
Ravettha akhirnya menyadari bahwa dirinya benar-benar membenci semacam emosi yang dinilai terlalu baik.
Di saat yang sama, rencana telah dipersiapkan harus disesuaikan kembali dengan situasi di sekitarnya.
"Baiklah! Meskipun aku membenci tingkah anehmu, kali ini aku tidak mencoba lari dan menghindarimu. Aku tidak peduli kamu mau bertingkah manis atau tidak. Jika kedepannya masih terlibat denganmu, lebih baik kuhadapi saja!" Ucap Ravettha turun dari pangkuan Vicenzo dan membuka portal penghubung ke 'Ruang Pelatihan Rahasia' miliknya.
"Aku ikut denganmu, sayang!" Ucap Vicenzo mengikuti langkah kekasihnya.
Ia justru terkejut saat Ravettha mengulurkan tangan seakan kekasihnya menunggu dirinya memasuki portal bersama.
Terlihat dengan jelas di kedua matanya, pikiran dan hati kekasihnya ini sangat bertolak belakang.
"Apa yang kamu lihat? Terlalu lama, aku akan meninggalkanmu tersesat saat memasukinya!" Ucap Ravettha sama sekali tidak mengerti apa yang begitu diperhatikan oleh partnernya ini.
"Aku datang, sayang!" Ucap Vicenzo menerima uluran tangan dan langsung memeluk kekasihnya dengan erat hingga terisap masuk ke dalam portal.
"Huh! Benar-benar deh...!" Gumam Ravettha dengan mendengus kesal.
Ini sudah kedua kalinya Vicenzo berkunjung ke dimensi milik kekasihnya.
Bahkan terasa seperti mimpi karena dunia yang ia saksikan saat ini terus hidup dan sejahtera.
"Falext!" Ucap Ravettha memanggil partner utamanya dari hologram komunikasi miliknya.
"Master! Akhirnya anda meluangkan waktu berkunjung kemari. Bagaimana perkembangan kami semua menurut anda, master?" Tanya Falext menantikan penghargaan tersirat dari majikannya.
"Aku belum memeriksa semuanya. Jika dilihat dari dirimu terlebih dahulu, pertumbuhanmu semakin pesat. Sungguh luar biasa mengesankan!" Ucap Ravettha sesekali menganggukkan kepalanya.
"Master, siapa pria ini? Kurasa anda membawa pasangan hidup?" Tanya Falext mengamati apa yang telah terjadi selama dirinya mengurus pekerjaan.
Ia benar-benar tidak menyangka majikannya yang terlalu sibuk dengan urusan setiap harinya justru datang membawa pria kharismatik di sampingnya.
Terlebih lagi pria ini terus menempel dengan majikannya.
"Tutup mulutmu, Falext! Sekali lagi mengatakan hal itu, kucabut fasilitasmu selama 3 bulan." Ucap Ravettha berubah menjadi sangat dingin.
"Lalu, mengapa pria ini terus memeluk anda, master?" Tanya Falext menertawakan majikannya tanpa rasa bersalah.
"Karena aku calon suaminya." Ucap Vicenzo berterus terang dengan tersenyum gembira.
__ADS_1
Ia bahkan tidak peduli jika dunia manapun menolak hubungannya dengan Ravettha.
Hal itu ia lakukan karena sungguh yakin Ravettha tidak akan bisa menolak takdirnya dan apapun keinginannya haruslah segera menjadi miliknya.
"Mengapa kau sungguh yakin dia milikmu, Tuan Vicenzo?" Tanya Falext memeriksa seluruh data tentang lawan bicaranya demi memperkuat rasa ketidakpercayaannya.
"Karena kami sudah saling terikat." Ucap Vicenzo menunjukkan tanda ukiran namanya di punggung Ravettha dan begitupun sebaliknya.
Ravettha terkejut setengah mati mengenai kapan dan bagaimana tanda itu dibuat, sementara dirinya bahkan tidak bisa melihatnya, kecuali berhasil dihilangkan penyamarannya.
Mengetahui akan sedikitnya peluang untuk menyanggah kebenaran, ia justru meminta bantuan Falext agar partnernya ini menolak secara besar-besaran perkataan Vicenzo.
"Selamat, Tuan Vicenzo! Anda berhak memilikinya." Ucap Falext setuju pada keputusan bijak yang dibuat Vicenzo.
"Kalau begitu aku tidak akan segan loh!" Ucap Vicenzo berjabat tangan dan tetap memancarkan aura kegembiraannya.
"Apa-apaan ini?!" Tanya Ravettha yang merasa dikhianati partner utamanya dan telah kehabisan kata-kata.
Dirinya sama sekali tidak bisa menerima kejadian ini langsung memutuskan untuk membuat rencana baru dan lebih matang.
Bagaimanapun ia harus mendapatkan hasil yang sempurna tanpa harus disadari bahwa dirinya yang menciptakan kehancuran untuk targetnya.
"Anda memanggilku, master. Apa ada yang bisa kubantu?" Tanya Layla menghadap majikan dengan begitu anggunnya.
"Ya! Kita akan mengadakan pesta. Undang seluruh anggota yang ada di 'Ruang Pelatihan Rahasia' ini. Oh, ada beberapa bahan baku dan sudah kukirimkan ke tas penyimpananmu, Layla. Selebihnya kalian yang mengurusnya!" Ucap Ravettha menjelaskan sekaligus memberi perintah.
"Baik, serahkan tugas ini pada kami, master." Ucap Layla mengajak pergi Falext.
Ravettha yang mempercayai tugasnya kepada Layla sekarang hanya perlu menunggunya.
Selama menghabiskan waktu tunggu, ia memutuskan untuk berkeliling dan melihat hasil perkembangan kerja mereka.
"Cedric! Jika kamu tetap disini, kamu akan jadi orang asing sungguhan. Ikutlah aku berkeliling selagi menyelesaikan tugas ini!" Ucap Ravettha memeriksa dokumen tugasnya dan sesekali memperhatikan partnernya.
Kali ini Vicenzo tidak mengatakan apapun selain ekspresi wajahnya yang bercahaya.
Ia tetap berada di dekat Ravettha dan tidak berhenti mendengarkan rangkaian penjelasan yang sama sekali tidak dikuasainya.
"Dilihat dari atas ini, mereka tetap berwarna. Setelah mereka tumbuh dan lebih banyak jasa yang bisa digunakan, apa rencana selanjutmu, sayang?" Tanya Vicenzo menghirup udara segar dengan langit menerangi seluruh penjuru.
__ADS_1
"Itu rahasia. Daripada memberitahunya, bukankah kamu sudah tahu lebih awal?" Tanya Ravettha tertawa karena berhasil menebak isi pikiran partnernya.
"Ya. Memonopoli, mengekploitasi, dan mempermudah sistem dunia di jagat raya." Bisik Vicenzo patuh menjaga kepercayaan kekasihnya, Ravettha.
Sesaat dirinya terus menatap ke sebuah air terjun dan hal itu membuatnya ingin bermain air.
Keinginannya kembali mengingatkan dirinya mengenai tugas Ravettha.
"Ho...! Ternyata disana kebun praktik Leonardo!" Gumam Ravettha memeriksa berkali-kali lokasi kelima ruang kerja partnernya.
"Cedric, apa kamu ingin bermain di air terjun itu?" Tanya Ravettha memastikan jawaban Vicenzo dengan rute terbang menuju ke puncak air terjun.
"Benarkah kita akan kesana? Kalau begitu aku akan menantikannya!" Ucap Vicenzo bersemangat untuk berlibur, bermain, dan menghabiskan waktu bersama.
Mendapati dirinya lebih bersemangat dari sebelumnya ternyata berhasil menarik perhatian Ravettha.
Tanpa memberikan jawaban lagi, Ravettha langsung menggunakan rute terbang menuju puncak air terjun dan menemui kebun praktik Leonardo.
Ia berharap menemukan data hasil perkembangan yang menarik dari sana.
"Sempurna! Air jernih, ketinggian, dan Ravettha ku ada disini. Sayang, selesaikan tugasmu lalu bersenang-senanglah denganku!" Ucap Vicenzo merencanakan liburannya.
"Ada apa dengannya? Aku punya firasat tidak enak mengenai ini." Pikir Ravettha secepat mungkin masuk ke kebun praktik Leonardo dengan terburu-buru.
Tidak ingin peduli apa yang direncanakan Vicenzo, ia memeriksa keberadaan Leonardo.
"Master! Anda berkunjung kemari menjadi sebuah kehormatan besar bagiku. Duduklah dan mari kita bicarakan kepentingan kita!" Ucap Leonardo menuangkan secangkir teh blueberry dan menyajikannya selagi hangat.
"SLURP!"
"Tetap saja teh blueberry buatanmu yang terbaik! Kau bahkan mengetahui seleraku, Leonardo!" Ucap Ravettha menghabiskan langsung sajian tehnya.
"Sudah seharusnya itu menjadi tugasku, master." Ucap Leonardo menuangkan kembali teh blueberry.
Suasana yang harmonis dan damai sangat sesuai dengan ciri khas lingkungan impian Leonardo sehingga ia menjadikan tempat ini sebagai rumah ternyamannya.
Dibandingkan hanya ruangan tertentu, ia lebih menganggap rumahnya sebagai istananya.
BERSAMBUNG
__ADS_1