
"GRAB!"
"Coba katakan sekali lagi!" Ucap Pak Cheidon dengan tersenyum ramah.
Hanya dua muridnya ini saja yang merasa senyuman gurunya lebih menyeramkan dari seringaian ataupun tawa iblis.
Tubuhnya bergetar dan kedua arwahnya tidak dapat melawan lagi.
"Aku guru yang angkuh?" Tanya Pak Cheidon menangkap dan mencengkeram kedua muridnya layaknya membawa tas di punggung dan di tangan.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan mengaku kalah!" Teriak jiwa Ravettha yang justru sangat ingin memberontak.
"Huhuhu...! Kuharap nasibku tidak semalang ini. Atau aku lebih baik menggali makamku sendiri ya?" Tanya jiwa Rencouff yang pasrah dan bertolak belakang dengan rekannya.
Pak Cheidon yang masih marah ternyata telah menyiapkan sebuah permainan.
Dibandingkan memberikan hukuman, dirinya lebih suka membuat permainan sekaligus pelatihan dalam satu tempat.
"Hohoho! Aku ingin melihat bagaimana dua bocah tengik ini merengek dan memohon ampun. Ide cermelang seperti ini tidak boleh disia-siakan!" Pikir Pak Cheidon dengan memeriksa kondisi di sekitarnya sebelum melaksanakan rencananya.
Situasi telah menjadi lebih damai.
Lapangan pelatihan yang berantakan kembali berubah seperti sedia kali, yaitu rumput hijau dan subur.
Rumput hijau tersebut sangat sesuai sebagai perpaduan di dalam tantangan tersembunyinya.
"Perhatikan baik-baik! Kalian tidak akan mendapatkan kesempatan emas ini di kelas Pak Chayton, jadi kalian harus menemukan 7 tantangan tersembunyi dari 'Shark Boot Camp'. Kuberikan waktu 35 menit. Menyerah di permainan ini, maka tidak ada satupun dari kalian yang berhak jadi murid resmiku!" Ucap Pak Cheidon sebaik mungkin menyembunyikan wajahnya senangnya dari Ravettha dan Rencouff.
"Menemukan? Apa itu berarti kami harus melakukannya dengan usaha sendiri?" Tanya Ravettha mencari-cari letak jam.
Ia benar-benar ingin memastikan berapa banyak waktu yang telah terbuang hanya untuk bertanya.
"Tentu saja! Tunggu apa lagi? Cepat selesaikan!" Ucap Pak Cheidon yang kesal mengetahui respon kedua muridnya termasuk kategori lambat.
"Ravettha! Permainan ini ada larangan. Apa kau yakin kita bisa menyelesaikannya?" Tanya Rencouff berlari menuju papan petunjuk.
"Katakan apa larangannya!" Ucap Ravettha memperhatikan beberapa tanda dimulainya permainan.
"Zona tanpa sihir. Dengan kata lain, apapun yang berhubungan dengan sihir, dilarang." Ucap Rencouff mengambil inti pesan dari peraturan yang tersedia di papan petunjuk.
Seperti yang dikatakannya, Ravettha juga tidak bisa menggunakan sihir.
Sementara situasi semakin mendesak, kumpulan bunga berubah wujud menjadi monster raksasa.
Mereka terlihat kelaparan dan sangat siap memakan apapun yang memiliki sumber energi.
"Jika sihir pemanggil pun tidak bisa digunakan, kesempatan yang ingin ia nikmati adalah pertunjukan penyelamatan diri." Pikir Ravettha dengan melihat ke sekelilingnya.
__ADS_1
"GRRAAA!!!"
"Tangkap ini!" Teriak Rencouff dari kejauhan, sedangkan satu lengannya melempar sekantung bahan.
Menyadari sekantung bahan telah terbang menuju Ravettha, dengan spontannya ia langsung menangkap seperti yang disarankan Rencouff.
Ia tidak tahu apa maksudnya, akhirnya mulai memahami sedikit demi sedikit.
"Benar-benar deh...!" Gumam Ravettha dengan mengambil sebilah kayu runcing di ujungnya, lalu menusuk tepat di tengah rongga mulut monster.
Meskipun dirinya merasa serangannya tidak seberapa, hal itu sudah menguntungkan untuk membuat umpan berskala besar.
"DING!"
"Bunuh 10 monster 'Flaw Zipper'! Tipe tantangan tersembunyi tingkat F." Bunyi pesan kepada dua peserta 'Shark Boot Camp'.
"Sangat disayangkan... Oh! Sudah seharusnya kutarik perkataanku." Pikir Ravettha yang mulai bersemangat menyadari kebangkitan seluruh 'Flaw Zipper'.
Semakin mendekati angka sepuluh, Ravettha dan Rencouff berada di posisi yang tersudutkan.
Para monster 'Flaw Zipper' berjalan mendekati dua mangsanya.
Mereka yang sudah siap menerkam dan berebut mangsa ternyata tidak menyadari sesuatu yang telah menunggunya.
"SRET!"
"Apa benar ini pedang barumu, Rencouff?" Tanya Ravettha dengan tersenyum kecil.
"Lebih tepatnya peninggalan pak tua itu." Ucap Rencouff mengizinkan rekannya menyentuh katana miliknya.
"Aku tak tau hubunganmu dengan jelas ke orang yang kau maksud. Satu hal yang jelas adalah mereka semua harus mati." Ucap Ravettha dengan cepat meminjam katana Rencouff, berputar di tempat dan satu tangan yang erat menggenggam katana, lalu melemparnya setinggi kepala para musuhnya.
"SPLASH!!!"
Sentuhan yang diberikannya saat berputar di tempat berhasil membelah kepala dan lidahnya.
Darah para monster 'Flaw Zipper' telah tercampur racun siluman ternyata tidak bisa beregenerasi lagi.
Mereka hanya menjadi alat permainan dan mati dengan sia-sia.
"Kau berputar di tempat untuk memberikan arah penyerangan sekaligus memperkecil massa?" Tanya Rencouff memperhatikan sedetail mungkin saat senjatanya diambil alih.
"Benar. Sekarang bisa bantu aku membuat jaring?" Tanya Ravettha dengan berlari ke arah jurang yang curam.
"Apa yang ingin kau perbuat? Aku punya panah dan kita bisa menggunakannya!" Ucap Rencouff mengikuti langkah kaki rekannya.
Di saat yang seperti ini, ia tidak mampu menebak apa yang ada di pikiran Ravettha.
__ADS_1
Selain pilihannya yang berbeda, hanya satu hal baginya untuk mengikuti rencana rekannya, yaitu bertahan diri.
"Berikan seluruh anak panah yang kau punya, Rencouff!" Ucap Ravettha dengan menuruni dinding jurang dan pergi mengambil potongan jaring kawat.
"Kau sungguh tidak bawa satupun senjata?" Tanya Rencouff tidak percaya dengan persiapan mendadak sebelum permainan dimulai.
"Bawa." Ucap Ravettha yang berterus terang.
"Benarkah? Aku tidak melihatnya, kecuali kayu rapuh itu." Ucap Rencouff menunjuk-nunjuk sebilah kayu runcing di tantangan sebelumnya.
"Nyawa." Ucap Ravettha meminta kembali permintaan anak panahnya.
"Jangan bilang kau mau mengorbankan nyawamu demi diriku!" Ucap Rencouff menyerahkan seluruh permintaan rekannya bersamaan dengan menunjukkan ekspresi wajah tidak percaya.
Tanpa mengatakan sepatah kata untuk membalas perkataannya, Ravettha memotong seluruh kayu dan mengambil ujung anak parahnya.
Dengan cepatnya ia mengaitkan ujung anak panah ke jaring yang telah disediakan.
"Sudah selesai salah pahamnya? Rentangkan jaring ini selebar mungkin! Jangan lepaskan tanpa arahanku!" Ucap Ravettha menyerahkan hasil jaringnya ke Rencouff.
"Oh, baiklah!" Ucap Rencouff mengambil dan melaksanakan tugas bagiannya.
Sementara dirinya menunggu arahan, Ravettha membuat perangkap dengan mengandalkan cermin, pohon, dan air.
Cermin-cermin ia hadapkan sesuai keinginannya dan ranting pohon untuk mengaitkan sisa kawatnya.
"DING!"
"Kelelawar akan menyebarkan wabah penyakit mematikan. Bunuh 41 kelelawar dan dapatkan obat penetralisirnya! Tipe tantangan tersembunyi tingkat C." Bunyi pesan kembali muncul.
Hanya dengan membacanya, Rencouff akhirnya mulai mengerti tujuan rencana yang telah dibuat.
"Kenapa diam saja disini? Ambil napas dan masuk ke danau!" Ucap Ravettha dengan mendorong tubuh rekannya hingga keduanya masuk ke dalam danau.
"Akan semakin merepotkan jika kita berada lama di dalam sini." Pikir Ravettha mencoba menghitung selama 15 detik.
Belum mencapai detik ketujuh, satu lengan menggenggam tangannya dan menarik ke permukaan air.
Ravettha yang tahu hanya ada Rencouff di sisinya langsung mengikuti rekannya.
"BLURB!"
"Ah! Hosh! Hosh! Ha...!"
"Ravettha! Cepat keluar dan lihat apa yang kita dapatkan!" Teriak Rencouff dengan begitu gembira.
BERSAMBUNG
__ADS_1