Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Tugas Dari Para Senior


__ADS_3

Ravettha langsung berjalan mengikuti Raja Kourtnef untuk menjalankan pelatihan pertamanya.


Tibalah mereka di sebuah dimensi milik Raja Kourtnef untuk latihan.


"Kita sudah sampai di dimensi untuk pelatihan pertama! Setiap pelatihan yang berangka ganjil, maka para murid akan memasuki dimensi yang berbeda-beda. Aku disini hanya ingin memberitahumu saja bahwa disetiap dimensi memiliki kesulitan yang tinggi-tinggi. Hal ini digunakan untuk melihat dan mengukur kemampuan para murid. Jadi jangan heran jika melihat murid lainnya ada yang keluar dengan cepat atau lambat." Ucap Raja Kourtnef.


"Karena ini adalah dunia iblis yang sangat berbeda dari dunia lainnya, maka kau harus mengambil bola berwarna putih di dasar magma gunung berapi itu. Oh ya! Gunung ini adalah gunung berapi aktif loh! Jangan terkejut jika kau terus terlempar keluar karena kelamaan! Tentunya semua dimensi ini sudah diatur olehku. Semoga beruntung! Aku akan melihat perkembanganku dari sini saja!" Ucap Raja Kourtnef dengan tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Tidak masalah! Walaupun aku mati pun, aku tidak akan berhenti mencari dan mengumpulkan itu!" Pikir Ravettha dengan bersemangat.


"Hm... Masa bodo dengan suhu yang panasnya!" Pikir Ravettha dengan menyelam di permukaannya terlebih dahulu.


Ia perlahan-lahan mulai merasakan kesakitan karena suhu yang panas, sayangnya hal tersebut tidak membuat Ravettha patah semangat.


Ia justru menjadi sangat bersemangat untuk menyelesaikan tugas dan mendapatkan apa yang diperintahkan oleh gurunya.


"Ini memang panas. Karena aku bisa menggunakan elemen api, mungkin aku bisa meringankan mereka dari tubuhku!" Pikir Ravettha dengan mengeluarkan elemen apinya dari seluruh tubuhnya dan juga melapisinya dengan sangat tebal.


"Lumayan juga! Suhu magma tersebut menjadi sangat dingin semakin aku mendekati dasar gunung! Menarik! Aku penasaran apa saja isi yang ada di dalam gunung ini!" Pikir Ravettha dengan sangat bersemangat dan berenang dengan kecepatan tinggi.


"Ketemu! Itu dia bola yang dikatakan guru! Tunggu... Bukankah ini terlalu mudah? Kalau begitu aku harus berhati-hati!" Pikir Ravettha yang telah menemukan bola berwarna putih yang melekat di atas bebatuan.


Setelah mengambil bola tersebut, ia langsung berenang keluar dari gunung berapi tersebut dengan selamat dan hanya mengalami luka sedikit karena lepuhan suhu magma di awal memasuki permukaan.


Ia langsung memulihkan dirinya sekaligus melaporkan hasil pelatihannya kepada gurunya.


"Bagus! Bagaimana magmanya? Kau tidak meminumnya, kan?" Tanya Raja Kourtnef dengan sedikit candaan.


"Kupikir ada yang akan menghentikanku di dasar sana." Ucap Ravettha dengan sangat kecewa.


"Tenang saja! Masih banyak pelatihan yang menunggumu di latihan selanjutnya! Sekarang kita akan keluar dahulu, lalu mintalah tugas tertulis itu. Mengerti?" Tanya Raja Kourtnef dengan membukakan portal keluarnya.


"Ya." Ucap Ravettha dengan sangat tidak sabar.

__ADS_1


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Sarah dengan sangat penasaran.


"Sepertinya dia berhasil lagi?" Tanya Rai dengan ekspresi datarnya.


"Tepat sekali! Kalau begitu aku pergi dahulu! Pelatihan hari ini sampai disini! Jangan lupa kerjakan tugasnya!" Ucap Raja Kourtnef.


Ravettha hanya mengangguk dan langsung meminta tugas dari masing-masing seniornya.


"Nih! Sudah kukumpulkan dari para murid jadi kau tidak perlu mengganggu pekerjaan mereka. Kerjakan semua ini dan kumpulkan paling lambat besok malam di ruanganku! Tanya saja pada pelayan dimana ruanganku. Sudah mengerti, kan?" Tanya Rai dengan ekspresi dinginnya yang memberikan setumpuk kertas tugas.


"Baik. Terimakasih atas bantuannya!" Ucap Ravettha dengan mengambil seluruh tumpukan kertas tugas tersebut.


"Jangan salah sangka! Aku membantumu karena permintaan Sarah!" Ucap Rai.


"Tidak masalah! Saya sangat berterimakasih kepada Rai dan Sarah. Kalau begitu, saya izin untuk mengejakan semua tugas ini." Ucap Ravettha.


"Ya." Ucap Rai.


Ravettha kembali keluar dari taman istana dan bertemu seorang pelayan.


"Nona Ravettha! Sebuah kehormatan bertemu anda disini!" Ucap seorang pelayan dengan sangat sopan walaupun ia telah berlari sedikit.


"Perkenalkan nama hamba adalah Annie Hawkins. Mari saya antarkan menuju kamar anda!" Ucap pelayan tersebut dengan sangat sopan dan membungkukkan badan saat bertemu Ravettha.


"Baiklah." Ucap Ravettha dengan menyetujui pelayan tersebut.


Mereka berdua berjalan menuju tempat yang dituju.


"Bisakah anda menjelaskan peraturan yang ada disini?" Tanya Ravettha dengan sedikit penasaran.


"Tentu saja! Peraturan disini sangat banyak! Saya hanya akan menjelaskan peraturan khusus bagi para murid." Ucap Annie.


Ravettha langsung mengeluarkan catatannya dan sebuah pena untuk menulis seluruh peraturan tersebut sekaligus menghabiskan waktu karena letak kamarnya sangat jauh dari istana, tepatnya berada di villa khusus murid.

__ADS_1


"Peraturan yang pertama adalah anda dilarang tidur di atas jam 8 malam. Kedua adalah anda dilarang membuat kekacauan dimanapun anda berada. Ketiga adalah anda dilarang memasuki istana kecuali jika disuruh menghadap oleh Yang Mulia Raja atau Ratu. Keempat adalah anda tidak boleh keluar dari wilayah istana kecuali terdapat tugas darurat. Kelima adalah anda dilarang melakukan tindakan kejahatan dimanapun anda berada. Keenam adalah anda harus sudah bangun jam 4 pagi. Ketujuh adalah anda diperbolehkan menggunakan perpustakaan, laboratorium, ruang khusus berlatih, dan fasilitas lainnya kecuali fasilitas yang ada di dalam istana. Kedelapan adalah anda harus menghadiri acara makan malam bersama para murid lain setiap harinya. Kesembilan adalah anda harus selalu meningkatkan kemampuan setiap harinya. Kesepuluh adalah anda harus mengikuti dan melaksanakan seluruh tugas ataupun ujian yang diberikan oleh guru." Ucap Annie.


"Apa hukuman jika ada yang melanggarnya?" Tanya Ravettha yang sibuk mencatat.


"Hukumannya adalah anda akan mendapatkan sebuah kalung pengekang kemampuan dan kekuatan yang dimiliki pelanggar selama tiga hari. Tenang saja! Semua peraturan tersebut memiliki aturan yang sama." Ucap Annie.


"Hm... Menarik!" Pikir Ravettha dengan tersenyum kecil yang disembunyikan dengan sangat baik sehingga tidak ada yang menyadari tingkah laku maupun pikirannya termasuk Annie.


"Nona, kita telah sampai! Ini adalah kamar anda. Saya disini yang akan melayani anda." Ucap Annie.


Ia berencana untuk menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaian Ravettha.


"Tunggu... Kau mau kemana?" Tanya Ravettha.


"Saya akan menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaian anda." Ucap Annie.


"Baiklah." Ucap Ravettha.


Karena ia tidak membawa perlengkapan pribadi apapun karena ia telah menyimpannya di tas penyimpanan sehingga ia tidak perlu membereskan apapun.


Ia memutuskan untuk menelusuri seluruh isi kamarnya.


Jendela yang besar dan sederhana menghadap ke timur, dan dinding yang bergaya Eropa klasik.


Isi kamar tersebut sama seperti kamar pada umumnya.


"Hm... Disini tidak ada rak buku atau buku yang bisa dibaca? Aku butuh buku untuk menjawab seluruh pertanyaan ini! Aku harus mencarinya di perpustakaan terdekat!" Pikir Ravettha.


"Nona! Air panas dan peralatan mandi sudah saya siapkan." Ucap Annie.


"Baiklah. Terimakasih ya." Ucap Ravettha.


"Anda tidak perlu berterimakasih seperti itu. Saya sangat senang karena bisa menjadi pelayan pribadi anda." Ucap Annie.

__ADS_1


"Kau sangat baik." Ucap Ravettha dengan tersenyum.


BERSAMBUNG


__ADS_2