
"Dua jam? Sangat sesuai untuk mengadakan rapat rahasia, maka aku datang di saat yang tepat. Guru kau harus berhati-hati dengan jebakannya loh!" Pikir Ravettha langsung bermain polo air di kolam renang bersama para rekan barunya.
"HATCHI!"
"Apa ada seseorang yang membicarakanku? Tidak seperti biasanya tubuh ini merespon hingga merinding. Bukan firasat buruk?" Pikir Pak Chayton bersiap-siap menghadiri undangan pertemuan.
Meskipun ia tidak mengerti mengapa harus bersin sekarang, satu-satunya orang yang paling mungkin membicarakannya adalah muridnya sendiri.
Ia yang sadar akan hal tersebut bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan layaknya seorang pria biasa.
"Selamat datang, Professor Chayton! Anda telah datang kemari merupakan sebuah kehormatan bagi kami. Silahkan duduk dan nikmati rapat kita!" Ucap Tuan Proxton mengamati diam-diam tamunya ini.
"Anda terlalu baik hati. Mulai saja rapatnya!" Ucap Tuan Chayton dengan nada dinginnya sama sekali tidak ingin memihak siapapun.
Para anggota rapat lainnya pun setuju dengan perkataan Tuan Chayton, mereka langsung menganggukkan kepala dan berfokus pada jalannya rapat.
Tidak ada lagi yang membicarakan sesuatu selain pendiskusian tentang rapat rahasia tersebut.
"Raja dan Ratu 'Minetture' telah menyetujui proposal kita! Dengan kata lain, dunia ini sudah jatuh ke tangan kita. Sekarang mari kita dengar arahan langsung Yang Mulia Gervais I." Ucap Tuan Proxton menyalakan layar hologramnya dan menyambungkan panggilan ke atasannya.
"Senang mengetahui saudaraku hadir di pertemuan ini! Benar, 'Minetture' telah berada di naungan kita. Satu hal yang perlu kita waspadai saat ini adalah Raja dan Ratu tidak akan tinggal diam melihat operasi serangan. Kejayaan adalah milik para saudara kita! Jangan biarkan mereka mengganggu jalan kita!" Ucap Yang Mulia Gervais I menggunakan kemampuannya agar siapapun yang mendengar perintah, harus segera dikerjakan.
Perintah tersebut berulang-ulang terdengar di telinga para anggota rapat.
Mencoba angkat tangan hanya untuk bertanya terasa sangat mustahil.
Seluruh anggota berdiri dan memberi hormat sebelum Yang Mulia Gervais I mengakhiri panggilan.
"Kami akan mengusahakannya, Yang Mulia." Ucap para anggota secara bersamaan, termasuk Tuan Proxton.
"Dasar anak pintar! Kau membuat guru ini kerepotan. Lihat saja, tugasmu tidak akan berakhir hingga semua masalah disini selesai!" Pikir Pak Chayton mengikuti etika rekannya.
__ADS_1
Rapat rahasia ini terus berlangsung hingga 1 jam 30 menit.
Selama dirinya masih berada di rapat tersebut, tugasnya sebagai agen mata-mata belum bisa dianggap selesai.
"Gervais... Marganya Gervais? Jadi itu kau, pelayan keadilan?" Gumam Ravettha keluar dari kolam renang dan mengakhiri permainan polo airnya.
Ia benar-benar tertarik mengetahui langsung mengenai latar belakang marga Gervais.
Jika bukan karena gurunya terpaksa mengikuti rapat, ia mungkin tidak akan mendapatkan hal menarik seperti ini selain mengandalkan alat perekam suara, pendeteksi format tersembunyi, dan penyabotase sistem keamanan.
"Anggap saja misi ini menguntungkanku. Mari kita lihat pertunjukan apa yang akan ditampilkan kali ini!" Pikir Ravettha mengganti pakaiannya secara otomatis, kembali ke markas sebelumnya, dan menjelajahi perpustakaan terlarang.
"Akses diterima! Selamat datang, Nona Besar! Ada yang bisa kami bantu?" Bunyi sebuah suara yang muncul dari pendeteksi sidik jari dan nama pengenal.
"Carikan seluruh berkas mengenai keluarga Gervais!" Ucap Ravettha mengingat kembali tujuan utama dirinya menyetujui kontrak dengan partnernya, Vicenzo.
"Perintah diterima. Berkas yang Nona cari ada di BZ83. Mari saya antarkan, Nona Ravettha!" Bunyi suara pendeteksi tersebut berubah wujud menjadi robot asisten perpustakaan terlarang.
Mengetahui keahlian robot asisten itu, Ravettha hanya mengikuti panduan yang telah diberikan.
"Perpustakaan ini berisi data pribadi yang disembunyikan dari suatu hal. Mencari data seperti ini secara legal hanya akan membuat masalah lebih buruk lagi. Terlebih data-data itu telah memiliki keamanan terkuat karena pusatnya disini." Pikir Ravettha memperhatikan para brankas yang tersusun rapih menjadi labirin rak.
"Seluruh berkas yang anda butuhkan ada disini. Butuh saya beritahu kata kuncinya, Nona Besar?" Tanya robot asisten dengan penuh penasaran tentang daya ingat majikannya.
"83Gu14. Apa aku salah, Indereit?" Tanya Ravettha mengingat kembali nama anak buahnya.
"Tepat sekali, Nona!" Ucap Indereit tersenyum senang karena keraguannya menghilang dalam sekejap.
"Baiklah, Indereit! Kembalilah, masih ada yang ingin kulakukan disini." Ucap Ravettha membiarkan bawahannya bekerja seperti biasa.
Perintahnya langsung dipatuhi Indereit.
__ADS_1
Ia pergi melanjutkan pekerjaannya dipenuhi rasa gembira.
"Sudah sangat lama Nona Besar Ravettha tidak datang berkunjung kemari dan sekarang aku berhasil melayaninya. Semangat bekerjaku berapi-api kembali! Indereit sangat senang!" Pikir Indereit memancarkan aura gembiranya.
"Gervais I, ayah angkat Vicenzo. Orang tua Gervais I telah wafat saat dirinya berumur 1,5 tahun. Terlantar, memiliki penyakit kronis di masa mudanya, dan kedua matanya terpaksa jadi korban eksperimen 'Wanita Tua'. Saat ini generasi Gervais adalah kaki tangannya." Pikir Ravettha setelah mengambil kesimpulan tersingkatnya.
"TAP! TAP! TAP!"
Ia melangkah secepat mungkin menuju tempat keberadaan Indereit.
Di saat yang sama, dirinya merasakan ada suatu jiwa yang menunggu, mengawasi, dan siap mengambil alih tubuhnya.
"Indereit! Katakan padaku siapa yang mendapat julukan 'Wanita Tua' itu!" Ucap Ravettha memberikan perintah untuk kesekian kalinya.
"Itu anda, Yang Mulia! Indereit berserah diri kepada Yang Mulia." Ucap Indereit bertekuk lutut dan sekalipun tidak berani menatap ke majikannya tanpa perintah.
"Wielmsiestor, Aedoglas, dan Nomiculfon berserah diri kepada Yang Mulia." Ucap tiga pemuda datang dari dunia yang berbeda hanya untuk menyambut kebangkitan majikannya dan menunggu perintah selanjutnya.
Mereka bertiga melakukan hal yang sama seperti Indereit lakukan.
Sementara Ravettha kebingungan, menderita, dan menahan agar kesadarannya tidak diambil alih, daya tarik milik seseorang dengan gelar 'Yang Mulia' semakin meningkat.
"Halo, diriku di kehidupan ketiga! 4 tujuan hidupmu belum terpenuhi, maka aku bangkit untuk membantumu. Beristirahatlah dengan tenang, diriku di kehidupan ketiga!" Ucap sebuah suara yang tidak lain adalah majikan dari keempat bawahannya.
"Jika itu benar diriku yang asli, katakanlah apakah aku akan mati sia-sia seperti ini?" Tanya Ravettha merasakan sakit kepala, suhu tubuh terus meningkat melebihi batas normal, dan seluruh bagian tubuh terkoyak-koyak.
"Tidak. Aku istirahatkan dirimu agar terhindar dari penderitaan ini. Begitu semuanya telah sempurna, persiapan khusus untukmu telah disiapkan, disanalah saat dirimu bangkit dan meraih 4 tujuan hidupmu yang belum terpenuhi. Tugasku disini adalah menyiapkan bibit unggul terakhir dan sisanya kuserahkan padamu, diriku di kehidupan ketiga!" Ucap sebuah suara berbicara langsung dengan inti roh Ravettha.
Tepat saat dirinya memanggil nama Ravettha sebagai 'Diriku di Kehidupan Ketiga' inti roh Ravettha langsung diistirahatkan.
Kesadaran, nyawa, dan tubuh utamanya masih ada dan tersimpan dengan penuh kehati-hatian.
__ADS_1
Siapapun tidak ada yang bisa mengajaknya bicara karena dirinya telah tertidur.
BERSAMBUNG