Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Isi Hati Para Sekutu


__ADS_3

"Anda memberiku 1 misi, tidak ke orang lain, tetapi ke diriku. Anda tahu dari awal anda tidak bisa melakukannya sendirian. Katakanlah terlepas apapun hasilnya, apa yang anda inginkan dari misi ini, guru?" Tanya Ravettha benar-benar ingin tahu batasan dari gurunya ini.


"Jika aku mengatakannya sekarang, apakah kau akan menerima tawaranku? Tidak ada jaminan antara berhasil atau gagal. Kau yang memilihnya, Ravettha!" Ucap Pak Chayton memutar kembali kursinya untuk yang ketiga kali.


Satu tangannya memberikan sebuah file tentang informasi yang perlu diselesaikan muridnya.


Ia sangat tahu bahwa muridnya ini adalah rekan kerjasama yang baik untuk seluruh rencananya.


"Sepakat! Tolong guru tanda tangani disini." Ucap Ravettha dengan kepala dinginnya.


"SRET!"


Kontrak kerjasama mereka telah ditandatangani oleh Pak Chayton.


Ravettha sama sekali tidak mengatakan apapun lagi kepada gurunya setelah pertemuan ini berakhir.


Ia keluar ruangan begitu saja dan memberi satu pesan khusus bagi Vicenzo.


"Aku sudah selesai. Kali ini aku punya permintaan untukmu. Apa kamu berniat melakukannya, Cedric?" Tanya Ravettha tidak menunjukkan ekspresi apapun, kecuali ekspresi datarnya.


"Baiklah! Walaupun harus memenuhinya dan terpisah jauh darimu, kamu tetap milikku dan kapanpun aku bisa menemuimu. Jadi, apa permintaanmu, sayang?" Tanya Vicenzo telah bersiap-siap dengan kemungkinan buruk yang harus ia hadapi.


"Menyamarlah jadi diriku, ikuti pelatihan di akademi sampai tuntas, dan rekam persiapan untuk ujian. Aku bebaskan caramu melakukannya. Jika kamu menemui masalah, hubungi aku lewat topeng penyamaran ini! Perlu kamu ketahui topeng ini akan terus menyatu dengan dirimu sampai aku kembali menemuimu, Cedric." Ucap Ravettha menghilang dengan begitu cepat setelah menyerahkan topeng miliknya.


Tidak ada lagi yang tersisa untuk ditinggalkan.


Sementara Ravettha pergi, Vicenzo tanpa sadar mengeluarkan air mata yang berupa darah segar.


Menyadari ada darah yang mengalir di wajahnya, ia secepat mungkin menghapusnya dan memperkuat tekad agar seluruh keinginannya terwujudkan.


"Ya, sayang. Begitu kamu kembali padaku, aku telah mempersiapkan kejutan untukmu." Pikir Vicenzo tersenyum pahit, berbalik badan, dan menyamar menjadi kekasihnya.


Dalam penyamaran, ia harus memperhatikan setiap hal terkecil, membuat rencana darurat, dan informasi detail.


Baik dirinya ataupun kekasihnya, tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan kegagalan karena kesempurnaan berada di atas segalanya.

__ADS_1


"Tugas dari Pak Chayton sudah diselesaikan. Sebelumnya Ravettha ku telah memberikan sekotak kardus ini untuk diserahkan. Kapan harus menyerahkannya, ya?" Pikir Vicenzo mencari-cari petunjuk mengenai waktu pengumpulan tugas.


"Hei, anak baru! Kelompok kami kekurangan 1 anggota. Kau ikut dengan kami, ya?" Tanya seorang pemuda menunjukkan kekuasaannya di depan para anak buahnya.


"Ah...! Ravettha ku belum mebuat jaringan pertemanan dengan siapapun disini, kecuali anak itu. Lagipula jika dilihat-lihat, orang ini cukup bagus untuk dijadikan budak Ravettha ku." Pikir Vicenzo menatap tajam lawan bicaranya.


Ia sungguh ingin tahu apakah penyamarannya ini berhasil atau ada efek sampingnya.


Selain itu, mencari celah dan kelemahan musuhnya akan sangat menarik untuk diketahui.


"Apa yang akan kudapat jika bergabung dengan kelompokmu?" Tanya Vicenzo dengan nada yang mengintimidasi.


"Ayolah, adik manis! Parasmu manis dan sikapmu yang arogan ini akan digilai banyak senior. Kau akan mendapatkan respek mereka, termasuk popularitas." Ucap pemuda tersebut sangat yakin anggota barunya ini tidak akan menolaknya.


"Aku menolak." Ucap Vicenzo sama sekali tidak peduli dengan keinginan lawan bicaranya.


"Kau m-menolaknya?! Kau bahkan bisa memiliki semuanya, tetapi kau justru menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kasihan padamu, adik manis." Ucap pemuda tersebut tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Ho! Jadi telingamu sudah rusak, ya? Baiklah! Akan kubenarkan untukmu, kawanku!" Ucap Vicenzo menyeringai lebar.


Tidak ada yang mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi, termasuk 5 anak buah bersembunyi di belakangnya.


Melihat para anak buah yang kebingungan, Vicenzo justru terpikirkan solusi masalahnya.


"Mulai sekarang kalian berenam hanya perlu mendengarkan seluruh perintahku. Mengerti?" Tanya Vicenzo memastikan isi hati para sekutunya agar tidak ada lagi yang berniat memberontak.


"Hidup, nyawa, dan semua yang kami miliki adalah milik anda, Ratu." Ucap keenam sekutu Vicenzo tertunduk dan berjanji kepada diri sendiri akan tetap bersedia dikendalikan majikannya.


"Bagus! Dengan begini, Ravettha ku tidak perlu khawatir akan pelatihannya." Pikir Vicenzo tersenyum senang membayangkan kekasihnya berterimakasih atas kerja kerasnya.


Ia yang tidak ingin terlalu berlarut di dalam impiannya langsung memberikan perintah pertama.


Baginya, berkhianat atau tidak, para anak buah barunya ini akan menjadi bibit unggul yang harus diserahkan di waktu yang tepat.


"Kau cari dimana Pak Cheidon berada!" Ucap Vicenzo kepada seorang anak buah termuda.

__ADS_1


"Pak Cheidon, Pak Cheidon, cari Pak Cheidon!" Gumam seorang anak buah yang paling muda langsung pergi melaksanakan perintah Vicenzo tanpa memberikan perlawanan.


Dalam waktu cukup singkat, hasil kerjanya harus dilaporkan ke majikan.


Melalui hal inilah, Vicenzo menilai kesungguhan anak buahnya dalam bekerja untuk dirinya.


"Pak Cheidon bermeditasi di ruang kerjanya, Ratu." Ucap seorang anak buah tersebut memberi hormat kepada Vicenzo.


"Pergilah! Aku akan memanggil kalian lagi kemari." Ucap Vicenzo tidak membutuhkan keenam anak buahnya untuk sementara waktu.


Ia yakin ruang kerja Pak Cheidon dan Pak Chayton berdekatan satu sama lain sehingga memudahkannya dari tersesat di malam yang gelap.


Pintu ruangan kerja telah terbuka dan Pak Cheidon sendiri berhadapan langsung dengan Vicenzo.


"Saat ini kau tidak punya tugas baru dariku. Letakkan saja tugas sebelumnya di mejaku. Jangan lupa kau masih harus selesaikan tugas Pak Chayton! Siapapun orang yang mengajarimu, ia adalah gurumu." Ucap Pak Cheidon berjalan ke luar ruangan untuk menghirup udara segar.


Mendengar perkataan Pak Cheidon, Vicenzo hanya mengangguk setuju, menaruh sekotak kardus yang berisi berkas tugas tambahan kekasihnya, dan keluar dari ruangan.


Ia tidak lagi bersikap agresif demi mewujudkan impiannya.


Seperti permintaan kekasihnya, ia tetap terus menyamar, mengikuti pelatihan di akademi hingga tuntas, dan merekam persiapan untuk ujian yang akan datang.


Di lain tempat, Ravettha telah pergi jauh meninggalkan partnernya sendirian.


"Menderita lah untuk sementara waktu, Cedric! Setelah itu, kita akan mengetahui siapa yang pantas mendapatkan hadiahnya." Pikir Ravettha sama sekali tidak melihat ke belakang.


Ia terus mengendarai kendaraan tercepatnya karena dirinya tahu melihat ke belakang hanya akan menghambat pencapaian terbesar.


"Peringatan! Anda memasuki kawasan perang. Disini, misi anda akan dimulai. Apa anda telah siap menerima kegagalannya?" Bunyi sebuah pesan tersambung dengan file misi yang telah diberikan Pak Chayton.


"Ya, gagalkan aku!" Ucap Ravettha mampu melihat dari arah mana gurunya memperhatikannya sejak awal menerima misi.


"Keputusan telah dibuat! Risiko kegagalan terus bertambah tergantung langkah yang anda buat. Mohon pikirkan kembali tindakan anda." Bunyi pesan tersebut sebelum menghilang dari pandangan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2