
Rufino yang sedang menangis dengan tiba-tibanya mendapatkan beberapa motivasi yang berasal dari alam bawah sadarnya.
“Benar! Tidak ada salahnya untuk menangis sejenak, tetapi ada satu hal yang harus kuingat, yaitu 'Janganlah terlalut dalam kesedihan karena apabila sudah benar-benar terlarut ke dalamnya kau akan menjadi sangat buruk, seperti menjadi pesimis, kurang percaya diri, kontrol emosi yang buruk, dan masih banyak lagi.' Untuk mengalahkan sifat itu, aku harus berusaha menjadi kuat, menghargai hasil pencapaianmu, dan terbuka kepada orang lain.” Pikir Rufino yang terdiam sejenak untuk mengitropeksi dirinya sendiri.
Setelah berpikir demikian, Rufino langsung dapat melihat dan membayangkan dirinya yang sukses dengan apa yang ia inginkan sehingga dirinya merasa lebih baik lagi untuk bangkit dan melaksanakan sesuatu yang akan membuatnya sukses di kemudian hari.
“SRET!”
Rufino telah bangkit dari kesedihannya dan digantikan dengan aura positif.
“Anak cerdas!” Ucap Ravettha dengan bertepuk tangan karena bangga melihat Rufino berhasil memotivasi dirinya sendiri.
“Baiklah! Sampai mana kita tadi? Peserta pertama, ya? Kalau begitu, lanjut ke peserta kedua!” Ucap Ravettha dengan bersemangat untuk menguji para pesertanya hingga selesai.
Satu persatu para peserta diuji serta diberikan penilaian dan sedikit saran jika diperlukan.
Sangat terliihat jelas bahwa para peserta ujian sangat antusias dengan cara kerja yang dibuat oleh Ravettha dan timnya.
Para peserta yang telah diuji langsung memasuki sebuah dimensi sesuai intruksi Rufino.
“Woah! Sungguh menakjubkan! Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi dan besar serta dikelilingi taman yang indah. Sebenarnya siapa pemimpin kita ini? Dia benar-benar mengagumkan!” Ucap para pasukan dengan sangat terpukau oleh keindahan alam yang sedang dilihatnya.
“Bagus! Saya disini untuk mewakilkan pemimpin kita, Nona Ravettha Toftrelnd Seinoray. Karena kalian semua telah tiba disini... Sambutlah rumah baru kalian! Kami berjanji bahwa kami akan menjamin kesejahteraan hidup kalian. Oleh karena itu, berjanjilah kepada kami bahwa kalian akan mematuhi perintah kami. Keputusan tergantung dari diri kalian.” Ucap Rufino dengan menggunakan hologram yang dapat menampilkan wajah dan suaranya.
“Entah mengapa aku bisa mempercayai pemimpin kita.” Ucap salah satu peserta dengan perasaan yang gembira.
Seluruh peserta yang telah melewati ujian merasakan hal yang sama dan menaruh harapan yang sama kepada pemimpinnya.
Selagi mereka menaruh harapan kepada pemimpinnya, mereka dikejutkan dengan kedatangan pelayan-pelayan yang berparas rupawan dan ramah.
“Permisi, mari saya antarkan tuan dan nyonya sekalian menuju rumah anda.” Ucap para pelayan yang bertugas sebagai bawahan dari divisi pelayanan.
“Ah! Baik!” Ucap para peserta yang telah melewati ujian.
Mereka langsung diantarkan ke masing-masing rumahnya.
__ADS_1
Ada yang berupa apartemen berlantai tiga, lima, sepuluh, dan rumah biasa.
“Ini adalah apartemen anda, Tuan. Apartemen ini dilengkapi dua kamar mandi, tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan seluruh perabotannya.” Ucap pelayan tersebut yang menunjukkannya dengan ramah.
“Luar biasa! Terimakasih banyak, pelayan!” Ucap peserta tersebut.
“Seharusnya anda berterimakasih kepada pemimpin karena dia yang telah bersusah payah membangun semua ini.” Ucap pelayan tersebut.
“Kau benar. Baiklah! Saat aku bertemu dengannya lagi, aku akan langsung berterimakasih.” Ucap peserta tersebut.
Rufino yang telah menonaktifkan layar hologramnya langsung memeriksa respon yang diberikan oleh seluruh peserta tersebut.
“Wohoo!” Ucap Rufino dengan sangat gembira setelah melihat hasil data respon tersebut.
“Ada apa? Kau terlihat sangat senang saat ini.” Ucap Layla yang datang untuk melihat data tersebut.
“Bagaimana menurutmu? Bukankah ini sangat bagus? 89% dari 500.791 penduduk menyetujuinya.” Tanya Rufino.
“Ya. Itu benar.” Ucap Layla dengan menatapi hasil data tersebut.
“TRING!”
Suara pesan masuk berbunyi saat mereka berdua ingin menemui Ravettha.
“Maafkan aku karena tidak bisa bertemu kalian terlebih dahulu sebelum aku pergi. Mungkin kalian akan sedikit sedih, tetapi aku punya urusan yang sangat penting untuk diselesaikan dan kuharap kalian baik-baik saja disini. Tenang saja, aku tidak akan mudah cepat mati, kalian akan selalu ada diingatanku dan jika seandainya aku membutuhkan pertolongan, aku akan langsung memanggil kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Bunyi isi pesan tersebut.
“Apa? Apa maksudnya ini? Yang Mulia akan pergi kemana?” Tanya Rufino yang menjadi khawatir.
“Hei, tenangkan dirimu! Master hanya sedang pergi mengerjakan suatu misi dan aku sangat yakin bahwa master akan kembali lagi.” Ucap Layla.
“Bagaimana kau bisa sangat yakin?” Tanya Rufino dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan pesimis.
“Karena aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.” Ucap Layla.
“Baiklah! Aku percaya denganmu dan aku sangat yakin jika Yang Mulia akan kembali lagi!” Ucap Rufino yang kembali berubah menjadi sangat bersemangat untuk menjalankan apa yang perlu ia lakukan.
__ADS_1
Sementara itu, Ravettha yang telah mempersiapkan dirinya sedang berada di dalam portal menuju keluar portal.
“Ravettha! Ini sudah saatnya aku yang memegang kendali!” Ucap Heilox yang sudah tidak sabar untuk melanjutkan rencananya.
“Ya, ini.” Ucap Ravettha yang melepaskan kendalinya dan menyentuh pundak Heilox untuk memberikan semangat.
“Semoga rencana kita berjalan dengan mulus!” Ucap Ravettha di alam bawah sadarnya dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Heilox yang mendengar dan melihat uluran tangan tersebut merasa lebih semangat dan menerima jabatan tangan Ravettha.
Karena jabatan tangan Ravettha diterima, mereka berdua langsung menguatkan jabatan tangan mereka satu sama lain.
“Ya. Sejauh ini aku senang bekerjasama denganmu, utusanku!” Ucap Heilox dengan tersenyum senang.
“Aku juga!” Ucap Ravettha yang ikut tersenyum senang.
Setelah Heilox dan Ravettha berjabat tangan, Heilox langsung mengambil kendali tubuh Ravettha.
“Hm...!” Gumam Heilox dengan kaki yang melangkah keluar dari portal tersebut.
Sayangnya sebuah kelompok telah menunggu lama di depan pintu keluar portal tersebut dan langsung menyerang siapapun yang keluar dari portal tersebut.
“Wah... Apa-apaan ini? Baru saja tiba di tempat baru langsung diserang! Ah! Aku tahu, ternyata kalian adalah orang bodoh yang sedang berpatroli ya?” Tanya Heilox dengan memasang senyuman terbaiknya.
“Ketua! Jangan dekat-dekat anak itu! Aku yakin dia sangat kuat dan lagi dia sangat menakutkan dengan senyumnya yang aneh!” Ucap salah satu anggota dari lima anggota kelompok.
“Bodoh! Kita tidak punya pilihan lain selain menjadikannya santapan kita! Kau juga tahu bukan bahwa kita sedang mengalami krisis bahan makanan sejak peristiwa itu?” Ucap ketua dari kelompok tersebut.
“Hah? Peristiwa apa? Kau bisa kan memberitahuku sekarang?” Tanya Heilox dengan berjalan menghampiri ketua kelompok tersebut.
“Kau punya apa sebagai alat transaksinya? Ingat ya? Semua itu mahal dan perlu imbalan, nak!” Ucap ketua kelompok tersebut.
“Oh kau benar!” Ucap Heilox dengan terkejut seolah-olah ia sungguh tidak tahu dengan nasihat itu.
Ketua kelompok yang melihat ekspresi calon pelanggannya menjadi sangat senang dan merasa yakin bahwa ia dapat mengelabui pelanggannya demi keuntungan pribadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG