
"Sungguh manis sekali! Hei, Ballfad! Lihatlah para pengikut setiamu ini! Mereka ingin menyelamatkanmu, loh?" Tanya Ravettha memperhatikan reaksi tubuh Raja Ballfad tidak sesuai dengan keinginannya.
Ia yang ingin tahu mengapa bisa terjadi hal tersebut langsung memberikan izin bicara kepada sanderanya.
"Tidak! Jangan serahkan aku pada mereka! Kumohon padamu. Aku akan melakukan apapun yang kau minta." Ucap Raja Ballfad mencoba sebisa mungkin bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh seorangpun, sayangnya ia hanya bisa berharap.
"Oh, hoho! Apapun ya?" Tanya Ravettha menyeringai lebar.
Seringaian lebar itu terlihat dengan jelas di mata Rencouff.
Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi antara Ravettha, ikan kecil, dan orang gila yang terobsesi dengan Yang Mulia Ballfad.
Hanya satu yang ia tahu secara pasti, seiring berjalannya waktu, tubuhnya tidak akan bertahan lagi.
"DING!"
"Hentikan pengikut Raja Ballfad! Tipe tantangan tersembunyi tingkat A." Bunyi pesan masuk kembali muncul setelah beberapa menit berlalu.
"Menarik." Gumam Ravettha tersenyum kecil.
"Ravettha! Kau tidak punya senjata, bukan? Lindungi dirimu dengan perisai dan pedang ini!" Ucap Rencouff merasa sangat khawatir akan keselamatan rekannya.
"Ha! Jangan bodoh, Rencouff! Meskipun kita tersudutkan, jika aku mengatakan kita tidak mati, kita tidak akan mati!" Ucap Ravettha mengambil pedang dan memakaikan perisai ke tubuh rekannya, lalu menggambar lingkaran tepat di pijakan kaki Rencouff.
Lingkaran yang digambarnya langsung mengeluarkan dinding pelindung berlapis tujuh.
Semakin tebal lapisannya, tidak ada yang bisa mendengar suaranya dari luar.
Bahkan saat Rencouff menangis karena terharu akan pengorbanan Ravettha, rekannya justru tidak dapat melihatnya.
"Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Kau telah memilikiku. Jangan berharap terlalu berlebihan di situasi saat ini." Ucap Raja Ballfad bertanya-tanya mengenai tindakan yang akan Ravettha buat.
"Hahahaha! Kau konyol, Ballfad!" Ucap Ravettha yang tidak dapat menahan tawanya.
"Kau menertawakanku, ya?" Tanya Raja Ballfad merasa sia-sia telah membantu sekutunya ini.
Sejak tantangan tersembunyi ketiga dimulai, Ravettha menyadari energi sihirnya dapat digunakan.
Ia tidak tahu harus berkata apa kepada Pak Cheidon, tetapi butuh diakui ia sangat senang karena berhasil mengatur bawahan barunya.
"Kau tidak bisa pergi menjauh dariku, Ballfad!" Ucap Ravettha dengan mengambil seluruh kendali dan kesadaran Raja Ballfad.
"B-Brengsek!" Gumam Raja Ballfad untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Tidak ada satupun di antara para pemain yang menyadari tingkah laku Ravettha.
Sementara dirinya menyiapkan tubuh milik Raja Ballfad, Ravettha memberikan perintah untuk pertama kalinya.
"Ballfad, mulai sekarang seluruh jiwa raga dan rohmu adalah milikku. Apapun yang terjadi kau harus mendengarkanku." Ucap Ravettha memberikan sedikit kesempatan menjawab persetujuannya.
Ia bahkan tidak peduli dengan penolakan yang mungkin diberikan bawahan barunya ini.
Bagaimanapun juga, beragam bentuk penolakan hanya akan didengar olehnya sebagai bentuk persetujuan.
"Aku punya tugas untukmu. Buat para pengikutmu tunduk padaku!" Ucap Ravettha yang memberikan perintah sejelas mungkin.
"Baik! Segera hamba laksanakan, Ratuku." Ucap Raja Ballfad melompat keluar dari botol kaca, berubah wujud, dan mencium tangan Ravettha sebelum dirinya berfokus menyelesaikan perintah pertamanya.
Mendapati penghormatan yang dilakukan bawahannya, Ravettha masih belum memberikan respon yang baik sedikitpun.
Ia justru menantikan hasil sekaligus pertunjukan gratis dari para calon anak buahnya.
"Serahkan diriku? Kalianlah yang harus menyerahkan diri pada ratuku!" Ucap Raja Ballfad benar-benar murka menyaksikan para pengikutnya kehilangan moral.
"Ratu? Aku adalah ratunya!" Ucap salah satu wanita berusaha mendapatkan perhatian terbanyak.
"Tidak! Kau bukan ratunya, melainkan aku." Ucap wanita lain merebut perhatian dari wanita sebelumnya.
Semakin banyak dan menjadi semakin banyak para wanita menunjuk dirinya sendiri sebagai sang Ratu yang dimaksud Raja Ballfad.
Sangat disayangkan tidak ada satupun dari para pengikut yang mengetahui rupa sang Ratu.
Hal itu dikarenakan Raja Ballfad tidak pernah tertarik dengan wanita ataupun pelantikan seorang ratu.
"Pft! Tidak kusangka kebodohan pemimpinnya diwariskan ke pengikutnya. Seingatku dua badut penjaga itu masih lebih baik." Pikir Ravettha mulai menyukai pertunjukannya.
"SPLASH!"
"Lihat ini! Kalian mengucapkan sepatah kata, kalian akan sama seperti mayat busuk ini." Ucap Raja Ballfad menggenggam erat kepala seorang wanita yang telah ia penggal, menunjukkannya, dan melempar ke tengah kumpulan para pengikut.
Darah segar menetes hingga mengenai beberapa wajah pejabat saat dilemparkan.
Mereka diam membisu, tubuh pun tidak ada yang berani digerakkan, dan seluruh mata masih terbelalak tidak percaya atas kekejaman Raja Ballfad tepat dihadapannya.
"Bagus! Mulai detik ini, hidup dan mati kalian berada di tangan Yang Mulia Ratu kita, Ravettha Toftrelnd Seinoray." Ucap Raja Ballfad lebih mengetahui secara detail asal-usul majikannya.
Sesigap mungkin dirinya dan mantan para pengikutnya memberi hormat, salam, dan mengucapkan sumpah rohnya di atas pilar penanda tangan kontrak.
__ADS_1
"DING!"
"Selamat! Pemain Ravettha Toftrelnd Seinoray berhasil menyelesaikan tantangan tersembunyi keempat. Tantangan kelima akan dimulai 3 detik lagi. Bersiaplah!" Bunyi pesan masuk yang tiba-tiba muncul kembali.
Mengetahui tantangan tersembunyi keempat berakhir, Ravettha memberikan akses bagi bawahan barunya.
"Mintalah ke Falext. Ia akan mengaturnya untuk kalian." Ucap Ravettha dengan menyambungkan panggilan langsung di layar hologramnya.
"Master! Para tamu datang bersamaan. Apa aku sedang bermimpi?" Tanya Falext kegirangan mendapatkan kepercayaan lebih dan kesempatan mengembangkan kemampuannya bersama enam rekannya.
"Kau bahkan tidak bisa bermimpi, Falext!" Ucap Ravettha yang juga ikut senang.
"Sebuah kehormatan menerima kebaikan anda, Yang Mulia Ratu." Ucap Raja Ballfad dan mantan para pengikutnya, lalu pergi mengikuti instruksi Falext.
Tidak ada jawaban yang baik dari Ravettha maupun Falext.
Mereka berdua kembali melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
Ravettha berjalan menuju Rencouff, membuka dinding pelindungnya, dan memeriksa keadaan rekannya.
"BRUK!"
"Kau ini benar-benar keras kepala ya! Teganya kau mengurungku di bola kedap suara. Terlebih lagi kau bertindak sendirian. Aku tak tau apa kau terluka atau tidak. Jika pak tua itu mengetahuinya, kita bisa saja disuruh ulang bermain permainan yang sama!" Ucap Rencouff memeluk erat dan memeriksa satu per satu tubuh Ravettha.
"Ya, ya, ya." Ucap Ravettha mulai menghindari pemeriksaan ketat rekannya ini.
"Kau mendengarkanku tidak?" Tanya Rencouff justru kesal mendapati respon Ravettha yang defensif.
"Tidak." Ucap Ravettha berlari secepat mungkin demi menghindari kejaran Rencouff.
Tanpa disadari, dirinya telah masuk kawasan hewan buas.
Ia merasa jauh dari rekannya dan lebih sering diperhatikan oleh mata-mata.
"Keluarlah!" Ucap Ravettha dengan menempatkan masing-masing sebuah anak panah tepat di mata para musuhnya.
Tidak lupa juga ia menyelipkan sebuah kertas khusus untuk menghilangkan ingatan target dan menyalinnya ke dalam kertas.
Sekali saja target berpindah tempat, para anak panahnya diharuskan meluncur dan melakukan sesuai fungsinya.
"GRRR! AUOOOOO!!!"
"JLEB!"
__ADS_1
Anak panah menggores kedua mata targetnya sedalam mungkin hingga mengalami kebutaan.
BERSAMBUNG