
"Jadi dia yang kau maksud, Layla?" Tanya ketua.
"Benar." Ucap Layla yang menggunakan topeng yang mengantarkan Ravettha dan berdiri di sampingnya.
"Kebetulan aku sedang bosan. Bagaimana kita memainkan sebuah permainan yang menyenangkan? Jika kau bisa mengalahkanku, kau kulepaskan dan bisa membawa Layla." Ucap ketua dengan melirik ke arah Layla.
Layla menjadi sangat terkejut setelah mendengar hal tersebut.
"Ketua... Ingin membuangku?" Pikir Layla yang tidak percaya dengan perkataan yang barusan ia dengar.
"Ah... Aku lupa memperkenalkan diri. Aku adalah Queen of Domination. Kau bisa memanggilku ratu saja." Ucap Queen of Domination dengan senang.
"Kau bukan ratuku, kau tahu?" Tanya Ravettha dengan sengaja membuatnya marah.
"Katakan sekali lagi! Kupenggal kepalamu!" Ucap Queen of Domination yang dipenuhi amarah terlihat dari wajahnya.
"Coba saja." Ucap Ravettha dengan tersenyum licik.
"Tidak kusangka... Anak yang imut ini akan menantangku... Aku suka itu!" Ucap Queen of Domination.
"Terimakasih." Ucap Ravettha.
"Mari kita mulai permainannya!" Ucap Queen of Domination.
"Tentu." Ucap Ravettha.
Ia memasuki sebuah dimensi yang megah dan mewah.
Dipenuhi perhiasan, pernak-pernik, penghargaan, ruangan yang seluruhnya dilapisi emas termahal sehingga terlihat berkilau.
"Selamat datang di dimensi milikku. Kita akan bermain disini! Sekarang juga!" Ucap Queen of Domination.
"Tidak perlu susah-susah. Aku lebih suka bermain yang mengasah otak. Jadi... Aku punya permainan yang bernama Locerther Occasion." Ucap Queen of Domination.
"Permainannya adalah menjawab tiga buah pertanyaan. Aku akan memberikan hanya tiga kali kesempatan. Jika kau kalah, kau akan dipenggal oleh executionerku. Seperti yang kubilang. Jika kau bisa mengalahkanku, kau kulepaskan dan bisa membawa Layla." Ucap Queen of Domination.
Ravettha mengeluarkan sebuah kertas dan pena untuk mencatat pertanyaan yang akan diberikan.
"Baiklah. Apa pertanyaannya?" Ucap Ravettha yang telah siap untuk mencatat.
"Di sebuah paviliun terjadi pembunuhan massal. Tidak ada siapapun di ruangan tersebut. Hanya ada arwah bergentayangan yang tidak rela karena dibunuh. Di permainan ini, kau bermain sebagai seorang detektif yang mencari kebenaran." Ucap Queen of Domination.
"Pertanyaan pertama: Berapa jumlah orang yang masih hidup yang berada di paviliun tersebut?" Tanya Queen of Domination.
"Pertanyaan kedua: Berapa jumlah arwah yang bergentayangan tersebut?" Tanya Queen of Domination.
"Pertanyaan ketiga: Siapa yang melakukan pembunuhan massal?" Tanya Queen of Domination.
Setelah mengucapkan ketiga pertanyaan tersebut, Queen of Domination mengirimkan Ravettha ke tempat kejadian perkara.
Ravettha berdiri tepat di depan gerbang paviliun tersebut.
"Dia sengaja merencanakan semuanya. Itu artinya... Aku menjadi pion baginya. Jika aku tidak cepat menyelesaikannya, kemungkinan aku akan menjadi pion selamanya atau mati dibunuh oleh pembunuh tersebut." Pikir Ravettha dengan menatap sebuah jendela dari pintu gerbang yang lebih terang dari lainnya.
"Disini... Tidak bisa menggunakan kekuatan." Pikir Ravettha yang mencoba mengeluarkan sepercik api dari ujung jarinya.
Ia berjalan melewati pintu gerbang tersebut.
__ADS_1
"Permisi..." Ucap Ravettha.
Tidak ada satupun yang menjawab perkataan yang diucapkan oleh Ravettha.
Paviliun tersebut terlihat sangat sepi, menyeramkan, dan tercium bau darah yang menyengat setelah melewati pintu gerbang tersebut.
"Menarik." Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
Ia berjalan melewati halaman yang begitu luas dan memasuki paviliun tersebut.
"Permisi... Ada orang?" Ucap Ravettha yang telah tiba di depan pintu paviliun.
"Tidak ada. Ia pasti bersembunyi di dalam kegelapan dan muncul secara misterius karena mereka harus melakukannya seperti itu. Jika tidak, mereka akan tertangkap." Pikir Ravettha.
Ia melihat sebuah paviliun yang sangat luas seperti sebuah kerajaan.
Saat ia mencari sebuah petunjuk, ia melihat sebuah ruangan terbuka dan berbeda dari yang lainnya.
Ia pun menghampiri dan memasuki ruangan tersebut.
Disana, ia melihat sebuah cermin yang tidak terlalu besar melayang tidak terlalu tinggi.
Di sampingnya, terdapat banyak buku yang bertumpuk, berdebu, dan sudah usang.
"Cermin?" Ucap Ravettha yang menatap sedikit ke arah cermin tersebut.
Lalu ia mencari petunjuk disekitarnya.
Ia membaca semua buku yang bertumpuk tersebut dengan cepat dan mencari informasi sebagai petunjuk untuk menyelesaikan misinya.
"Ini milik anak yang masih kecil." Pikir Ravettha.
Ia pun membaca buku tersebut dengan cepat dan memahami isinya baik yang tersembunyi maupun tidak tersembunyi.
Sebagian besar berisi kegiatan sehari-hari, tetapi yang mencuri perhatian Ravettha ada di halaman terakhir dalam buku diary tersebut.
Di halaman terakhir, ia menulis sebuah ringkasan yang penuh keputus asaan, penyesalan, kebencian, harapan yang menjadi satu.
"Namaku Steilla Cornelius Penelophe. Aku sudah bahagia telah menghabiskan waktu disini. Aku akan bebas dari semua penderitaan yang menyakitkan ini. Bahkan keluargaku juga tidak ada yang peduli dengan kehadiranku. Sudah beribu-ribu tahun aku tinggal disini. Tidak ada satupun yang peduli denganku. Aku benci melihat orang lain yang selalu memasang topeng untuk menutupi sifat aslinya. Aku selalu berharap mereka mati saja dan masuk ke dalam neraka. Aku tidak tahan lagi. Sudah saatnya aku pergi dari tempat ini. Selamat tinggal dunia."
Isi halaman terakhir tersebut membuat Ravettha semakin penasaran.
Di halaman terakhir, terdapat bercak darah yang berwarna merah pekat berubah menjadi hitam dengan tiba-tiba.
Darah tersebut masih sangat segar.
"Dia tidak bersungguh-sungguh bunuh diri, bukan? Tunggu... Jika dia benar-benar mati. Itu artinya... Dia masih berada disini?" Pikir Ravettha.
"HAHAHAHAHAHA."
Tiba-tiba, ia mendengar sebuah suara tertawa yang sangat keras yang berasal dari suatu ruangan.
Ravettha berlari dan menghampiri asal suara tersebut.
Saat ia tiba di ruangan tersebut, ia tidak melihat ada seseorang yang tertawa, tetapi ia melihat sesosok bayangan yang menggenggam senjata berupa palu dipunggungnya.
Palu tersebut sangat besar, berat, dan berlumuran darah segar.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka ada yang mencariku. Terlebih lagi, anda datang dengan nekat walaupun sudah tahu disini berbahaya. Anda... Sungguh menarik." Ucap sosok bayangan tersebut yang menapakkan kakinya di lantai.
"Aku mengerti sekarang." Ucap Ravettha.
"Apa?" Tanya sosok bayangan tersebut.
"Kau yang bernama Steilla Cornelius Penelophe, bukan?" Tanya Ravettha.
"Ya." Ucap sosok bayangan tersebut.
"Sesuai perkiraanku." Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
"Kau adalah Layla, bawahan dari Queen of Domination yang sedang menjalankan tugas darinya untuk menyamar menjadi Steilla Cornelius Penelophe. Buku diary, dan kau yang membunuh mereka supaya tidak menghalangi tugasmu adalah rencanamu. Kau sudah mengetahui keberadaanku sejak aku berada di depan pintu gerbang. Lagipula, arwah tidak bisa terlihat kecuali memiliki kemampuan untuk melihatnya. Arwah juga tidak bisa menapakkan kakinya dengan baik kecuali dia sudah menempati wadahnya. Benar bukan?" Tanya Ravettha dengan tersenyum senang.
Sosok bayangan tersebut berubah menjadi Layla yang bertopeng.
"Anda benar. Apakah anda sudah mengetahui ketiga jawabannya?" Tanya Layla.
"Tentu saja." Ucap Ravettha.
"Lalu... Apa jawabannya?" Tanya Layla.
"Jawaban dari pertanyaan pertama adalah 2 orang. Kau dan aku. Jawaban dari pertanyaan kedua adalah 57 arwah bergentayangan. 18 di antaranya adalah arwah yang tidak memiliki niat jahat. Jawaban dari pertanyaan ketiga adalah kau yang menjadi pembunuh massalnya." Ucap Ravettha.
Setelah ia mengatakan ketiga jawabannya, ia dikirim kembali ke dimensi milik Queen of Domination tersebut.
"Selamat! Kau berhasil menjawabnya dengan sangat tepat dan cepat. Benar-benar diluar perkiraanku. Kukira anak yang imut ini akan menangis dan menjerit ketakutan. Sekarang, Layla akan menjadi milikmu. Jaga dia untukku, ya?" Tanya Queen of Domination dengan tersenyum senang.
"Kenapa begitu menyerahkannya dengan mudah? Jangan bilang, anda merencanakan sesuatu kembali?" Tanya Ravettha yang curiga dengan Queen of Domination.
Queen of Domination hanya tersenyum senang mendengarnya.
"Yah. Baiklah. Aku bawa Layla, ya? Kalau begitu, sampai jumpa dan saya izin pergi." Ucap Ravettha.
"Silahkan." Ucap Queen of Domination dengan tersenyum senang.
Ia pun pergi bersama Layla dan kembali lagi ke lantai keempat dimana ia membunuh semua pasukan Rymeus Slieton dengan sekali serang.
Layla pun langsung berlutut di hadapan Ravettha.
"Maafkan saya yang telah menyakiti anda sebelumnya. Saya pantas mendapatkan hukuman." Ucap Layla.
"Tidak. Kau justru telah membantuku. Terimakasih banyak." Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
Layla menjadi kebingungan, ia tidak tahu apa penyebabnya.
"Saya akan selalu melayani anda. Sekarang saya adalah bawahan anda." Ucap Layla dengan tulus dan tegas.
Ia kemudian menunjukkan wajah dibalik topengnya.
"Kau tidak perlu menunjukkannya, aku sudah mengetahuinya. Kakak tahu? Kakak sangat cantik dan memiliki paras yang indah." Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
Layla menjadi terharu dan tertawa bersama Ravettha.
"Selamat! Anda telah menyelesaikan Misi di lantai keempat. Anda telah membunuh semua pasukan Rymeus Slieton dan memenangkan permainan dalam melawan pemimpin pasukan Rymeus Slieton. Anda mendapatkan pemulihan energi yang kembali penuh, 20.000 koin emas, 15.000 koin perak, dan artefak kuno Gimeiya." Bunyi pesan yang muncul dari jendela misi.
BERSAMBUNG
__ADS_1