Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Tamu Yang Tidak Diundang


__ADS_3

Ravettha langsung memasuki sebuah ruangan yang lumayan luas untuk para pembuat kue.


Banyak para chef yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya mulai dari membuat, memanggang, menghias kue, dan masih banyak lagi.


Aroma khas kue di ruangan tersebut membuat Ravettha sangat menyukainya dan ingin memakan seluruhnya.


Sayangnya ia ingat bahwa bukan itu tujuannya sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan urusannya bersama pelayan yang ingin mengajarinya cara membuat pie blueberry.


"Baiklah! Aku sudah menyiapkan seluruh bahan-bahan dan perlengkapan yang diperlukan. Kau harus memperhatikanku karena aku tidak akan mengulanginya kembali." Ucap pelayan tersebut dengan tegas.


"Baik." Ucap Ravettha.


Ia langsung memperhatikan seluruh pembuatan kue pie blueberry tersebut.


Pembuatan kue pie blueberry tersebut tidak memakan waktu yang lama bahkan tidak sampai lima menit.


Hal tersebut dikarenakan mereka menggunakan kemampuan 'Sihir Masak'.


Kemampuan tersebut adalah kemampuan yang biasa digunakan untuk mempercepat waktu dalam memasak, mengatur suhu kematangan di hidangan, dan ketepatan seluruh unsur hidangan tersebut.


Untuk dapat memperoleh kemampuan tersebut, mereka diharuskan untuk mempelajari seluruh pengetahuan tentang dunia kuliner.


"Lihat! Sudah siap dihidangkan! Silahkan mencoba! Kali ini gratis!" Ucap pelayang yang mengajari Ravettha membuat kue pie blueberry.


"Wah! Terimakasih! Ini sangat lezat! Anda sangat mengagumkan! Anda bahkan bisa membuat kue itu dengan sangat lezat dan tidak membutuhkan waktu yang lama!" Ucap Ravettha dengan sangat kagum kepada pelayan tersebut.


"Ah, ini bukan apa-apa! Melihatmu sangat menyukainya mengingatkanku dengan putraku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun begitu, ia tetap menyukai pie blueberry buatanku. Ia bahkan tidak ingin memakan kue selain kue buatanku." Ucap pelayan tersebut dengan tersenyum senang.


"Aku yakin putra anda selalu memikirkan dan merindukan anda." Ucap Ravettha.


"Kuharap juga begitu." Ucap pelayan tersebut.


"Baiklah. Aku ingin membayar semua belanjaannya termasuk temanku yang masih diluar." Ucap Ravettha dengan menunjuk ke pintu keluar.


"Baiklah. Mari saya antarkan anda keluar." Ucap pelayan tersebut.


Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Saat Ravettha sudah di luar ruangan pembuatan kue, ia telah ditunggu oleh Rufino yang sibuk menggenggam kantung persediaan makanan sesuai permintaan Ravettha.


"Yang Mulia! Aku sudah berhasil membeli sesuai permintaan anda." Ucap Rufino dengan tersenyum senang dan mengharapkan pujian dari Ravettha.


"Kerja bagus, Rufinoku! Anak pintar!" Ucap Ravettha dengan mengacak-acak rambut Rufino yang berwarna merah darah.


Rufino menjadi sangat senang karena telah mendapatkan perhatian dari Ravettha.

__ADS_1


Sementara itu, Ravettha meminta pelayan yang mengantarnya tadi untuk menghitung seluruh belanjaannya.


"Biasakah anda menghitung semua belanjaanku?" Tanya Ravettha kepada pelayan tersebut.


"Untuk masalah ini, anda harus menuju kasir yang ada disana." Ucap pelayan tersebut dengan menunjuk ke arah seorang kasir yang sedang melayani para pembeli.


"Oh, baiklah! Terimakasih!" Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.


Ia dan Rufino berjalan menuju tempat kasir tersebut.


"Biar aku saja yang mengantri!" Ucap Rufino kepada Ravettha.


"Oh baiklah! Ini uangnya!" Ucap Ravettha dengan mentransfer uang kepada Rufino.


Uang tersebut dapat digunakan oleh Rufino untuk membayarnya dengan mudah.


Karyawan kasir tersebut menghitung seluruh total harga hidangan yang dibeli oleh Ravettha dan Rufino.


"Total harganya adalah 89.000 Rix, tuan." Ucap karyawan kasir tersebut.


"Oh, ini uangnya." Ucap Rufino dengan memberikan 12 koin perak yang setara dengan 89.000 Rix.


"Ini kembaliannya, tuan." Ucap karyawan kasir tersebut.


"Terimakasih. Silahkan kembali lagi." Ucap karyawan kasir tersebut.


Ravettha langsung mentransfer seluruh persediaan makanan tersebut kepada Falext untuk dibagikan kepada para manusia yang telah bermutasi tersebut.


"Master? Padahal anda tidak perlu mengirimkan sebanyak ini! Mereka saja bahkan tidak membutuhkan makanan." Ucap Falext dengan penuh penasaran.


"Tidak masalah! Simpan saja makan itu di dalam kotak pendingin makanan. Kotak itu akan menyimpan seluruh persediaan. Kau dan yang lainnya bisa memakan makanan tersebut kapan saja." Ucap Ravettha.


"Tapi master!" Ucap Falext dengan penuh keraguan.


"Aku tidak ingin mendengar penolakan lagi! Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan kau dan lima partnerku?" Tanya Ravettha dengan penasaran.


"Seperti biasa, aku sedang sibuk mengurus seluruh berkas anda. Sedangkan lima partner lainnya sedang sibuk dengan melatih para manusia yang telah bermutasi untuk mempelajari banyak hal, terutama di bidang pendidikan dan pertarungan." Ucap Falext.


"Bagus! Akan kunantikan hasil kerja keras kalian!" Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.


"Tentu saja, master." Ucap Falext.


"Jika berjalan sesuai rencana, untuk kedepannya akan sangat mudah!" Pikir Ravettha dengan berjalan menuju toko yang lainnya bersama Rufino.


Sejam kemungkinan, mereka telah berbelanja banyak hal mulai dari pakaian hingga obat-obatan.

__ADS_1


Karena terlalu banyak barang yang telah mereka beli, Ravettha memasukkan seluruh barang tersebut ke dalam tas penyimpanannya.


"Baiklah, Rufino! Ayo kita ke tempat kunjungan terakhir!" Ucap Ravettha dengan sangat bersemangat.


"Tentu, Yang Mulia." Ucap Rufino dengan mengangguk setuju kepada Ravettha.


Mereka berdua berjalan mengendap-endap karena ingin memasuki istana Ratu Ophelia dengan sangat berhati-hati.


Ravettha menjadi sangat penasaran dengan latar belakang ratu tersebut dan juga keadaan yang sebenarnya dari seluruh wilayah di 'Wynciouft Land'.


Sementara itu, di dalam gedung penelitian pusat 'Wientirly Village' terdapat para peneliti yang sedang mendiskusikan sesuatu.


Jumlah para peneliti yang sedang berdiskusi tersebut berjumlah enam orang.


"Lalu bagaimana ini? Aset berharga kita langsung menghilang dalam sekejap? Siapa yang berani mengambilnya? Jika saja aku bertemu penculik aset kita, rasanya akan kubunuh dia!" Ucap peneliti kesatu yang merupakan ketua para peneliti.


"Aku rasa orang menculik aset berharga kita adalah pengunjung luar. Tidak masuk akal jika penduduk asli yang sudah tinggal disini tidak mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh Yang Mulia Ratu." Ucap peneliti kedua.


"Kau ada benarnya juga!" Ucap peneliti kelima.


"Bagaimana jika kita langsung bertindak untuk melaporkannya kepada Yang Mulia Ratu?" Tanya peneliti ketiga.


"Sebaiknya jangan melaporkannya." Ucap peneliti keenam.


"Kenapa? Bukankah itu akan lebih mudah daripada melakukan pencarian?" Tanya peneliti keempat.


"Memang benar akan menjadi lebih mudah, sayangnya Yang Mulia Ratu sangat tidak menyukai kegagalan. Sekali saja kita membicarakan tentang kegagalan di hadapannya, kita pasti akan dihukum. Dan juga... Jangan sampai di antara kita ada yang menjadi mata-mata!" Ucap peneliti pertama dengan tegas.


"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya peneliti ketiga.


"Anggap saja kita sudah membuang para manusia itu. Lagipula, mereka sudah tidak bisa dihentikan lagi." Ucap peneliti pertama.


"Kali ini aku setuju denganmu." Ucap peneliti keempat.


"Baiklah, kita harus memulai pekerjaan kita lagi! Hari ini kita akan pulang lebih cepat!" Ucap peneliti pertama.


"Baik!" Ucap para peneliti lainnya.


Di balik pendiskusian tersebut, terdapat seseorang yang tidak diundang justru datang dengan mendapatkan informasi yang berharga.


Mengetahui hal tersebut, ia memilih untuk kembali dan membalaskan dendamnya.


"Tunggu aku, kawan lama. Akan kuberikan sesuatu yang spesial untukmu." Ucap tamu tidak diundang tersebut dengan tersenyum licik.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2