
"Kita belum sepenuhnya menang!" Ucap Profesor Olefign dengan bersikeras.
"Apa? Bukankah kita semua yang ada disini menyaksikan kemenangan kita bersama-sama?" Tanya salah satu dari pasukan khusus tersebut dengan penuh keheranan dan kesal sehingga menarik kerah Profesor Olefign yang hampir membuatnya tercekik.
"Akan ada serangan yang lebih besar dari ini dan kita telah kehabisan waktu." Ucap Profesor Olefign dengan tatapan mata yang kosong dan keputus asaan.
"KLIK!"
Sebuah bunyi yang berasal dari suatu sistem teknologi berbunyi dan hal itulah yang membuat sebagian orang bertanya-tanya.
"Profesor! Apa anda mendengar suara sesuatu tadi? Aku yakin tadi mendengarnya dari arah sana!" Ucap Neisya dengan penuh keyakinan dan tangan yang menunjuk ke arah dekat tumpukan batu besar yang tinggi.
"Ternyata benar! Semua ini hanyalah permulaan!" Gumam Profesor Olefign dengan berlari ke arah robot Arathorn miliknya untuk memeriksa benda penyadap suara dan gambar di sekitarnya.
"Ditemukan sebuah-...!" Ucap robot Arathorn yang belum selesai mengucapkan perkataannya karena terjadi kesalahan sistem.
"BOOOOMMM!!!"
Sebuah granat yang didalamnya berhasil meledak tepat saat Profesor Olefign sedang berada di setengah berlari menuju tempat robot Arathorn berada.
Granat tersebut bukanlah sebuah granat biasa karena setiap satu ledakan, mereka dapat menghancurkan ¼ bagian di seluruh dunia sekaligus memberikan pancaran radiasi yang berkecepatan 3,8 × 10^46 m/s².
Tidak peduli makhluk hidup atau benda mati, semuanya akan terkontaminasi sinar radiasi tersebut dan lebur menjadi tidak bersisa.
Di lain tempat yang sangat jauh, seseorang yang telah memperhatikan objek uji cobanya dari layar hologramnya sedang menghadap kepada atasannya.
Ia bernama Antonio Davidsel Dagerald.
Ia adalah seorang anak dari perdana menteri yang selalu membantu jalannya kemajuan bagi seluruh warga di dunia yang dekat dengan 'The Hell Gate'.
Sebenarnya ia adalah anak yang sangat ambisius dibandingkan anak-anak lainnya.
Meskipun telah banyak mendapatkan pencapaian prestasi yang gemilang di usianya yang muda, ia tetap saja tidak diakui oleh Yang Mulia Raja Karnelothius.
Mendapatkan hinaan, siksaan, penderitaan, dan kesialan adalah makanan sehari-harinya.
__ADS_1
Di mata orang terdekatnya, seperti kedua orang tua dan saudara-saudaranya, semua hal yang dialami oleh Antonio adalah hal yang biasa bahkan membosankan untuk mereka lihat.
Bukannya menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, Antonio justru berubah menjadi anak dengan pribadi yang sangat aneh.
Tidak memiliki empati adalah sifat yang selalu disembunyikan oleh dirinya.
"Yang Mulia Raja. Hamba telah menghancurkan ¼ dunia tepat anak itu berada. ¾ sisanya akan dilakukan oleh bawahan terpecayaku. Apakah anda mengizinkan hamba ini naik jabatan? Hamba akan lebih memaksimalkan keuntungan yang anda peroleh jika hamba mengizinkannya." Ucap Antonio dengan berlutut dan menundukkan kepalanya dan berbicara dengan penuh kesopanan.
"Tidak. Kau masih belum bisa naik. Pencapaianmu masih sangat rendah! Seharusnya kau sering-sering bercermin pada senior-seniormu itu!" Ucap Yang Mulia Raja Karnelothius.
"Baik. Terimakasih sudah mengingatkan hamba. Hamba akan mencobanya sebaik-baik mungkin, Yang Mulia. Kalau begitu, hamba mohon undur diri." Ucap Antonio dengan membungkukkan badannya dengan penuh hormat.
"Aku masih punya tugas baru untukmu! Menyamarkan dan ajukan ini kepada sang Ratu Ocaxius!" Ucap Yang Mulia Raja Karnelothius dengan menyerahkan sebuah dokumen yang tersimpan rapih di dalam sebuah map berwana merah tua.
"Baik, Yang Mulia. Hamba pergi melaksanakan perintah anda." Ucap Antonio dengan menerima map tersebut dan memasukkannya ke dalam jasnya.
Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi kepada Antonio, Yang Mulia Raja Karnelothius dengan diam-diam menaruh sepercik sihir yang digunakan sebagai pengganti di saat darurat.
Ia melakukannya karena tahu bahwa Antonio akan melakukan kesalahan karena kecerobohannya saat ia sedang memasukkan mapnya ke dalam jas yang dipakainya.
Walaupun ia mengetahui seluruh sikap dan sifat aslinya, hal tersebut tidak membuatnya mengubah keputusan karena ia tahu bahwa Antonio memiliki jiwa kompetitif dan disiplin yang tinggi.
Bukannya fokus menjalankan tugas, perhatian dirinya teralihkan oleh sekumpulan anak-anak yang sedang mengganggu pekerjaannya.
"Siapapun yang bisa mencapai puncak menara itu, maka dialah pemenangnya!" Ucap seorang anak kecil sebagai ketua pembentuk permainannya.
"Aku pasti akan jadi pemenangnya!" Ucap sebagian anak yang ikut memainkan permainan tersebut.
Sebagian yang lain masih berfokus pada perhitungan kemampuan dan seberapa mampu mereka meraihnya.
Semangat yang menggelora membuat tingkat kecepatan lari mereka semakin cepat.
Hal tersebut disebabkan karena tidak ada satupun di antara mereka yang menyukai kekalahan yang membuat mereka mengalami kegagalan atau kesalahan.
Apabila mereka mendapatkan benar-benar mendapatkan kekalahan, mereka akan kembali bangkit tidak peduli seberapa menyakitkannya rasa pahit dari kegagalan.
__ADS_1
Mereka yang berjumlah sekitar 30 anak berlari sekencang mungkin dengan rata-rata kecepatan lari 108 m/s².
Karena mereka berlari secepat itu, membuat para penduduk yang menggunakan jalan, baik jalan umum maupun jalan alternatif merasa terganggu saat menjalankan masing-masing aktivitasnya termasuk Antonio yang memilih untuk melewati jalan alternatif supaya ia lebih cepat sampai ke tempat tujuan.
"WOSSHHH!!!"
"Anak-anak zaman sekarang semakin liar dan tidak beretika, ya? Sungguh memalukan! Apa mereka tidak diajarkan sopan santun dari kedua orang tuanya?" Gumam Antonio dengan menghela napas.
"WOOSSSHH!!!"
Lima peserta permainan tersebut menggunakan masing-masing kemampuannya termasuk kemampuan penambah kecepatan.
Debu, angin, dan asap berimbas ke para pengguna jalan yang mengakibatkan hampir seluruh benda yang maksimal bermassa 13,2 kg berterbangan.
Para pengguna jalan langsung menegur sekaligus memarahi anak-anak tersebut hanya didengar berlalu saja seperti 'Masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri' tanpa mengatakan permintaan maaf sekalipun.
"Benar-benar menjengkelkan!" Ucap Antonio dengan merapihkan penampilannya sehingga saat ia telah tiba di tempat tujuan ia bisa lebih percaya diri.
Saat ia sedang merapihkan setelan jas merahnya, ia merasakan kehilangan benda terpentingnya untuk saat ini, yaitu sebuah dokumen yang sebelumnya diberikan kepadanya.
Awalnya ia dibuat panik karena pada saat ia merogoh seluruh saku dan tempat yang bisa dijadikan penyimpanan suku cadangnya tidak menghasilkan apapun yang sesuai ekspektasinya.
Terdengar suara hempasan kertas di udara yang membuat Antonio spontan melihat ke arahnya dengan harapan ia mendapatkan kembali dokumennya.
"Aku menemukanmu!" Gumam Antonio dengan kedua tangan yang saling meraih seluruh isi dokumen tersebut dan kedua kakinya yang menolak permukaan tanah agar ia dapat melompat tinggi.
"BWOOOSSSHHHH!!!"
Empat orang saling beradu kecepatan terbang di udara dan hal tersebutlah yang membuat seluruh isi dokumen milik Antonio berterbangan tidak tentu arah yang tentunya semakin menjauh dan terus menjauh.
Bukannya langsung pergi mengumpulkan seluruh isi dokumen tersebut, Antonio justru langsung pergi mengejar para anak-anak kecil yang sedang asyik bermain hanya untuk meminta pertanggung jawaban dari mereka.
Emosi Antonio semakin naik dan terus naik hingga meledak-ledak yang membuat dirinya dijuluki si Impulsif.
"Dokumen pentingnya sudah hilang dan aku tidak punya waktu mengumpulkannya dalam hitungan detik bahkan sejam. Jadi, kalian yang harus mendapatkannya bagaimanapun caranya!" Ucap Antonio dengan menyeringai lebar tanpa memberikan kesan mencurigakan bagi lingkungan sekitarnya.
__ADS_1
Ia langsung berlari mengejar kesembilan anak-anak tersebut dan membuat mereka tunduk pada perintahnya sebelum ia memberikan hukuman.
BERSAMBUNG