Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Ingatan Masa Lalu Ezcha


__ADS_3

"Memasuki puncak ujiannya katamu?" Tanya Levord dengan mengulang kembali inti informasi dari percakapan antara dirinya dan bawahannya.


"Benar, Tuanku! Setiap peserta yang terpilih akan memiliki level ujiannya tersendiri. Jika berhasil lulus, mereka biasanya akan memilih sesuatu sebagai ganti ruginya." Ucap Lenzivio dengan sedikit menatap wajah majikannya.


Tanpa bertanya dan menambah informasi penting, Levord bergerak sendirian demi menghampiri rangkaian gelembung yang sedang melayang di udara.


Sebagai bawahannya, Lenzivio justru terkejut dan tidak percaya dengan kenekatan sang Majikannya.


"Tuan!" Teriak Lenzivio.


Ia langsung menghampiri Levord dan berusaha untuk melindungi sang Majikannya meskipun ia harus mempertaruhkan nyawanya.


Lengannya yang elastis dan lengket, dengan sangat cepatnya meraih punggung sang Majikan dan akhirnya memberikan perlindungan dari serangan si Berjubah Putih.


"Bagaimana rasanya? Sangat menyakitkan, bukan? Aku sudah menunggumu disini, jadi perhatikanlah baik-baik!" Ucap seorang berjubah putih.


Suaranya yang sama persis membuat Levord dapat mengenalnya lebih jauh.


Dibandingkan dengan perkenalan singkat sebelumnya, fokus perhatian Levord jatuh kepada maksud tersembunyi yang ingin diberi tahukan kepada dirinya.


Rangkaian gelembung tersebut berjajar dan akhirnya membentuk lingkaran.


Masing-masing gelembung memiliki ukuran yang cukup besar, tetapi tidak di tangan si Berjubah Putih.


Di saat Levord sedang sibuk mengolah petunjuk, data, dan hasil analisisnya, para gelembung yang telah melayang di udara pecah dengan seketika.


Kemunculan empat sahabatnya juga termasuk di dalamnya.


Tubuh mereka semakin kuat dan kuat sehingga dapat memimpin para pasukannya.


Hal tersebut berhasil menaikkan sifat keingintahuan Levord.


"Ada apa dengan mereka berempat? Apa karena kami terpisah satu per satu, maka persentase keberhasilan pengaruhnya semakin besar? Meskipun terpengaruh... Bukankah itu tidak menutup kemungkinan jika mereka bisa mendominasi... Oh! Sekarang aku mengerti!" Pikir Levord dengan melirik ke arah Lenzivio di sampingnya.


"CRIIING!!!"


Kelima sayatan hampir mendarat dengan sangat sempurna di wajah Levord.


"Ho...! Jadi ini yang kalian persiapkan?" Pikir Levord dengan menangkis kelima sayatan pedang dari musuhnya.


Ia berlari dan menyelinap ke dalam pasukan Ezcha dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya.


"Huh? Titik penyerangan mereka terbuka? Hm... Kurasa tidak dengan titik utamanya!" Pikir Levord tanpa memiliki penyesalan sedikitpun setelah dirinya mengelabui banyak anggota pasukan karena baginya, semua ini bukanlah permainan yang dapat dimainkan terus menerus.


"BWOOOSSSHHH!!!"

__ADS_1


Hujan plasma asam dan beracun mendarat dengan tepat sasaran ke musuhnya.


Energi listrik yang juga bercampur dengan plasmanya dapat menghasilkan kemampuan baru dan terbukti tepat dalam penggunaannya.


Lenzivio menjadi sangat senang dan penuh dengan kesadaran dalam menjalankan tugasnya meskipun ia belum mendapatkan izin dari majikannya.


"Berikan saya hukuman terberat dari anda, Tuan! Saya dengan senang hati akan menerimanya." Ucap Lenzivio melalui pesan yang ia kirimkan kepada majikannya.


Saat Levord selesai membaca pesan dari bawahannya, ia akhirnya menemui sumber utama penyebab dari masalahnya.


"Ezcha?" Gumam Levord yang terkejut pada saat mengetahui bahwa hanya satu sahabat barunya ini menjadi yang terlemah dari yang lainnya.


Mata Ezcha yang normalnya berwarna ungu kemerahan justru memudar seiring berjalannya waktu.


Ezcha yang menyadari kehadiran sosok teman Sorayna langsung memasuki alam bawah sadar Levord.


Jiwa Levord benar-benar menyaksikan kedatangan jiwa lain ke dalam tubuhnya.


Tanpa mengatakan apapun, Ezcha mengirimkan sebagian besar ingatannya kepada Levord dan juga memberikan beberapa informasi penting di dalamnya.


Telunjuknya menyentuh tepat di dahi Levord.


"Jangan pedulikan aku! Segera temukan Kalvetno!", dua kalimat muncul di dalam ingatan Levord tersebut sebagai jejak pemberian terakhirnya, sedangkan jiwanya langsung terhapus dengan cepat.


Ingatan-ingatan Ezcha yang masih dapat dikatakan sangat kompleks menyatu dengan baik ke dalam ingatan jangka panjang Levord.


Usia mereka umumnya mencapai lebih dari ratusan abad yang lampau.


"Ibu, siapa mereka?" Tanya ayah Ezcha dengan berniat memberikan pelajaran kepada makhluk berkaki dua tegak, bertangan empat, dan bermata enam yang telah memasuki perbatasan wilayah tempat kelahirannya.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, nak! Selama mereka tidak menggangu kita, biarkan saja mereka! Kamu masih ingat batasan yang tidak boleh dilanggar, kan nak?" Tanya nenek Ezcha dengan tersenyum hangat sekaligus mengharapkan sedikit sikap disiplin dari anaknya.


"Baik! Jika mereka tidak menggangu sesuai perkataan ibu, aku bersedia ikut paman bekerja! Jika sebaliknya, ibu harus membiarkanku memperoleh satu hal yang membuat ibu bosan mendengarkannya!" Ucap ayah Ezcha dengan penuh ketegasan dalam setiap perkataannya.


"Oh ya? Kalau begitu, ayahmu yang akan jadi pengawasnya, bagaimana?" Tanya nenek Ezcha dengan tersenyum kecil.


"Sepakat!" Ucap nenek dan ayah Ezcha dengan berjabat tangan dan saling memberikan sorot matanya yang tajam dan menusuk bagi yang berada disekitarnya.


Ayah Ezcha memasuki rumahnya dan bermain di dalam bersama adiknya hingga waktu malam tiba.


Para anggota keluarga, tetangga sekitar, dan anak-anak kecil beristirahat dari aktivitasnya.


Hanya ayah Ezcha yang tidak ingin beristirahat walaupun sebentar saja.


Dirinya yang terlalu bosan dengan kesunyian malam akhirnya memutuskan untuk berburu di hutan yang gelap.

__ADS_1


"Ayah dan ibu sudah tidur? Baguslah! Ini waktu yang tepat untuk makan besar!" Ucap ayah Ezcha dengan mengambil rakitan senjata yang pernah ia buat sebagai pertahanan terakhir di dekat ibunya.


Harapan akan kebebasannya yang terlalu besar justru membuat nyawanya terancam bahaya.


Ia melihat para pendatang yang tidak dikenalnya berkumpul tepat di pedalaman hutan.


"Tetua! Sampai kapan kita akan berbagi tempat tinggal dengan mereka? Bahan makanan kita pun tinggal sedikit! Kami tidak akan membiarkan keturunan kami mati kelaparan jika terus seperti ini!" Ucap mayoritas suara dari warga pendatang tersebut.


Emosi yang bergejolak dan tidak terkendali bersamaan dengan ketidakpuasan akan jawaban tetua membuat warga pendatang tersebut benar-benar kecewa.


Mereka menculik satu per satu ras ayah Ezcha dan mempercepat proses kinerjanya.


Penculikan massal yang telah terjadi tidak dapat dicegah oleh seorang anak kecil seperti ayah Ezcha.


"I-I-Ini b-bukan sa-salahku, kan? Haha! Menggelikan! Aku bahkan lupa jika mereka pernah memperlihatkan kebaikannya!" Gumam ayah Ezcha dengan memperhatikan jejak darah rasnya sendiri menuju suatu tempat.


Sebuah perkumpulan sosok makhluk bertubuh tinggi dan tertutup dengan jubah berlambang cukup rumit di punggungnya tersenyum senang bersamaan dengan memberikan imbalan 56 kotak besar permata dan emas.


"Apa yang dilakukan para makhluk bodoh itu? Betapa mudahnya mereka-...!" Ucap ayah Ezcha dengan mengecilkan suaranya.


"PUK!"


"Kau mau menjual apa?" Tanya seseorang yang tidak salah lagi berasal dari anak perempuan.


Nada dan penekanan suaranya yang acuh tak acuh seirama dengan ekspresi wajahnya yang tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.


Dibandingkan takut akan terungkap tempat persembunyiannya, ayah Ezcha justru langsung menahan tawanya sekuat mungkin di depan anak perempuan tersebut.


"Kau gila ya? Akui saja kau takut mereka akan menangkapmu!" Ucap anak perempuan tersebut dengan berterus terang.


"Aku senang kau membuka permainannya! Akuilah kau membenci mereka melakukan hal yang sama pada dirimu!" Ucap ayah Ezcha dengan menghentikan tawanya dan melakukan hal yang sama seperti lawan bicaranya.


Fokus perhatiannya teralihkan oleh sebuah kotak yang kuat memancarkan aura positif di dekat sungai.


"Ambilkan benda itu!" Ucap ayah Ezcha dengan menunjuk ke arah sebuah kotak yang paling menarik perhatiannya.


"Aku tidak ada waktu mengurusimu!" Ucap anak perempuan tersebut dengan meninggalkan ayah Ezcha sendirian.


"Sejak kapan kau kuperintahkan mengurusku? Cepat ambil!" Ucap ayah Ezcha dengan menyilangkan kedua tangannya.


"SRAK!"


Perangkap sederhana yang disiapkan oleh sekelompok orang ternyata berfungsi dengan baik.


"Aku tidak akan mengampunimu!" Teriak anak perempuan dengan kedua kaki yang menggantung di ranting pohon.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2