Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Pengambilan Kunci Kamar Asrama


__ADS_3

Ternyata itu Levord.


"Levo! Kau mengagetkanku saja!" Ucap Ravettha.


"Hehe, maaf. Kau tahu? Aku sedang mencarimu, ternyata kau ada di taman." Ucap Levord.


"Kau sangat hebat dan keren saat ujian. Beruntungnya aku punya teman sepertimu. Lain kali ajari aku, ya?" Tanya Levord yang kagum dengan Ravettha.


"Baiklah. Dengan senang hati." Ucap Ravettha.


"Kau tidak perlu berbicara sopan begitu. Bicara dengan santai saja. Aku pun begitu." Ucap Levord.


Ravettha terdiam sebentar dan memahami maksud perkataan Levord dengan memandangnya sinis.


"Dia sedang menyembunyikan apa dariku? Dia berkata begitu karena ada maunya, kan?" Pikir Ravettha.


"Rave, kudengar disini ada kantin. Mungkin disana ada banyak makanan enak. Ayo kesana! Kali ini aku yang akan mentraktir. Lagipula ada yang ingin kubicarakan denganmu." Ucap Levord.


Ravettha mengikuti Levord ke kantin.


Ia mencoba membaca pikiran Levord dan ia berhasil.


Saat ia membaca pikiran Levord, ia menemukan apa yang ingin ia katakan dan ia sembunyikan dari ia lahir sampai sekarang.


Ia terkejut dengan kisah hidup Levord, tetapi ia berusaha agar tidak diketahui oleh Levord.


"Ia berasal dari suku Aieralef dan ia merupakan keturunan kedua dari raja Magnus Quentin Aieralef, raja terkuat di suku Aieralef sekaligus ketua suku Aieralef." Pikir Ravettha.


"Akan tetapi, ia dibenci oleh seluruh keluarganya karena menurut mereka ia yang paling terlemah dan tidak bisa diandalkan. Ia kabur dari rumahnya dan menyusup tinggal di sekitar sini." Pikir Ravettha.


"Aku penasaran. Sekuat apa mereka itu, jika Levo adalah yang paling terlemah di keluarganya. Akan kucari jawabannya nanti setelah menyelesaikan semua urusanku disini." Pikir Ravettha.


"Kita sudah sampai di kantin, ambil apa saja yang kau inginkan!" Ucap Levord.


Ravettha terkejut mendengar perkataannya setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Lalu ia berkata, "Tidak. Aku sedang tidak lapar. Kau saja yang memesan." Ucap Ravettha.


"Hm... Baiklah." Ucap Levord yang menatap Ravettha dengan serius.


"Dia tidak sedang berbohong." Pikir Levord.


Karena pikiran Levord sudah dibaca oleh Ravettha, ia jadi bisa membaca semua pikiran Levord.


Sayang sekali Levord tidak menyadari bahwa pikirannya sudah diretas.


"Bu, saya pesan menu paket 1 dua porsi." Ucap Levord.


Ibu kantin itu menyiapkan dan menyajikannya ke Levord.


Ravettha segera membayarnya menggunakan uang yang diberikan oleh ayahnya.


"Ini uangnya, Bu." Ucap Ravettha.

__ADS_1


Ibu kantin itu langsung mengambil uang tersebut.


"Rave, ada yang ingin kukatakan padamu." Ucap Levord.


"Ya?" Tanya Ravettha.


"Kau tahu? Saat giliranmu ujian, aku sedang berada di ruangan yang sama denganmu. Aku mendengar hasil peserta ujian termasukmu." Ucap Levord menggunakan telepati.


"Apa yang kau dengar?" Tanya Ravettha menggunakan telepati.


"Aku mendengar bahwa kau mendapatkan hasil ujian yang sangat bagus dan luar biasa." Ucap Levord menggunakan telepati.


"Bagaimana kau bisa tahu? Bukankah itu dilarang?" Tanya Ravettha menggunakan telepati.


"Setelah aku selesai ujian, aku sengaja menunggu sampai giliranmu tiba. Karena terlalu lama menunggu, aku jadi penasaran dengan hasil ujianku." Ucap Levord menggunakan telepati.


"Tenang saja. Walaupun sebenarnya dilarang, ada dua orang pengawas yang membiarkan hal itu terjadi, mungkin karena sengaja atau bukan. Aku jadi kurang tahu." Ucap Levord menggunakan telepati.


"Baiklah. Terimakasih atas informasinya." Ucap Ravettha menggunakan telepati.


"Kau tidak perlu berterimakasih seperti itu. Kita kan teman, sudah seharusnya kita saling menolong, bukan?" Tanya Levord menggunakan telepati.


Ravettha hanya mengangguk dan diam.


"Tidak kerasa sekarang sudah sore. Aku ada janji dengan seseorang. Aku pergi dulu. Jika kau ingin menghubungiku, kau bisa menggunakan ini." Ucap Ravettha dengan memberikan barang yang berupa kalung kristal batu Rubi.


"B-Baiklah." Ucap Levord.


Levord hanya terdiam dan berusaha mengerti maksud perkataan Ravettha.


"Master, saya telah mengecek keberadaan pak Caelveras. Ia sedang berada di ruang guru dan menuju keluar ruangannya." Ucap Falext.


"Baiklah. Terimakasih, Falext." Ucap Ravettha.


Saat ia berada di depan ruang guru, ia berpapasan dengan seorang pak guru. Ternyata itu pak Caelveras.


"Kau sudah disini, ya? Kukira kau akan datang terlambat ternyata lebih cepat dari perkiraanku. Baiklah silahkan masuk, ada yang ingin bapak bicarakan padamu." Ucap pak Caelveras.


"Baik, pak." Ucap Ravettha dengan sopan.


Mereka berdua masuk ke ruang guru tepatnya di bagian tempat kerjanya.


"Apakah kau sudah melihat papan pengumuman hasil ujiannya?" Tanya pak Caelveras.


"Maaf, pak. Saya belum melihatnya." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Selamat, nak Ravettha. Kamu mendapatkan peringkat kesatu teratas dalam ujian. Apa kau penasaran di kelas jurusan apa kau diterima?" Tanya pak Caelveras.


" Iya. Saya penasaran, pak." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Kau diterima di kelas dasar tingkat 1 pada jurusan penelitian. Satu saran dari bapak, kau harus belajar dan berlatih dengan lebih giat lagi. Kau sudah tahu bahwa di akademi ini terdapat program asrama, bukan?" Tanya pak Caelveras.


"Ya. Itu benar." Ucap Ravettha dengan sopan.

__ADS_1


"Bagus. Untuk mengambil kunci kamar asrama, kau harus mengambilnya pada wali kelasmu. Wali kelasmu adalah pak Zorandh Geoltus Xunaka." Ucap pak Caelveras.


"Saat ini ia berada disini, lurus saja setelah 9 meja dari sini lalu belok ke kiri. Mengerti?" Tanya pak Caelveras.


"Ya. Saya mengerti. Terimakasih banyak, pak." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Tidak masalah. Jika kau mengalami kesulitan, kau bisa menemui bapak sebagai balas Budi karena sudah kau menyelamatkanku." Ucap pak Caelveras.


"Baiklah. Saya izin undur diri." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Silahkan." Ucap pak Caelveras.


Ravettha pergi menuju tempat wali kelasnya, yaitu pak Zorandh sesuai informasi yang diberikan oleh pak Caelveras.


"Permisi, pak. Apakah bapak yang bernama Zorandh Geoltus Xunaka?" Tanya Ravettha.


"Itu benar. Ada perlu apa, nak?" Tanya pak Zorandh.


"Perkenalkan nama saya Ravettha Toftrelnd Seinoray. Saya kemari untuk mengambil kunci kamar asrama setelah diberitahu oleh pak Caelveras." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Murid baru, ya? Ravettha Toftrelnd Seinoray? Itu namamu?" Tanya pak Zorandh.


"Benar, pak." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Jadi kau mengetahui bahwa aku wali kelasku dari pak Caelveras?" Tanya pak Zorandh.


"Itu benar." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Baiklah. Ini kunci kamar asramamu nomor 1127. Ini buku peraturan akademinya dan jangan sampai melanggar peraturan tersebut. Mengerti?" Tanya pak Zorandh dengan tatapan tajam.


"Ya. Saya mengerti, pak." Ucap Ravettha.


"Ini buku semua mata pelajaran." Ucap pak Zorandh.


"Baik, pak." Ucap Ravettha.


"Kau boleh pergi." Ucap pak Zorandh.


Setelah Ravettha mengambil semua buku dan kunci kamar asrama yang diberikan oleh pak Zorandh, ia langsung meninggalkan ruangan guru tersebut.


"Falext! Apakah aku mempunyai tas penyimpanan?" Tanya Ravettha.


"Tentu saja anda punya, master." Ucap Falext.


Falext langsung memunculkan tas penyimpanan tersebut.


"Tas penyimpanan ini bisa menyimpan apapun itu tanpa batas dan bisa diambil kapanpun anda inginkan." Ucap Falext.


"Bagus. Sekarang simpan buku ini. Aku ingin mencari kamar asramaku." Ucap Ravettha.


"Baik, master. Ini peta menuju asramanya." Ucap Falext.


"Terimakasih banyak, Falext." Ucap Ravettha.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2