
Mengetahui kesediaan para partnernya, Ravettha langsung menjalankan rencananya.
Ia merasa sudah cukup untuk memikirkannya dan inilah saatnya bertindak.
"Katakan berapa persediaan yang kalian punya, Lartson?" Tanya Ravettha benar-benar penasaran akan jumlah daya tempur mereka.
"1.844.900 IZE117, master." Ucap Lartson mempersiapkan diri melaksanakan misi berat.
"Baiklah. Kerahkan masing-masing 0,16% pasukan tahap pertama dan 0,52% tahap kedua! Tambahkan juga total 25% dari IZE117 di target kita kali ini." Ucap Ravettha telah mengetahui hasil laporan Rufino mengenai 10 kali peningkatan jumlah pasukannya.
"Perintah diterima! Kami segera mengerahkan 10% pasukan tahap pertama, 32% tahap kedua, dan 25% IZE117." Ucap Falext pamit undur diri dan begitupun dengan keenam rekannya.
Mereka langsung mengerjakan tugasnya lagi tanpa mengeluh keberatan.
Terlepas dari hal yang kurang disukai, ketujuh partnernya mampu menemukan cara agar dapat menikmati pekerjaan.
"Perbedaan waktu disini dan di tempat itu cukup jauh. Aku penasaran bagaimana mereka saat ini. Ya, ini saatnya aku berkunjung!" Pikir Ravettha tersenyum senang.
Ia sungguh tidak sabar kembali pulang ke rumah lama dan tempat ia dilahirkan.
Bahkan dirinya sangat bersemangat karena ingin mengamati situasi sebelum melakukan rencana selanjutnya.
"Pinjam kaca pembesarnya, Sorayna! Aku juga mau liat!" Ucap Kalvetno mengejar Sorayna yang telah mempermainkan dirinya.
"Kau kan hebat, cepat ambil kesini!" Ucap Sorayna memancing amarah rekannya ini.
Tawa tanpa rasa bersalahnya langsung ia manfaatkan dan mengajak Levord bekerjasama.
"Tangkap ini, Levord! Jangan berikan padanya!" Teriak Sorayna melemparkan dengan cepat dan tepat ke Levord.
"Aku mendapatkannya!" Ucap Levord menyetujui permainan yang mereka buat bersama.
"Apa yang kalian dapatkan? Kaca pembesar? Kalian ingin memecahkannya dan tidak mau masuk ke kelas?" Tanya Pak Victor menatap ketiga muridnya.
Ia menarik paksa kerah belakang baju ketiga muridnya daripada menghukum di tempat.
Tidak ada siapapun yang menyadari keberadaan Ravettha dan hal itu sangat bagus untuknya.
"Disini masih baik-baik saja. Bagaimana yang disana? Apa keadaan ayah dan paman juga masih sama?" Pikir Ravettha semakin penasaran dengan kondisi keluarga kecilnya.
Jejak dirinya langsung dihapus dan tidak membiarkan seseorang mengetahui identitas asli.
__ADS_1
Paman Elliovent dan Ayah Ellievont sangatlah sensitif terhadap sihir.
Sedikit saja ada aliran sihir tidak normal di wilayahnya, ia pasti akan bertindak lebih jauh.
"Adikku, sampai kapan putri kecil kita akan kembali? Berjanjilah padaku kau juga harus menjaga kesehatanmu! Kau mau bertaruh denganku, Ellievont? Aku bertaruh ia akan pulang dalam waktu dekat." Ucap Paman Elliovent merawat adiknya yang kehilangan cahaya harapan di hidupnya.
"Waktu dekat? Tentu saja ini rumahku dan aku juga berencana pulang. Sayangnya, masih ada yang harus kuselesaikan. Kita akan bertemu lagi, ayah, paman!" Pikir Ravettha tersenyum pahit setelah mengetahui keluarganya menderita karena terus menanti kehadiran seorang putri kecil.
Ia merasa akan ada pertunjukan yang harus dinikmati dan karena itulah dirinya masih mengamati keluarganya dari jauh.
"Aku tidak bisa membayangkan dia akan mengambil putri kita, kakak! Tidak masalah jika tindakan kita terbongkar, tetapi putri kecil kita tidak boleh tersentuh Lucretia!" Ucap Ayah Ellievont mengingatkan kembali kakaknya.
"Rubeus itu maksudmu? Pemerintahannya telah diwariskan ke putra pertamanya. Lagipula dia tidak mencari putri keempatnya lagi setelah 22 tahun yang lalu. Jadi, mengapa kau masih khawatir?" Tanya Paman Elliovent mengingat kembali nama seorang Raja Ocaxius.
"Tentu saja kau tidak mengetahuinya karena aku telah menghapus beritanya di Tscaxius ini!" Ucap Ayah Ellievont memberitahu kebenaran atas tindakannya.
"Dengan kata lain, kau mau bilang raja itu masih mencari keberadaan putri kecil kita?" Tanya Paman Elliovent mengambil kesimpulan adiknya.
Hanya ada anggukan kepala dari Ayah Ellievont, sedangkan kakaknya tidak ingin meragukan keyakinan di pertaruhan yang mereka buat.
Mendengar seluruh percakapan mereka dengan kemampuannya, Ravettha tersenyum senang karena mengetahui masalah keluarganya juga menyangkut tujuan utamanya datang berkunjung kesini.
"Tepat waktu sekali aku datang, ya? Mari kita lihat pak tua yang dimaksud ayah." Ucap Ravettha berteleportasi ke atap menara istana.
"Sudah mau mati saja, ibu tidak mengizinkanku hingga terus berdalih tidak pantas di posisi raja. Ayah sering sakit keras karena mimpi buruk. Siapa anak yang terus dicari ayah?" Gumam Severus melamun di tahta kursi kerajaannya.
"Anakku datang! Anakku datang! Ayah disini, anakku." Ucap Rubeus bangun dari tidurnya dengan semangat.
Wajahnya yang kusut dan lemas berubah segar dan memerah.
Seorang tabib kerajaan datang ke kamar raja tepat saat Yang Mulia bangun.
"Yang Mulia! Ini sebuah berkah! Anda perlahan kembali sehat." Ucap seorang tabib tersebut justru terkejut mengetahui hasil kerja kerasnya yang telah berkali-kali gagal justru berhasil setelah sekian lama.
"Bantu aku menyambut anakku! Ia menungguku di luar." Ucap Rubeus membangkitkan tubuhnya, meskipun kesehatannya belum terlalu pulih.
"Anda ingin menyambut Putra Mahkota Severus, Tuan Putri Ginevra dan Millicent? Hamba akan memberi kabar mengenai ini." Ucap seorang tabib tersebut berniat menyebarkan permintaan rajanya kepada seluruh anggota kerajaan.
"Tidak! Aku ingin anakku, Ravettha Toftrelnd Seinoray!" Teriak Rubeus melarang tabibnya melakukan hal yang tidak diinginkannya.
"Rave... Siapa?" Tanya seorang tabib tersebut merasa cukup familiar dengan nama yang disebutkan Yang Mulia.
__ADS_1
"Putri keempatku! Aku bisa melihatnya dengan jelas dimana anakku!" Ucap Rubeus sangat yakin pada pandangannya.
"Putri yang hilang kurang dari satu jam setelah dilahirkan? Hamba rasa ini baik, maka hamba akan membantu Yang Mulia!" Ucap seorang tabib langsung memapah tubuh rajanya.
Mereka berjalan keluar ruangan hingga keluar istana dan mencari tempat dimana mereka akan bertemu.
Para anggota kerajaan hanya melihatnya dari kejauhan, sementara sang Ratu terharu mengetahui apa yang dilihatnya.
"Sayang! Kamu telah pulih, bukan? Kenapa lari di hari pertama kamu pulih?" Tanya Lucretia membantu memapah suaminya.
"Menjauhlah! Kau bukan ibu yang baik untuk anakku!" Ucap Rubeus menyingkirkan tangan Lucretia.
"Apa yang terjadi padamu, sayang? Tabib! Jelaskan padaku sekarang juga!" Ucap Lucretia sama sekali tidak mengerti perkataan suaminya ini.
"Hamba rasa anda akan segera mengetahuinya, Yang Mulia Ratu." Ucap seorang tabib tersebut menatap ke atap menara.
"TAP!"
Alat perekam berhasil ditanam agar seluruh persiapan benar-benar siap.
Ravettha langsung turun dan menatap kedua mata ibu kandungnya, Lucretia.
Sosok yang familiar di mimpi, Rubeus tanpa berpikir panjang langsung memeluk putri keempat yang telah lama hilang.
"Aku tau itu kau, anakku! Ravettha Toftrelnd Seinoray, putri keempat dan juga pewaris terakhirku." Ucap Rubeus tanpa mempedulikan istri sendiri.
"Sepertinya ada salah paham disini. Bukankah begitu, Ratu?" Tanya Ravettha tersenyum ramah.
Ia mengetahui seorang ratu juga berpikir yang sama hingga sesuai keinginan Ravettha.
Memaksa mengingat siapa anak yang disebutkan suaminya, Lucretia justru memunculkan rasa bersalah.
"K-kamu p-putri terakhirku yang telah k-kubuang?" Tanya Lucretia terkejut dan tidak percaya.
"Menurut anda?" Tanya Ravettha menatap tajam seorang ibu.
"Tidak mungkin! Aku telah merelakanmu pergi. Lalu kau tidak lagi memanggil kami sebagai orang tua? Katakanlah apa tujuanmu datang kemari!" Ucap Lucretia dengan tegas menyatakan kesalahan.
Ia tidak habis pikir mengapa tamu dihadapannya ini bersikap tenang dan bahkan tidak memberi penghormatan.
Terlebih lagi di matanya, anak ini terlalu berani memasuki kawasan kerajaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG