Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Jubah Pelindung


__ADS_3

"Ayah!" Ucap anak Tuan Alex yang langsung memeluk ayahnya.


"Sayang. Hari ini aku dapat pekerjaan yang bekerjasama dengan Nona Ravettha. Perkenalkan, namanya Ravettha Toftrelnd Seinoray." Ucap Tuan Alex kepada istrinya.


"Salam kenal, bu." Ucap Ravettha dengan sopan dan sedikit membungkukkan badan.


"Imutnya...!" Ucap istri Tuan Alex.


"Terimakasih." Ucap Ravettha.


"Perkenalkan ini istriku yang bernama Keilfa Antafunnisha dan ini anakku satu-satunya bernama Helen Flanagan Rudiarf." Ucap Tuan Alex.


"Apa dia rekan kerja ayah?" Tanya Helen.


"Benar. Ini jubah buat kalian. Sebelum Teresa's Moonlight, kalian harus memakainya dengan segera. Jubah ini sudah kuuji secara langsung." Ucap Tuan Alex.


"Berapa harganya, sayang?" Tanya Nyonya Keilfa.


"Karena dibuat dengan membutuhkan proses yang sulit, maka harganya menjadi sangat mahal. Tidak masalah, ayah tidak mau kalian terluka." Ucap Tuan Alex dengan sangat khawatir.


"Baiklah." Ucap Nyonya Keilfa.


"Tunggu sebentar!" Ucap Nyonya Keilfa yang meninggalkan pembicaraan.


Sementara itu, Helen pergi ke kamarnya dan mendengarkan pembicaraan secara bersembunyi.


"Bagaimana jika kita berbincang dahulu?" Tanya Tuan Alex.


"Tentu. Ada yang ingin kutanyakan juga." Ucap Ravettha.


"Aku tidak mempermasalahkan dari mana kau berasal, tetapi yang membuatku penasaran adalah... Kau masih terlalu kecil untuk mempelajari tentang perdagangan. Aku baru pertama kali melihat seorang anak kecil yang cerdik sepertimu. Bahkan anakku saja baru bisa mempelajarinya saat berumur delapan tahun." Ucap Tuan Alex.


"Aku membawakan teh dan kue buatanku. Silahkan dinikmati." Ucap Nyonya Keilfa dengan ramah.


"Padahal anda tidak perlu repot-repot seperti ini." Ucap Ravettha.


"Tidak masalah. Sebuah kehormatan bagi saya untuk menjamu tamu yang berkunjung." Ucap Nyonya Keilfa.


"Terimakasih." Ucap Ravettha dengan ramah.


Ia memakan sepotong kue tersebut.


"Sangat lezat!" Ucap Ravettha yang menyukai kue tersebut.


"Jika anda berkenan, bisakah anda memberitahuku nama kue ini?" Tanya Ravettha.


"Tentu. Ini adalah Boulevar Cakes. Bisa disebut kue pie blueberry. Makanlah yang banyak." Ucap Nyonya Keilfa yang sangat senang mendengar kue buatannya disukai oleh Ravettha.


Karena sangat menyukai kue tersebut, Ravettha langsung menghabiskan seluruh kue tersebut tanpa ia sadari.


"Gawat! Aku menghabiskannya!" Pikir Ravettha.


"Pft. Jangan sungkan-sungkan, kami masih memilikinya." Ucap Nyonya Keilfa.


"Tidak. Tidak perlu. Itu terlalu banyak." Ucap Ravettha yang sangat malu karena telah memakan semua makanan yang disediakan oleh tuan rumah.


"Benar. Kau bisa memakannya lagi. Apa yang ingin kau tanyakan sebelumnya?" Tanya Tuan Alex.

__ADS_1


"Jika saya boleh tahu, berapa jumlah penduduk desa ini?" Tanya Ravettha yang kembali serius.


"Jumlahnya kurang lebih 5.000 penduduk." Ucap Tuan Alex.


"Ini akan menjadi lebih mudah." Gumam Ravettha.


"Apa yang menjadi lebih mudah?" Tanya Tuan Alex yang mendengar gumaman Ravettha tersebut.


"Maksudku, akan lebih mudah untuk menjualkan dengan sangat cepat jika dilakukan sekarang daripada menundanya." Ucap Ravettha yang sedikit tersenyum senang.


"Ya, kau benar." Ucap Tuan Alex.


"Kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang!" Ucap Ravettha dengan semangat.


"Baiklah." Ucap Tuan Alex.


"Sayang. Aku pergi kerja dahulu. Titipkan salam untuk putri kecilku." Ucap Tuan Alex kepada Nyonya Keilfa.


"Tentu, sayang. Hati-hati dijalan!" Ucap Nyonya Keilfa yang melambaikan tangan kepada suaminya.


"Dimana tempat yang paling teramai?" Tanya Ravettha.


"Biasanya berada di pusat desa. Tempat itu berada di dekat perpustakaan desa Haelfax yang tidak jauh dari sini." Ucap Tuan Alex.


"Baiklah. Kita kesana saja." Ucap Ravettha.


Tuan Alex setuju dan mengikutinya menuju pusat desa Haelfax.


Saat di perjalanan, ia melihat banyak sekali penduduk yang melintasi jalanan tersebut.


"Ini belum seberapa ramai dibandingkan dengan di pusat desa." Ucap Tuan Alex.


Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di tempat tujuan.


"Benar-benar sangat ramai! Bahkan lebih ramai dari tempat yang sebelumnya kukunjungi." Pikir Ravettha.


Ravettha yang sudah menyiapkan seluruh perlengkapan untuk penjualannya membagi tugas kepada Tuan Alex.


Ravettha menarik semua perhatian para pengunjung di desa tersebut.


Tuan Alex membantu melayani seluruh pembelinya.


"Woah!!! Apa ini? Jubahnya terlihat sangat menarik!" Ucap salah satu pengunjung.


"Benar! Bisakah kau jelaskan pada kami kegunaan jubah ini?" Tanya salah satu pengunjung lainnya.


"Tentu. Jubah ini adalah jubah yang dapat melindungi dari segala macam sihir. Mari kita buktikan!" Ucap Ravettha.


Ia menunjukkan segala kelebihan dari jubah tersebut hingga membuat seluruh pengunjung yang ada di pusat desa membelinya.


Tidak hanya itu, para pengunjung yang telah membeli jubah tersebut ikut mengajak seluruh warga desa untuk membeli jubah tersebut.


Hal itu tidak membuatnya merasakan lelah, justru ia menjadi sangat bersemangat kembali.


"Bagus! Mereka akan memakainya dan sekaligus melindunginya dari Teresa's Moonlight. Dengan begitu, aku tidak perlu susah-susah menolong secara langsung." Pikir Ravettha.


"Hah! Akhirnya penjualan kita sudah habis dibeli seluruh warga desa." Ucap Tuan Alex.

__ADS_1


"Anda benar. Ini bayaranmu dan ini bonus tambahannya. Senang bekerjasama dengan anda." Ucap Ravettha dengan sangat senang.


Tuan Alex sangat terkejut kembali karena menerima bonus tambahan dari Ravettha.


"Tunggu... Kenapa aku mendapatkan bonus tambahan yang sangat besar?" Tanya Tuan Alex.


"Anda telah bekerja keras untuk membantu menjual semuanya. Anda pantas mendapatkannya." Ucap Ravettha dengan tulus dan penuh senyuman.


"Terimakasih, nak. Saya juga sangat senang bekerjasama dengan anda." Ucap Tuan Alex.


"Ya. Kalau begitu, aku pergi dahulu. Sampai jumpa, Tuan Alex. Sampaikan salamku kepada Nyonya Keilfa dan putri anda." Ucap Ravettha dengan sopan.


"Tentu." Ucap Tuan Alex.


Ravettha dan Tuan Alex berpisah dan pergi menuju tujuannya masing-masing.


Tuan Alex pergi menuju rumahnya.


Sementara itu, Ravettha berencana untuk menetap selama sehari hingga esok pagi.


Ia ingin melihat dan melindungi seluruh warga desa tersebut dari suatu tempat.


Untuk itu, ia mencari sebuah tempat yang dapat digunakan sebagai tempat bersinggah sementaranya.


Ia pun berjalan terus hingga bertemu sebuah penginapan yang berada di pusat desa tersebut.


Penginapan tersebut tidak terlalu megah dan mewah, tetapi sangat nyaman.


Semua perabot di rumah penginapan tersebut terbuat dari alam.


Ia pun memasuki rumah penginapan tersebut.


"Sepertinya sudah menjadi tradisi desa ini yang menggunakan bahan-bahan alami sebagai kebutuhan hidupnya." Pikir Ravettha.


"Permisi. Apakah ini benar Rumah Penginapan Dealfaxt?" Tanya Ravettha.


"Benar. Anda ingin memesan kamar yang mana?" Tanya seorang pelayan tersebut.


"Yang biasa saja." Ucap Ravettha.


"Baik." Ucap pelayan tersebut yang sedang menulis sesuatu di buku tamu, lalu mengantarkan Ravettha ke kamar yang dipesannya.


"Tidak ada gunanya membuang uang hanya untuk hotel yang akan kutempati selama sehari. Besar kemungkinan, mereka akan memberikan pelayanan terendah. Tidak masalah karena bukan itu yang kuinginkan." Pikir Ravettha.


"Mari saya antarkan menuju kamar anda." Ucap seorang pelayan tersebut.


"Ya." Ucap Ravettha.


Mereka berdua berjalan menuju kamar yang telah dipesan.


Saat pelayan tersebut membuka pintu kamar tersebut, Ravettha tidak terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat.


Kamar yang ia pesan tidak terlalu buruk melainkan kamar yang sangat bersih, dan tertata rapih.


"Kalau begitu, saya permisi. Panggil kami jika anda membutuhkan sesuatu." Ucap seorang pelayan tersebut.


"Baiklah." Ucap Ravettha.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2