Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Kembalinya Tanggung Jawab Paman Karl


__ADS_3

18 menit kemudian, mereka telah menghabiskan seluruh makan siangnya bersama-sama.


Hanya ada piring dan gelas kotor yang tersisa di atas meja tersebut.


"Ah~! Kenyangnya~! Aku sudah tidak sanggup makan lagi! Tetapi makanan selezat ini tidak boleh kulewatkan! Pokoknya aku harus memesan lagi!" Ucap Sorayna yang selalu ingin memakan dan memakan lagi semua hidangan yang telah ia pesan bersama teman-temannya.


"Sudahlah! Sorayna! Kita sudah 15 menit terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan! Ayo bangun, bocah pemalas!" Ucap Kalvetno dengan menarik kedua lengan Sorayna yang tergeletak lemas di kursinya dengan cepat.


"Haah? Apa? Lewat 15 menit? Yang benar saja! Sepertinya duniaku akan hancur karena hukuman dari guru! Oh, tidak!" Ucap Levord dengan sangat terkejut dan panik setengah mati hingga membuat seluruh perhatian berpusat kepadanya.


"Levord! Bawa Sorayna ke sekolah! Vicenzo! Kau ikuti Levord dari belakang! Terserah kau mau pakai cara apa untuk menyelinap ke dalamnya! Aku yang akan membayar semua ini di kasir. Kita akan bertemu di koridor sekolah dan membahas rencana kerja kelompok kita setelah istirahat kedua!" Ucap Kalvetno dengan sigap dalam menyelesaikan masalah.


Mereka langsung memulai aksi tugasnya masing-masing tanpa membuang-buang waktu.


Tinggallah Ravettha seorang diri disana dan masih duduk santai menikmati Lava Flame Ice miliknya.


Karena minumannya sudah hampir habis, ia hanya mengaduk-aduknya berlawanan arah dengan jarum jam menggunakan sedotannya.


Hal itu ia lakukan karena bosan menunggu seseorang yang sedang bersembunyi di balik keramaian pengunjung restoran tersebut.


"Tadinya paman mau menegurku karena tidak masuk kelas saat aku dan teman-temanku pertama kali menginjakkan kaki disini. Bukankah begitu, Paman Karl?" Tanya Ravettha dengan menghentikan mainan sedotannya dan memfokuskan perhatiannya kepada Paman Karl yang telah berdiri tepat di belakang punggungnya.


"Ahahaha! Paman pikir kau sedang menurunkan pengawasanmu saat berada di dekat teman-temanmu. Sejujurnya ini adalah tugas pengamatanku, jadi jangan beritahu pamanmu itu, ya?" Tanya Paman Karl dengan membujuk Ravettha supaya tidak membocorkan rahasianya.


"Apa yang akan kudapatkan jika membantu paman merahasiakannya?" Tanya Ravettha dengan memberikan kursi kepada Paman Karl dengan tersenyum ramah.


"Bagaimana kalau kubelikan 5 buku kesukaanmu?" Tanya Paman Karl dengan tersenyum licik.

__ADS_1


Ia adalah orang yang pertama yang mengetahui segala hal yang disukai maupun yang di benci oleh Ravettha.


Ia mengetahuinya karena selama ia membantu merawat Ravettha, ia selalu memperhatikan segala hal yang dibutuhkan.


Jadi, wajar saja ia tersenyum licik dan berharap keinginannya terpenuhi.


Ia sangat tahu bahwa Ravettha hanya bisa dibujuk jika memiliki alat tukarnya yang berupa buku kesukaannya, buku non-fiksi.


⅜ dari 5.840 buku di perpustakaan rumahnya adalah koleksi miliknya yang sudah terbaca.


Sedangkan ⅛ nya masih belum selesai terbaca dan sisanya adalah koleksi milik Elliovent dan Ellievont.


"Hoho! Paman tidak bisa menipuku kali ini! Berapapun tukarannya tetap tidak bisa lagi. Bagaimana jika paman menjadi guru privat kami?" Tanya Ravettha dengan menyembunyikan senyum liciknya.


"Wah! Keponakanku sudah besar ternyata! Baiklah! Aku setuju menjadi guru privatmu." Ucap Paman Karl dengan mengangguk setuju.


"Hore! Aku akan langsung menghubungi paman di saat aku tidak sibuk!" Ucap Ravettha dengan terburu-buru meninggalkan pamannya sebelum ia benar-benar menyadari ada sebuah kesalahpahaman di dalamnya.


Walaupun ia sudah berlari sekencang mungkin, bulu kuduk Ravettha tetap saja tidak mau berhenti hingga akhirnya mencapai puncaknya.


"SRET!"


Seseorang menarik kerah belakang bajunya yang tidak lain adalah Paman Karl.


"Ho...! Kau mencoba mempermainkan paman rupanya! Mari paman antarkan ke neraka! WOAHAHAHA!!!" Ucap Paman Karl dengan membawa keponakannya yang nakal tersebut.


"Aku sungguh menyesal bermain dengan paman...! Cih! Padahal sebentar lagi dia akan mengaku kalah. Aku jamin itu!" Gumam Ravettha dengan alis yang mengernyit.

__ADS_1


"Kau barusan mengatakan apa? Akhirnya kau menyesal juga! Sekarang berhenti bermain-main dan mulai fokus! Jika seperti ini caranya aku tidak perlu repot-repot melaporkanmu, jadi katakan apa yang menjadi keinginan sebenarnya!" Ucap Paman Karl dengan menghela napas.


"Aku butuh paman untuk mengajariku dan keempat temanku mengerjakan tugas kelompok!" Ucap Ravettha dengan melepaskan tangan Paman Karl dari kerah belakang bajunya.


"Bukankah kau bisa sendiri mengatasinya?" Tanya Paman Karl dengan memeriksa waktu luangnya di buku hariannya.


"Tentu saja! Ta-..." Ucap Ravettha yang belum selesai menjelaskan alasannya kepada pamannya karena perkataanya langsung dipotong oleh pamannya sendiri.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Lakukanlah tugasmu sendiri jika kau yakin bisa melakukannya! Paman tidak punya waktu lagi untuk hari ini!" Ucap Paman Karl.


"Ini bukan masalah yakin atau tidak melakukannya, paman! Bahkan paman belum mendengar alasanku! Lagipula apa pentingnya waktu luang paman pada pukul 19.30-21.00 jika paman hanya menghabiskannya bersama kekasih paman? Siapa namanya? Ah! Ophelia Jordan Henderson! Bukankah paman pernah menceritakan kepadaku bahwa paman mempunyai ambisi untuk meningkatkan pendidikan di seluruh dunia termasuk Tscaxius ini? Dan sekarang paman melupakan ambisi itu lalu berpindah ke wanita itu? Sungguh menggelikan! Percaya atau tidak paman akan menyesal jika meneruskan hubungan dengannya." Ucap Ravettha yang menatap pamannya dengan rasa tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh pamannya.


"Darimana kau tahu jadwal waktu luangku dan juga nama kekasihku?" Tanya Paman Karl dengan penuh penasaran dan bercampur rasa tidak percaya.


"Paman sungguh ingin tahu? Daripada itu, sekarang putuskanlah apakah paman ingin menjadi guru privatku atau tidak!" Ucap Ravettha dengan menyeringai kecil.


"Huh! Mengapa pikiran keponakanku ini jadi seperti ini? Dia semakin berbahaya! Tunggu! Jika dia semakin berbahaya, bukankah semua itu berasal dariku yang telah bercampur tangan dalam merawatnya sedari bayi? Aku pernah membaca sebuah materi tentang genetik dan itu terbukti benar! Ini artinya aku sudah masuk ke dalam jurang yang dalam dan curam! Kalau begitu, aku hanya harus memanjatnya, bukan?" Pikir Paman Karl dengan sangat serius.


Ravettha yang memperhatikan ekspresi pamannya langsung dapat menebak bahwa dia sedang memikirkan resiko terburuknya dan pastinya membuat dirinya termakan dalam pikiran negatifnya.


"Ayolah, paman! Aku tahu paman pasti akan berpikiran dingin dan jernih karena semua itu adalah jati diri paman yang asli." Pikir Ravettha dengan menatap tajam pamannya.


Paman Karl yang telah memutuskan hasil keputusannya melirik sekilas ke arah keponakannya.


Di matanya, keponakannya tersebut sedang berpikir hal lain yang lebih berbahaya dibandingkan wajahnya yang imut bercampur dengan sifatnya yang misterius itu.


"Tidak bisa! Paman punya waktu yang sangat penting untuk beberapa hari belakangan ini. Jadi mohon mengertilah, ya?" Tanya Paman Karl dengan berbicara tegas.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2