
Kalvetno yang mendengar sekaligus menyaksikan reaksi yang diberikan oleh Sorayna, Levord, dan Pak Victor menjadi benar-benar terkejut disertai rasa penasaran yang tinggi.
"Loh! Jadi bapak ini, Levord, dan Sorayna saling kenal? Ini tidak mungkin terjadi! Bagaimana bisa kalian tidak mengenalkannya kepadaku juga?" Tanya Kalvetno dengan mencurigai kedua temannya dan Pak Victor.
"BUAGH!"
Dua buah pukulan mendarat tepat di kepala Kalvetno sebagai hukuman dari Pak Victor dan Sorayna secara bersamaan.
"Aaaw! Sakit! Lagi-lagi aku yang kena sasarannya!" Gumam Kalvetno dengan memeriksa apakah kondisi kepalanya masih baik-baik saja.
"Berhentilah bersikap menjengkelkan seperti itu, calon murid-muridku! Setidaknya kalian memberikan sedikit hormat pada 'Absolute God and Goddess Messenger'!" Ucap Pak Victor dengan menundukkan kepala Sorayna, Levord, dan Kalvetno sebagai bentuk penghormatan sekaligus salam, begitupun dengan dirinya yang melakukan hal yang sama seperti para calon muridnya dengan lebih sopan.
Para calon muridnya yang tidak dapat melakukan perlawanan hanya bisa mengikuti perintah Pak Victor dengan terpaksa termasuk Levord.
"Jika saya diperkenankan bertanya, sebenarnya apa tujuan anda kemari?" Tanya Pak Victor dengan sangat penasaran pada isi pesan wahyu yang akan disampaikan oleh serigala kecil tersebut sebagai 'Absolute God and Goddess Messenger'.
Setelah ia selesai menanyakan hal tersebut dengan jelas, sebuah suara dan penglihatan di alam bawah sadarnya berhasil dikontrol oleh sang 'Absolute God and Goddess Messenger'.
Hanya terdapat kumpulan kilauan cahaya yang menyilaukan pandangan dan dapat berbicara secara langsung kepada Pak Victor.
"Segeralah kalian membuat langkah terbesar." Ucap sang 'Absolute God and Goddess Messenger' dengan mengembalikan semuanya seperti sedia kala tanpa ada satupun yang tertinggal.
"Langkah terbesar? Maksudmu... Mengambil keputusan dengan risiko yang t-terbesar? Bersama siapa? 'Kalian' itu artinya aku tidak sendirian, bukan? A-Apa maksud semua ini? Apa a-aku telah membuat k-kesalahan besar?" Gumam Pak Victor dengan kembali berfokus pada dunia aslinya.
Tubuhnya yang tampak bergemetaran ikut membuat kepalanya semakin pusing sehingga ia memutuskan untuk duduk kembali di kursinya, merileksasikan pikirannya, lalu berpikir kembali mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Sorayna, Kalvetno, dan Levord yang tidak mendapatkan isi pesan wahyu tersebut sama sekali tidak peduli dengan kejadian yang dialami oleh Pak Victor.
Sementara itu, Pak Hugo pergi menuju tempat kejadian perkara, yaitu rumah Tuan Ellievont, Tuan Elliovent, dan tentunya Ravettha.
__ADS_1
Disana dirinya melihat halaman depan yang telah hancur parah dibandingkan bagian dalamnya.
Tanah halaman rumah perkara, rumah tetangga ikut hancur, dimana kejadian tersebut hanya menyisakan puing-puing bahan bangunan rumah tetangga, tanah yang rata, gersang, dan tidak dapat dijadikan lahan serba guna membuat sensasi adrenalin Pak Hugo semakin meningkat tanpa batas.
Ia bahkan dengan percaya diri dan keyakinannya memasuki zona terlarang yang telah ditetapkan oleh para pihak polisi.
"Hm... Kali ini kasusnya akibat ledakan besar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Pelaku memiliki motif sengaja menutupi kejahatannya dengan kerusakan ini dan melindungi harta karunnya di tempat aman. Bukankah harta karunnya sudah dipindahkan ke tempat yang sangat jauh dan lebih aman dari umpan ini? Mengapa ia sengaja menempatkan umpan lainnya disini? Apa karena hal lain selain mengecoh dan memprovokasi sekitarnya?" Pikir Pak Hugo dengan berkeliling ke seluruh pelosok rumah tersebut tanpa meninggalkan ruangan yang tersisa.
Semua hal tersebut masih saja belum cukup memenuhi informasinya, tetapi ada satu kemungkinan yang sangat dirasakan oleh Pak Hugo saat memasuki rumah tersebut.
"Aku yakin ruangan yang ini!" Pikir Pak Hugo dengan berlari menghampiri sebuah ruangan yang tidak lain adalah ruang kantor milik Tuan Ellievont.
Ia yang terlalu bersemangat dalam memecahkan kasus tersebut tidak menyadari bahwa rekan sekaligus rivalnya sedang memperhatikan langkahnya.
"Hei! Hugo! Kau mau mengacak-acak lagi, ya?!" Tanya Pak Brian dengan ekspresi wajah yang sangat kesal setelah mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh Pak Hugo.
"Haduh! Apa lagi yang akan dirusakkan olehnya?" Gumam Pak Brian dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat ia hendak kembali berfokus pada pekerjaannya yang belum terselesaikan, dua anak buahnya datang untuk melaporkan tugasnya.
"Kami sudah selesai melaksanakan perintah yang anda berikan, pak!" Ucap Grissham dan satu rekannya dengan menyerahkan masing-masing laporan datanya kepada sang Atasan.
"Kalian beruntung kali ini. Cepatlah kalian berdua awasi Hugo! Jangan sampai ia menghancurkan bukti-bukti yang telah kita kumpulkan hanya karena rasa penasarannya!" Ucap Pak Brian dengan tegas dan perintah yang mudah dimengerti oleh kedua anak buahnya.
"Siap, pak! Serahkan saja kepada kami!" Ucap Grissham dan rekannya secara bersamaan.
Mereka berdua dengan sigapnya berlari dan mengurangi kecepatannya saat mendekati ruangan kantor milik Tuan Ellievont.
Disana mereka melihat Pak Hugo yang sedang membuka jendela ruangan tersebut.
__ADS_1
"Pak! Anda tidak boleh menyentuh benda itu! Sidik jari anda akan tertangkap...!" Ucap Grissham yang belum menyelesaikan perkataannya karena sudah dipotong oleh lawan bicaranya sendiri.
"Apa? Aku sudah memakai ini, jadi tidak masalah bukan jika kalian sedikit lebih tenang saat aku menjalankan tugasku?" Tanya Pak Hugo dengan menunjukkan kepada Grissham dan rekannya bahwa ia memakai sarung tangan khusus kerjanya.
Melihat hal tersebut, kedua lawan bicaranya tidak dapat membantah ataupun mengeluarkan argumen lagi terhadap tindakan yang Pak Hugo lakukan.
"Kau dan kau! Ya, kalian berdua! Apa di antara kalian punya bola api?" Tanya Pak Hugo dengan memanggil Grissham dan rekan Grissham agar menyetujui permintaannya.
"Tentu, tapi untuk apa, pak?" Tanya rekan Grissham dengan penuh penasaran dan diselimuti rasa curiga terhadap hal yang ingin ditunjukkan oleh Pak Hugo.
"Lemparkan saja satu disini dan satu di luar sana, lalu kita perhatikan apa yang akan terjadi!" Ucap Pak Hugo dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke dua tempat yang berbeda, yaitu ruang kantor Tuan Ellievont dan dinding luar rumah.
Permintaan Pak Hugo tersebut membuat kedua lawan bicaranya menaruh sedikit keraguan terhadap keberhasilan rencananya.
"Kuharap kekuatanku tidak terbuang sia-sia!" Gumam rekannya Grissham dengan melirik ke arah Grissham untuk memastikan bahwa tindakannya tidak melanggar peraturan pihak kepolisian.
Sedangkan, Grissham hanya memberikan sebuah isyarat melalui kedua matanya sebagai bentuk persetujuan darinya agar mereka berdua dapat bertanggung jawab atas kejadian tersebut secara bersama-sama.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, rekannya Grissham langsung melemparkan dua buah bola apinya sesuai permintaan Pak Hugo.
"Apa yang kalian lakukan?!" Teriak Pak Brian yang sangat terkejut saat melihat sebuah bola api dilemparkan menuju suatu dinding dekat dengan jendela rumah perkara.
Ia langsung berjalan menghampiri dua anak buahnya dan Pak Hugo untuk meminta keterangan dan alasan mereka sepakat melakukannya.
Dirinya pun juga diikuti beberapa bawahan khususnya.
Hal tersebut sudah terlambat dan bola api tersebut telah berhasil diluncurkan.
BERSAMBUNG
__ADS_1