
"Daripada seperti ini, bagaimana jika di antara kalian memberikan seluruh informasi tentang keenam raja lainnya?" Tanya Ravettha dengan tersenyum licik.
"Untuk apa kami memberitahu kepada manusia yang lemah dah kotor sepertimu! Sudah tidak tahu...!" Ucap Nathaniel yang memaksakan dirinya untuk membuka mulutnya.
"Bagus! Bagus! Aku sangat suka dengan sifat pemberontak kalian! Akan sangat bagus lagi jika kalian memenangkan lomba antar murid dengan sifat itu!" Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
Di antara para murid yang telah terkena jebakan oleh Ravettha menyadari akan suatu hal tentang kebenaran.
"Dia... Sungguh tidak terduga! Anak ini bahkan bisa berpikir jernih dibandingkan murid yang ada disini!" Pikir murid keenam dengan berusaha keluar dari jebakan tersebut.
"Hei semuanya! Sekarang lupakan jabatan kita! Ada yang ingin kuberitahu kepada kalian!" Ucap murid keenam dengan bertelepati kepada para murid lainnya.
Tetapi siapa sangka jika Ravettha juga masuk dan menyamarkan dirinya di sana untuk menyadap seluruh isi percakapan mereka.
"Apa lagi? Daripada berbicara yang tidak jelas, lebih baik kau bantu aku melepaskan diri dari jebakan anak gila itu!" Ucap Upton yang sangat kesal melalui telepatinya.
"Diam dulu! Dengarkan aku baik-baik! Kalian masih ingat dengan murid yang ditunjuk langsung oleh Yang Mulia Raja Kourtnef, bukan? Yang jelas, ia sangat mengharapkan kita menyatukan kekuatan dan memenangkan permainan gila itu! Dengan bantuan anak murid baru ini, kita juga dapat pengakuan dari dewa! Apa kalian juga pernah berpikir seperti itu?" Tanya murid keenam dengan penuh perhitungan melalui telepatinya.
Seluruh murid yang berpartisipasi dalam pembahasan di telepatinya tersebut menjadi hening sejenak.
Mereka memikirkan kembali tentang apa yang telah diberikan oleh murid keenam.
"Hm... Kurasa kau ada benarnya juga!" Ucap Rai yang mengangguk setuju melalui telepatinya.
"Huh! Baiklah! Aku setuju dengan pendapatmu kali ini, Scott!" Ucap Marigold dan Upton melalui telepatinya.
Scott adalah nama singkatan dan juga nama panggilannya sejak kecil.
Nama asli dari murid keenam adalah Sinclair Parker.
Ia dikenal sebagai anak yang paling dewasa pikirannya dibandingkan yang lainnya.
Banyak orang yang selalu mengandalkan pikirannya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit.
__ADS_1
Hal tersebut membuatnya dipercayai oleh banyak orang termasuk para murid-murid yang ada disekitarnya.
Ravettha hanya tersenyum senang dengan keputusan yang dibuat oleh Sinclair.
Tentunya ia masih menyembunyikan kebenaran bahwa ia telah mengetahui isi percakapan mereka.
"Hei, anak baru! Kami bersedia untuk memaafkanmu dengan syarat kau harus berkerjasama dengan kami untuk mendapatkan pengakuan dewa!" Ucap Rai dengan sedikit kesal.
"Keputusan yang bagus! Kebetulan aku juga sedang membutuhkannya! Mari kita berdamai dan menjalankan kerjasama dengan baik!" Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
"Karena kau yang memulainya, pastinya kau punya strategi untuk mencapai tujuan kita bersama, bukan?" Tanya Rai dengan tatapan tajamnya.
"Tentu saja! Dengan latihan yang dilakukan terus-menerus! Kita akan melakukannya bersama-sama selama satu jam!" Ucap Ravettha dengan sangat bersemangat.
"Kapan kita akan latihan bersamanya?" Tanya Nathaniel.
"Setelah makan malam!" Ucap Ravettha dengan sangat bersemangat.
"Aku tidak bisa jika setelah makan malam ini dan seterusnya!" Ucap Nathaniel.
"Kami juga!" Ucap murid lainnya.
"Hah! Bukankah kalian yang sudah sepakat untuk bekerjasama? Tetapi kalian juga yang tidak menyanggupi jadwal latihannya! Memangnya kalian ingin kalah dari mereka? Jika kita sama-sama malas, kita tidak akan punya kesempatan untuk menang karena pengalaman bertarung yang kurang baik itu secara individu maupun berkelompok! Padahal kalian juga masih punya waktu istirahat setelah latihan selesai." Ucap Ravettha dengan tegas.
Mereka yang tadinya tidak setuju akhirnya menyetujui pendapat Ravettha yang terlihat masuk akal tersebut.
"Baiklah! Kami setuju dengan adanya latihan bersama setelah makan malam selama satu jam!" Ucap seluruh murid lainnya.
"Sesuai perkiraanku! Mereka hanya akan tunduk pada murid yang berpengaruh saja! Ini akan semakin mudah!" Pikir Ravettha dengan sangat bersemangat.
"Mari kita habiskan makan malam kita dan pergi latihan bersama!" Ucap Rai dengan menyemangati murid yang lainnya.
Setelah menghabiskan hidangan makan malamnya, mereka langsung pergi ke tempat latihan utamanya.
__ADS_1
"Disini sangat luas sehingga kita bisa berlatih dengan nyaman. Bagaimana jika kita membuat beberapa permainan di dalam latihan ini?" Tanya Rai kepada murid lainnya.
"Ide yang bagus! Akan lebih seru jika kita membuat kelompok!" Ucap Sarah.
"Kau benar! Baiklah! Aku akan membagi seluruh murid yang ada disini secara acak. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang. Syarat untuk memenangkan permainan ini adalah mengambil bendera ungu yang ada disana! Akan ada misi khusus bagi peserta, untuk maju ke babak selanjutnya kita harus menyelesaikan misi itu." Ucap Rai dengan menunjuk ke arah bendera yang berdiri tegak di tengah lapangan.
"Baik!" Ucap para murid secara bersamaan.
"Ini adalah pembagian kelompoknya! Kelompok satu terdiri dari Upton (murid kedua), Marigold (murid ketiga), Karin (murid kedelapan), Thom (murid keempat belas), dan Cathy (murid kesepuluh). Kelompok dua terdiri dari Sharon (murid kedua belas), Rai (murid kesatu), Luzell (murid kesembilan), Sarah (murid kelima), dan Vene (murid ketujuh). Kelompok ketiga terdiri dari Nathan (murid keempat), Ravettha (murid kelima belas), Ranson (murid kesebelas), Scott (murid keenam), dan Dalton (murid ketiga belas). Bagaimana sudah jelas tentang petunjuknya?" Tanya Rai yang telah membagi mereka dengan sangat cermat sesuai nama panggilannya.
"Ya! Itu sudah jelas!" Ucap murid lainnya.
"Tunggu! Bukankah itu artinya kita boleh menggunakan cara apapun untuk mendapatkan bendera itu?" Tanya Upton yang sedang terlihat serius.
"Itu benar!" Ucap Rai dengan mengangguk setuju.
"Baiklah! Kalau begitu, semoga berhasil!" Ucap Rai dengan menyemangati murid lainnya.
"Hoo...! Menarik juga! Kelompok siapa yang akan memenangkannya, ya?" Ucap Raja Kourtney yang mengamati para muridnya dari kejauhan sehingga tidak ada yang menyadarinya.
Masing-masing kelompok mulai bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda.
"Mari kita buat strategi terlebih dahulu!" Ucap Scott kepada rekan sekelompoknya.
Nathan, Ravettha, Ranson, dan Dalton mengangguk setuju.
"Di antara kelompok musuh, terdapat beberapa rekan yang pandai memasang strategi maupun jebakan. Orang tersebut adalah Marigold, dan Karin dari kelompok satu. Sedangkan di kelompok dua ada Rai, Sarah, dan Sharon. Kita harus berhati-hati dengan mereka! Sebisa mungkin jangan sampai terjebak, jika itu terjadi langsung minta bantuan ke rekan sekelompok! Ambil ini! Ini adalah alat pelacak sekaligus alat komunikasi kita." Ucap Scott dengan memberikan empat alat yang menyesuaikan dirinya dengan penggunanya.
Mereka sekelompok langsung memakainya.
Alat tersebut menyesuaikan diri menjadi jepit rambut yang berwarna pink bagi Ravettha.
Alat tersebut menjadi kalung pada Dalton dan menjadi anting pada Ranson.
__ADS_1
Sedangkan menjadi gelang pada Nathan dan jam pada Scott.
BERSAMBUNG