
Setelah menyerahkan seluruh tugasnya, Ravettha memutuskan untuk kembali ke kamarnya berlatih sendiri di ruang pelatihan rahasianya.
Selama diperjalanan menuju kamarnya, Annie memperhatikan kondisi majikannya dengan sangat detail.
"Nona, anda perlu beristirahat dahulu setelah mengerjakan tugas-tugas itu! Tidak baik jika kurang istirahat!" Ucap Annie yang sangat khawatir dengan keadaan fisik Ravettha karena terlihat sangat lelah.
"Apa aku kurang tidur? Kurasa aku tidak membutuhkannya!" Gumam Ravettha.
"Tidur sebentar juga termasuk istirahat, nona! Setelah itu, anda bisa melanjutkan pekerjaan yang lain." Ucap Annie yang mendengar gumaman Ravettha.
"Ya baiklah." Ucap Ravettha dengan menaiki kasur dan langsung berbaring.
Ia meregangkan tubuhnya di kasur dan langsung tidur.
Mengetahui Ravettha yang telah tertidur pulas, Annie memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mengurus pekerjaannya yang lain.
Sementara itu, Ravettha langsung memasuki ruang pelatihannya.
"Hm... Di tas penyimpananku sudah terlalu banyak jiwa dan nyawa yang telah terkumpul. Bagaimana jika aku membuat percobaan? Sangat terlihat menarik! Sekaligus sebagai bahan belajarku! Hehe!" Pikir Ravettha dengan membuka pintu ruangannya.
"Selamat datang, master!" Ucap seluruh bawahan dan para pasukan barunya.
Ravettha sama sekali tidak menyangka bahwa seluruh pasukan barunya telah terlatih dengan sangat baik saat ia tidak ada.
"Tidak kusangka kalian sudah menjadi kuat seperti ini. Kerja bagus semuanya! Aku sangat berterimakasih kepada hasil kerja keras yang telah kalian lakukan! Dengan ini, kita bisa menyatukan seluruh kekuatan yang akan digunakan di masa depan!" Ucap Ravettha dengan tegas dan bangga dengan mereka.
"Oh, ya! Bagaimana kondisi kalian?" Tanya Ravettha.
"Kami baik-baik saja bahkan kami sangat nyaman disini daripada ditempat itu." Ucap sebagian pasukan barunya.
"Benar! Disini, kami bisa melatih dan meningkatkan kemampuan dengan baik dan tentunya cepat." Ucap sebagian pasukan baru lainnya.
"Bagaimana dengan para pelatihnya?" Tanya Ravettha dengan melihat keadaan para bawahan setianya.
"Sama seperti mereka. Selama disini, kami tidak merasakan lelah sedikitpun walaupun telah mengerjakan tugas yang banyak. Untungnya Falext bisa mengorganisir seluruh aktivitas kami." Ucap Tuan Glendy yang mewakilkan yang lainnya.
"Baiklah! Lanjutkan kegiatan kalian, aku masih ada yang ingin diurus dahulu." Ucap Ravettha dengan berjalan menuju ruangan khusus penelitiannya.
"Baik, master!" Ucap seluruh pasukan dan para bawahan setianya.
__ADS_1
Ravettha telah tiba di depan pintu ruangan penelitiannya.
"Ternyata sampai sekarang juga tidak ada yang berani menyentuh sedikitpun di ruangan ini, ya? Baguslah! Mereka tidak perlu melihat apa yang tidak seharusnya mereka lihat!" Pikir Ravettha dengan tersenyum kecil.
Ia langsung menyiapkan seluruh perlengkapan dan memulai mendesain suatu percobaan.
"Hm... Apa yang bisa kubuat dari para jiwa dan nyawa ini? Apa yang dapat kubuat dari para daging, tulang, organ, darah yang telah ambil ini? Sungguh membosankan jika hanya memakannya! Lebih baik jika diubah menjadi temuan baru!" Pikir Ravettha dengan meneliti unsur-unsur yang masih tersisa di dalam tulang-tulang.
Ia masih menemukan banyak unsur yang tersisa.
"Tunggu...! Jika didalam tulang ini masih banyak kalsium, magnesium, dan fosfor, itu artinya saat benda yang disimpan didalam tas penyimpanan akan diawetkan! Untuk membentuk sebuah benda seperti senjata, maka harus memiliki komponen yang dapat menopangnya! Dan juga harus membuat sumber utama bahan dasarnya!" Pikir Ravettha.
"Aku punya ide!" Pikir Ravettha dengan mengeluarkan alat-alat yang dapat membentuk badan senjatanya.
Seluruh alat-alat tersebut dihidupkan olehnya dengan memanfaatkan kemampuan 'Electrifying'.
Sebuah kemampuan yang dapat menimbulkan daya listrik melalui berbagai sumber.
Karena Ravettha hanya mempunyai persediaan darah yang melimpah, ia justru mengubahnya menjadi listrik melalui zat oksigen yang diuapkan oleh mesin pemanas.
Setelah menjadi energi listrik, ia mulai membangun dan memperkerjakan para mesin yang sudah disiapkan untuk membuat senjata barunya.
"Baiklah! Menurut buku panduan yang telah memberitahukan seluruh kegunaan dari penemuan ini, akan lebih baik jika langsung diuji coba! Hm... Aku butuh tempat yang bagus untuk mencobanya! Ah! Ini adalah waktu yang sangat tepat untuk melepas rasa bosanku!" Pikir Ravettha dengan tersenyum senang.
Ia langsung menyimpan seluruh hasil penemuannya ke dalam tas penyimpanannya.
"Master! Anda mau kemana?" Tanya Lartson dengan mata yang berkaca-kaca karena ia mengira masternya akan pergi dan pulang setelah sekian lamanya.
"Aku hanya ingin menguji alat yang sudah kubuat ini." Ucap Ravettha dengan menunjukkan alatnya kepada Lartson.
Setelah mendengar hal tersebut, para bawahan setianya langsung berkumpul dan melihat hasil penemuan Ravettha seperti melihat pameran barang.
"Wah! Alat apa ini, master?" Tanya Lartson yang takjub dengan masternya.
"Sudah jelas itu adalah senjata!" Ucap Tuan Glendy yang sedikit kesal dengan Lartson.
"Kan aku hanya bertanya! Memangnya tidak boleh?" Tanya Lartson dengan sangat kesal kepada Tuan Glendy.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar dong!" Ucap Ravettha dengan menenangkan Tuan Glendy dan Lartson yang hampir terpancing satu sama lain.
__ADS_1
"Memang benar bahwa ini adalah senjata. Karena aku ingin mengujinya sendiri, maka aku membutuhkan sebuah dunia paralel yang masih memiliki kehidupan di dalamnya." Ucap Ravettha.
"Master! Aku tahu tempat yang seperti itu!" Ucap Layla.
"Benarkah?" Tanya Ravettha dengan sangat berharap.
Layla hanya menganggukkan kepalanya dan membuka sebuah portal untuk masternya.
"Panggil aku jika kau butuh bantuan dan juga untuk membuka pintu keluarnya melalui alat ini! Ini adalah alat yang kuambil diam-diam dari 'Queen Of Domination'!" Ucap Layla dengan menyerahkan sebuah alat yang berbentuk bola kecil yang dapat terbang.
Bola itu ikut terbang disamping Ravettha.
"Baiklah! Aku percayakan padamu!" Ucap Ravettha dengan melambaikan tangannya ke seluruh yang ada di ruang pelatihan rahasianya.
Portal tersebut langsung mengirim Ravettha ke dalam sebuah dunia yang masih banyak makhluk hidup, tepatnya hanya para tumbuhan dan hewan.
"Ya, tidak masalah! Aku akan mencoba 'Kotak Hantu' ini terlebih dahulu!" Ucap Ravettha dengan mengeluarkan 'Kotak Hantu'dari tas penyimpanannya.
'Kotak Hantu' tersebut langsung menyerap dan menyimpan seluruh kekuatan alam maupun makhluk hidup yang ada disana kecuali Ravettha.
"Percobaan 'Kotak Hantu' berhasil! Mari kita coba 'Tembakan Jarum Racun' ini!" Ucap Ravettha dengan menembakkan sebuah jarum kepada sebuah hewan yang masih memiliki sisa kekuatan untuk bertahan hidup.
"JLEB!"
Suntikan itu mengenai tepat di lehernya sehingga ia langsung jatuh dan merintih kesakitan karena racun yang menyebar ditubuhnya.
Dalam waktu kurang dari satu detik, hewan yang jadi percobaan Ravettha justru mati.
Ravettha langsung mengambil jiwa dan nyawanya tanpa merasa kasihan.
"Bagus! Bagaimana jika 'Pedang Roh' ini?" Tanya Ravettha dengan menebaskan pedangnya ke udara.
Walaupun ia hanya menebasnya secara acak, arah pedang itu langsung menyebar ke segala arah dan berhasil mengenai suatu makhluk hidup.
Tebasan yang telah mengenainya langsung mengambil nyawa dan jiwa makhluk tersebut secara paksa sehingga ia langsung mati.
Ravettha yang berada di jarak yang jauh dengan korbannya juga dapat merasakan sensasi yang luar biasa saat mengambil sebuah nyawa dan jiwa dengan paksa tanpa ada yang melarangnya.
"Untuk menghindari penalti yang besar, aku tidak boleh menggunakannya terlalu sering!" Pikir Ravettha yang menyadari sebab akibatnya dari seluruh penggunaan senjata tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG