Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Eleminasi Rekan Seperjuangan


__ADS_3

Sorayna belum menjawab pertanyaan sahabatnya sendiri.


Mulutnya terkunci rapat saat mendapati mereka berdua memiliki musuh yang sama.


Ia menatap mata Ravettha sejenak, yang ia lihat hanyalah aura kemarahan dimana dirinya sendiri tidak dapat menjelaskan apa yang salah.


"TEP!"


Sahabatnya mendorong paksa tubuhnya ke belakang.


Kali ini ia mulai mengerti apa yang dipikirkan oleh sahabat perempuannya.


"Benar juga! Kenapa aku memisahkan mereka ya?" Tanya seorang pria berambut cokelat panjang dengan goresan diagonal dari suatu pedang di bagian mulutnya.


Ia mencabut tombak berharganya dari tanah dan menggenggamnya ke belakang punggung.


Tidak ada rasa bangga ataupun kesedihan selain perkataannya yang terkesan tidak peduli.


Ia adalah Porte Sean Herque, seorang peserta yang terkenal akan kualitas pemberontaknya.


"Kau telah menyelamatkanku, Vette! Kali ini aku yang akan memberi mereka hadiah terbaik yang pernah ada!" Ucap Sorayna yang dipenuhi keyakinan.


Meskipun tanah di hadapannya telah terbelah, tidak ada alasan lain baginya untuk mengungkapkan terima kasih.


Ia tahu bahwa jurang yang ada dihadapan mereka itu benar-benar menyenangkan jika musuhnya memiliki korban yang penuh kenaifan.


Menyadari akan hal itu, Ravettha dan Sorayna berjalan ke arah yang saling berlawanan.


Ravettha terus melangkah ke kiri, sedangkan Sorayna berjalan ke kanan.


Sangat jelas terlihat bahwa mereka berdua sedang mencari dan membutuhkan sesuatu.


"Mau sampai kapan aku menunggu kalian menyerang?" Tanya Sean yang memainkan dagunya.


Ia tidak berhenti mengawasi kedua targetnya karena dirinya berani bertaruh jika dilewatkan, keduanya akan hilang dari pandangan dan membuat pertunjukan baru yang tentunya akan merugikan dirinya.


Dengan sungguh sabarnya ia mengeliminasi rekan seperjuangan di sekitar area.


"B-Bagaimana...? Teganya bos besar membunuh rekan seperjuangan kita!" Ucap salah satu dari tiga bawahan Sean.


"Shhh! Tutup mulutmu, bodoh!" Ucap bawahan lainnya dengan menginjak kaki rekannya.


Ravettha hanya diam dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi.


Ini tidak benar-benar menguntungkan bagi kedua belah pihak.


Pikiran Ravettha maupun Sorayna tidak saling terhubung dalam telepati.

__ADS_1


Mereka berdua lebih memilih menggunakan keseimbangan intuisi dan logika.


"Halo, tuan! Sayangnya kita telah terperangkap!" Ucap Ravettha yang muncul tepat di wajah Sean.


Keempat mata yang saling bertatapan dan dilengkapi ekspresi yang berbeda.


Sean sangat yakin bahwa kata "Terperangkap" tidak bermakna dirinya terancam, melainkan seluruh kaumnya.


Rekan seperjuangan yang telah susah payah ia bangun ternyata ingin atau tidak harus menunggu waktu cahaya penyelamat.


"Sambutlah panggilanku, Hetcogera! Air pasang menyambutmu. Lantunan lirik menyertai perkara. Kegelapan malam menganugerahimu. Pisau jiwa merakit hidup. Engkau dan aku terhubung satu. Tuan dari segala materi mengaup. Bebaskan perisaimu bagai ratu." Ucap Sorayna dengan memanggil pengurus kepercayaannya.


Dirinya sungguh tenang dan nyaman saat memanggil Hetcogera.


Tidak ada yang peduli akan perkataan yang membosankan termasuk Sean dan ketiga anak buahnya.


Mereka berempat merasa tidak terpengaruh sedikitpun oleh Sorayna.


"Tentu saja kau tidak sakit saat ini, bukan?" Tanya suatu suara yang tidak diketahui asalnya.


Sebuah kalimat itu terus menggema di dalam pikiran Sean.


Tubuhnya yang diliputi hawa panas berubah menjadi hawa dingin yang mencekam.


Hanya satu yang ia rasakan, yaitu kehilangan kendali atas tubuhnya.


Ia mendapati satu ketukan dari hadapannya disertai bola merah terang dan lingkaran hitam di atas kepalanya.


Kehilangan kendali akan kekuasaannya membuat dirinya sendiri dilanda mati rasa.


Seluruh ambisi dan arah tujuannya menghilang seketika dan tidak berbekas.


Ia bahkan tidak tahu kata permintaan maaf apa yang harus dikatakan pada ketiga bawahan setianya.


"BO!"


Itu adalah suara terbaik yang pernah dimiliki oleh Hetcogera.


Ia sungguh tidak mengerti akan manusia, kecuali mematuhi segala perintah dari tuan abadinya, Sorayna Eucaston Geoverra.


Mayat hidup, serangga pemangsa daging, dan racun-racun dalam tanah berkumpul di satu tempat dan merangkak keluar dari tanah yang terbelah oleh Sean sebelumnya.


"Fufufu! Kau akan berhutang budi padaku, Sean malang! Aku tidak akan melupakan potongan pajaknya loh!" Ucap Sorayna yang muncul tepat di hadapan Sean.


Seperti perkataannya, Sean bernasib buruk tidak lebih dari mayat-mayat yang baru saja dibangkitkan.


"Apa kita akan menganggur sebentar?" Tanya Ravettha yang berdiri mengamati rekan anggotanya di lain sisi.

__ADS_1


"Kurasa tidak lagi. Kita akan bersenang-senang disini! Yuhuuuu!" Ucap Sorayna dengan menarik tangan Ravettha, menggenggam salah satu lengannya, dan berdansa diiringi irama favoritnya.


"Tunggu sebentar di sini, Sorayna! Tidak menyenangkan tanpa cemilan ini, bukan?" Tanya Ravettha yang mengacak-acak tas penyimpanannya.


Sebuah meja panjang membentang di pinggir lingkaran dansa.


Meja tersebut berisi beragam jenis makanan dan minuman, termasuk kue kesukaan mereka.


Di samping meja terdapat satu sistem pelayan hologram untuk mendapatkan pesanan yang diinginkan.


"Bagus! Dansa kita pertama kali ini sungguh menakjubkan!" Ucap Sorayna dengan memeluk erat sahabat perempuannya, lalu memulai urusan mereka berdua dalam waktu yang tepat, tidak begitu cepat ataupun lama.


Di tempat yang sama, Hetcogera memandu para pasukannya dan memberikan bala bantuan ke tetangga, yaitu Kalvetno, Levord, Waldon, Vicenzo, dan Pak Victor.


"CTRANGG!"


Sebilah pedang terjatuh dari genggaman tangan yang serius dalam bertarung.


Penggunanya sangat terkejut setelah menyadari ada banyak tamu spesial.


"Siapa yang menaruh kelabang dan lintah sialan ini? Hah?" Tanya Levord yang justru kesal karena dirinya diganggu bukan dibantu.


Ia benar-benar ingin melampiaskan kemarahannya pada seorang yang mengirim musuh menjijikkan, seperti serangga-serangga yang telah termutasi.


"Kemarilah! Jelas sekali kau masih membenci lendir payah ini, kan?" Tanya Waldon yang mencoba sesekali godaan barunya pada adik semata wayangnya.


"Ya! Coba saja kakak kemari dan singkirkan mereka dariku! Kita lihat siapa yang menang kali ini!" Ucap Levord yang berpura-pura terpancing emosi dan godaan kakaknya.


"Tentu aku terima tantanganmu, adikku! Kakakmu yang terbaik ini akan menunjukkan seberapa pantas jadi sandaran bagi adik kecilnya!" Ucap Waldon dengan melompat jauh menuju Levord.


Cahaya ungu kehijauan keluar dari kesepuluh ujung jarinya.


Mereka melepaskan diri dari pondasinya dan meluncur lepas landas ke udara.


Membelah diri dan pergi menghampiri jatah makan malamnya.


Setelah tugasnya terpenuhi, mereka langsung menghancurkan diri tanpa menunggu isyarat ataupun perintah majikannya.


Penghancuran diri sendiri itu tidak begitu memberikan dampak yang besar pada ruang lingkup suara.


"Bagaimana? Sudah siap dipanggil 'Kakak dan adik' resmi lagi?" Tanya Waldon yang tertawa kegirangan.


Ia sungguh tidak peduli respon apa yang akan diterima karena ia berpegang teguh pada pernyataan, "Apapun hasilnya, itulah yang akan menjadi solusinya".


"Cih! Melihat dirimu yang menyebalkan itu, rasanya tidak berguna aku jawab 'Tidak' atau semacam penolakan, ya?" Ucap Levord dengan menatap sekilas kakaknya, lalu memutar bola matanya hingga lawan bicara mengalihkan topik pembicaraan.


"Jika aku jawab 'Ya' atau 'Tidak', aku akan menyesal di kemudian hari. Bagaimana jika kuubah jadi 'Tergantung'? Benar-benar aman, ya? Ha-ha-ha!" Ucap Waldon yang mencoba untuk seterbuka mungkin melalui humornya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2