
Heilox yang sedang sibuk mengurusi pekerjaannya tiba-tiba menyadari kehadiran Nathan, Scott, Raja Kourtnef, Raja Haxley, Joeyladh, Irene, Blacky, dan Scotply yang dapat dijadikan sebagai bantuan daruratnya.
Karena ia tahu bahwa ia tidak boleh menyakiti mereka walaupun Ravettha tidak pernah mengatakannya.
Ia mengetahui larangan tersebut karena ia juga pernah merasakan indah dan pahitnya hidup bersama orang yang disayangi di masa lalu.
Ia pun langsung mengalihkan perhatian Dewa Iblis agar musuhnya tetap fokus melawan dirinya dan juga sebagai bentuk penghematan tenaga menuju pencapaian tujuan sebenarnya.
Untungnya ia berhasil mengalihkan perhatian Dewa Iblis sehingga ia tidak perlu merepotkan para bantuan daruratnya terlalu banyak.
"Kenapa kau seenaknya merusakkan semua hal yang telah kubangun dengan susah payah?" Tanya Dewa Iblis yang terlihat sangat jelas bahwa ia sangat kecewa dan memutuskan untuk mengeluarkan kemampuan 'Metavoid' miliknya.
"Oh ya? Sejak kapan mereka semua menjadi propertimu? Sungguh menggelikan! Setelah kau mendapatkan jabatan, kau lupa diri ternyata, ya? Seharusnya kau berterimakasih kepada pendahulu yang telah memberikan jabatan itu sebagai kesempatan terakhir kalinya padamu! Sayang sekali kau sudah gagal menjalaninya!" Ucap Heilox dengan memancing amarah Dewa Iblis.
"Bangunlah, 'Metavoid'ku! Berikan musuh kita ini 'Kehampaan' yang sebenarnya!" Ucap Dewa Iblis dengan sangat murka akibat perbuatan dan perkataan Heilox.
Sebuah kekuatan yang sangat besar terkumpul menjadi satu dan membentuk 'Void Room'.
Tidak ada sesuatu pun didalamnya, kecuali lapisan putih yang luas tanpa batas dan dirinya yang berada di dalamnya.
Ruangan tersebut memiliki sebuah efek samping yang dapat merugikan siapapun yang memasukinya.
Kerugian tersebut terdiri dari perasaan tidak berdaya, depresi yang terlalu berlebihan karena hanya sebuah penyebab, yaitu 'Whispering Infirmities'.
'Whispering Infirmities' adalah salah satu efek lain dari 'Void Room' yang dapat membisikkan tentang kelemahan-kelemahan yang dimiliki para pengunjungnya.
Sumber suara tersebut tidak bisa dicari asal-usulnya karena hal tersebut berasal dari inti 'Void Room'.
__ADS_1
Walaupun Heilox berhasil dipancing untuk memasuki ruangan tersebut, ia bahkan tidak dapat merasakan efek samping maupun kerugian dari 'Void Room' milik Dewa Iblis.
Karena ia tidak merasakan apapun, ia memanfaatkan keadaan tersebut untuk menyelesaikan urusannya.
"D-Dimana aku? Tempat apa ini?" Tanya Heilox dengan berpura-pura kebingungan layaknya seorang korban.
Ia yang telah memperhatikan bagaimana cara Ravettha berakting saat ia berada di bawah kendali Ravettha membuatnya berhasil melakukannya secara natural dan juga berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kau telah menghancurkan semua yang telah kubangun dan kau harus bertanggung jawab sekarang juga!" Ucap Dewa Iblis dengan menekan kekuatannya agar terkontrol dengan baik kembali.
"Jadi kau yang membawaku kemari?" Tanya Heilox dengan berpura-pura penasaran.
"Ya. Kau memang pantas mendapatkannya termasuk hukuman matimu!" Ucap Dewa Iblis dengan mengeluarkan beberapa kemampuannya sebagai bentuk eksekusi mati Heilox.
"CRAK!!!"
Mereka berjalan dengan postur tegap dan penuh percaya diri seolah tidak ada yang perlu ditakutkan.
"Kami adalah 'Rage Doom'! Kau sungguh sial kali ini, nak! Karena kami tidak pernah memberikan keringanan kepada para pelanggan kami. Bersiaplah untuk mendapatkan salam perpisahan terakhir dari kami!" Ucap 'Rage Doom' yang telah selesai memilih senjata eksekusinya.
"Kalian 'Rage Doom'? Maksudnya 'Rage and Doom', ya? Pft! Hahaha! Sungguh nama yang lucu!" Ucap Heilox yang tertawa karena sudah tidak dapat ditahan lagi.
"Kurasa nama kami sangat lucu di telingamu. Yah... Terserahlah. Yang terpenting bagi kami adalah menyelesaikan tugas kami! Jadi serahkanlah nyawamu secara damai kepada kami dan kau tidak perlu merasakan sakit lagi." Ucap kedua monster yang disebut dengan 'Rage Doom' secara bersamaan.
"Sayangnya aku tidak berniat memberikan sedikitpun kepada kalian dan terutama majikanmu! Begitupun dengan urusanku yang harus diselesaikan dengan cepat." Ucap Heilox dengan menyerap seluruh energi yang tersimpan di ruangan tersebut dan mengubah sebagiannya menjadi 'Flash Booming'.
'Flash Booming' adalah sebuah kekuatan yang berasal dari kilatan cahaya.
__ADS_1
Kilatan cahaya tersebut dapat membutakan para musuh selama 30 menit tanpa mempedulikan besarnya jarak yang dibutuhkan untuk memaksimalkan kinerja dari 'Flash Booming'.
Selama waktu tersebut sedang berjalan, Heilox langsung menargetkan Dewa Iblis yang juga merupakan kunci dari tujuan utamanya.
Karena Dewa Iblis menyadari kehadiran Heilox di dekatnya melalui 'Future Eyes' miliknya, ia langsung mengaktifkan pertahanan diri tingkat tertingginya.
"Kau pikir aku tidak tahu trik licikmu? Berpura-pura menjadi korban lalu langsung membunuhku? Dasar manusia yang selalu bodoh! Kau tahu? Manusia selalu saja mengganggu kedamaian hidup kaum kami. Mengemis dan berusaha menjilat hanya karena hasratnya yang banyak dan tidak berguna itulah yang membuat kaummu harus dimusnahkan! Karena aku sedang bertemu dengan salah satu anggotanya, maka kau saja yang jadi tempat pelampiasan kemarahanku. Lagipula itu akan setimpal dengan perbuatanmu! Cepat hukum mati manusia bodoh ini, 'Rage Doom'ku!" Ucap Dewa Iblis dengan memerintahkan kedua bawahannya.
Sangat jelas terlihat bahwa ia tidak memiliki waktu lagi di mata Heilox dan hal itulah yang membuatnya kembali bersemangat.
"Kurasa kau salah besar kali ini. Aku tidak peduli dengan apapun termasuk akibat perbuatanku, jadi untuk apa aku mengasihanimu dan berusaha mematuhi perkataanmu?" Tanya Heilox dengan mengubah 'Flash Booming' menjadi 'Bondage Unity'.
Dengan seketika 'Rage Doom' beserta majikannya langsung terdiam ditempat tanpa bergerak ataupun berbicara sedikitpun, kecuali mereka mendapatkan izin dari Heilox.
"Aku tahu bahwa kau mengetahui Kenesis dan Ortiz karena kau yang telah membunuh mereka. Sekarang juga katakan dimana abu mereka berdua!" Ucap Heilox dengan memerintahkan Dewa Iblis untuk berkata sejujur-jujurnya.
Sementara Dewa Iblis yang terhipnotis oleh perintah tersebut, ia justru termakan dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri.
Dirinya yang selalu dikelilingi oleh 'Negative Emotions' menjadikannya putus asa karena terlalu sedikit pikiran positif yang di dalam dirinya dan kesulitan dalam membuat keputusan bijak.
"K-K-Kau b-benar. Aku telah membunuh mereka demi mendapatkan kekuatan 'Gonzalez'. Anda pantas m-menghukumku. Abu mereka telah lenyap tetapi jika ingatanku benar... Disana masih ada peninggalan mereka berdua. Peninggalan mereka berdua berada di dalam Pohon Donahue." Ucap Dewa Iblis dengan tatapan yang tidak kosong yang tidak bermakna lagi.
"Baik! Kau harus mengantarkan ku kesana! Jika ingatanmu ada yang salah walaupun hanya satu, kau harus siap untuk kujadikan mangsa selanjutnya." Ucap Heilox dengan aura yang sangat siap untuk membunuh Dewa Iblis tanpa ampun.
"Baik. Aku akan mencoba mengingatnya kembali dengan tepat." Ucap Dewa Iblis dengan membuka pintu portal keluar dari 'Void Room'.
BERSAMBUNG
__ADS_1