Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Penuntasan Tantangan Tersembunyi


__ADS_3

"Oh tidak! Di satu sisi tidak ada ruginya, tetapi di satu sisi aku merasa dirugikan. Huhu, habislah sudah keperawananku direbut Cedric sialan ini!" Pikir Ravettha yang tidak ingin sedikitpun merasakan penyesalan di dalam hidupnya.


Tubuhnya merasa sungguh berlainan dengan pemikirannya.


Sedikit saja dirinya mengetahui, ia memilih untuk menyamakannya untuk sekali ini saja.


"Sayang, sepertinya kamu sedang marah besar. Aku sudah pakai penutup telinga. Kamu bisa berteriak di padang rumput ini loh." Bisik Vicenzo dengan memeluk erat Ravettha dari belakang agar tidak menyerang balik ke dirinya.


Perbedaan reaksi antara tubuh dan pikiran ini membuat Ravettha lebih memilih pikirannya untuk mengendalikan kembali tubuhnya.


Melalui ketepatan indra perabanya, ia berhasil membuka penutup telinga yang dipakai Vicenzo.


"Kita akan membicarakannya setelah urusan disini selesai." Ucap Ravettha melepaskan pelukan di tubuhnya itu.


"Hm... Rasanya ku tak perlu ikut campur dengan kalian berdua. Langsung saja, apa kau sekarang masih menyamar jadi pemain seperti kami?" Tanya Rencouff menatap penuh keinginan untuk merendahkan Vicenzo.


"Apa pentingnya kau mengetahui semua itu?" Tanya Vicenzo dengan nada dingin dan sorot mata kebenciannya.


Hanya mendengar satu pertanyaan itu telah membuat Rencouff naik pitam dan berniat mencari tahu asal-usul orang asing yang menyebalkannya ini.


Sementara Ravettha tidak peduli apa yang terjadi di antara mereka berdua, ia masih saja menunggu kapan kemunculan tantangan terakhir.


"CTRANG!"


'Demon Blade' milik Ravettha berhasil dipanggil oleh majikannya.


Ia tidak menyangka dirinya akan terus berguna setelah cukup lama tidak digunakan.


"Tampaknya kau begitu senang saat aku memilihmu, 'Demon Blade'." Ucap Ravettha penuh semangat saat dihadapkan siluman hiu.


"Ah... Sebegitu terlihatnya, ya? Tentu saja sangat senang! Bagiku, ini adalah sebuah kehormatan dapat bertarung di sisi anda, master!" Ucap 'Demon Blade' merasa sedikit tersipu mengetahui majikannya telah memperhatikan dirinya.


Sebuah perasaan penting membuatnya tidak tahu cara membalas budi, selain mengerahkan seluruh miliknya hanya untuk Ravettha.


Menyadari kehadiran musuh di bawah permukaan yang dipijak majikannya, ia langsung bergerak dan Ravettha hanya perlu menyamakan gerakannya.


"Hei, orang asing! Kau pasti tau ikan ganas ini. Katakan dari arah mana mereka muncul!" Ucap Rencouff sama sekali tidak menginginkan satu anggota barunya ini diam seperti patung dan mengikuti kemanapun Ravettha pergi.

__ADS_1


"Mengapa tanya padaku? Kau telah melihatnya tadi." Ucap Vicenzo tidak mengerti musuhnya ini.


Sama seperti dirinya, antara Vicenzo dan Rencouff kurang memahami maksud satu sama lain.


Meskipun Ravettha tahu akar permasalahan dan solusinya, ia hanya perlu menunggu hingga salah satu pihak membutuhkannya.


"Demon Blade! Kau pernah mendengar masakan Layla sungguh lezat?" Tanya Ravettha baru saja terpikirkan hal menyenangkan yang bisa ia lakukan di waktu luangnya.


"Pernah. Apa master tertarik mencoba langsung?" Tanya 'Demon Blade' benar-benar penasaran dengan rencana di pikiran majikannya.


"Kau akan tahu setelah semua ini selesai." Ucap Ravettha tertawa gembira karena menantikan hal menyenangkan tersebut.


"DING!"


"Petunjuk gratis kalian telah kadaluarsa! Ambil 1.000 batu permata dari siluman hiu! Tipe tantangan tersembunyi tingkat S+." Bunyi pesan kembali muncul untuk terakhir kalinya sebagai pemandu 'Shark Boot Camp'.


"Hanya mengambilnya saja, bukan?" Tanya Rencouff mendadak teringat larangan dalam menghadapi hiu.


"Tidak. Kita tidak menang dengan begitu mudah. Keinginan mewujudkannya haruslah berkorban lebih dahulu! Apa yang ingin kau korbankan, Rencouff?" Tanya Ravettha yang hanya perlu membaca kembali perbedaan tipe dengan tantangan tersembunyi lainnya.


Mendengar pertanyaan rekannya ini, dirinya membisu dan berusaha sebisa mungkin untuk memikirkannya perlahan-lahan.


"SRAT!"


"Fokus, Rencouff! Aku tau kau ketakutan, maka ubahlah menjadi kekuatan tak tertandingi." Ucap Ravettha menggores wajah rekannya menggunakan 'Demon Blade', sekaligus menepuk kedua pundaknya, dan tersenyum bangga.


Dari pengalamannya berlatih bersama Rencouff, ia mengetahui bahwa rekannya ini perlu dipacu keinginan terbesarnya dengan beberapa tekanan.


Layaknya penderitaan, Rencouff akhirnya tersadar tepat setelah goresan pedang rekannya ini mengenai wajahnya.


Ia membalas senyuman bangga Ravettha dengan rasa syukur dan penuh terimakasih.


"Tanda ini akan kubiarkan seperti ini. Aku tidak akan mengobatinya karena berkatmu, aku jadi tau siapa diriku." Pikir Rencouff tertawa jahat sekencang mungkin demi menyatukan seluruh kendali atas hidupnya.


"Kamu membantunya, sayang. Apa hanya aku yang melihat goresan pedangmu menjadi sangat berharga baginya?" Tanya Vicenzo bertanya-tanya mengapa musuhnya menjadikan goresan kecil di wajahnya sebagai hal istimewa.


"Tidak ada yang salah dengan pandanganmu. Dia pantas mendapatkannya." Ucap Ravettha berbalik badan meninggalkan Rencouff tertawa sendirian.

__ADS_1


Tanpa memandang ke belakang, ia tetap berjalan menuju sumber harta karunnya.


Dapat terlihat dengan jelas di mata Vicenzo bahwa kekasihnya ini menikmati apa yang ia rencanakan, lakukan, dan pertahankan.


"Mari kita bersenang-senang, Cedric dan 'Demon Blade' ku!" Ucap Ravettha menempelkan di pedangnya tas penyimpanan yang tidak dapat terlihat oleh siapapun, kecuali dirinya sendiri.


"SPLASH!"


"Oh, hoho! Tampaknya ini semakin menarik! Bagaimana jika ku hadiahkan laut darah sebagai tempat tidurmu?" Pikir Ravettha di pembunuhan siluman hiu pertamanya.


Semakin banyak mangsa, dirinya semakin bersemangat.


Terlebih lagi setelah melihat gigi mereka yang begitu runcing dan tajam.


"Manusia! Kami yang seharusnya membunuh kalian, bukan sebaliknya!" Ucap seorang siluman hiu memberanikan dirinya agar lebih berkharisma di depan rekan-rekannya.


"Selamat tidur, manisku!" Bisik Ravettha menyembunyikan seringaiannya, sedangkan gerakan tangan dan ayunan pedangnya berhasil memenggal kepala targetnya.


Ia benar-benar suka memainkan perannya baik di dalam kesenyapan ataupun secara brutal.


Tidak ada satupun yang berani berbicara sepatah kata lagi padanya.


Bagi para siluman hiu, mereka merasa mendapatkan saingan terberat.


"Aku kagum pada tanganmu, nona! Tangan anda sungguh lihai ditambah pedang penghabis energi itu." Ucap seorang misterius bermata merah menawan yang terus menggunakan topi hitam klasik dan tongkat kristalnya.


Jika diperhatikan, senyumannya terasa tidak ada habisnya dan itu sangat menjengkelkan bagi Vicenzo.


"Jangan berpikir kau mau menyentuh Ravettha ku! Aku tidak akan membiarkannya!" Ucap Vicenzo dengan sikap tubuhnya yang tenang, tetapi tidak pada tingkat emosinya.


"Tenang, tenang, tuan. Urusanku bukanlah dengan anda, melainkan dengan nona yang mulia ini." Ucap seorang pria misterius menunjuk ke arah Ravettha sesopan mungkin.


"Apa?! Nona yang mulia? Tolong jangan katakan padaku bahwa yang dimaksud pria ini adalah kakek tua bangka itu." Pikir Ravettha merasa terganggu akan kehadiran pria misterius di hadapannya.


Menyadari akan kedatangan Rencouff dengan jati diri yang barunya, seorang pria misterius ini langsung menawarkan jasanya kepada Ravettha.


Ia benar-benar tidak ingin kesempatan emasnya hilang begitu saja.

__ADS_1


Tidak lupa juga dengan kebiasaan profesionalnya terus terbawa saat berhadapan dengan para kliennya.


BERSAMBUNG


__ADS_2