
"Bisakah kau mengatakan apa permintaan terakhirnya?" Tanya Pak Hugo dengan mulai kembali penasaran.
"Ia memintaku untuk mengadakan belajar tambahan untuk dirinya dan keempat temannya serta tiga dari mereka adalah orang yang sama dengan murid-murid yang sudah maupun akan diintrogasi." Ucap Pak Victor dengan berniat untuk tidak menangis lagi.
"Baiklah. Aku mengerti, lalu siapa satu temannya lagi yang belum kau sebutkan? Bisakah kau berikan detail mengenai orangnya itu?" Tanya Pak Hugo dengan memberikan selembar kertas dan pena untuk menggambar.
"Ya. Tubuhnya tinggi, kurus berisi, rambutnya silver dan sedikit acak-acakan, matanya berwarna hijau tua, kurasa dia anak yang pendiam." Ucap Pak Victor dengan menggambar karakteristik-karakteristik yang telah ia sebutkan.
Goresan penanya yang halus dan lembut menghasilkan gambaran yang serupa dengan penglihatan dan kesan yang dia dapatkan saat berada di 'Oderia's Restaurant'.
Setelah merasa selesai menggambarnya, ia langsung menyerahkannya ke Pak Hugo.
Pak Hugo pun dengan sigapnya mengamati dan mencatat kemiripan dengan hasil foto yang telah ia dapatkan.
"Gambarannya sangat mirip dengan anak yang ada di foto ini. Apa kau yakin mereka adalah orang yang sama?" Tanya Pak Hugo dengan menyerahkan 8 buah foto yang bervariasi karena foto-foto tersebut diambil dari berbagai alat pengintai yang tersembunyi di tempat-tempat tertentu termasuk restoran tersebut.
"80% dan sisanya kau yang harus membuktikannya, bukan?" Tanya Pak Victor dengan menatap tajam ke arah Pak Hugo.
"Ya, itu sudah menjadi tugasku. Kalau begitu terima kasih telah meluangkan waktu anda!" Ucap Pak Hugo dengan berubah menjadi sangat ramah dalam sekejap.
Pak Hugo hanya menganggukkan kepalanya sekali dan berjalan keluar menuju ruang tunggu seperti sama halnya dengan yang dialami Sorayna sebelumnya.
Nama Levord dipanggil terlebih dahulu sebelum Kalvetno sehingga membuat dirinya tetap tenang saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepadanya.
"Levord Vanschtexion Aieralef, senang bertemu denganmu~! Hari ini aku tidak bisa berbasa-basi denganmu, jadi simpan pertanyaanmu dan kita langsung keintinya saja! Apa kau melihat hal-hal yang mencurigakan dari Ravettha, temanmu itu?" Tanya Pak Hugo dengan kembali serius dan memberikan tatapan mata yang tajam khasnya kepada sumber informasinya.
"Tidak ada." Ucap Levord dengan mengingat ulang beberapa kejadian saat bersama Ravettha.
__ADS_1
"Seperti apa Ravettha di matamu?" Tanya Pak Hugo dengan penuh penasaran.
"Anak biasa yang baik hati, asyik diajak bermain dan cukup ambisius." Ucap Levord dengan mengingat kembali kesan pertamanya saat bertemu Ravettha.
"Baiklah. Kau sudah boleh pergi." Ucap Pak Hugo dengan mulai mencatat di buku tulisnya.
Levord pun pergi meninggalkan Pak Hugo sendirian di dalam ruangan tersebut.
Di saat yang bersamaan, Kalvetno memasuki ruangan tersebut dan menceritakan semua hal yang ia ketahui disana.
"Kalvetno Heinry Dalfatch. Tepat sebelum kau dan teman-teman Ravettha, apakah kau menemukan hal aneh saat berada dirumah Ravettha?" Tanya Pak Hugo dengan mulai kembali penasaran.
"Hampir... Awalnya aku tidak mengerti mengapa Ravettha berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan kami berempat, tetapi yang paling membuatku semakin bingung dengannya adalah pada saat ia mengajak kami untuk saling bekerjasama dalam mengerjakan tugas kerja kelompok kami dari sekolah. Bukannya bermaksud untuk membencinya, tetapi menurutku itu sangat aneh padahal banyak sekali murid-murid di kelas kami yang pastinya mau bekerjasama dengannya. Ia bahkan telah menunjukkan skenario perencanaan kerja kelompok dengan sangat rapih dan jelas serta memperkenalkan hasil perencanaannya kepada kami dengan penuh percaya diri bahwa kelompok yang ia rencanakan akan sukses besar. Disaat itu, aku hanya mencoba untuk mengikuti rencana kerja kelompoknya tanpa berpikir panjang." Ucap Kalvetno dengan berbicara sangat lugas untuk meyakinkan Pak Hugo bahwa ia bukanlah pelakunya.
"Baiklah. Pengintrogasian kita telah selesai. Jika kau dan yang lainnya setuju untuk menunggu hasilnya keluar, mungkin akan menghabiskan waktu kurang dari sejam." Ucap Pak Hugo dengan menghitung kemungkinan hasil keputusannya.
"Kau sangat cepat sekali, ya? Aku sudah bosan menunggu!" Ucap Sorayna yang masih menyesali keputusannya untuk kabur dari kelas bersama teman-temannya.
"Sabarlah! Kita harus menunggu hasilnya keluar." Ucap Kalvetno.
Dilihatnya terdapat Pak Victor, Levord, dan Sorayna sedang menunggu di kursi tamu yang telah disediakan disana.
Dirinya pun ikut duduk disebelah Levord yang kebetulan sedang kosong karena tidak yang mendudukinya.
Tanpa disadarinya, ia menginjak ekor serigala kecil yang bersembunyi di bawah kursi tersebut.
Serigala tersebut langsung berteriak secara spontan karena terkejut dan merasa sakit pada bagian ekornya.
__ADS_1
"Goarrrr! Apa aku terlalu kecil hingga kalian bahkan tidak bisa melihat keberadaanku?" Tanya serigala kecil yang memiliki bulu putih dan sedikit perpaduan warna biru muda di bagian leher dan ekornya, serta mata yang berwarna orange menyala.
"Haah? Siapa yang berbicara? Sorayna! Kau yang barusan berbicara, ya?" Tanya Kalvetno dengan panik dan diselimuti rasa bersalah yang amat besar karena telah menyakiti serigala kecil tersebut.
"Kau pikir aku adalah makhluk yang sama dengan hewan berbulu itu?" Tanya Sorayna dengan memberikan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan tuduhan yang telah dilontarkan kepadanya.
"Apa serigala di atas kepalamu yang kau maksud, Kalvetno?" Tanya Levord dengan jari telunjuk yang sedang menunjuk ke arah atas kepala Kalvetno.
Kalvetno yang tidak merasakan apapun di atas kepalanya menjadi heran sehingga membuatnya semakin penasaran dengan keberadaan serigala kecil yang dikatakan oleh Levord dan Sorayna.
Saat ia masih mencoba menengadah ke atas disertai tangannya yang mulai mengacak-acak rambutnya, ia menemukan untaian bulu putih dan ujungnya berwarna biru muda menjuntai ke depan wajahnya.
Dirinya yang tidak menyadari keberadaan serigala kecil di atas kepalanya menjadi benar-benar terkejut setelah melihat ekor sang Serigala Kecil hingga berlari menuju Pak Victor hanya untuk bersembunyi dari serangan makhluk tidak dikenalnya.
"Bapak! Lindungi aku dari makhluk yang dapat berbicara itu!" Ucap Kalvetno dengan membuat benteng pertahanan menggunakan punggung Pak Victor.
Di mata Pak Victor, Kalvetno bersembunyi layaknya tikus yang sedang ketakutan pada para lawannya.
"Sepertinya kau kedatangan tamu, jadi sapalah dia!" Ucap Pak Victor dengan menarik kerah belakang baju Kalvetno hingga keluar dari perlindungannya.
Hal tersebut membuat sang Serigala Kecil sedikit kesal, tetapi ia berusaha tersenyum agar ia tidak melupakan tujuan utamanya datang kemari.
"Sejujurnya aku sakit hati saat kau memanggilku dengan 'Hewan Berbulu', Kelelawar! Ah! Tidak diragukan lagi bahwa bangsa Naga memiliki kecerdasan yang luar biasa hebat, tetapi mengapa rumornya sampai terdengar keluar?" Tanya serigala kecil tersebut kepada Sorayna lalu berpaling ke Levord dengan memberikan tawa kecil yang sama-sama merendahkan keduanya.
"Oh, ya? Sungguh di luar dugaan! Bangsa Serigala yang terkenal akan kesetiaannya terhadap majikannya sedang merendahkan bangsa lain! Sepertinya kau telah lepas ikatan dari majikanmu, huh?" Tanya Levord dengan ekspresi wajah yang datar dan dipenuhi ketidaktertarikan pada lawan bicaranya.
Ia langsung memalingkan badannya dan pergi duduk kembali dengan menyembunyikan senyum liciknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG