
Benar saja, ledakan tersebut berhasil memakan banyak korban dan juga membuat dirinya sendiri di kehidupan pertamanya tewas termasuk pelaku dan Veronica, sahabatnya sendiri.
Laboratorium tersebut hancur tanpa menyisakan sedikitpun, kecuali para mayat yang terbakar layaknya abu hitam yang pekat.
Para mahasiswa dan mahasiswi di gedung dan juga ruangan lain yang letaknya berjauhan langsung berlarian ke tempat kejadian perkara setelah mendengar suara ledakan yang tidak biasa tersebut.
Para detektif, polisi, wartawan, dan pihak terkait mulai berdatangan, sedangkan sebagian dosen memerintahkan para mahasiswa dan mahasiswinya untuk tetap melakukan aktivitas belajar mengajar seperti biasanya dan sebagian dosen lainnya menjadi saksi peristiwa tersebut.
"Sempurna! Semuanya berjalan lancar!" Gumam pria berjubah hitam yang tidak lain adalah 'CR'.
Ia juga turut menyaksikan peristiwa meledaknya laboratorium dari tempat yang lumayan jauh dari kerumunan.
Bersamaan dengan hal tersebut, ingatan yang ditunjukkan telah berhenti berputar.
Ravettha yang masih penasaran dengan kelanjutan cerita di kehidupan masa lalunya langsung mencoba untuk mencari lagi peristiwa-peristiwa yang telah ia lewati, tetapi tidak ada satupun yang berhasil.
Ia yang telah mencari dari berbagai sumber, seperti pusat 'Times World' juga menunjukkan hasil yang sama.
Sebelum ia hampir dibuat kecewa dengan hasil pencariannya, di pikirannya langsung terlintas beragam ide dan solusi.
Ia mulai menyusun seluruh rencananya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Hal tersebut memudahkannya untuk mengetahui apa yang harus dilakukannya saat ini maupun kedepannya.
Karena ia telah menetapkan rencana, sumber, dan daftar yang harus, tidak harus tapi penting, tidak harus dan tidak penting, dan yang harus dihindari, langsung menggerakkan dirinya untuk memulai pekerjaannya saat ini.
"Cepat atau lambat kita akan segera bertemu, Cedric!" Gumam Ravettha dengan melangkahkan kakinya keluar dari 'Times World'.
Begitu ia membuka pintu keluar dari 'Times World', sebuah pesan notifikasi dari sistem tersebut kembali muncul untuk mengirimkan pemberitahuan.
"Ding~!"
"Anda dapat kembali ke rumah anda! Apakah anda menyetujui untuk berpindah dimensi sekarang juga?" Bunyi isi pesan tersebut.
"Tentu saja." Ucap Ravettha dengan tersenyum licik karena ia tahu bahwa dunia aslinya yang menghubungkan Cedric dengan segala macam rencana liciknya.
"Persetujuan diterima! Anda akan segera tiba di rumah anda!" Bunyi isi pesan tersebut.
__ADS_1
Sebuah portal berukuran sedang muncul di atap kamar Ravettha.
"BRUK!!!"
Ia langsung terjatuh dan mendarat di atas tempat tidurnya dengan posisi yang sedang duduk.
Ia langsung bangun dari tempat tidurnya dan memeriksa apakah kondisi fisiknya baik-baik saja.
"Benar...!" Pikir Ravettha dengan mengingat percakapannya dengan Falext sebelum memasuki 'Tower Oltorn'.
Pamannya yang sedang berada di ruangan sebelah mendengar suara sesuatu yang terjatuh.
Ia yang curiga bahwa itu adalah pencuri langsung pergi memeriksa kondisi Ravettha yang belum sadar karena pingsan.
"Ada apa, kak? Kau terlihat terburu-buru." Ucap Ellievont yang merupakan ayah angkat Ravettha sekaligus adiknya Elliovent.
"Aku ingin memeriksa keadaannya karena mendengar sesuatu yang jatuh dari kamar Tuan Putri." Ucap Elliovent yang merupakan paman angkat Ravettha sekaligus kakaknya Ellievont.
Mereka berdua langsung memasuki kamar Ravettha secara bersamaan.
"KLIK!"
"Ravettha! Putriku! Apa ada yang terluka? Kepala? Tangan? Tulang? Mata?" Tanya ayah dengan memeriksa seluruh anggota tubuh anaknya.
Kekhawatiran seorang ayah yang melebihi ayah lainnya membuat Ravettha ingin tertawa kecil.
"Kondisi fisikku baik-baik saja, ayah. Aku sangat merindukan ayah dan paman! Kalian berdua adalah yang terbaik!" Ucap Ravettha dengan memeluk ayah dan pamannya.
Mendengar hal tersebut, ayah dan paman menjadi tersentuh dengan perkataan Ravettha.
Sedangkan Ravettha sedang melihat apa saja yang terjadi selama dirinya berada di 'Tower Oltorn' melalui kemampuan 'Eye Sighting' miliknya.
"Haha! Kau berkata seperti itu layaknya orang jauh yang baru bertemu saja!" Ucap ayah dengan mengeluarkan sedikit candaan dibalik perkataannya.
"Apa ada seseorang yang masuk ke kamar ini selain dirimu dan kami?" Tanya paman yang sedang mencari-cari seseorang yang bersembunyi di ruangan tersebut.
Ravettha hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia tidak tahu akan hal tersebut.
__ADS_1
"Kak! Jaga dia untukku! Aku akan mengambil beberapa makanan untuk Tuan Putri kita!" Ucap ayah dengan melangkahkan kakinya menuju ke ruang dapur.
"PUK!"
Paman langsung menepuk kedua pundak Ravettha lalu membisikkan sesuatu.
"Keponakanku! Aku membawakan hadiah kesukaanmu! Temui paman setelah menyelesaikan semua pr sekolahmu, ya?" Bisik paman saat ayah sedang mengambil makanan di dapur.
"Siap! Laksanakan, Kapten!" Ucap Ravettha secara spontan karena ia tahu hadiah apa yang dimaksud oleh pamannya.
"Makanan kesukaan putriku telah datang! Makanlah sebelum hidangannya menjadi dingin." Ucap ayah yang baru saja datang membuka pintu kamar Ravettha dengan membawa sebuah nampan yang di dalamnya terdapat semangkuk bubur, sayur, buah-buahan, dan segelas air putih.
"Terimakasih, ayah! Apa ayah dan paman sudah makan?" Tanya Ravettha dengan melihat ayah dan pamannya sedang mengkhawatirkan kondisi dirinya.
"Jangan pikirkan kami, putriku! Kami bisa makan kapan saja dan kami sudah melakukannya. Sekarang kamu makanlah dengan tenang, ya?" Tanya ayah dengan membelai kepala Ravettha dengan penuh kasih sayang.
"B-Baik, ayah." Ucap Ravettha dengan mengambil alat makan dan menyuapi hidangan tersebut ke dalam mulutnya.
"Ayah, paman! Bisakah kalian menceritakan apa yang terjadi sebelum aku terbaring di kasur?" Tanya Ravettha dengan mulut yang masih mengunyah makanan dengan lahap.
Wajar saja ia merasa kelaparan dan makan dengan lahap karena ia jarang makan selama di 'Tower Oltorn'.
Bukannya sedang malas atau tidak mau makan, ia hanya merasa tidak perlu makan karena setiap kenaikan lantai, dirinya selalu merasa kenyang dan dipenuhi energi yang melimpah ruah.
"Baiklah! Karena kami suka melihatmu yang makan dengan lahap ini, maka kami akan menceritakannya kepadamu." Ucap paman dengan tersenyum senang.
"Kami berdua mendapatkan firasat buruk di waktu yang bersamaan. Karena kami berdua terlalu khawatir satu sama lain, kami berkomunikasi lewat surat. Awalnya kami tidak menemukan kejadian buruk di antara kami hingga kami mendapatkan surat dari wali kelasmu." Ucap ayah.
"Dia mengatakan bahwa kau hanya pingsan setelah keluar dari 'Nightmare Labyrinth' saat jam pelajaran olahraga. Para guru telah mengklarifikasi bahwa kau hanya pingsan biasa, tetapi ayahmu memutuskan untuk membawamu pulang untuk sehari saja." Ucap paman dengan melirik ke arah ayah.
"Sudah berapa lama aku pingsan, ayah, paman?" Tanya Ravettha dengan sangat penasaran dan mengambil segelas air putih yang ada di atas nampannya.
"30 detik yang lalu." Ucap ayah.
Ravettha yang mendengarnya langsung tersedak karena terkejut dan membayangkan berapa hari yang telah ia lewati selama di 'Tower Oltorn'.
"Aduh! Pelan-pelan minumnya, putri manisku!" Ucap ayah secara spontan langsung mengeringkan bekas tumpahan air minum Ravettha sementara paman memberikan beberapa helai tisu dan sebuah kipas untuk membantu ayah.
__ADS_1
BERSAMBUNG