya dengan cara melesatkan sasarannya ke lantai.


"Argh!!! Aku terlilit rantai! Siapapun itu selamatkan aku!" Teriak 'Dark Spirit' dengan membuat lawannya merasakan kemenangan.


"Tidak ada yang akan mendengarmu, selain aku, dia, dan majikanmu! Sayangnya kau sudah salah langkah, loh!" Ucap Ravettha dengan menyeringai.


"Haah? Kau menganggapku sebagai roh rendahan yang tunduk kepada seorang tuan? Pft! Hahahaha! Yang benar saja! Bahkan orang yang sudah mati saja lebih pintar darimu!" Ucap 'Dark Spirit' dengan menunjukkan ekspresi tidak percayanya.


Saat 'Dark Spirit' sibuk dengan menjatuhkan harga diri lawannya, Ravettha langsung membungkam mulutnya.


"Kau adalah 'Dark Spirit' dan aku juga tahu itu. Siapapun dirimu di masa lalu, semua itu tidak berarti jika kau masih membandingkannya! Sekarang, katakan tujuanmu mengenai keberadaanmu disini! Dan jangan katakan kepadaku jika kau datang kemari hanya karena kau adalah suruhan ayah angkatku demi menghabisi nyawa ayah kandungku!" Ucap Ravettha dengan menatap setajam-tajam mungkin hingga lawannya hanya bisa terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.


'Dark Spirit' yang tidak bisa mengatakan apapun di benaknya merasakan jiwanya gemetaran dan merasa sangat lemah di hadapan Ravettha.


Ia yang tidak tahu apa penyebabnya, langsung menghilang dan mengubah wujudnya kembali menjadi sepiring biskuit seperti wujud awalnya.


"Baiklah! Begini saja, 'Dark Spirit'! Berikan satu buah biskuitmu itu kepadaku!" Ucap Ravettha dengan mengulurkan tangannya.


"A-Apa? Kenapa kau memintanya kepadaku? Bukankah aku roh jahat yang bisa memanipulasi kapanpun aku mau?" Tanya 'Dark Spirit' dengan sangat terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Benar, master! Dia pasti akan meracuni anda! Jadi, jauhilah dia!" Ucap Falext yang juga bereaksi sama seperti 'Dark Spirit'.


"Sayangnya kita akan membuat pertunjukan yang menarik!" Ucap Ravettha dengan melirik ke arah Falext.


Falext dan 'Dark Spirit' masih saja bertanya-tanya dengan perkataan yang dimaksud Ravettha.


"Falext! Bisakah kau membuat diriku terlihat seperti keracunan?" Tanya Ravettha.


"Bisa saja, tetapi untuk apa, master?" Tanya Falext yang mulai khawatir dengan kesehatan majikannya.

__ADS_1


"Aku akan menjelaskannya padamu nanti, sekarang kau lakukan seperti yang kuperintahkan! Saat aku sudah duduk di kursi dan memakan satu buah biskuit, kau langsung membuatku terlihat keracunan, mengerti? Sementara kau, 'Dark Spirit'! Tetap bersikap bahwa kau adalah roh jahat saat aku keracunan! Tenang saja, aku tidak akan mati hanya karena racun ayah!" Ucap Ravettha dengan tatapan matanya yang serius.


"Baik, master. Aku harap juga seperti itu kedepannya." Ucap Falext dengan menyiapkan keperluan yang diminta majikannya.


"Em... Baiklah. Kau memberiku kemudahan, kali ini kau kubebaskan!" Ucap 'Dark Spirit' dengan tersenyum licik.


Ravettha yang telah menerima sebuah biskuit tersebut langsung memakannya setelah ia duduk di kursinya.


Biskuit yang telah dimakannya, dengan cepatnya ia mengubah racun yang terdapat di dalam biskuit menjadi obat pemulihan.


Sedangkan Falext yang sudah siap, langsung membuat sang Majikannya terlihat keracunan dengan cara yang natural, yaitu mengacak-acak isi lambungnya.


"TAP! TAP! TAP!"


Terdengar suara langkah kaki ayah dan paman yang sedang mencari-cari Ravettha.


Di setiap sudut ruangan, tempat yang bisa dijadikan persembunyian, jejak keluar masuk rumah, tetapi menghasilkan hal yang mustahil.


"CKLIK!"


Pintu ruang tamu dibuka oleh ayah, sedangkan Ravettha masih asyik memakan cemilan hingga habis.


Ayah yang melihatnya menjadi sangat terkejut sekaligus panik tidak terkendali.


"Kakak!" Teriak ayah hingga membuat paman yang sedang berada di koridor rumah mendengarnya.


Paman langsung menghampiri adiknya dan bertanya tentang apa yang sedang terjadi.


"Kakak! Bagaimana ini? Dia sudah mau datang dan aku telah menyiapkan semuanya dengan sempurna! Semua itu menjadi sia-sia karena tuan putri kita telah menghancurkan salah satunya! Aku bisa saja membuat rencana yang lain, tetapi dia telah mengatakan kepadaku bahwa dia akan datang 3 menit lagi! Aku kehilangan kesempatan berhargaku dan tuan putri kita jatuh sakit karenaku!" Ucap ayah dengan menggigit kuku ibu jarinya sambil bolak-balik berjalan kesana kemari karena sangat khawatir akan keselamatan putrinya.


"Apa maksudmu si Rubeus itu?" Tanya paman dengan tidak percaya bahwa rahasia mereka berdua akan terbongkar dan berakhir begitu saja.

__ADS_1


"Ya! Dia pasti mendengarnya dari para saksi matanya!" Ucap ayah dengan semakin kesal dan dipenuhi amarah yang meledak-ledak, sorot matanya seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya.


Berbeda dengan mereka berdua, di mata Ravettha yang baru melihat kejadian barusan untuk pertama kalinya, membuat seluruh adrenalinnya menjadi semakin meningkat dan bahkan ia hampir lupa bahwa dirinya sedang mengalami keracunan.


"SROOT!"


Segumpal darah keluar dari mulutnya dan dengan cepatnya ia yang sangat ingin berlari ke kamar mandi untuk memeriksa racun yang dibuat oleh Falext.


Ia berhasil melangkahkan kakinya, tetapi ia langsung dibuat kehilangan kesadaran.


"Kerja bagus, Falext! Semuanya jadi berjalan sesuai rencana...!" Pikir Ravettha yang terjatuh dan hampir menyentuh lantai.


Rasa sakitnya sangat serupa dengan penyakit organ dalam.


Terlihat lemas dan tidak berdaya, membuat sang Ayah dan Pamannya tidak tega melihat putri sekaligus keponakannya jatuh sakit.


Sebelum dirinya benar-benar tergeletak di lantai, paman langsung menangkapnya dan membawanya ke tempat persembunyian supaya keberadaan Ravettha tidak diketahui oleh Yang Mulia Raja Rubeus, Raja Ocaxius sekaligus ayah kandungnya.


"Paman akan menyembuhkanmu dan yang akan selalu bersamamu untuk ke depannya. Ellievont! Serahkan tuan putri kecil kita ini kepadaku! Kau urus yang ada disini!" Ucap paman dengan mengangkat tubuh keponakannya.


"Bagaimana, master? Apa anda sudah berubah pikiran? Jika anda melanjutkannya, semuanya akan memakan waktu yang lama dan aku jamin master tidak akan menyukainya!" Ucap Falext dengan memeriksa seluruh kondisi tubuh sang Majikannya melalui telepatinya.


"Tidak. Ini belum cukup! Tunggu saja perintah selanjutnya dariku!" Ucap Ravettha melalui telepatinya.


Sejujurnya ia kecewa karena melihat dua orang yang paling dicintainya terlihat bodoh di depan musuh dan berbanding terbalik dengan hal tersebut, ia justru menjadi senang karena penyakitnya tersebut memberikan berbagai keuntungan dan membuatnya menjadi monster berdarah es.


Disebut sebagai monster berdarah es karena darahnya tidak ada yang bisa berkurang atau keluar dari tubuhnya sedikitpun dan seluruh darah mangsanya akan berubah menjadi partikel-partikel energi berkekuatan tinggi.


"Baik, master. Apapun perintah anda, kami akan selalu menunggunya." Ucap Falext dengan sangat patuh dan juga mewakili para bawahan Ravettha yang lainnya.


"Waktu tinggal 50 detik lagi? Sangat cepat tetapi tidak lambat juga!" Gumam ayah dengan membersihkan remah-remah biskuit di sekitar meja dan kursi tamu di ruangan tersebut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2