Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Kedatangan Empat Teman Sekolah


__ADS_3

"Falext!" Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya sehingga tidak ada yang mendengar percakapan mereka berdua termasuk ayah dan pamannya.


"Ya, master? Ada yang bisa kubantu?" Tanya Falext yang telah mendengarkan panggilan dari Ravettha.


"Tentu saja! Bukankah kau pernah mengatakan bahwa 1 menit di dunia ini sama dengan 1 tahun di tempatmu?" Tanya Ravettha yang telah mengingat seluruh percakapannya bersaman Falext sebelum pergi ke 'Tower Oltorn'.


"Benar, master. Apa anda bertanya karena ingin mengetahui dan menghitung berapa lama waktu yang telah anda habiskan selama di 'Tower Oltorn'?" Tanya Falext dengan memperhatikan pertanyaan yang telah diajukan oleh majikannya.


"Tepat sekali! Kalau begitu, cepat beritahu aku!" Ucap Ravettha dengan bersemangat dan dipenuhi rasa penasaran.


"Baik, master. Anda telah menghabiskan 24 hari di 'Tower Oltorn'. Itu sudah merupakan perkembangan yang cukup bagus, master! Aku ucapkan selamat atas keberhasilannya!" Ucap Falext dengan bergembira.


"Ya, terimakasih, Falext! Itu artinya aku telah melewatkan 4 detik di dunia ini, bukan? Jika ayah mengatakan aku pingsan 30 detik yang lalu, berarti aku tertidur selama 26 detik di dunia ini. Karena kau telah mengaktifkan kembali kesadaranku, tetapi mengapa saat aku bangun langsung merasa jatuh dari ketinggian, ya? Hm..." Ucap Ravettha dengan memikirkan apa saja penyebabnya.


"Memang benar anda hanya melewati 4 detik di dunia ini dan 156 hari di 'Tower Oltorn' karena pola perbedaan waktu dunia tempatku sama dengan dunia di 'Tower Oltorn'. Dengan kata lain, 1 detik disini sama dengan 6 hari di dunia tempatku dan di dunia 'Tower Oltorn'. Kasus yang anda rasakan adalah efek samping dari pengembalian dan pengaktifan kesadaran tubuh anda." Ucap Falext dengan menjelaskan panjang lebar.


"Kalau begitu, aku bisa berlama-lama di 'Ruang Pelatihan Rahasia'!" Ucap Ravettha dengan sangat gembira hingga melompat ke udara tanpa memperhatikan sekelilingnya.


"Haduh! Kenapa master ceroboh seperti ini? Apa dia kurang istirahat?" Pikir Falext dengan menghela napas karena melihat perilaku majikannya.


Ia yang melihat hasil data analisis tubuh majikannya menjadi tidak terlalu terkejut karena perkiraannya tepat.


"Wajar saja master melupakan bahwa ia telah keluar dari telepatinya! Lagipula saat perpindahan kesadaran, kebutuhan tubuhnya sendiri di 'Tower Oltorn' saja tidak terlalu diperhatikan. Semuanya menjadi masuk akal dan mulai sekarang aku yang harus menjadwal seluruh kegiatannya!" Pikir Falext dengan melirik ke arah majikannya yang sedang terkejut karena menyadari keberadaan ayah dan pamannya.


"Oh! Tidak! Aku melupakan mereka!" Pikir Ravettha dengan menahan ekspresi malu di wajahnya yang mulai memerah.


Ayah dan paman hanya memandang dengan tatapan yang penuh heran.


"Ruang pelatihan rahasia?" Tanya ayah dan paman secara bersamaan.


"Ayah! Paman! Aku teringat dengan mimpi indahku. Aku melihat sebuah taman bermain dan disana ada ayah dan paman yang sedang menungguku di dekat ayunan. Yang paling menyenangkan adalah berlatih bersama ayah dan paman. Aku menamai tempat pelatihan sebagai 'Ruang Pelatihan Rahasia'!" Ucap Ravettha dengan mengarang sebuah cerita supaya rahasianya tidak terbongkar.


"Benarkah? Bagus! Kalau begitu, putriku istirahat saja untuk hari ini. Jika kau ingin pergi sekolah, kau besok baru boleh kuizinkan. Belajarlah dengan giat! Saat hari kenaikan tingkat telah tiba, kita bisa bertemu dan menghabiskan waktu lagi!" Ucap ayah dengan sangat bersemangat menunggu tiba hari dimana ia dapat menyaksikan kenaikan tingkat putri semata wayangnya tersebut.

__ADS_1


"Ide yang bagus, adikku! Aku setuju denganmu!" Ucap paman dengan menunjukkan reaksi yang sama dengan ayah.


"Selamat istirahat, putri kecilku!" Ucap ayah dan paman secara bersamaan dengan berjalan keluar dari kamar, menutup pintu kamar Ravettha, lalu melanjutkan masing-masing pekerjaan yang belum diselesaikan.


Karena ayah dan pamannya telah pergi, ia berencana untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya hingga tuntas lalu pergi ke perpustakaan.


Saat ia sedang menyiapkan keperluan untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, ia langsung merasakan kedatangan beberapa tamu di ruangannya.


Tamu tersebut adalah Sorayna, Levord, Kalvetno, dan Cedric yang sedang dalam wujud anak-anak yang seumuran dengannya.


Kedatangan mereka muncul tepat di atas kepala Ravettha dengan menggunakan teleportasinya.


Mereka berdatangan dengan mengenakan pakaian seragam sekolahnya.


"POF!!!"


"BRUK!!!"


Ravettha yang tertindih oleh keempat temannya langsung bangkit tanpa mengatakan atau mengeluh, apalagi marah.


Ia hanya diam dan berusaha mengulurkan bantuan kepada teman-temannya.


"Terimakasih, Rave!" Ucap Levord sementara Cedric hanya memandangi ketulusan yang telah diberikan oleh Ravettha.


"Em... Kau masih ingat denganku?" Tanya Cedric dengan terlihat jelas di dalam ekspresinya bahwa ia takut dilupakan oleh orang yang dicintainya.


"Bagaimana mungkin aku melupakanmu, kau yang telah menolongku saat aku pingsan. Bukankah begitu, Vicenzo Cedric Gervais?" Tanya Ravettha dengan tersenyum kecil.


"Itu benar." Ucap Cedric dengan mengangguk setuju dengan perkataan Ravettha.


Dengan seketika seluruh perhatian tertuju kepadanya.


"Woah! Bagaimana kau tahu jika di dalam labirin ada Ravettha?" Tanya Levord dengan sangat penasaran kepada Vicenzo.

__ADS_1


"Aku hanya pergi untuk menemui kepala sekolah saat itu lalu bertemu dengannya." Ucap Cedric dengan berbicara sejujurnya secara natural.


"Lalu, bagaimana kau bisa tahu bahwa Cedric yang menyelamatkanmu, Ravettha?" Tanya Kalvetno dengan nada dan ekspresi wajah yang tidak percaya.


"Jika dia benar-benar berada di sekitarku saat itu, tidak mungkin jika dia meninggalkanku dan berpura-pura bahwa tidak ada hal yang menarik di sekolah." Ucap Ravettha.


"Selain itu? Aku bahkan masih berada di dekat labirin saja tidak melihat anak ini! Yang kulihat adalah anak ini datang menemui Bu Emmeline yang kebetulan juga sedang mencarimu." Ucap Kalvetno dengan sangat yakin pada ingatannya.


"Ah, sudahlah! Jangan buat masalah jadi rumit!" Ucap Sorayna dengan menginjak kaki kanan Kalvetno dengan sepatunya.


"Akh! Singkirkan kakimu dariku, nenek sihir!!!" Ucap Kalvetno dengan menginjak kembali kaki Sorayna dengan menggunakan kaki kirinya.


"Apa yang barusan kau katakan? Haah?" Tanya Sorayna dengan melancarkan aksi balas dendamnya.


Pertangkaran di antara mereka berdua kembali terjadi tanpa henti.


Walaupun mereka masih tergolong anak-anak berdasarkan usianya, tetapi hal tersebut terlihat lebih kekanak-kanakan di mata ketiga temannya.


"Oh! Ya! Aku hampir lupa bahwa kau harus sekolah hari ini! Sehari tanpamu rasanya sungguh membosankan! Apalagi aku hanya perempuan sendiri diantara tiga laki-laki bodoh ini." Ucap Sorayna yang telah berhasil membuat Kalvetno menyerah tanpa alasan dengan melirik ke Levord, Cedric, dan Kalvetno.


"Rencananya juga begitu... Teman-teman! Aku punya ide!" Ucap Ravettha dengan bertepuk tangan satu kali karena sangat bersemangat.


"Apa rencananya?" Tanya Kalvetno dengan penasaran.


"Bukankah kita masih punya tugas dari Pak Zhorandh? Tugas yang melakukan 'Summoning' dan mencari tahu jawaban pertanyaan 'Contoh dari sihir cahaya dan sihir kegelapan'. Berhubung tugas kedua diizinkan bekerja kelompok, maka kita lakukan berlima saja sekarang! Ini akan menjadi sangat menyenangkan!" Ucap Ravettha dengan sangat bersemangat.


"Tidak kusangka masih ada yang ingat tugas dari bapak itu!" Ucap Kalvetno.


"Jadi itu tugas pertamanya, ya? Ngomong-ngomong, terimakasih sudah mengajakku bergabung ke kelompok kalian." Ucap Cedric dengan tersenyum ramah.


"Baiklah! Ayo kita cari bahan-bahan untuk kerja kelompoknya!" Ucap Levord yang ikut bersemangat untuk segera mulai kerja kelompok tersebut.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2