Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Ancaman Besar Para Sekutu


__ADS_3

Ravettha yang telah meninggalkan kenalannya dengan penuh tanda tanya ternyata berhasil membuat Gervais I panik.


Ia sungguh mengerti maksud perkataan Ravettha.


"Siapa dia? Gadis lemah seperti itu hanya bisa menangis dan memohon perlindungan!" Ucap Gervais I menggertakkan tangannya hingga salah satu pegangan kursinya rusak.


"Dia istriku dan milikku. Kau tidak bisa menjalankan rencana payahmu itu!" Ucap Vicenzo tersenyum senang mengetahui kehadiran seorang istri tercinta datang menemuinya.


"Anak ini! Aku tidak ingat kau masih hidup! Tidak peduli statusmu, kau harus menikah dengan pilihanku!" Ucap Gervais I merasa kesal setelah mendengar kegagalannya diketahui anak pembangkang.


"Buatmu saja, pak tua! Oh ya, aku hampir lupa! Kau percaya ramalan, bukan? Selamat bersenang-senang! Dia mendukungmu loh!" Ucap Vicenzo menyeringai lebar dan mengambil seluruh kebutuhannya.


"Apa-apaan anak ini? Sudah pasti seluruh dunia mendukungku!" Ucap Gervais I menatap kepergian pewaris tahta terakhir.


Sementara Vicenzo sibuk mengemas barang sebelum pertumpahan darah terjadi, ayahnya masih tidak terima keputusan putra semata wayang.


Banyaknya tugas yang berpengaruh pada masa depan membuat dirinya cemas hampir setiap detik.


"Yang Mulia, kapan pernikahan kami akan diselenggarakan? Pangeran mahkota bahkan tidak mau menerima hamba." Ucap seorang putri dari negara tetangga.


"PLAK!"


"****** ini masih punya banyak nyawa?! Itu urusanmu yang harus kau urus sendiri. Jadi, pergilah! Jangan lupakan kau disini untuk menikahi anakku!" Ucap Gervais I menampar calon menantunya.


Hanya mendengar peringatan tersebut, seorang putri dari negara tetangga langsung membangkitkan dendam tersembunyi.


Diam-diam dirinya mengambil dan menyalin seluruh rencana penghancuran alam semesta.


"Jika bukan karena kakak, tidak akan pernah rela menikah dengan pria cacat, gila, dan miskin itu!" Pikir seorang putri menunggu Yang Mulia Gervais I menghilang dari hadapannya.


Ia sungguh yakin dengan kecerdasan dan kemampuan mempengaruhi massa.


Secepat mungkin dirinya menyebarkan rencana busuk Gervais I mulai dari wilayah kerajaannya, sekutu, dan para musuh yang pernah tersakiti.


"Ayah, lihat apa yang kudapatkan! Umpan kita berhasil dimakan!" Ucap putri tersebut berbangga diri setelah mendapatkan celah musuh utamanya ini.


"Apa itu, putriku? Kau begitu ceria dari sebelumnya, tidakkah dia menerimamu?" Tanya kepala keluarga Dieco penasaran dengan lamaran pernikahan putrinya.


"Bukan itu yang ingin kukatakan, ayah! Bacalah ini, aku berhasil mendapatkan kelemahan musuh kita! Mereka terlalu dangkal, bukan?" Tanya putri tersebut menyeringai dan di satu sisi menanti penghargaan dari ayah tersayangnya.


"Menghancurkan alam semesta? Benar, putriku! Mereka terlalu dangkal untuk menghancurkan formasi keseimbangan kita!" Ucap kepala keluarga Dieco memiliki kesamaan sifat dengan sang Putri.


Harapan seorang putri sejalan dengan ayahnya.


Tidak ada yang diizinkan berjalan keluar dari rencana utama.


"Semuanya sudah siap?" Tanya Gervais I kepada ketua divisi penyerangan.

__ADS_1


"Pastinya, tuanku!" Ucap ketua divisi penyerangan menjawab dengan pasti pertanyaan atasannya.


"Bagus! Kita akan mengukir sejarah yang begitu indah. Segera berikan perintah pertama! Bunuh semua yang menghalangi kita!" Ucap Gervais I benar-benar yakin siapapun dapat menjadi musuhnya.


Kali ini ia tidak memberikan seluruh kepercayaannya secara gratis.


Sebagai penanggungjawab para taruhan nyawa di medan perang, ia terus mengaktifkan sinyal waspada pada sekitar.


"Sudah dimulai? Falext! Bisakah kau mengambilkan cemilanku yang banyak? Pertunjukan ini akan semakin menarik!" Ucap Ravettha tersenyum senang karena merasa terhibur dengan hasil tindakannya selama ini.


"Pertunjukan? Hamba hanya melihat mereka beradu domba, master." Ucap Falext penasaran dengan pertunjukan yang dimaksud majikannya ini.


"Ya, 'Beradu domba' adalah bagian pertunjukannya." Ucap Ravettha mengambil secangkir cokelat panas dan pie blueberry kesukaannya.


Falext akhirnya mengetahui hal yang paling menarik di mata majikannya.


Ia sama sekali tidak ingin mengganggu konsentrasi majikannya dan kembali pamit undur diri setelah permintaan dijalankan.


"HAHAHAHA! Hancurkan seluruh dunia ini!" Ucap Gervais I tertawa jahat karena menikmati pertumpahan darah.


Seperti yang dikatakannya, serangan demi serangan dikerahkan.


Ia mengizinkan seluruh persediaan senjata digunakan.


Tidak ada yang mengenal kawan atau musuh, mereka saling membunuh.


"Hanya itu yang kau inginkan?" Tanya Dieco tersenyum kecil dengan menatap tajam Gervais I.


"Tentu saja! Semua ini adalah yang kuinginkan dan aku berhasil mendapatkannya. Kenapa? Kau ingin merebutnya dariku?" Tanya Gervais I berjalan menuju putri musuhnya ini.


"TAP! TAP! TAP!"


"Kau tau dimana letak kesalahanmu, Tuan Putri?" Tanya Gervais I langsung menarik kerah belakang dan melemparkan sanderanya hingga dekat keluarganya.


Ia mengeluarkan sebuah jeruji besi yang berisi Vicenzo di dalamnya.


Penuh sayatan pedang dan belenggu rantai di setiap lekuk tubuh.


Tidak ada jawaban ataupun sepatah kata dari putri Dieco, kecuali tatapan sinis.


"Jawabannya adalah tidak menuruti perkataan orang tua. Satu pembangkang dan satunya lagi licik. Bukankah kalian begitu serasi?" Tanya Gervais I memasukkan putri Dieco ke dalam jeruji besi.


"Kau sudah kelewat batas, Gervais!" Teriak Dieco yang marah besar saat melihat putri tersayangnya diperlakukan kejam.


"Woah, wowowow! Kau baru saja memanggil nama asliku! Itu artinya kau bersedia menikahkan putrimu dengan putraku! Lalalala~!" Ucap Gervais I bersenandung riang dan membayangkan betapa hebatnya impian terbesar yang telah ia buat berhasil diwujudkan.


"Ravettha ku sayang! Kamu dimana? Aku harap kamu bisa mendengar hatiku." Pikir Vicenzo berdiam diri seperti tidak berdaya.

__ADS_1


Pengumpulan energi yang selaras dengan dirinya hanyalah berasal dari roh.


Ia cukup bersyukur karena tidak perlu mencari para roh di tempat yang sulit dijangkau.


Sebisa mungkin dirinya membuat dinding pelindung agar tidak ada yang mampu menghentikan pengumpulan energinya.


"CRAK!!!"


"Kau yang melakukannya ya?!" Teriak Gervais I yang terkejut mendapati permukaan tanah jatuh ke dalam dan mendekati magma.


"Kenapa kau tanya aku? Kau tidak ingat kami ini sanderamu, ha?!" Teriak Dieco semakin marah setelah mengetahui nyawanya juga ikut terancam.


"Berisik sekali! Istriku akan datang, jadi kalian harus bersedia menyambutnya." Ucap Vicenzo meregangkan tubuhnya.


Ia bahkan tidak peduli dengan putri Dieco yang dipenjara.


Satu hal terpenting dan menjadi perhatiannya adalah bagaimana ia memberikan kesan baik saat istrinya datang menjemputnya.


"BDOOOMMMMM!!!"


"Bagus, naga kecilku! Hancurkan anak pembangkang ini berkeping-keping! Kau juga boleh menjadikannya samsak latihanmu!" Teriak Gervais I dengan melambai-lambaikan tangannya.


"GRRAAA!!!"


"Hanya satu yang muncul? Ayolah! Kau masih punya simpanan!" Ucap Vicenzo memandang bosan seekor naga milik ayahnya.


Baginya tidak ada hal menarik dari mainan yang satu ini.


Ia justru menginginkan yang paling berbahaya, mematikan, dan menentang kodrat alam.


Sama seperti pemiliknya, naga biru berusia jauh lebih muda itu memiliki sifat pemarah.


"SRET!"


"Mau kuberi satu saran? Keluarkan semua kekuatanmu!" Ucap Vicenzo menggores sekali tubuh naga biru.


"Menunggu mereka padam marahnya itu sangat lama, Ravettha ku sudah pasti akan tiba. Ada! Masih ada cara lain!" Pikir Vicenzo menyadari kumpulan energi yang tersembunyi di dalam tubuh naga.


Kecepatan memecahkan solusi berhasil ia manfaatkan dan secepat mungkin dirinya menempelkan segel duplikasi.


Dengan begitu, persiapan rencananya akan benar-benar siap dipakai.


"Ternyata kau juga dangkal? Kalau begitu jangan salahkan aku jika memberikan hukuman kecil ini!" Ucap Dieco berhasil membebaskan diri di saat Gervais I lengah.


Ribuan 'Black Hole' terbang di udara, terus membesar, dan telah siap diluncurkan.


Mereka sama halnya dengan bom peledak yang memiliki hitungan mundur.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2