
Rantai merah menyala yang keluar dari tangan Nathan langsung mengikat seluruh tubuh Irene dan Blacky.
"Ck! Jangan harap kau bisa mengenai kami, bocah! Kau itu sangat lemah!" Ucap Irene dengan menghancurkan seluruh rantai yang mengikatnya dan juga Blacky.
"Ya, kau benar! Aku memang lemah, tapi aku tidak lebih lemah dari yang kau bayangkan!" Ucap Nathan dengan menyeringai.
Seringaian tersebut terekam dengan jelas oleh Irene dan Blacky.
Seakan-akan seringaian tersebut akan mendatangkan bencana yang lebih besar dari apa yang telah mereka lakukan.
Irene dan Blacky yang sedikit tampak kebingungan dengan yang akan terjadi di masa depan membuat Nathan kembali senang.
Karena terlalu senang, ia mengeluarkan salah satu dari sekian banyak kemampuan terbaiknya, yaitu 'Regard and Scream'.
'Regard and Scream' adalah sebuah kemampuan yang dapat mengubah seluruh kekuatan alamiah dari berbagai sumber, seperti partikel kekuatan, dosa, ketakutan, kekuasaan, kecerdasan, dan kejahatan menjadi kekuatan yang tidak terkalahkan demi kehormatan yang abadi.
Kemampuan tersebut akhirnya berhasil mengumpulkan seluruh kekuatan dalam jumlah yang melebihi kapasitas aslinya.
"Lumayan! Tapi aku ingin yang lebih banyak, lagi dan lagi!" Ucap Nathan dengan menyerang Irene dan Blacky dengan cakar yang tumpul.
Ia menggunakan cakar tersebut karena senang melihat mangsanya menderita secara perlahan-lahan dan langsung menjadikannya sebagai 'Extroyeal Froth'.
"Arghhh! Apa yang sebenarnya ia inginkan? Kekuatan? Kekuasaan? Yang lebih sadisnya lagi, dia ingin mengeluarkan seluruh organ dalam tubuh mangsanya!" Pikir Irene dengan menahan rasa sakitnya.
"Blacky! Dengarkan aku dan genggam tanganku!" Teriak Irene kepada Blacky.
"Dalam waktu lima belas detik, kita akan menggunakannya untuk kabur dari tempat ini sebelum tubuh kita hancur. Kau tahu apa yang harus kita gunakan, bukan?" Bisik Irene dengan mendekatkan dirinya kepada Blacky.
Blacky pun langsung mengangguk setuju dengan rencana yang dibuat oleh majikannya.
"Hoi! Kalian bicarakan tentang apa? Aku ikut bergabung juga, ya? Kau tahu? Aku sangat suka dengan rahasia!" Ucap Nathan dengan tersenyum senang.
"BOOOM!!!"
Sebuah ledakan kabut telah dilemparkan dan menjangkau ke sekitar 1.000 km².
Kabut tersebut berhasil menghalangi pandangan Nathan, tetapi tidak dengan kelima indra lainnya.
Dengan cepatnya, ia melemparkan lima buah pisau yang tajam, kecil, dan transparan ke arah dua mangsanya.
Pisau tersebut bernama 'Cylouft', pisau yang dapat membunuh targetnya dengan menyerap seluruh informasi mulai dari yang paling penting hingga tidak pentinh, dan seluruh nyawa dari targetnya.
__ADS_1
"JLEB!!! JLEB!!! JLEB!!! JLEB!!! SREETTTT!!!"
Masing-masing pisau berhasil menusuk belahan otak, jantung, dan menggores salah satu mata Irene.
"Sialan! Ini tidak bisa dibiarkan!" Ucap Irene dengan menggerakkan giginya.
Sementara itu, Blacky langsung terkulai ke tanah karena kehilangan kesadaran.
"3 detik lagi!" Gumam Irene dengan mengeluarkan seluruh kekuatan yang tersisanya untuk melarikan diri.
"Padahal tinggal sedikit lagi, tetapi kalian justru berniat untuk kabur bukannya memulihkan diri. Yah... Walaupun kalian memulihkan diri, semua yang kalian lakukan tidak ada gunanya, loh!" Ucap Nathan dengan membaca seluruh informasi yang telah ia dapatkan dari pisau-pisaunya.
"Kerja yang bagus hari ini, sahabatku!" Ucap Nathan dengan mencabut pisau-pisaunya yang telah tertancap di kedua tubuh mangsanya.
"Tidak masalah! Apapun akan kami lakukan untukmu, sahabatku." Ucap kelima pisau Nathan yang berubah menjadi kekuatan Nathan kembali.
"Jadi Scott, ya? Kukira siapa, haduh! Dasar tua bangka yang menyusahkan saja!" Ucap Nathan yang berubah menjadi kesal karena mengingat tugas yang diberikan kepadanya.
"Lihat apa yang kubawa! Sambutlah tamu kita ini! Mereka akan jadi keluarga baru kalian!" Ucap Nathan dengan tersenyum senang.
Keheningan menyelimuti sekelilingnya, hal itu karena para mangsanya telah menjadi bagian dari eksperimennya.
"Silahkan nikmati hari-hari yang indah di dalam 'Extroyeal Froth' ku, Nona Irene dan Tuan Blacky!" Ucap Nathan.
Ia berbalik meninggalkan tempat tersebut dan pergi menuju suatu tempat.
Sementara itu, Ranson dan Dalton yang telah menjadi anak buah Heilox sedang sibuk menjalankan tugasnya.
Tugas mereka bukanlah perkara yang mudah karena mereka harus menyebarkan ramuan yang tersimpan baik di dalam kedua batu putih yang diberikan oleh Heilox.
Untuk mempercepat prosesnya, mereka membagi dua tugas tersebut dan memutuskan untuk berkumpul di satu tempat setelah selesai melakukan tugasnya.
Semua yang mereka lakukan sangatlah cepat dan akurat karena mereka menyebarkannya dengan menggunakan 'Spiex'.
'Spiex' tersebut akan aktif setelah penggunanya membuka masing-masing batu putih tersebut.
Setelah diaktifkan, 'Spiex' akan meyebarkan ramuan tersebut secara otomatis melalui partikel kehidupan.
Partikel kehidupan yang disebarkan ini akan mendeteksi asal aura baik yang tersembunyi maupun tidak.
Melalui hal tersebut, ramuan yang disebarkan dapat dengan mudah mengendalikan para iblis sebagai targetnya untuk dijadikan budak baru Heilox.
__ADS_1
"Bagaimana? Kau sudah selesai menaburi semuanya?" Tanya Ranson kepada Dalton dengan berdiri di atap sebuah rumah.
"Ya, semuanya berjalan lancar. Kau juga, bukan?" Tanya Dalton yang baru tiba.
Ranson langsung menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kuharap tuan menyukai hasil pekerjaan kita."
"Semoga saja begitu." Ucap Dalton yang berencana untuk meninggalkan tempat tersebut dan pergi untuk melaporkan kepada tuannya.
"Ternyata cepat juga...!" Gumam Heilox setelah melihat kedatangan dua anak buahnya.
Kedua anak buahnya yang melihat tuannya langsung berlutut dan menundukkan wajahnya.
"Maaf mengganggu anda, tuan. Saya kemari karena ingin memberikan laporan atas tugas yang anda berikan." Ucap Dalton.
"Tidak masalah, silahkan laporkan hasilnya." Ucap Heilox dengan berhenti sejenak dari latihannya.
"Kami berhasil melakukan sesuai yang anda perintahkan tanpa tersisa kesalahan sedikitpun." Ucap Ranson.
Heilox terdiam sejenak untuk membuktikan kebenaran dari perkataan anak buahnya.
Saat Heilox terdiam, Ranson dan Dalton menjadi semakin gugup dan cemas akan respon tuannya.
Karena Heilox tidak menemukan kebohongan sedikitpun dari perkataan anak buahnya, ia langsung tersenyum senang.
"Kerja bagus, anak buahku! Aku menantikan antusiasme kalian untuk tugas selanjutnya. Semoga berhasil!" Ucap Heilox dengan menyentuh pundak Ranson dan Dalton secara bersamaan.
Mereka berdua langsung tersipu malu walaupun mereka tidak mengungkapkan dengan jelas, Heilox sangat tahu akan hal tersebut.
"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, tuan?" Tanya Dalton dengan mengalihkan perhatian.
"Benar! Serahkan tugas apa saja kepada kami, tuan! Kami berjanji akan melaksanakannya dengan baik." Ucap Ranson.
"Tunggu aku memberikan perintah selanjutnya, saat itu juga kalian harus melaksanakannya." Ucap Heilox dengan kembali berlatih mandiri.
"Baik, tuan." Ucap Ranson dan Dalton secara bersamaan.
Walaupun Heilox sedang berlatih sebelum menjalankan rencana lainnya, ia tetap mau mendengarkan masukan sekaligus pendapat para anak buahnya.
Hal tersebut yang membuat hati kedua anak buahnya bersedia untuk berkomitmen kepada dirinya dan tuannya sendiri.
BERSAMBUNG
__ADS_1