Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Keingintahuan Yang Tinggi


__ADS_3

Sorayna memasuki kamar Levord terlebih dahulu karena ia sangat yakin bahwa sahabat laki-lakinya yang satu ini sangat mudah untuk dibangunkan dari tidurnya.


Dengan tidak ragunya, ia memasuki sebuah kamar Levord yang berada di dekat tangga.


"KLIEET!"


Derit daun pintu berbunyi dan hal tersebutlah yang membuat pemilik kamar menyadari kehadirannya.


Levord yang sedang menata ulang kamarnya serapih dan seindah mungkin pun menjadi mulai waspada.


"Sorayna? Kau datang kemari untuk membantuku atau ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Levord dengan menaruh tiga buah pigura di tangannya ke dinding.


"Tidak dua-duanya. Aku ingin kita mendiskusikan sesuatu di ruang tamu!" Ucap Sorayna dengan tersenyum kecil.


"Bagus! Dengan begitu, aku tidak perlu membereskan tempat ini!" Ucap Levord dengan meninggalkan para perabotan kamarnya yang masih berantakan.


Ia berjalan keluar dari kamarnya dan menghampiri ruang tamu seperti yang Vicenzo lakukan.


Saat Sorayna ingin memasuki kamar Kalvetno, ia justru mendapati sorot mata yang tidak bertenaga dari Kalvetno.


"K-Kalvetno?!" Tanya Sorayna dengan sedikit terkejut.


"Kenapa bertanya lagi? Kau tidak salah masuk kamar, kan?" Tanya Kalvetno dengan melirik jam dinding di kamarnya.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Sudah sangat berbaik hati aku mau mempertanyakan pendapatmu di ruang tamu. Oh ya! Jangan katakan jika kau hanya ingin bermain-main, Kalvetno!" Ucap Sorayna dengan berbalik badan dan menghampiri ketiga sahabatnya di ruangan yang telah mereka janjikan.


Tepat di ruang tamu, Levord langsung mengeluarkan 'Invisible Armor' miliknya dengan tujuan menyamarkan dan memperkuat targetnya.


Tidak ada yang dapat memasuki 'Invisible Armor' miliknya tanpa persetujuan dari Levord.


"Dengar semuanya! Undangan kerajaan yang telah kita dapatkan hanyalah sebuah jebakan! Kedatangan kita ke 'Igbonefo Stardust', pertemuan dengan Ezcha, dan kedatangan kita kemari adalah ulah dari sekelompok orang!" Ucap Sorayna dengan menyimpulkan penjelasannya secara singkat dan padat.


"Bagaimana caramu dapat menyimpulkan sedemikian rupa?" Tanya Kalvetno dengan mulai menatap Sorayna dengan serius.


"Aku menjadi yakin dengan sepenuhnya setelah memperhatikannya dengan lebih detail! Saat kita masuk ke dalam dunia 'Igbonefo Stardust', kita bertemu dengan tulisan kuno, dimana kita juga bertemu dengan ahli penerjemahnya. Awalnya aku tidak mempercayai tradisi dan kepercayaan ras lain, tetapi semua itu berubah setelah mengalami peristiwa ini bersama-sama." Ucap Sorayna dengan mengingat hal yang berkesan bagi dirinya.

__ADS_1


"Tulisan kuno yang mengatakan bahwa setiap medium pemberhentian akan ada hal yang terduga?" Tanya Vicenzo dengan tidak percaya dengan isi pembicaraan terakhir Sorayna.


"Ya! Meskipun kau tidak menjelaskan alasannya lebih lanjut, kami tahu bahwa kau juga sedang menguji coba hasil spekulasimu. Selain itu, kita tidak tahu siapa induk Ezcha kecil kita ini, jadi kupikir ini adalah cara yang bagus untuk mengatakannya sebagai jebakan penduduk asli, bukan?" Tanya Sorayna dengan menggendong Ezcha dan memberikan senyuman terbaiknya.


"Apa maksudmu kita harus berpindah haluan?" Tanya Levord dengan mengernyitkan alisnya.


"Tidak sepenuhnya!" Ucap Sorayna dengan meyakinkan dirinya sendiri.


Mendengar jawaban tersebut membuat keempat sahabatnya tidak bereaksi sedikitpun.


Tatapan mata yang saling memandang satu sama lain menghasilkan sebuah persetujuan.


"Kurasa kami mulai memahami langkah kedepannya, Sorayna!" Ucap Kalvetno dengan menepuk-nepuk kedua pundak Sorayna dengan tersenyum bangga.


"Mari kita mainkan perannya!" Bisik Levord di telinga Sorayna.


"Jangan terlalu berharap hasil akhirnya!" Ucap Vicenzo dengan menggunakan telepatinya.


Sorayna yang mendengarnya menjadi lebih senang daripada sebelumnya.


Ia langsung memutuskan untuk mengajak keempat sahabatnya berkeliling villa penginapan selama 20 menit kedepan sebagai bentuk pengamatan lapangan.


"Urgh...! Ada apa dengannya?" Tanya Kalvetno yang melihat Levord bersamaan dengan mengerutkan dahinya.


"Entahlah. Yang jelas, Levord ingin kita selamat keluar dari sini bersama-sama!" Ucap Vicenzo dengan mengambil segelas air minum di dapur.


Mendengar perkataan yang baru saja Vicenzo ucapkan, perhatian yang awalnya dipenuhi rasa keheranan berubah menjadi kewaspadaan tingkat tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.


Levord, Vicenzo, Kalvetno, Sorayna, dan Ezcha hanya mengambil seluruh kebutuhan terpentingnya sehingga tidak memerlukan waktu dan tenaga yang banyak.


"Bagaimana? Apa kalian sudah siap?" Tanya Kalvetno dengan memperhatikan keempat sahabatnya yang sudah siap.


Ia berdiri di depan pintu keluar villa penginapan dan tidak lupa juga dengan api semangat yang membaranya.


"Ya!" Ucap Levord, Vicenzo, dan Sorayna secara bersamaan, sedangkan Ezcha justru tertawa dengan penuh kegirangan.

__ADS_1


"Baiklah! Ayo kita bermain!" Teriak Kalvetno dan Sorayna secara berturut-turut.


Saat Vicenzo yang ingin membuka pintu, seseorang yang tidak lain adalah Gelliert berdiri mematung seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu sebelum mengetuk pintu.


Ekspresi wajah yang datar berubah dengan seketika.


Kedamaian di sela-sela pekerjaan yang ingin kelima sahabat rasakan walaupun hanya sedikit tidak berhasil terwujud karena dirinya.


"Saya pikir Tuan-Tuan dan Nona belum bersiap-siap! Yang Mulia Raja dan Ratu sudah tidak sabar menyambut kalian-...!" Ucap Gelliert yang belum selesai mengucapkan perkataannya.


"Terima kasih sudah bekerja keras menjalankan tugasmu sebagai kaki tangannya, Gelliert!" Ucap Levord dengan secepat dan sejelas mungkin bagi lawan bicaranya.


Gelliert yang mendengarnya langsung merasa kebingungan dengan maksud perkataan Levord.


"Saya masih belum mengerti apa yang anda maksud, Tuan Levord. Bisakah anda menjelaskannya lebih lanjut?" Tanya Gelliert yang berterus terang bahwa ia sama sekali tidak mengerti.


"Tentu saja! Tanpa kukatakan, kau pasti akan mencari tahunya sendiri, bukan?" Tanya Levord dengan berjalan membelakangi Gelliert dan langkah kakinya menjadi pembuka dari keempat sahabatnya.


Tidak ada rasa kebencian ataupun dendam, suasana hati mereka yang stabil mempermudahnya dalam bernegosiasi dan menyelesaikan ujiannya.


"Lupakan perkataan anak ini! Bisakah kau menjelaskan hal menarik dari tempat ini?" Tanya Sorayna yang diam-diam menginjak jari-jari kaki kiri Levord.


Meskipun terinjak, hal tersebut tidak cukup menyakiti diri Levord sehingga ia memilih untuk mengabaikannya sementara waktu.


"Dengan senang hati akan saya jelaskan!" Ucap Gelliert dengan sangat bersemangat sekaligus memandu para tamu kerajaan tiba di tujuannya.


"'Crystieland' adalah sebuah kota besar di bawah naungan pemerintah pusat sejak 62 abad yang lampau. Nama Crystieland berasal dari masyarakatnya yang rata-rata merupakan penghasil kristal terbaik. Meskipun berada di bawah naungan pemerintah pusat, segala persetujuan harus berdasarkan keputusan Raja dan Ratu 'Pure Crystal Palace'." Ucap Gelliert dengan meringkasnya sepadat mungkin.


"Sudah lama sekali! Kami bahkan belum lahir!" Teriak Kalvetno yang terkejut setelah membayangkan apa yang telah dikatakan oleh Gelliert.


Gelliert hanya dapat tersenyum malu dan tidak berani menanyakan hal pribadi lebih lanjut sehingga membuat dirinya terkesan terlalu serius.


"Jangan terlalu tegang begitu! Lain kali, ajak kami menelusuri keunikan kota ini, ya?" Tanya Sorayna dan diikuti tatapan mata yang penuh harapan dari Kalvetno, dan, Levord.


"Senang mendengar kalian tertarik dengan keunikan kota sederhana kami!" Ucap Gelliert dengan tersenyum senang dan penuh kehangatan terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


Pancaran energi positif tersebut tersalurkan dengan baik kepada lima sahabat tersebut dan mereka juga menyukainya.


BERSAMBUNG


__ADS_2