
Di dalam 'Pure Crystal Palace', Raja dan Ratu Ocheliux sedang menikmati harinya dengan duduk di singgasana selama kurang lebih lima jam.
Memandangi langit malam dan cahaya bulan kristal dari jendela istana yang letaknya hanya berjarak 56 m dari hadapannya.
Seolah tidak ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan, keduanya justru memancarkan rasa senang dan antusias menunggu kedatangan para tamu pentingnya.
Hal tersebut sangatlah jarang dilakukan oleh Raja ataupun Ratu karena mereka sangat mencintai waktu emasnya sehingga berhasil membuat tangan kanan sang Raja benar-benar heran.
"Yang Mulia... Sebenarnya siapa tamu yang anda dan Yang Mulia Ratu nantikan? Anda berdua benar-benar berbeda dari biasanya!" Ucap tangan kanan sang Raja yang bernama Lougerca.
"Mereka adalah anak-anak yang sangat beruntung. Kau bisa memastikannya dengan mata kepalamu!" Ucap Raja Ocheliux dengan tersenyum gembira.
"Ya! Itu pasti akan hamba lakukan. Setelah Yang Mulia mengatakannya dengan demikian, hamba menjadi semakin yakin bahwa mereka akan datang sebentar lagi!" Ucap Lougerca dengan memperluas jangkauan pengawasannya.
"Aku setuju dengan perkataanmu!" Ucap Raja Ocheliux dengan melirik ke arah permaisurinya, yaitu Ratu Arcesfia.
Ia melihat sang Permaisurinya sedang memainkan bola kristal hijau berukuran sedang di jari-jari tangannya yang indah.
Menyadari bahwa Ratu Arcesfia sedang diperhatikan oleh suaminya, ia langsung memberikan senyuman pembukanya dan memulai inti percakapannya.
"Sungguh menakutkan! Telur Jiquousy yang sudah menetas setengah hari sudah memakan banyak nutrisi! Kamu tahu bagian yang paling menariknya?" Tanya Ratu Arcesfia dengan menatap bosan ke arah pintu masuk istana.
"Mereka berada di antara keadaan yang baik dan buruk?" Tanya Raja Ocheliux dengan memperhitungkan segala kemungkinan besar dari maksud permaisurinya.
"Tidak diragukan lagi! Kami sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka!" Ucap Ratu Arcesfia yang kembali bersemangat.
Raja Ocheliux dan Lougerca menganggukkan kepalanya secara bersamaan sebagai bentuk persetujuan terhadap pernyataan yang telah ditunjukkan oleh Ratu Arcesfia.
Sementara itu, di luar kawasan 'Crystieland Jevilla', Gelliert tidak dapat membiarkan rasa ingin tahunya terbatasi, dengan sengajanya ia pergi mengendap-endap ke ruang keamanan yang terletak di lantai paling atas.
Ruang keamanan adalah ruang terketat daripada yang lainnya sehingga ia memanfaatkan situasi terburuknya agar mendapatkan kekuatan penuh atas dirinya.
"TAP, TAP...!"
Suara langkah kaki orang yang tidak dikenal mendekati dirinya.
__ADS_1
"Apa mereka ini nokturnal? Sangat masuk akal jika mereka tidak tidur setiap malam, tetapi masalahnya adalah ini sudah menjelang pagi!" Pikir Gelliert yang sedang bersembunyi dengan penuh persiapan senjata.
"Pak! Jam piket kita sudah selesai! Apa bapak akan lembur lagi kali ini?" Tanya seseorang dari belakang tubuhnya dengan memberikan ekspresi wajah yang khawatir.
Gelliert yang sedikitpun tidak terkejut jika kedatangan orang tidak dikenalnya berada sedang muncul di punggungnya langsung menoleh dan menanyakan keperluan orang tersebut.
"Kamu-...?!" Tanya Gelliert yang menjadi terkejut saat melihat keanehan yang terletak tepat di kedua mata lawan bicaranya.
Warna kedua mata lawan bicaranya tersebut dengan cepat memudar dan perlahan-lahan memutih.
Tentu saja ia terkejut, ia yang tidak sedikitpun memiliki kemampuan hipnotis ataupun ilusi justru berhadapan dengan seorang senior pertamanya yang telah ia kenal sejak masa kecil.
"Eh? Hipnotis? Jangan-jangan...! Senior pertama, Kakak Berdlea!" Ucap Gelliert dengan memutar pandangannya ke posisi semula.
Ingatan masa lalunya sungguh sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Ia benar-benar bertemu kembali dengan senior yang juga pernah berperan sebagai gurunya.
"Kau benar Kak Dlea, kan? Aku merindukan guru!" Ucap Gelliert dengan berlari seperti anak kecil dan langsung menyambut seniornya dengan pelukan hangat.
"T-Tidak a-ada, ta-tapi a-aku butuh ba-bantuan gu-...!" Ucap Gelliert yang terputus-putus dan tidak lengkap.
"PRANG!"
Sebuah lampu hiasan di atas meja kristal jatuh dan pecah, mengeluarkan inti kristal, dan menimbulkan kecurigaan para pekerja yang masih sibuk di dalam ruangan.
Inti kristal tersebut melayang ke udara hingga membuat manusia yang berada di dalam radius 90 km teridentifikasi dan berubah wujud ke bentuk aslinya, yaitu monster kristal.
"...ru." Ucap Gelliert dengan mendengus kesal sekaligus alis matanya yang ikut mengernyit.
"Siapa yang menjatuhkannya?" Tanya Berdlea dan Gelliert secara bersamaan.
"Aku, pak! Ups!" Ucap seseorang yang telah menanyakan kabar Gelliert sedang bertranformasi sedikit lebih lama dibandingkan yang lainnya.
Mengetahui bahwa orang yang tidak dikenal tersebut akan sangat merugikan Gelliert dan gurunya, sebagai murid yang baik, Gelliert dengan sigapnya langsung membius sang Target dan menyembunyikannya di tempat yang tidak dapat diakses pihak manapun, kecuali dirinya.
__ADS_1
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Gelliert kembali dan berencana memulai pekerjaannya sendirian.
"Aku sedang tidak niat ke kantor pusat, jadi biarkan kakak ini membantumu!" Ucap Berdlea dengan kembali bersemangat.
"Tidak perlu membantu jika kakak masih marah kepadaku." Ucap Gelliert dengan menyabotase ruang keamanan beserta seluruh fasilitas yang ada di dalamnya.
"Bagaimana tidak marah? Kemampuan berharga kita justru dijadikan bahan lelucon yang tidak berguna. Apa aku juga harus bersyukur karena telah diam-diam mengambil liburan sehari?" Tanya Berdlea dengan mengecilkan suaranya karena ia tidak ingin menghancurkan rencana tujuan yang telah ia tetapkan.
Sebagai bantuan tambahan dan juga bentuk belas kasihan kepada murid sekaligus juniornya, ia yang bersedia mengurus para anggota keamanan villa penginapan.
"Hm... Itu artinya, tidak sepenuhnya kakak marah denganku, bukan?" Tanya Gelliert yang telah menyelesaikan sabotasenya dan pergi ke urusan lainnya.
"Dapat dikatakan seperti itu. Aku sudah selesai mengurus mereka. Bagaimana dengan urusanmu?" Tanya Berdlea dengan mendekatkan tubuh bagian belakangnya ke dinding hanya untuk menghilangkan amarah dan kekecewaannya setelah mengingat hal yang ia benci.
"Kita hanya perlu sentuhan terakhir! Dan... Selesai!" Ucap Gelliert dengan tersenyum kecil dan mengembalikan keadaan sekitarnya menjadi sedia kala sebelum dirinya dan gurunya pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ia melakukannya dengan penuh ketelitian dan cekatan hingga tidak terdapat lagi celah yang memungkinkan untuk dimanfaatkan oleh pihak yang salah.
Suasana kembali seperti semula, aman, tentram, dan damai, tetapi tidak dengan Sorayna.
Meskipun hari telah sepenuhnya pagi, ia masih disibukkan dengan pikirannya.
"Tunggu sebentar! Sebenarnya apa tujuan kami kemari? Hanya sekadar menghadiri undangan kerajaan atau apapun itu? Akan sangat mencurigakan jika aku terburu-buru membangunkan mereka, bukan? Sejujurnya, sungguh wajar jika para pihak kerajaan memiliki informasi tentang kami. Bagiku, bukan hanya itu yang berbahaya!" Pikir Sorayna yang sudah merasa yakin dengan pikirannya.
"Ezcha! Tolong bantu aku membangunkan Vicenzo! Sementara itu, aku akan membangunkan Kalvetno dan Levord dengan secepat mungkin. Kita akan berkumpul di ruang tamu! Apa kamu sudah mengerti?" Tanya Sorayna dengan memberikan kepercayaan penuh untuk kesekian kalinya.
Ezcha langsung mengangguk dengan penuh bersemangat dan responnya yang cepat berhasil membuahkan hasil.
Ia membuka pintu kamar Vicenzo dan menarik kerah baju kaos abu-abunya tanpa belas kasihan dan kesopanan.
"Kau sedang kelaparan?" Tanya Vicenzo yang masih mengusap-usap matanya.
"Gruo Mama Khegro!" Ucap Ezcha dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung menarik-narik tangan Vicenzo agar dirinya segera beranjak dari tempat tidur.
"Huh? Em... Iya, iya! Aku bangun!" Ucap Vicenzo dengan melompat dan menguatkan keseimbangan tubuhnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG