Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Jaminan Penderitaan


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkanmu bangkit sampai aku memintanya." Ucap Vicenzo semakin memeluk lebih erat pinggang kekasihnya.


"Seenaknya mengaturku sekarang ya?!" Tanya Ravettha menahan emosinya demi membuka pintu portal ke angkasa lepas.


Merasa ada yang salah dengan kalimat ini, Vicenzo langsung membuka mata hanya untuk mengintip kekasihnya lalu menertawakannya diam-diam.


Hal ini justru berbalik menyerangnya.


Tidak ada satupun dari respon kekasihnya yang sesuai harapan.


Ia benar-benar tidak menduga bahwa Ravettha serius ingin menghabisinya hingga tertinggal nama di masa lalu.


"Gawat! Aku harus menurunkan tingkat emosinya dan mengganti kesannya terhadapku atau Ravettha ku akan terus membenciku selamanya!" Pikir Vicenzo di detik terakhirnya ia berpikir.


"Pft! Hahahaha! Baiklah, Cedric! Kamu telah menunjukkan apa yang ingin kulihat. Sekarang, ayo kita makan malam dan bantu aku membawa berkasnya!" Ucap Ravettha mengeluarkan lembaran tugas tersimpan di dalam sebuah kotak kardus dan menyerahkannya ke partnernya ini agar dirinya tidak perlu memberikan perintah yang sama kedua kalinya.


"Loh! Kamu tertawa, sayang?" Tanya Vicenzo kebingungan melihat perubahan emosi yang begitu cepat dan bahkan dapat dikendalikan tepat waktu.


"Ya, terus kenapa? Mau kubuat wajahmu murung dan tidak bisa tertawa lagi?" Tanya Ravettha berniat meninggalkan partnernya sendirian di angkasa lepas.


"Jangan begitu, sayang! Aku takut kamu semakin membenciku jika itu benar-benar terjadi." Ucap Vicenzo tanpa peduli langsung mengikuti langkah kekasihnya.


"Kamu memang sudah kubenci dari awal." Ucap Ravettha sama sekali tidak menatap mata lawan bicaranya.


"Kejam!" Ucap Vicenzo dengan menggenggam lengan kekasihnya.


"Jika kejam, kenapa masih tidak singkirkan tanganmu?" Tanya Ravettha kebingungan menghadapi partnernya ini.


Ia memutuskan untuk segera kembali mempersiapkan keperluan di asrama, sementara Vicenzo masih mempertahankan kegembiraannya dan duduk di tepi kasur kekasihnya ini.


Waktu terus berjalan hingga akhirnya jam makan malam pun tiba.


"Sudah siap, rajaku?" Tanya Ravettha mengulurkan tangannya.


Mendengar panggilan partnernya ini tiba-tiba berubah, Vicenzo langsung tersenyum kecil dan menyambut ajakan kekasihnya.

__ADS_1


Perubahan yang mendadak ini ternyata berhasil membuat dirinya tidak tahan menjaga sikap formal di hadapan orang banyak.


"Kusarankan kamu pilih bangku tepat di hadapanku, Cedric. Sisanya serahkan padaku!" Ucap Ravettha mencari-cari kenalan yang sejalan dengan tugasnya.


Ia hanya perlu menandai mereka untuk saat ini dan dirinya langsung berjalan menuju kantin.


"Hm... Hidangan yang disana tidak terlalu ramai, sangat sesuai dengan standarku!" Pikir Ravettha memperhitungkan segalanya mulai dari kandungan gizi, kualitas, nilai, kesegaran, dan manfaat.


"Selamat datang, nona! Menu utama kami hari ini adalah 'Lamb Vinegar'. Apa anda berniat mencobanya?" Tanya penyaji hidangan fantastis di kantin.


"Ya, aku mau 1 porsi. 'Bucatini' 4 porsi, salad buah 1 porsi, dan 'Dark Vulcano Velvet' 2 gelas. Sajikan di meja ini!" Ucap Ravettha mempersingkat pemesanannya untuk mendapatkan informasi.


"Pilihan bagus, nona!" Ucap penyaji tersebut dengan senang hati.


"Beritahu aku, apakah kokimu bagian dari bangsawan? Membuka pasar kecil di telinga masyarakat menengah bisa dibilang 50:50." Ucap Ravettha menjaga kontak mata dengan lawan bicaranya.


"Aku tidak begitu yakin. Satu hal yang kuyakini adalah atasanku telah memperhitungkan semua ini dari awal." Ucap penyaji tersebut tidak begitu heran mendengar pertanyaan kecil Ravettha.


"Oh, baiklah! Cukup sampai sini saja! Ini uangnya." Ucap Ravettha langsung berbalik badan dan melihat meja makan yang telah disajikan hidangan seperti permintaannya.


Dari jauh, dirinya sudah bisa menyaksikan partnernya menunggu.


"Sayang! Akhirnya kamu datang. Kamu memesan porsi ini terlalu banyak?" Tanya Vicenzo kebingungan melihat porsi 'Bucatini' yang begitu banyak.


"HAP!"


"Bagaimana rasa 'Bucatini' nya?" Tanya Ravettha tanpa pikir panjang langsung menyuapi partnernya sebagai bahan percobaan.


Ia paling tidak suka jika ada seorangpun mempermasalahkan keputusannya.


Mendapati tindakan spontan Ravettha, Vicenzo justru menikmati kebaikan kekasihnya ini.


"Tidak enak. Kamu lebih lezat!" Ucap Vicenzo menatap kekasihnya dengan penuh kehangatan.


"Aku? Yang pasti adalah kamu menyia-nyiakan pasta selezat ini!" Ucap Ravettha tidak mempedulikan tindakan partnernya dan tetap terus melahap 'Bucatini'.

__ADS_1


Tiga porsi telah masuk ke perutnya.


Ia bahkan tidak sadar bahwa dirinya tidak mengikuti etika makan dan minum yang benar.


"Maafkan aku, ayah. Pasta 'Bucatini' ini sangat menggoda hingga aku tidak bisa menahan air liurku sendiri." Pikir Ravettha menikmati bagian salad buahnya.


"Sayang, kita sudah berada di penghujung waktu istirahat. Bukankah kita masih harus pergi?" Tanya Vicenzo telah menyelesaikan makan malamnya lebih cepat dari kekasihnya.


"Oh, ya! Kalau begitu sampai jumpa 'Bucatini'! Aku akan memakanmu lagi di lain waktu!" Ucap Ravettha sangat puas hingga memberi kesannya kepada tempat pemesanan yang ia kunjungi sebelumnya.


Baginya kebutuhan lebih penting daripada sekedar keinginan sehingga ia langsung meninggalkan kantin tersebut dan beralih ke ruangan Pak Chayton.


Saat dirinya memasuki ruangan, Pak Chayton masih menikmati hidangan penutupnya.


"Kau datang lebih awal, muridku! Sudah kau putuskan mengenai ajakanku di 'Shark Boot Camp'?" Tanya Pak Chayton memberikan masing-masing sebuah 'Orange Yogurt' untuk Ravettha dan Vicenzo.


"Sudah. Aku akan mengikutinya! Lagipula kegiatan yang guru ajukan menjadi berguna karena diharuskan membiarkan diri sendiri belajar dari ujian." Ucap Ravettha mengangguk yakin pada keputusan yang telah ia buat.


"Bagus! Apa kau ada pertanyaan, muridku?" Tanya Pak Chayton diam-diam menguji seberapa besar semangat muridnya ini.


"Ya! Anda mengatakan bahwa saya tertarik dengan kegiatan ini. Pertanyaannya adalah apakah anda dapat membaca isi pikiranku tanpa harus memikirkannya, guru?" Tanya Ravettha masih mengingat dirinya tidak memikirkan apapun saat kedatangan gurunya.


"Menurutmu? Menurutmu apakah aku punya kemampuan itu?" Tanya Pak Chayton memutar balik pertanyaan muridnya.


"Terlepas punya atau tidak, aku menganggapnya punya. Bagaimanapun juga, jika itu adalah musuh, aku tetap tidak boleh meremehkannya. Setiap meremehkannya, ini akan berbalik menjadi aku diremehkan." Ucap Ravettha memikirkan dampak buruk apabila dirinya salah mengambil langkah.


Mendengar pemahaman muridnya ini, Pak Chayton tersenyum kecil dan memutar kursinya hingga membelakangi Ravettha.


Ruangan berubah menjadi hening, sementara Ravettha penasaran akan misi pertamanya.


"Saat ini aku hanya bisa memberimu 1 misi. Selesaikan permasalahan 'Minetture'! Kalau berhasil, maka aku akan mengajarimu sesuai yang kau tanyakan sebelumnya." Ucap Pak Chayton kembali memutar kursinya dan memastikan keseriusan muridnya.


"Berhasil membaca pikiran orang lain, meskipun orang itu tidak memikirkan apapun? Itu adalah teknik mengontrol, manipulasi, dan perusak yang handal. Dengan kata lain, guru mengajukan imbalan sebesar ini dengan risiko besar dan keuntungan yang juga besar. Tampaknya akan ada hal menarik kedepannya!" Pikir Ravettha memberi jeda sebelum dirinya berbicara.


Keempat mata mereka saling bertatapan, penuh kuasa, dan kepentingan.

__ADS_1


Sebelum Ravettha memutuskan untuk setuju, ia berniat mempertanyakan apa yang ingin ia ketahui.


BERSAMBUNG


__ADS_2