Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Hari Kebebasan dan Kematian


__ADS_3

"Tolong jangan sekarang jatuhnya." Gumam Rencouff menyesal dan diharuskan mengurung niatnya terlebih dahulu.


"SWOSH! BRUK!"


"Ugh! Jadi ini 'Aegaflast' yang asli. Mereka jauh lebih indah dari dua orang di atas! Mari kita lihat berapa yang guru butuhkan!" Gumam Rencouff mengakui keindahan barang incaran sekaligus habitatnya.


Ketika dirinya memeriksa kembali yang tertulis di kertas gulungan, ia terkejut melebihi perhitungannya.


"Yang benar saja, guru!" Ucap Rencouff membuat pelindung dan jebakan di setiap lorong yang ia temui.


Ia sama sekali tidak ingin melakukan tugas dengan penuh gangguan yang tidak penting.


Beberapa menit kemudian, jebakan telah diletakkan tepat di depan pelindung yang ia pasang dari dalam.


"Memetik bunga kristal ini saja memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Terlebih lagi guru menginginkan 25 'Aegaflast' utuh dengan akar-akarnya. Yah...! Setidaknya para pengganggu itu tidak mengganggu wilayahku." Pikir Rencouff berkali-kali mengerjakan tugasnya.


Satu hal yang tidak bisa ia bayangkan adalah bagaimana reaksi Pak Chayton saat marah.


Hal itu terjadi karena sebelumnya ia bahkan diselamatkan oleh amarah Pak Cheidon sehingga Pak Chayton tidak perlu memarahinya dua kali.


"Sakit...! Hiks...!" Ucap sebuah suara yang tidak dapat dikenali oleh Rencouff.


"Tidak ada orang disini. Bahkan makhluk terkecil pun sudah kusingkirkan dari dalam pelindung ini." Pikir Rencouff mencari-cari sumber suara asing tersebut.


"Aku disini, manusia. Di tanganmu!" Ucap suara asing tersebut semakin melemah.


Mendengar perkataannya, Rencouff sama sekali tidak percaya bahwa bunga dan batangnya 'Aegaflast' telah terpisah ini berbicara kepadanya.


Ia mencubit pipinya dengan kuat hanya untuk memastikan dirinya tidak terkena ilusi ataupun bermimpi.


"Ha! Ternyata ini nyata! Apa kau peri 'Aegaflast'?" Tanya Rencouff menyembunyikan rasa takjubnya dari lawan bicara.


"Tidak. Hanya seorang pendeta." Ucap roh pendeta yang terperangkap di dalam 'Aegaflast'.

__ADS_1


"Kau pendeta dan rohmu terjebak di tubuh mungil ini? Katakanlah kau ingin memintaku lakukan sesuatu, bukan?" Tanya Rencouff kembali tidak percaya pada lawan bicaranya.


"Bantu sembuhkan aku lalu kita bahas setelah ini." Ucap roh pendeta mempersingkat kalimatnya agar dapat menekan hari kematiannya.


"Aku tidak bisa menyembuhkanmu, tetapi rekanku bisa. Ravettha!" Ucap Rencouff membuka dan memasukkan tangannya ke dalam teleport tepat di lokasi Ravettha berada.


Tanpa memberi tanda, rekannya ini langsung ditarik keluar hingga tiba di tempat yang sama.


Dirinya yang berhasil membawa Ravettha kemari justru merasa sungguh menyesal.


"Kenapa kau yang muncul?" Tanya Rencouff benar-benar kecewa telah berhadapan dengan saingannya.


"Mengapa tanya padaku? Ravettha menungguku, aku harus kembali." Ucap Vicenzo berbalik badan dan tidak peduli dengan apa yang dialami Rencouff ataupun roh pendeta 'Aegaflast'.


"Ya, pergilah selamanya! Jangan kembali dan menunjukkan wajahmu di hadapanku! Aku bertaruh Ravettha juga membencimu." Ucap Rencouff melempar pendeta 'Aegaflast' dan tidak lupa menyisipkan koordinat lokasi rekannya.


Ia yakin rekannya akan membantunya karena bagaimanapun roh pendeta 'Aegaflast' ini menguntungkan bagi Ravettha.


Mengetahui arah lemparan saingannya ini, Vicenzo langsung menangkap wujud sementara roh pendeta 'Aegaflast' dan menghancurkannya hingga rusak berkeping-keping.


"Argh!!! A-aku... Masih... M-mau... Hidup!" Teriak roh pendeta 'Aegaflast' untuk terakhir kali di sisa hidupnya.


"Kali ini aku membebaskanmu, tetapi tidak di lain...!" Ucap Rencouff menahan rasa sakit akan penderitaan kehilangan roh pendetanya, meskipun perkataannya belum terselesaikan.


"Berisik! Tidak punya hak bicara masih saja keras kepala. Perlu kau ingat, Borend Couffel! Kebebasanmu adalah milikku dan kau baru saja mengatakan membebaskanku saat ini, maka akan kutunjukkan arti kebebasan yang sebenarnya." Ucap Vicenzo mencabut paksa inti roh Rencouff, tersenyum senang, dan menghancurkan seluruh bagian rohnya agar tidak bisa bereinkarnasi.


Ia sungguh tersenyum senang dan menantikan reaksi kekasihnya saat mengetahui kebenaran.


Satu hal yang membuatnya menjadi yakin agar lebih cepat menghabisini musuhnya di tempat adalah Rencouff dan roh pendeta 'Aegaflast' sama sekali tidak sebanding nilainya dengan yang diinginkan kekasihnya.


Kematian Rencouff membuat pelindung di masing-masing ujung lorong lenyap sia-sia.


"Lalalala~ Sayang! Aku sudah pulang loh. Kamu lihat caraku menyelesaikannya, bukan?" Tanya Vicenzo keluar dari portal milik Rencouff dan langsung memeluk erat kekasihnya yang masih sibuk mengurusi tugas.

__ADS_1


"Sudah kulihat. Apa yang membuatmu begitu gembira? Kamu menantikan hadiah dariku?" Tanya Ravettha menatap wajah partnernya dari posisi yang terdekat.


Dirinya bahkan bisa melihat dengan sangat jelas bahwa wajah partnernya memerah seperti paprika merah yang segar.


Terlebih lagi partnernya memberi sinyal untuk segera menyambut ciuman manisnya.


"Cepat cium aku, sayang!" Pikir Vicenzo yang sudah tidak tahan menanggung malunya.


"Pft! Kuucapkan selamat kamu sudah berhasil menarik perhatianku, Cedric." Bisik Ravettha menyeringai tanpa disadari oleh partnernya sendiri.


Di setiap katanya diberikan penekanan agar partnernya ini mengingat kembali siapa dirinya.


Hanya dengan bisikan yang terdengar lembut di telinga Vicenzo ternyata berhasil membuat dirinya meleleh seperti cokelat cair.


"Bangunlah, Cedric! Jika kamu terus pingsan seperti ini sepanjang hari, aku akan membuangmu ke angkasa lepas sana." Ucap Ravettha justru tidak mengerti apa yang dialami partnernya ini.


"Tidak! Tidak boleh! Katakan padaku kamu ingin aku membantu tugas ini? Biar aku yang selesaikan." Ucap Vicenzo panik dan ketakutan di saat yang sama.


"Ini baru benar! Jadilah berguna! Jika tidak, teruslah jadi menyebalkan dan aku ada disini untuk M-E-N-G-A-B-A-I-K-A-N dirimu." Ucap Ravettha yang sama sekali tidak kenal perasaan.


"Hoho! Menangis lah, mohon ampun, dan tunjukkan ketakutanmu!" Pikir Ravettha menahan tawa jahatnya.


"Benar! Kamu adalah istri masa depanku. Mana mungkin suami payah ini harus merepotkanmu di masa depan? Tidak bisa! Akan kutunjukkan bahwa aku adalah suami idamanmu dan kamu tidak akan menyesal telah menikahiku!" Ucap Vicenzo dengan semangat berapi-api berkebalikan 180° dengan keinginan kekasihnya.


Seketika Ravettha merasa tertusuk seusatu, membisu, dan tidak bergerak seperti patung.


Ia kehabisan kata-kata dan hanya memiliki 0% pemahaman terhadap partnernya ini, sedangkan amarahnya mengumpul di satu titik hingga dirinya sangat ingin membunuh Vicenzo.


Tidak peduli apakah melanggar isi kontrak di kehidupan ketiganya atau tidak, dirinya sudah seperti bom yang siap meledak kapan saja.


"Cedric, ikutlah denganku saat makan malam dan menyerahkan tugas ini!" Ucap Ravettha mengambil, menyusun, dan merapihkan lembaran tugas hingga tersusun rapih dari meja belajarnya.


"Benarkah? Aku sangat senang kamu terus mengajakku terlibat di dalam kegiatanmu, sayang." Ucap Vicenzo tersenyum gembira dengan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan kekasihnya.

__ADS_1


"Itu karena mau diajak atau tidak, kamu pasti akan mengikutiku. Jadi sekalian saja aku mengajakmu! Lagipula mengapa kamu tidur disini?!" Tanya Ravettha merasa jijik sekaligus kesal mendapati tingkah manis partnernya sendiri.


BERSAMBUNG


__ADS_2