
Sang Ayah pergi meninggalkan ruangan kantornya, lalu ia menuju ruang makan di lantai satu.
Ia pun segera menyiapkan makan malam bersama.
Setelah itu, ia menghampiri kamar kakaknya di lantai atas yaitu lantai dua.
Saat ia sudah berada di depan kamar kakaknya, ia mengetuk pintu dan berkata, "Kakak, makan malam sudah siap. Cepatlah turun sebelum makan malamnya dingin!"
Kakaknya mendengar ucapan adiknya dan segera turun mengikuti adiknya.
Kemudian sang Ayah pergi menuju kamar anaknya di lantai tiga dekat perpustakaan.
Saat ayahnya menaiki tangga, ia berpapasan dengan anaknya, lalu ia berkata, "Nak, ayo makan malam bersama! Pamanmu sudah menunggu di ruang makan."
"Baik, ayah." Ucap Ravettha.
Ia menuruni tangga dan menuju ruang makan setelah ayahnya.
Ia melihat pamannya yang sudah duduk, dan ayahnya yang sedang berjalan menuju meja makan.
Mereka pun memulai makan malamnya.
"Hari berjalan sangat cepat, ya? Tidak terasa anakku sudah besar yang akan pergi sekolah dan lagi anakku akan mengikuti asrama akademi." Ucap ayah dengan sedikit sedih.
"Kau tidak perlu khawatir, adikku. Aku yakin keponakanku bisa mengikuti semua kegiatan yang ada disana. Bukan begitu, keponakanku?" Tanya paman.
"Tentu saja. Aku pasti bisa melakukannya." Ucap Ravettha dengan penuh semangat.
Setelah selesai makan malam, paman langsung kembali ke kamarnya.
"Kalau begitu, aku harus kembali ke kamarku dulu. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan." Ucap paman.
"Silahkan." Ucap ayah
Hanya tersisa Ravettha dan ayahnya saja.
Ia yang biasanya membantu merapihkan ruang makan setelah makan bersama sekaligus mengikuti ayahnya kemanapun ia pergi.
"Ayah, biarkan aku membantumu merapihkannya." Ucap Ravettha.
"Tidak perlu. Kau boleh kembali ke kamarmu, nak. Kau harus bersiap-siap untuk besok, bukan? Jangan khawatir, ayah akan membereskan ruang makannya." Ucap ayah.
"Baiklah, ayah." Ucap Ravettha.
Ia segera meninggalkan ruang makan dan pergi menuju kamarnya.
Saat di kamarnya, ia segera mengecek ulang semua barang-barang yang akan dibawa besok.
Setelah selesai, ia langsung membaca buku sebentar, lalu mencuci muka dan sikat gigi.
Kemudian ia segera tidur.
Ayahnya menuju kamar anaknya untuk memeriksanya.
Ia pun memasuki kamar tersebut, ia melihat anaknya yang sedang tertidur.
Ia juga melihat beberapa tas yang sudah disiapkan oleh anaknya, lalu ia memeriksa apa saja yang sudah disiapkan anaknya.
"Hm... Seragam sekolah, buku tulis, alat tulis, pakaian sehari-hari, alat mandi. Sudah semua, ya? Hanya satu yang kurang, yaitu uang saku. Sudah siap. Semua keperluannya sudah lengkap." Pikir ayah.
Ayahnya yang sudah memeriksa dan memasukkan semua barang keperluan anaknya yang kurang pergi keluar dari kamar anaknya.
__ADS_1
Saat tengah malam tiba, Ravettha bermimpi hal aneh.
Di mimpinya, ia bertemu dengan seseorang pria dengan setelan jas hitam yang sedang memainkan jarinya pada benda berwarna biru.
Pria itu terlihat gagah dan berwibawa.
"Sepertinya orang itu berwawasan sangat luas." Pikir Ravettha.
Pria itu menghampiri nya seakan-akan ia sudah tahu bahwa akan ada yang mengunjunginya.
"Perkenalkan namaku adalah Sistem A1-08-6. Apakah benar anda Ravettha Toftrelnd Seinoray?" Tanya Sistem A1-08-6.
"Benar. Dari mana anda mengetahui nama saya?" Tanya Ravettha.
"Saya hanya menjalankan tugas. Mulai sekarang anda adalah masterku. Jangan khawatir, aku akan selalu setia kepada anda dan tidak akan mengkhianati anda. Anda bisa menghukumku jika aku melanggarnya." Ucap Sistem A1-08-6 dengan singkat.
"Apa? Jika anda hanya menjalankan tugas, itu berarti ada pihak yang memberikannya, bukan?" Tanya Ravettha.
Sistem A1-08-6 hanya diam saja tanpa melanjutkan pembicaraannya.
"Tuanku memang jenius, ya? Orang biasa mana mungkin curiga di umur 3 tahun. Apakah anda tidak menyadarinya?" Tanya Sistem A1-08-6.
Hal itu membuat Ravettha curiga pada Sistem tersebut.
"Jangan lupakan ini. Semua pertemuan kita disini adalah nyata, jadi kau tidak boleh meremehkannya. Jika tidak kau mungkin akan bernasib sial." Ucap Sistem A1-08-6.
"Apa yang kau bicarakan? Apa yang kau katakan itu sebuah peringatan?" Tanya Ravettha.
"Apakah aku harus menunjukkannya kepadamu?" Tanya Sistem A1-08-6.
"Tentu saja." Ucap Ravettha dengan tegas.
"Biar aku jelaskan, aku dibuat khusus untukmu setelah mengalami beberapa ujian hanya untuk membuatmu berhasil dalam segala hal." Ucap Sistem A1-08-6.
"Bagaimana caramu melakukannya?" Tanya Ravettha.
"Kau akan segera mengetahuinya setelah aku mengajarimu. Langsung ke intinya saja, mulai sekarang aku yang akan menjadi mentor dalam pembelajaran." Ucap Sistem A1-08-6.
"Kau tidak akan bisa kabur dariku!" Ucap Sistem A1-08-6 dengan senyuman yang terlihat menyeramkan.
Ravettha tidak bisa berkata apa-apa karena ia tahu kalau Sistem A1-08-6 itu bermaksud baik.
"Bukankah ini akan mempermudah pemahamanku jika aku bersungguh-sungguh." Pikir Ravettha.
"Sebelum memulai pembelajaran, saya akan menganalisis semua bakat yang anda miliki. Silahkan berdiri di atas lingkaran yang disana." Ucap Sistem A1-08-6.
"Maksudmu kau ingin mengujiku dengan berdiri di atas lingkaran itu agar bisa melihat bakatku melalui benda berwarna biru yang ada di depanmu itu, kan?" Tanya Ravettha.
"Tepat sekali, master." Ucap Sistem A1-08-6 dengan senang.
"Baiklah." Ucap Ravettha.
Ia pun mengikuti instruksi yang diberikan oleh Sistem A1-08-6 tersebut.
Ia berdiri di atas lingkaran yang disebutkan, lingkaran itu langsung menganalisisnya tidak lebih dari 0,01 detik.
Hasil analisis tersebut langsung keluar setelah dianalisis.
Ia terkejut sekaligus kagum dengan apa yang dilihatnya.
"Keren, ini benar-benar sangat cepat." Ucap Ravettha.
__ADS_1
"Jangan terkejut berlebihan begitu, di masa depan kau akan sering melihatnya. Kau akan mahir suatu saat nanti, aku yakin itu." Ucap Sistem A1-08-6.
"Mari kita lihat apa hasil analisisnya." Ucap Sistem A1-08-6.
"Tentu. Aku sangat tidak sabar. Tunjukkanlah kepadaku." Ucap Ravettha.
Saat Sistem A1-08-6 melihat hasilnya, ia terkejut sekaligus kecewa.
"Mulai sekarang, kau harus berlatih dengan lebih keras lagi. Apa kau mau tahu hasil analisisnya?" Tanya Sistem A1-08-6.
"Tidak. Melihat reaksi anda saya sudah bisa menebak hasilnya. Pasti berada dibawah rata-rata, bukan?" Tanya Ravettha.
"Salah. Justru hasilnya lebih diluar perkiraanku." Ucap Sistem A1-08-6.
"Maksud anda? Jangan bilang aku memiliki bakat terpendam?" Tanya Ravettha.
"Tepat sekali. Ini adalah hasilnya." Ucap Sistem A1-08-6 dengan menunjukkan data yang telah dianalisis.
Ravettha melihat semua data yang ditunjukkan oleh Sistem A1-08-6.
"Mana sihir \= 92,6%, kelincahan \= 90,2%, kekuatan \= 97,9%, kecerdasan \= 96,4%, tipe level \= S+. Kemampuanmu masih kurang. Anda harus banyak belatih lagi! Jangan sia-siakan waktumu, mengerti?" Tanya Sistem A1-08-6.
"Baik." Ucap Ravettha.
"Kita akan memulai pembelajaran di pertemuan berikutnya. Karena di luar sudah menjelang pagi dan matahari akan terbit. Lebih baik kau bangun sekarang sebelum orang tuamu membangunkanmu." Ucap Sistem A1-08-6.
"Dengan kata lain tempat ini berada di bawah alam sadarku, bukan?" Tanya Ravettha.
"Benar." Ucap Sistem A1-08-6.
"Maksudmu pintu yang itu, kan?" Tanya Ravettha dengan menujuk pintu yang bertulisan 'Exit'.
"Iya." Ucap Sistem A1-08-6.
"Baiklah sebelum aku keluar, bagaimana jika aku membuat nama panggilan untukmu agar aku bisa memanggilmu saat aku membutuhkan?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja, master. Anda bisa membuatnya sesuai keinginan anda. Saya akan dengan senang hati menerimanya." Ucap Falext.
"Bagaimana dengan Falext?" Tanya Ravettha.
"Panggilan yang bagus dan indah." Ucap Sistem A1-08-6 dengan sangat senang.
"Aku senang kau menyukainya. Kalau begitu aku keluar dan bangun dulu. Sampai bertemu lagi." Ucap Ravettha.
Setelah ia keluar dari mimpinya, ia bisa membuka matanya.
Ia melihat jam berapa sekarang, ternyata jam itu menunjukkan pukul tepat tiga pagi.
Ia segera mencuci mukanya dan menggosok gigi.
Ia mengambil baju seragamnya lalu dipakainya dan bersiap-siap.
Masih terdapat waktu yang cukup banyak sebelum matahari terbit, ia menggunakannya untuk membaca buku sebentar.
"Anakku, ayo segera turun! Ayah sudah menyiapkan sarapan." Ucap ayah.
"Baik, ayah." Ucap Ravettha saat membuka pintu kamarnya.
Ia pergi menuju ruang makan.
BERSAMBUNG
__ADS_1