
Setelah ia keluar dari penginapan tersebut, ia memutuskan untuk menaiki lantai ketujuh.
"Sistem! Bisakah kau mengirimku ke lantai tujuh?" Tanya Ravettha.
"Tentu." Bunyi pesan dari sistem tersebut.
Sistem tersebut mengirimkannya langsung ke lantai tujuh.
Disana ia melihat sekelompok orang yang ingin mengurungnya di sebuah ruangan yang gelap dan lembab.
"BRAK!"
Tubuh Ravettha terlempar ke dalam sebuah ruangan yang gelap begitu saja dan menghantam sebuah jeruji besi yang tebal.
"Jangan biarkan dia keluar!" Ucap salah satu penjaga.
"Baik!" Ucap penjaga lainnya.
Ia tidak merasakan sakit sama sekali setelah tubuhnya yang terhantam jeruji besi.
Melainkan membuatnya penasaran dengan tempat apa yang ia tempati ini.
"Apa ini?" Ucap Ravettha yang menyentuh suatu cairan lengket dan bau.
"Cairan ini... Air liur binatang... Rubah merah yang berekor sembilan!" Ucap Ravettha yang terkejut karena apa yang ia pelajari sebelumnya menjadi sebuah kenyataan yang ia lihat sekarang.
"Tepat!" Ucap rubah merah tersebut.
Badannya sangat besar dan sangat kuat dengan mata yang menatap tajam ke arahnya.
Tatapannya dipenuhi oleh kebencian dan dendam yang seakan ingin meluap kepadanya.
"Bagaimana bisa, tuan serigala terkurung disini? Atau anda sengaja dimasukkan kesini untuk memangsamu?" Tanya Ravettha yang menaruh curiga kepada rubah tersebut.
"Pft. HAHAHAHAHAHA!"
Rubah tersebut tertawa dengan keras yang terdengar meremehkan Ravettha.
"Kau pikir aku akan memakanmu? Jangan bodoh! Kau saja tidak akan cukup untuk menjadi makananku dalam sekali makan!" Ucap rubah tersebut.
"Terus?" Tanya Ravettha yang bertanya kembali.
"Aku... Terjebak sebentar disini." Ucap rubah tersebut yang sedang berbohong dihadapan Ravettha.
"Kenapa kau berbohong?" Tanya Ravettha yang langsung mengetahui bahwa rubah tersebut telah berbohong kepadanya.
"Aku tidak berbohong!" Ucap rubah tersebut yang membela dirinya untuk menutupi kebohongannya.
"Hm..." Ucap Ravettha.
Ravettha mengetahui bahwa rubah tersebut sangat mudah ditebak karena ia selalu mengutamakan sikap keras kepalanya.
Ia melirik ke arah penjaga pintu yang berada di depan jeruji besi tersebut.
__ADS_1
Ia melihat sebuah kunci yang terletak di dinding depan penjaga tersebut.
Setelah melihat hal tersebut, ia terpikirkan berbagai rencana untuk keluar.
"Hei, tuan rubah!" Ucap Ravettha dengan tersenyum licik yang disembunyikan dengan sangat baik.
"Kenapa? Mengganggu tidurku saja!" Ucap rubah yang terbangun dari tidurnya.
"Kemarilah! Kau mau keluar dari sini, bukan?" Tanya Ravettha.
"Tidak. Kau maupun aku tidak akan bisa keluar dari tempat ini." Ucap rubah tersebut yang kembali memejamkan matanya.
"Kau sudah mencobanya?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja sudah! Jika sudah mencobanya, tidak akan mungkin aku akan terkurung seperti ini, kecuali aku gagal melakukannya." Ucap rubah tersebut yang menjadi sangat kesal saat berbicara dengan Ravettha.
"Huh. Padahal anda tidak perlu kesal saat menjawabnya." Ucap Ravettha.
"Lihat! Kau akan berguna mulai sekarang!" Pikir Ravettha.
Ravettha berjalan mendekati rubah yang sedang tertidur tersebut dan membisikkan sesuatu.
"Dengar baik-baik, tuan rubah! Bantu aku untuk mengambil kunci di dinding itu. Anda mengerti?" Tanya Ravettha dengan membisikkannya di telinga rubah tersebut.
Rubah itu yang sebelumnya sedang tertidur langsung terbuka matanya dengan cepat setelah mendengar hal tersebut.
Lalu ia tersenyum licik dan bekerjasama dengan Ravettha untuk keluar dari tempat itu.
Ia seakan tersihir untuk menyetujui kerjasama dengan Ravettha yang masih kecil.
Ravettha hanya terdiam saja dan menatap ke arah rubah tersebut.
"Bagus! Rubah pintar!" Pikir Ravettha.
"Ding..."
Pesan dari jendela misi kembali muncul.
"Pemberitahuan: Misi khusus di lantai ketujuh adalah keluar dari Caberysa Prison dengan selamat. Hadiah dari misi khusus ini adalah pemulihan energi, 25.000 koin emas, 20.000 koin perak, dan Ruby Key." Bunyi pesan tersebut.
"Tempat ini adalah Caberysa Prison, ya? Sesuai dengan tujuan..." Pikir Ravettha.
Sementara itu, rubah yang sedang mencari cara untuk mengambil kunci tersebut dengan hati-hati tanpa diketahui oleh para penjaga yang ada diluar.
Ia menggunakan ekornya untuk meraih kunci tersebut dari dalam jeruji besi.
"Tunggu sebentar, tuan rubah!" Ucap Ravettha yang menghentikan rubah tersebut.
"Sebelum mengambilnya, anda harus menggunakan ini terlebih dahulu supaya tidak terlihat oleh para penjaga diluar sana." Ucap Ravettha yang memberikan serpihan sihir ilusi yang tidak bisa dilihat kecuali ia dan pemakainya.
Rubah tersebut menaruh kepercayaannya Ravettha dan bekerjasama dengan baik.
"Dapat!" Ucap rubah tersebut.
__ADS_1
"Tunggu! Jangan senang dahulu! Ada seseorang yang akan kemari menuju tempat ini." Ucap Ravettha.
Rubah tersebut mengambil dan menyimpannya dengan cepat supaya tidak diketahui oleh para penjaga.
Sementara itu, Ravettha menggunakan sihir ilusinya lagi untuk menduplikat kunci yang telah diambil oleh rubah.
Rubah itu tidak menyadari bahwa yang ia ambil adalah kunci palsu sama seperti yang ada di dinding luar sebelum diambil oleh rubah.
Kunci yang asli berada di Ravettha dan disembunyikan olehnya dengan sangat baik sehingga tidak menimbulkan celah kecurigaan oleh pihak manapun.
Ternyata sesuai perkiraan Ravettha, seseorang datang dan menghampiri tempat mereka.
"Berikan kunci itu padaku! Sebelum ia benar-benar menghampiri kita, kita sudah meninggalkan tempat ini." Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya.
Rubah itu terkejut karena seorang anak yang masih kecil telah menggunakan kemampuan telepati dengan sangat baik.
"Baik. Kuserahkan padamu." Ucap rubah tersebut dengan menggunakan telepatinya.
Ravettha mengambil kunci yang diberikan oleh rubah tersebut dan menukarnya dengan yang asli, lalu membuka pintu tersebut dengan sangat cepat.
Ia menggunakan sihir ilusinya kembali untuk menghilangkan jejak mereka dan membuat diri mereka yang palsu masih terkurung di dalam jeruji besi.
"Tap, Tap,Tap."
Bunyi langkah kaki semakin mendekat.
Sementara itu, rubah merah tersebut mengecilkan wujudnya yang besar sehingga ia mudah berlari keluar dari Caberysa Prison bersama Ravettha.
"Cepat! Kau larinya sangat lambat!" Ucap rubah tersebut yang sedang duduk di bahu Ravettha.
"Kecilkan suaramu! Atau kita akan ketahuan!" Ucap Ravettha yang sedang berlari dengan cepat.
"Sial! Kenapa banyak sekali lorongnya? Kita tidak sedang berputar saja, bukan? Atau kita telah masuk ke perangkap yang lainnya?" Tanya Ravettha.
"Berhenti mengeluh!" Ucap rubah tersebut.
"Lihat! Disana ada cahaya! Mungkin itu jalan keluarnya?!" Ucap rubah tersebut.
"Kau tidak sedang berbohong, bukan?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja tidak. Apa untungnya aku membohongimu disaat seperti ini? Kau kan yang bilang sebelumnya untuk bekerjasama!" Ucap rubah tersebut.
"Hm... Kau benar." Ucap Ravettha.
Ia pun berlari menuju cahaya tersebut.
"Sedikit lagi!" Ucap sang Rubah.
Saat ia semakin mendekati cahaya yang mereka lihat, cahaya itu semakin menjauh dan menjauh kembali.
"Yang benar saja?! Ini sangat menarik!" Pikir Ravettha.
Dirinya merasakan berbagai tantangan yang sedang menghampirinya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
BERSAMBUNG